NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Menikahi Ayah Selingkuhan Suamiku

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vivi

Ketika Kamila Santoso pulang membawa kue ulang tahun pernikahan, ia tidak menyangka akan menemukan suaminya bersama perempuan lain di ranjang mereka sendiri. Tujuh tahun pengorbanan, harta yang dijual demi bisnis keluarga, dan semua hinaan yang ia telan runtuh dalam satu malam.
Kali ini Kamila tidak menangis dan tidak memohon. Ia mengumpulkan bukti, menuntut haknya, dan pergi dengan kepala tegak. Namun saat ayah sang selingkuhan, Gibran Beltran, muncul untuk meminta maaf, hidup Kamila berubah ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Di antara perceraian, perebutan harta, keluarga mertua yang tamak, dan hati yang perlahan belajar percaya lagi, Kamila harus memilih: tetap menjadi korban masa lalu, atau merebut kembali martabatnya dengan cara yang membuat semua orang terdiam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Saran Gila Lusia

Setelah menutup telepon, Kamila mengaktifkan mode senyap, membalik tubuh, dan membenamkan wajah ke bantal putih hotel.

Kelelahan akhirnya mengalahkannya.

Sejak menemukan pesan-pesan antara Maulana dan Valerie, Kamila belum meneteskan satu air mata pun.

Bukan karena ia kuat.

Yang ia rasakan lebih tajam daripada kesedihan: kejernihan.

Akhirnya ia melihat bahwa dalam pernikahannya tidak pernah ada kesetaraan.

Bagi Kamila, menikah berarti meninggalkan orang tuanya untuk membangun rumah bersama Maulana. Bagi Maulana, menikah berarti membawa Kamila ke rumah ibunya dan menunggu perempuan itu menyesuaikan diri dengan semua tuntutan mereka.

Kamila harus merawat perempuan yang tidak pernah membesarkannya dan menanggung kritiknya dengan senyum.

Teresa selalu mengulang kalimat yang sama:

"Menantu harus tahu berterima kasih. Tanpa aku, suamimu tidak akan ada."

Kamila bertahan karena cinta dan karena orang tuanya, tetapi ia tidak pernah berhasil membuat ibu mertuanya menerima dirinya. Ia juga tidak mampu mempertahankan cinta suaminya.

Dalam naskah kehidupan yang Maulana tulis untuk mereka, Kamila hanyalah tokoh sampingan yang wajib mengikuti arahan. Perasaan, martabat, dan batas dirinya bisa dikorbankan setiap kali Maulana merasa itu menguntungkan.

Ia memejamkan mata.

Kamila mengingat pernikahannya, tujuh musim semi lalu.

Ia mengenakan gaun yang dibuat khusus untuk tubuhnya. Ia berjalan menyusuri lorong sambil menggandeng lengan ayahnya, sementara Maulana menunggunya di bawah lengkung penuh bunga.

Mata Maulana memerah dan suaranya bergetar saat mengucapkan janji.

"Aku akan mencintaimu, menjagamu, dan melindungimu seumur hidupku. Aku akan menjadikanmu perempuan paling bahagia di dunia."

Kamila mempercayainya.

Bagaimana mungkin ia membayangkan bahwa tujuh tahun kemudian, justru dirinya yang mengakhiri sandiwara itu?

Ia tidur sejak fajar sampai malam kembali turun.

Ketika bangun, kepalanya jauh lebih jernih.

Ia menemukan deretan panjang pesan dari Maulana. Isinya tentang pembagian harta, Valerie, dan kebutuhan untuk menjauhkan Gibran dari masalah itu.

Kamila hanya melihatnya sekilas.

Penjelasan Maulana tidak menarik baginya. Ia hanya memperhatikan angkanya.

Selama Maulana membayar semua yang ia utang, laki-laki itu boleh mengatakan apa saja.

Tiba-tiba Kamila ingin minum sampai bisa melupakan semuanya untuk beberapa jam.

Besok ia akan mencari pengacara untuk menyiapkan perceraian.

Ia melihat jam.

Hampir pukul sebelas malam.

Di ibu kota, Lusia Salim adalah satu-satunya sahabat sejati Kamila.

Mereka saling mengenal sejak SMP. Mereka tumbuh di kota kecil yang sama dan, seiring waktu, keduanya pindah ke ibu kota. Lebih dari lima belas tahun mereka berbagi rahasia.

Lusia adalah ibu tunggal.

Ia hamil saat kuliah dan sempat berhenti belajar, yakin bahwa ia akan menikah dan mengurus anaknya.

Keluarga pacarnya menunda pernikahan sampai usia kandungannya hampir tujuh bulan. Mereka ingin menghemat setiap rupiah, dan karena Lusia sudah hamil, mereka mengira ia tidak mungkin mundur.

