"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035: Pelatihan dengan Nayla
Nayla muncul di gym Rumah Bukit pukul enam pagi.
Arya sedang berdiri di depan cermin, membuka perban lama dengan gerakan pelan. Jahitan di sisi kirinya tampak bersih, tetapi kulit di sekitarnya masih memerah. Di meja kecil ada salep dari Andini, obat dari dokter Kota Selatan, dan catatan singkat Pak Satria tentang jadwal kontrol.
Nayla berhenti di pintu.
"Kamu benar-benar mau latihan?"
"Tidak seperti biasa."
"Bagus. Karena kalau kamu memukul samsak hari ini, aku yang akan memukulmu."
Arya menempelkan perban baru. "Ancaman yang konsisten."
"Aku belajar dari yang terbaik."
Ia masuk dengan pakaian olahraga hitam dan rambut diikat tinggi. Tidak ada riasan. Tidak ada perhiasan. Wajahnya segar, matanya keras kepala.
"Ajari aku."
Arya menoleh. "Apa?"
"Beladiri. Bukan gerakan cantik untuk video. Yang bisa dipakai kalau orang seperti Rahmat menyentuhku lagi."
Ruang gym menjadi sunyi.
Arya menutup kotak obat.
"Kamu sudah berani melawan."
"Berani tidak cukup. Aku sempat menendang satu orang, menyikut satu lagi, lalu tetap diculik. Aku tidak suka perasaan itu."
Arya memahami nada itu.
Itu bukan sekadar ingin kuat.
Itu rasa benci karena pernah dibuat tidak berdaya.
"Baik," katanya. "Hari ini bukan latihan menyerang. Hari ini latihan keluar."
"Keluar?"
"Keluar dari pegangan. Keluar dari sudut. Keluar dari kepanikan."
Nayla mengangguk. "Mulai."
Latihan pertama sederhana: pergelangan tangan.
Arya memegang tangan Nayla dengan satu tangan. Tidak keras.
"Jangan tarik lurus. Orang yang lebih kuat akan menang. Cari celah ibu jari, putar, keluar."
Nayla mencoba.
Gagal.
Ia mencoba lagi.
Gagal lagi.
Pada percobaan ketiga, ia menggeram. "Kamu sengaja membuatnya sulit."
"Orang jahat tidak akan membuatnya mudah."
"Pegang lebih keras."
"Belum."
"Arya."
"Teknik dulu. Ego nanti."
Nayla menatapnya dengan kesal, tetapi mengikuti. Kali ini ia memutar pergelangan, menurunkan siku, dan keluar dari celah.
Arya melepas.
"Bagus."
"Sekali lagi."
Mereka mengulang sampai napas Nayla mulai cepat. Setiap kali ia terlalu mengandalkan tenaga, Arya menghentikannya. Setiap kali ia bergerak tepat, ia memberi satu kata singkat: "Bagus." Anehnya, kata pendek itu membuat Nayla lebih puas daripada pujian panjang.
Latihan kedua: pegangan dari belakang.
Arya berdiri di belakangnya.
"Kalau orang lebih besar menahanmu, jangan coba mendorong seluruh tubuhnya. Turunkan pusat berat, injak kaki, siku ke rusuk, putar keluar."
Nayla diam beberapa detik.
"Kamu ragu?"
"Tidak."
"Kalau tidak nyaman, kita ganti latihan."
Nayla menoleh sedikit. Suaranya lebih pelan. "Aku tidak suka ingat gudang itu."
"Kita berhenti."
"Tidak." Ia menarik napas. "Justru karena itu aku harus bisa."
Arya mengangguk.
Ia memegang dari belakang dengan hati-hati, memberi ruang aman. Namun tubuh Nayla tetap menegang saat lengan Arya melingkar.
"Napas," kata Arya pelan. "Kamu masih di sini. Bukan di gudang."
Nayla menutup mata sesaat.
Lalu ia bergerak.
Turun.
Injak.
Siku.
Putar.
Ia berhasil keluar, lalu hampir kehilangan keseimbangan. Arya menangkap bahunya.
