Hidayah itu milik Allah, jika Dia telah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka siapapun tidak dapat mencegahnya.
Termasuk pada Atalie—gadis chindo tersebut tidak pernah mengira bahwa berawal dari iseng ikut kajian Ustadz Umar dapat membawanya menemukan hidayah untuk memeluk Islam.
"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."
"Bantu apa?"
"Bantu aku bersyahadat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Trip
Ubi ungu dan kuning yang masih mengepulkan asap tersaji di atas meja bersanding dengan menu sarapan lainnya. Khusus ubi itu adalah permintaan Atalie kemarin. Atalie begitu bersemangat untuk melahap sarapannya pagi ini ditambah lagi ia tak perlu mengupas kulit tipis dari ubi tersebut karena bibi ART sudah mengupas semuanya.
"Ada yang warna kuning juga?" Atalie mengambil satu buah ubi berwarna ungu dan meniupnya sebentar sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
"Ada yang putih juga lho." Renata menanggapi, ternyata pengetahuan umum Atalie kurang karena tidak tahu tentang tumbuhan yang merambat di atas tanah tersebut.
Walaupun tidak semanis ubi yang Atalie makan di rumah Umar tapi ia tetap mengabiskan satu buah ubi ungu dan kuning. Setelah mencoba keduanya, Atalie mantap menjadikan ubi ungu sebagai makanan favoritnya dibandingkan yang kuning. Tekstur ubi kuning lebih basah, Atalie tak terlalu suka.
Kenapa ubi yang Umar tanam lebih manis, mungkin ia menyiramnya dengan air gula atau madu. Atalie tersenyum geli membayangkan itu.
"Kamu nggak pernah ajak teman-temanmu kesini, lain kali ajak main biar Mama juga kenal mereka."
"Emang boleh?"
"Ya boleh, kamu juga boleh cari teman selain Ayana dan Khanza, masa temannya itu-itu aja padahal kamu udah pernah kuliah di dua kampus berbeda tapi selain mereka berdua, kamu nggak pernah ceritain orang lain ke Papa dan Mama."
Tak terdengar jawaban dari Atalie, bukankah semua ini karena mama nya juga. Sejak kecil Atalie selalu disibukkan oleh berbagai kegiatan, sepulang sekolah ia masih harus mendapatkan pelajaran tambahan bahkan dihari tertentu ia juga les piano hanya karena anak-anak teman Renata mengikuti les piano.
Saat hari Minggu sepulang dari gereja Atalie harus les renang, ia tak punya waktu berlibur apalagi bersosialisasi. Baru setelah lulus kuliah S1, Atalie punya sedikit kebebasan untuk hangout dengan teman-temannya, hanya tiga teman, Ayana, Khanza dan Gracia.
Maka jangan salahkan Atalie jika ia sulit berteman dengan orang lain. Sekarang pun Atalie merasa tidak punya waktu untuk mencari teman. Meski sudah berupaya dengan mengikuti organisasi di kampus tapi Atalie sulit menerima orang lain. Setelah dewasa ia berpikir, memiliki banyak teman itu sebenarnya tidak perlu. Cukup beberapa yang benar-benar bisa dikatakan sebagai teman.
Saat belajar bahasa Mandarin satu tahun di Hangzhou—ibukota Zhejiang pun Atalie tidak berteman akrab dengan siapapun. Hanya satu orang yang tinggal di unit apartemen tepat di sebelahnya, mereka sering pergi ke kampus bersama tapi setelah kembali ke Indonesia, Atalie dan temannya itu tak pernah berkomunikasi lagi.
Saat itu Gracia mengatakan pada Atalie bahwa ia berharap sahabatnya itu memiliki pacar orang China. Tentu saja itu tidak mungkin, berteman saja Atalie sulit apalagi berpacaran.
Itu sebabnya saat Gracia mengatakan Atalie naksir Umar, Atalie langsung menyangkalnya. Jika diingat Umar hampir selalu memakai sarung dan baju koko ditambah kopiah hitam seolah itu adalah atribut wajibnya, tidak ada yang istimewa. Atalie tak mungkin naksir begitu saja, tentu Zhang Han lebih tampan. Pemeran utama dalam drama China Boss & Me yang pernah Atalie tonton dulu.
"Daniel juga nggak punya banyak teman." Atalie menunjuk Daniel, saat seperti ini ia selalu punya sasaran untuk mengalihkan perhatian mama nya.
Daniel tak ada bedanya dengan Atalie, disibukkan dengan kegiatan sejak kecil membuatnya tak punya banyak teman.
"Kemarin Daniel bawa temannya kesini."
Atalie mencibir, sekarang ia merasa kalah dari adiknya yang sekarang tengah menjulurkan lidah padanya. Atalie segera menyumpal mulut Daniel dengan sisa ubi di tangannya.
"Tesis kamu gimana?" Jaya yang dari tadi fokus menikmati sarapannya kini bersuara.