Calon ibu mertua berjanji akan memberinya satu set berlian pada hari pernikahan.

Lalu perempuan itu berubah pikiran.

Ia akan memberi perhiasan palsu, dan jika keluarga sudah punya uang, mungkin mereka membeli yang asli.

Perempuan itu juga memutuskan foto profesional hanya buang-buang uang. Cukup pergi ke studio murah dan mengambil dua atau tiga foto untuk dipajang di ruang tamu.

Gaun pengantin bisa dibeli lewat internet dan dikembalikan setelah upacara.

Cincin harus yang paling murah yang bisa ditemukan.

Lusia mendengarkan semuanya dalam diam.

Ia mengangguk setiap kali calon ibu mertuanya mengumumkan penghinaan baru.

Melihat Lusia tampak begitu patuh, perempuan itu merasa menang. Ia memanfaatkan kesempatan untuk meminta kartu tempat gaji Lusia masuk.

Setelah pernikahan, dialah yang akan mengatur uang pasangan itu, dan setiap keputusan harus dikonsultasikan dengannya.

Pacar Lusia menutupnya dengan kalimat:

"Di keluarga ini, kata-kata mamaku adalah hukum."

Lusia juga menerima itu.

Sehari sebelum pernikahan, ia menghilang.

Ia pergi sendirian ke ibu kota dan melahirkan putranya jauh dari mereka semua.

Ia tidak pernah kembali tinggal di kota asalnya.

Belakangan, ia mendengar keluarga mantannya menjadi bahan gosip paling menarik di lingkungan mereka.

Adegan paling berkesan terjadi ketika sang calon mertua pergi ke bank membawa kartu Lusia, berharap menemukan seluruh tabungannya.

Saldo rekening itu hanya Rp2.500.

Dalam keterangan transfer terakhir, Lusia menulis: "Untuk calon mertua yang merasa dirinya paling pintar."

Perempuan itu pingsan karena marah.

Saat sadar, ia terus mengulang:

"Dia menghinaku! Anak itu menghinaku!"

Kamila merasa bangga sekaligus khawatir ketika Lusia mengambil keputusan itu.

Ia mendampingi Lusia selama kehamilan dan berada di sisinya saat anak itu lahir.

Sekarang Niko berusia empat tahun, dan hidup Lusia akhirnya stabil.

Hidup Kamila baru saja runtuh.

Telepon berdering tiga kali.

"Halo?"

Suara Lusia jernih dan penuh tenaga. Di latar belakang terdengar Niko memprotes sesuatu.

"Kamila? Kamu sudah gila? Kamu tahu sekarang jam berapa?"

"Lus, aku akan bercerai."

Di seberang sana jatuh keheningan mutlak.

Bahkan Niko berhenti bersuara.

Beberapa detik berlalu sebelum Lusia bertanya dengan suara serius:

"Kamu di mana?"

"Di hotel."

"Dia memukulmu?"

"Tidak."

"Lalu apa yang terjadi?"

Kamila membuka mulut.

Kata-kata "dia mengkhianatiku" tersangkut di tenggorokannya.

"Dia punya perempuan lain."

Hening lagi.

"Kirim lokasimu. Aku ke sana."

"Tidak perlu. Sudah malam dan..."

"Jangan mulai. Kirim alamatnya sekarang. Kalau kamu sendirian lalu mulai memikirkan hal-hal bodoh, besok aku akan datang ke tempat kerjamu dan membongkar aibmu di depan semua orang."

Kamila tertegun, tetapi akhirnya tersenyum.

"Baik."

Setelah panggilan berakhir, ia baru sadar tangannya gemetar.

Dua puluh menit kemudian, Lusia muncul di pintu kamar.

Ia memakai kaus putih dan rambutnya diikat seadanya. Di satu tangan, ia membawa kantong berisi bir. Di tangan lain, taco dan daging panggang yang masih mengepulkan panas.

Ia meletakkan semuanya di meja dan langsung menghampiri Kamila.

Lusia memegang wajah Kamila dengan kedua tangan dan memeriksanya dari satu sisi ke sisi lain.

"Kamu tidak menangis?"

Ia berbicara seolah sedang memeriksa luka.

"Tidak."

"Bagus."

Lusia melepaskannya dan mengangguk.

"Kalau begitu jangan menangis. Laki-laki itu tidak pantas."

Ia membuka sekaleng bir, menyerahkannya kepada Kamila, lalu membuka satu lagi untuk dirinya sendiri.

Mereka membenturkan kaleng.

"Untuk keberhasilan keluar dari neraka."

Kamila menatapnya.

Sesaat, hidungnya terasa perih, seolah air mata akhirnya ingin keluar.

