Jamuan makan malam sudah selesai di hidangkan oleh Aisyah, Paman dan Bibi nya pun sudah ada disana dan hanya menunggu sang tamu.
Hingga tak berselang lama, datanglah tamu yang sudah mereka tunggu sejak tadi.
Namun siapa sangka, disanalah mulai petaka untuk Aisyah.
Aisyah harus menelan pil pahit bahwa dia akan di nikahkan oleh sang Paman dengah Pria tersebut.
Tak ada penolakan ataupun pertanyaan bersedia ataupun tidak untuk Aisyah.
Bagaimana Aisyah menghadapi nya? Apalagi Aisyah tidak tau bahwa dia di jadikan penebus hutang oleh sang Paman? Dan dia juga akan di jadikan ladang balas dendam oleh pria tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Penolakan Rama
Pagi menjelang, Aisyah masih terlelap dengan sisa air mata yang ada di wajah nya.
Karin membiarkannya karena tak ingin mengganggu istirahat Aisyah yang nyenyak.
Namun,
Sebuah panggilan yang mengharuskan Aisyah bangun dan terpaksa bangkit dari ranjang.
"Uhhhh sakit sekali"
Aisyah bangun dan langsung menuju ke kamar mandi, dia membersihkan tubuh nya yang sudah lengket.
🐼
Dan disinilah Aisyah berada, di dapur bersama Bibi Ambar yang sudah memulai memasak.
Aisyah dan Bibi Ambar mulai masak dengan cekatan, dia menahan mual yang masih bergejolak di perut nya.
'Uhhh kenapa aku ini'
Aisyah menghela nafas untuk menetralkan rasa mual yang menyerang nya.
*
Beberapa saat kemudian semuanya sudah selesai dan siap, Aisyah dan Bibi Ambar menata makanan di meja makan.
Dan tak lama kemudian datanglah Rama dengan wajah datar nya.
"Ambilkan makanan untukku Aish"
Rama memberikan piring kosong pada Aisyah, dan dengan sedikit enggan dia mengambilkan untuk Rama makan.
Namun,
Huekk
Huek.
Aisyah langsung berlari ke ke wastafel dan memuntahkan semua nya disana.
Bibi Ambar langsung saja mendekati dan memijat leher Aisyah agar lega.
Bruk.
"Aish"
Aisyah kembali pingsan dan terkulai lemah, Rama yang memang disana pun langsung mendekati dan membawa nya ke kamar tamu yang dekat dengan dapur.
"Bi, panggil Dokter"
Bibi Ambar langsung mengiyakan dan dengan segera menelpon Dokter keluarga Alexandra.
Setelah itu Bibi Ambar masuk kembali dengan membawa minyak angin dan teh hangat.
*
Tak berselang lama, Dokter tersebut datang dan langsung di arahkan oleh Pelayan ke kamar tamu.
Ceklek.
Dokter langsung saja memeriksa Aisyah setelah menyapa Rama terlebih dulu.
Kemudian Dokter tersebut memeriksa Aisyah, dan setelah nya langsung tersenyum.
Setelah di rasa cukup, Dokter tersebut menyudahi pemeriksaannya dan membereskan alat.
"Nona ini sedang hamil Tuan, dia harus banyak istirahat dan jangan kelelahan"
Deg.
'Hamil'
Rama menggelengkan kepala nya dengan terkekeh kecil, setelah itu dia pergi dari sana dengan perasaan yang tak menentu.
Sedangkan Dokter itu di antar oleh Bibi Ambar sampai ke depan pintu utama mansion.
Dan setelah nya Bibi Ambar pun memutuskan menemani Aisyah yang di dalam kamar.
"Aish, kamu sudah sadar"
Aisyah hanya menganggukan kepala tanda jawaban, dia lalu meminta bantuan pada Bibi Ambar untuk mengambilkan air minum.
"Aku kenapa Bi?"
Hemm.
Bibi Ambar berdehem sebentar, dia kemudian menatap Aisyah dengan tenang.
"Kamu hanya kelelahan saja dan kamu, kamu hamil, Nak"
Hah.
'Ha hamil'
Aisyah langsung kaget, dia menatap tak percaya pada Bibi Ambar dan dengan refleks sang tangan mengusap lembut perut nya.
Ceklek.
"Keluar dulu, Bi"
"Ba baik Tuan muda"
Rama lalu menghampiri Aisyah yang sedang terduduk di atas ranjang, dia menatap nya dengan tajam.
"Apa kamu tau bahwa saat ini sedang hamil?"
"Anak siapa itu?"
Deg.
Aisyah mendongkakkan kepala nya dan menatap Rama penuh kemarahan.
Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Saya hanya berhubungan dengan anda saja, Tuan"
Cih,
Rama berdecih dengan pandangan yang sangat mengejek.