"Hari ini aku sama beberapa teman mau ke Ijen, Pa." Atalie belum menentukan penelitian yang akan ia lakukan untuk tesisnya. Karena beberapa teman satu jurusannya mengajaknya pergi mendaki ke kawah Ijen maka Atalie ikut saja dengan mereka. Atalie juga perlu lebih mengenal teman-teman satu jurusan setelah hampir dua tahun kuliah.
"Jangan lupa bawa lotion anti nyamuk nya." Renata mengingatkan Atalie.
Atalie mengacungkan ibu jarinya pada Renata, ia tak akan pernah lupa membawa lotion atau spray antinyamuk. Ia mudah sekali digigit nyamuk dan bekasnya akan bertahan selama berminggu-minggu. Krim mahal yang katanya bagus di pasaran tetap tidak banyak membantu menghilangkan bekas luka tersebut sehingga lebih baik mencegah gigitannya.
"Kamu bisa lakukan penelitian tentang penjualan produk Alindra Beauty, cukup datang ke kantor maka Papa akan memberikan semua yang kamu butuhkan." Jaya memberi saran.
"Nggak apa-apa lah Pa, Atalie juga jarang jalan-jalan." Renata menimpali.
Atalie ingin meralat ucapan mama nya, bukan jarang tapi ia tidak pernah melakukan perjalanan jauh dengan teman. Walaupun Kawah Ijen tidak terlalu jauh tapi itu sudah jauh lebih baik dari pada tak punya pengalaman apapun.
******
Pos Paltuding ramai oleh para wisatawan yang hendak mendaki maupun turun dari gunung Ijen. Tenda-tenda didirikan di area pos, selain mendaki mereka bisa kemping ataupun menginap di homestay yang berada di sekitar Paltuding. Harga penginapan yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah per malam.
Atalie bersama tiga teman laki-laki, Tio, Juna, Margie serta dua perempuan Alfi dan Sukma memilih mendirikan tenda di bawah pohon Cemara Udang untuk menikmati sejuknya udara dataran tinggi.
Teman-teman Atalie bahkan membawa peralatan lengkap untuk kemping. Alih-alih melakukan penelitian mereka terlihat seperti hendak liburan.
Atalie duduk di depan tenda memperhatikan teman-temannya yang sedang mengumpulkan ranting pohon cemara untuk menyalakan api unggun. Katanya berkemah tidak lengkap tanpa api unggun meskipun mereka tidak yakin apakah ranting basah itu bisa digunakan.
"Mereka kelihatan akrab." Atalie menunjuk Juna dan Alfi yang sedang kejar-kejaran seperti anak kecil, mereka berebut kupluk rajut berwarna merah muda yang didapat dari pembeli di sekitar pos.
"Kamu nggak tahu mereka pacaran, bahkan seisi kampus udah tahu." Sukma menyodorkan wafer coklat pada Atalie, mereka belum makan siang karena ingin segera sampai.
Atalie terkekeh karena benar-benar tidak tahu soal itu. Rupanya selama ini ia kurang memperhatikan sekitar sehingga tidak tahu apapun yang terjadi di kampus. Atalie terlalu fokus belajar dan bekerja saat tak ada kelas.
"Jangan-jangan kamu juga nggak tahu kalau Tio naksir kamu."
"Tio?" Atalie mengerutkan kening, ia belum hafal nama teman-temannya yang ikut hari ini.
"Itu yang pakai sweater putih, tuh dia jalan ke arah kita, lihat senyumnya."
"Oh." Atalie tersenyum hambar, pantas setiap kali melewati koridor ada saja yang memanggilnya, segerombolan mahasiswa yang selalu ia abaikan. Bukan tanpa alasan, mereka tidak memanggil nama Atalie melainkan dengan sebutan lain, si China, Chindo, Ling-Ling dan banyak lagi. Sepertinya mereka hanya tahu gadis Chindo bernama Ling-Ling.
Tio tampak berjalan ke arah mereka membawa setangkai bunga berbulu berwarna putih dan sedikit merah muda.
"Buat kamu."
"Untuk apa?" Atalie menerima bunga tersebut dengan perasaan bingung.
"Sebagai ucapan terimakasih karena kamu bolehin kita pergi pakai mobil kamu." Tio tersenyum lebar.
"Dengan bunga ini?" Atalie tak percaya jika mobilnya dihargai dengan bunga tersebut, bahkan sebelumnya ia menerima hadiah yang lebih berharga seperti dikenalkan pada sosok Aisyah atau sepiring ubi ungu yang sangat manis. Sedangkan bunga ini tak ada manfaatnya.
"Ya." Ujar Tio bangga lalu kembali berlari menjauh.
Atalie mencibir, ia mencabut rambut-rambut bunga tersebut lalu melemparnya ke sembarang arah. Sukma tak bisa menahan tawa melihatnya.