Itu hanya berlangsung sebentar.

"Kami belum menyepakati pembagian harta," katanya setelah minum. Rasa pahit membuatnya mengerutkan dahi. "Menurut dia, dia akan memberi semua yang menjadi hakku."

Lusia tertawa penuh hinaan.

"Menurut dia? Sejak kapan kata-katanya menentukan apa pun? Dengar baik-baik, Kamila. Mulai hari ini, jangan percaya satu suku kata pun darinya. Janji laki-laki saat bercerai bisa lebih palsu daripada janji yang dia ucapkan di pernikahan."

Ia mengeluarkan buku catatan dari tas, membukanya, lalu melepas tutup pena dengan gigi.

Ekspresinya berubah.

Sekarang ia tampak seperti akuntan yang akan memulai audit.

"Sebutkan aset kalian."

Lusia meletakkan buku catatan di meja kecil kamar dan memakai sekaleng bir untuk menahan salah satu sudutnya.

"Mulai dari properti. Rumah itu atas nama siapa? Siapa yang membayar uang muka? Siapa yang mencicil kreditnya?"

Kamila bersandar pada kepala ranjang.

"Kami membelinya setelah menikah. Orang tuanya membayar uang muka dan sertifikatnya atas nama Maulana. Kami membayar cicilan lima tahun. Aku yang membayar renovasi. Sekitar Rp1,2 miliar."

Ia menggeleng saat mengingatnya.

"Orang tuanya bilang aku hanya perlu membayar renovasi dan mereka akan menanggung kreditnya. Setelah itu, Teresa memutuskan karena itu rumah kami, kami yang harus membayar."

Mengubah aturan setelah mendapatkan apa yang ia inginkan adalah salah satu keahlian Teresa.

"Kamu masih menyimpan faktur renovasi?"

"Sepertinya ya. Aku punya map untuk dokumen-dokumen itu."

Lusia menulis cepat.

"Kendaraan?"

"Satu Land Rover yang dibeli selama pernikahan. Terdaftar atas namanya."

Lusia terus mencatat.

"Itu juga masuk negosiasi. Minimal kamu berhak atas bagian yang sesuai dengan harta perkawinan."

"Aku sudah menyiapkan daftar saham, investasi, dan aset lain."

Kamila menyerahkan dokumen-dokumen itu.

Lusia memeriksanya beberapa kali, baris demi baris, mencari celah yang terlewat.

"Besok aku ikut ke kantor pengacara. Kita harus memastikan Pak Mendez menemukan semua lubang sebelum Maulana mencoba menyembunyikan sesuatu. Jangan beri keunggulan satu rupiah pun kepada bajingan itu."

Kamila minum lagi.

"Ayah Valerie bilang akan mengganti kerugianku juga. Aku tidak tahu apakah dia serius."

Mata Lusia berbinar.

"Benarkah ada peluang seindah itu? Pertama, jawab satu hal: ayahnya ganteng?"

Kamila hampir menjatuhkan bir.

"Pertanyaan macam apa itu?"

"Pertanyaan yang sangat penting."

Lusia meletakkan pena dan mencondongkan tubuh ke arahnya.

"Kalau dia ganteng, goda dia. Nikahi dia dan jadilah ibu tiri Valerie. Bayangkan, selingkuhan suamimu harus memanggilmu Mama. Itu jauh lebih seru daripada berebut laki-laki tidak setia dengannya."

Kamila nyaris menyemburkan bir. Ia mulai terbatuk.

"Kamu sudah gila?"

"Aku sedang berpikir sangat jernih. Gibran Beltran cukup terkenal dan, setahuku, masih lajang."

Lusia mengangkat jari sambil memaparkan teorinya.

"Putrinya menggoda suamimu. Kamu menggoda ayahnya. Itu pertukaran yang adil. Saat ada pertemuan keluarga, kamu jadi yang lebih tua. Dia harus duduk di depanmu dan menghormatimu. Bukankah itu argumen yang lebih menarik daripada bertengkar soal rumah?"

Kamila membuka mulut.

Ia tidak langsung menemukan jawaban.

"Lagi pula," lanjut Lusia sambil menulis di buku catatan, "Gibran sangat kaya dan sudah menawarkan kompensasi. Pertama, kamu mendapat bagian perceraianmu. Lalu ganti rugi dari ayahnya. Terakhir, hadiah pernikahan saat kamu menjadi istrinya."

Ia menarik tiga garis di kertas.

"Itu namanya restrukturisasi aset."

Kamila tertawa keras.

Ia menempelkan kaleng dingin ke pipinya.

"Kamu dengar sendiri ucapanmu?"

"Aku sedang menyajikan solusi optimal. Sekarang jawab: usianya berapa dan seperti apa tampangnya?"