"Benarkah itu anakku? Bukan anak oranglain ataupun salah satu penjaga disini"
Plak.
Aisyah menampar Rama dengan sekuat tenaga, dia benar-benar merasa sangat geram dengan ucapan sang Suami yang tak pernah menganggapnya.
"Anda bisa saja merendahkan atau menghina saya, tapi jangan pernah anda meragukan kesetian saya sebagai Istri. Karena selama ini saya selalu patuh pada anda karena patuh pada seorang Suami"
"Silahkan saja anda tidak mau mengakui anak ini, tetapi jangan coba-coba anda menghina nya"
Nafas Aisyah sangat memburu tatkala membalas ucapan dari Rama, dia sangat marah karena Rama seolah menolak anak yang baru saja diketahui keberadaannya.
Heh.
"Aku memang menolak anak itu, jadi jangan pernah meminta ku menganggapnya! Kalau kau tidak mau melenyapkannya berarti dia bukan anakku"
"Dan ingat, jika suatu saat nanti dia lahir maka jangan menyebut aku Ayah nya, karena dia memang bukan anakku"
Rama menekankan hal tersebut dan menyebutkan dengan tegas dan yakin akan penolakannya pada anak yang di kandung oleh Aisyah.
Setelah itu, Rama pergi meninggalkan Aisyah yang mematung di tempatnya duduk.
'Ya Allah, apa lagi ini'
"Hiks, kenapa kenapa semuanya begini? Aku tak pernah meminta di sentuh olehnya dan bahkan hamil anak nya"
"Aaarrrggghhh"
Ceklek.
"Aish"
Karin dan Bibi Ambar masuk dengan tergopoh-gopoh, keduanya menghampiri Aisyah yang menangis dan meraung histeris.
"Hiks, apa salahku Bibi. Bahkan aku tak pernah terbayang untuk menikah dengan nya dan aku juga tidak tau apapun di masalalu Ayah serta Bundaku! Lalu, sekarang kenapa dia menyalahkan aku yang hamil anaknya"
Hiks.
Hiks.
"Bahkan aku tak pernah meminta di sentuh oleh nya, Bibi"
Aisyah terus meracau dan menangis, dia meluapkan semuanya dengan tangisan dan raungan di pelukan Bibi Ambar yang sangat hangat.
Tangisan Aisyah begitu sangat menyakitkan, dia begitu terpukul akan penolakan dari Rama.
"Nak, kamu harus sabar dan jangan putus asa. Jika memang Tuan Rama menolak nya, jangan di hiraukan dan tetaplah jaga anak itu dengan baik, karena dia adalah anugerah dari yang maha kuasa"
"Benar apa kata Bibi Ambar, kamu harus kuat dan tunjukan padanya bahwa kamu juga bisa tanpa dia. Kamu pasti bahagia hanya bersama dengan anak kamu, Aish. Dan aku yakin bahwa dia akan menyesal setelah apa yang telah di lakukannya padamu ini"
Karin dan Bibi Ambar memberinya semangat, keduanya sangat menyayangi Aisyah yang memang baik, ceria dan juga wanita kuat.
Namun, hanya nasib nya saja yang buruk dan sekarang mendapatkan Suami hanya untuk membalasnya dendam.
"Tapi, aku tak punya hanya untuk membeli susu Bibi. Bahkan aku tak pernah merasakan apa itu nafkah dari Suamiku, aku juga bekerja sebagai pelayan disini tanpa di gaji"
"Lalu bagaimana dengan anakku kelak"
Aisyah menatap Karin dan Bibi Ambar bergantian, dia memang bingung akan kondisi nya yang sekarang tak bisa berbuat apapun selain menurut pada Rama.
"Kamu tenang saja, ada aku yang akan menjadi aunty super nya. Untuk masalah itu kamu jangan pikirkan, yang terpenting kamu sehat dan juga kuat"
Karin memeluk Aisyah sekali lagi dengan erat, dia akan mmebantu Aisyah karena sudah menganggapnya Adik sendiri yang memang dia tak punya siapapun lagi.
Begitupun dengan Bibi Ambar, dia juga akan mengusahakan semampu nya untuk Aisyah.
"Terimakasih, karena kalian sudah mau membantu dan menolongku selama disini. Semoga kelak, kalian mendapatkan balasannya yang lebih dari apapun yang pernah kalian berikan padaku"
Aisyah meneteskan air mata penuh haru, dia begitu bersyukur karena ada juga yang mau membantu nya walaupun di luaran begini.
.
.
.
.
.
jangan2 yg kasih informasi waktu mau kabur keluar Negri itu si Akmal🤔
pokoknya Jangan biarin Rama ketemu sama Aisyah dulu thorr