"Dia udah berusaha romantis loh." Sukma masih tak bisa menghentikan tawanya.
Jika Atalie mudah dirayu hanya dengan bunga maka pastilah ia memiliki banyak mantan pacar. Dulu Felix sering memberikan barang mahal tapi Atalie selalu menolaknya. Atalie tak butuh barang-barang seperti itu, toh ia bisa membelinya sendiri.
"Sebelumnya kamu memang kuliah jurusan manajemen?" Sukma ingin menanyakan hal ini sejak lama tapi karena Atalie terlalu pendiam, ia tak berani dekat-dekat padahal mereka sering berada di kelas yang sama.
"Iya, lebih tepatnya Manajemen Perhotelan di Surabaya."
"Lalu memutuskan untuk ambil S2 disini?"
"Iya, karena waktu itu aku belum ada kerjaan dari pada nganggur jadi memutuskan untuk kuliah lagi." Atalie berusaha mencari alasan logis untuk menjawab pertanyaan Sukma padahal.
Sukma tertawa mendengar alasan Atalie berkuliah yang sangat berbeda darinya. Sukma harus nabung bertahun-tahun demi bisa kuliah S2.
"Mbak Sukma dan yang lain akan membahas soal wisata Kawah Ijen untuk tesis nanti?"
"Iya, kamu tahu kan akses ke Kawah Ijen masih sulit untuk wisatawan dari luar Banyuwangi dan Bondowoso, dibandingkan dengan gunung Bromo, paket wisata ke Kawah Ijen belum ada di website."
"Sangat disayangkan karena wisatawan dari luar kota pasti membutuhkan informasi seputar biaya paket wisata, jika ada fasilitas e-ticket yang memungkinkan wisatawan memesan kapanpun pasti tempat ini akan jauh lebih ramai."
"Kamu benar Atalie tapi rasanya sangat sulit direalisasikan, mungkin bisa beberapa tahun lagi."
Atalie mengangguk setuju dengan pendapat Sukma, kalaupun ada paket wisata pasti mereka tidak mencantumkan harganya dengan jelas sehingga membuat calon wisatawan merasa ragu.
Tio, Juna, Margie dan Alfi ikut bergabung untuk membahas penelitian mereka. Walaupun berkunjung ke tempat yang sama tapi mereka mengangkat topik berbeda.
"Ayo makan siang dulu, udah telat nih." Sukma mengangkat lengan melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.
Mereka mengeluarkan makanan dari tas masing-masing. Mie instan cup, jagung dan ubi untuk dibakar. Sedangkan Atalie membawa telur, sosis dan roti. Mereka bisa memanggang dan memakannya bersama setelah itu.
"Wah niat banget bawa teflon segala." Alfi membelalak melihat Tio mengeluarkan teflon dari dalam tas nya.
"Kalau gitu kita bisa bikin roti panggang dikasih telur, Atalie bawa semua bahannya." Sukma berinisiatif, mungkin karena ia satu-satunya mahasiswi yang sudah menikah di antara lainnya maka ia spontan mengatur aktivitas mereka.
"Ide bagus." Seru yang lain.
Atalie memanggang roti sedangkan Alfi membuat telur mata sapi dan memanggang sosis secara bersamaan. Setelahnya mereka juga merebus air untuk mie. Jagung dan ubi disimpan untuk nanti malam, mereka tak akan bisa menghabiskan semua makanan sekaligus.
Ini pengalaman pertama bagi Atalie, ternyata kemping di alam terbuka seperti ini sangat menyenangkan. Awalnya ia pikir akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan yang lain. Namun mereka semua baik dan ramah sehingga Atalie tidak merasa canggung lagi.
"Aku sama yang lain shalat magrib dulu ya." Ujar Alfi setelah puas berbaring di dalam tenda, perut kenyang membuat mereka malas bergerak hingga langit gelap.
Atalie tinggal seorang diri di tenda karena yang lain sedang mendirikan shalat magrib di musholla dekat situ. Atalie termenung mendengar suara adzan berkumandang, untuk sesaat ia merasa dadanya menghangat.
Setelah suara adzan tak lagi terdengar Atalie baru sadar jika banyak nyamuk yang hinggap di betisnya.
Atalie mengaduk isi tasnya mencari lotion antinyamuk miliknya tapi benda itu tidak juga ditemukan. Akhirnya Atalie memuntahkan semua barang-barangnya hingga berserakan.
"Jangan bilang lupa." Atalie mengacak rambutnya frustrasi, Renata sudah memperingatkannya tadi tapi ia tak menemukan lotion tersebut. Itu artinya Atalie harus rela jika tubuhnya digigit nyamuk. Atalie harusnya tidak mengenakan celana pendek saat berangkat tadi.
Atalie segera masuk ke dalam tenda dan menutupnya, sembari menunggu teman-temannya selesai shalat magrib ia membaca buku.
semangat terus kak Atali🥰