Kamila mengusap setetes bir yang tertinggal di bibirnya.

"Dia memang menarik. Mungkin awal empat puluhan."

"Valerie dua puluh empat. Kalau dia menikah muda dan langsung punya anak, usianya mungkin empat puluh lima atau empat puluh enam."

Lusia menghitung.

"Kamu dua puluh delapan. Selisih tujuh belas tahun."

Matanya kembali berkilau.

"Tapi dia kaya, tampan, dan tampaknya masuk akal. Menawarkan kompensasi membuktikan dia punya hati nurani lebih banyak daripada semua yang Maulana tunjukkan dalam tujuh tahun. Kalau kamu menikah dengannya, Valerie bisa mati karena marah."

"Cukup."

Kamila melempar bantal kepadanya.

Lusia menangkapnya dan tertawa.

"Aku serius. Bayangkan makan keluarga. Dia duduk di depanmu, dipaksa memanggilmu ibu tiri."

"Makin lama ucapanmu makin absurd."

Kamila tersenyum sambil kembali ke urusan penting.

"Jam berapa kita ke kantor pengacara?"

"Setengah sepuluh. Aku sudah membuat janji dengan Pak Mendez. Dia spesialis hukum keluarga dan reputasinya sangat baik."

Keceriaan meninggalkan wajah Lusia.

"Kali ini kamu tidak boleh melunak. Maulana selingkuh dan kita punya bukti. Jangan lepaskan apa pun yang menjadi hakmu."

Kamila diam beberapa detik.

"Aku tahu."

"Jangan juga menolak kompensasi Gibran terlalu cepat. Tidak peduli dia menawarkannya karena rasa bersalah atau untuk menutup skandal. Uang yang masuk ke rekeningmu itu nyata. Kamu bukan orang suci yang wajib membayar hati nurani keluarga itu."

Kamila mengangguk dan mengambil taco lagi.

Lusia tetap tidak bisa menahan diri untuk kembali bercanda.

"Tapi kalau dia benar-benar setampan itu, kamu bisa menerima satu kencan. Bicara dengannya, amati baik-baik, lalu putuskan apakah kamu tertarik."

"Mengamatinya seolah dia barang dagangan?"

"Tepat sekali."

Kamila menggeleng.

"Putrinya adalah selingkuhan suamiku. Apa masuk akalnya aku berkencan dengan ayahnya?"

"Masuk akal sekali. Namanya negosiasi diplomatik. Putrinya menghancurkan pernikahanmu, jadi dia harus bertanggung jawab. Kalau kamu tidak nyaman pergi sendiri, aku ikut. Dengan begitu aku bisa menilai apakah dia bisa dipercaya atau hanya berjanji untuk menenangkanmu."

Lusia mendekat dan menurunkan suara.

"Sekarang aku serius, Cami. Kamu tahu bagaimana keluarga Zamora memperlakukanmu. Ibu mertuamu melanggar setiap janji. Suamimu mengkhianatimu. Kamu membayar renovasi rumah yang terdaftar atas namanya. Sekarang kamu punya kesempatan mengambil kembali semua yang kamu investasikan. Kenapa kamu harus menolaknya?"

"Diam."

Kamila melempar kaleng kosong kepadanya, tetapi ia tersenyum.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Niko di mana? Kamu titipkan ke siapa sampai bisa datang?"

"Ke mamaku."

Kamila berkedip.

"Mamamu? Kupikir kamu..."

"Ya. Aku tidak pulang selama tujuh tahun."

Lusia meneguk bir.

"Tapi dia datang ke ibu kota bulan lalu. Dia bilang ingin lebih mengenal cucunya. Aku menjawab dia boleh datang, tapi aku tidak akan kembali tinggal di sana."

Ia menatap Kamila dengan senyum tipis.

"Hal pertama yang dia katakan saat melihatku adalah: 'Maafkan Mama atas semua yang kamu tanggung.' Yang kedua: 'Kamu pasti melewati tahun-tahun yang sangat sulit.'"

Sesuatu menyala di mata Lusia.

Cahaya yang sudah lama tidak Kamila lihat.

"Ada hubungan yang hancur selamanya," lanjut Lusia, "tapi ada juga yang masih bisa diperbaiki. Kapan kamu akan memberi tahu orang tuamu?"

Kamila termenung.

"Setelah proses cerai resmi dimulai."

"Saat papamu tahu Maulana punya selingkuhan, dia akan memahami keputusanmu."

"Kuharap begitu."

Lusia membuka bir lagi dan mengangkat kalengnya.

"Untuk pertarungan besok."

Kamila membuka satu lagi dan membenturkan kalengnya.

"Untuk hidup baruku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!