Jarak mereka dekat.
Terlalu dekat untuk sekadar instruktur dan murid.
Nayla menatapnya. "Kalau lawannya kamu, teknik ini tetap gagal."
"Kalau lawannya aku, kamu tidak perlu teknik ini."
"Karena kamu tidak akan menyakitiku?"
"Karena aku tidak akan memegangmu tanpa izin."
Wajah Nayla memerah, tetapi ia menutupinya dengan cepat.
"Jawaban bagus. Sangat mengganggu."
Arya melepas bahunya.
"Istirahat."
"Aku belum selesai."
"Aku yang selesai. Jahitanku protes."
Nayla langsung melihat sisi tubuhnya. "Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Kamu sedang serius."
"Dan kamu sedang bodoh."
"Itu juga konsisten."
Mereka pindah ke area latihan kering, bukan menembak peluru tajam. Arya menunjukkan stance dasar dengan pistol latihan kosong, cara menjaga jari di luar pelatuk, cara mundur sambil tetap melihat arah bahaya, dan yang paling penting, kapan tidak perlu mengambil senjata.
"Senjata bukan keberanian," katanya. "Senjata hanya alat. Orang yang panik dengan alat berbahaya lebih buruk daripada orang tanpa alat."
Nayla mengangkat pistol latihan. "Jadi kuncinya tetap kepala dingin."
"Ya."
"Sayangnya kepalaku sering panas."
"Itu bisa dilatih."
"Atau kamu bisa terus membuatku kesal sampai aku terbiasa."
"Metode mahal."
"Aku Wicaksana. Bisa bayar."
Arya tertawa pelan, lalu meringis karena luka tertarik.
Nayla langsung menurunkan pistol latihan. "Selesai."
"Masih ada sepuluh menit."
"Selesai, Arya."
Kali ini suaranya tidak memberi ruang debat.
Mereka naik ke teras villa setelah Arya mengganti perban luar. Matahari turun di balik bukit, meninggalkan warna oranye lembut di langit. Pak Satria mengirim teh hangat dan pisang goreng, lalu pergi tanpa banyak bicara.
Nayla duduk di kursi rotan, memegang cangkir dengan kedua tangan.
"Dulu aku pikir kuat itu berarti tidak takut," katanya.
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Takut, tapi tetap tahu apa yang harus dilakukan."
Nayla menatap matahari. "Di gudang itu, aku takut."
"Aku tahu."
"Aku benci kamu melihatku begitu."
"Aku tidak melihat kelemahan."
"Apa yang kamu lihat?"
Arya menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
"Orang yang tetap melawan sampai detik terakhir."
Nayla menunduk. Uap teh menutupi senyumnya yang terlalu rapuh untuk ia pamerkan.
"Kamu selalu bicara tepat di saat paling menyebalkan."
"Aku sedang mencoba bicara jujur."
"Itu yang menyebalkan."
Hening di antara mereka bukan hening kosong. Ada sesuatu yang tumbuh perlahan, tidak sejinak rasa nyaman, tetapi juga tidak sekeras bahaya. Nayla menyukainya dan takut pada saat yang sama.
Ponsel Arya bergetar di meja.
Layar menyala.
Dini.
Nayla melihat nama itu sebelum Arya mengambil ponsel.
"Angkat," katanya.
Arya memperhatikan perubahan kecil di suaranya. "Nayla."
"Aku bilang angkat. Kak Dini mungkin khawatir soal lukamu."
Arya mengangkat telepon.
Suara Andini terdengar dari seberang, samar tetapi lembut. Ia menanyakan kondisi luka, lalu mengajak Arya bertemu besok untuk membicarakan proyek Restoran Fajar Indah dan sesuatu yang lebih pribadi.
Arya menjawab singkat, "Aku akan datang."
Saat telepon ditutup, Nayla sudah berdiri.
"Aku kembali ke kamar."
"Kamu marah?"
"Tidak."
"Kamu selalu menjawab tidak saat jelas bukan tidak."
Nayla menatapnya. Kali ini tidak ada api, hanya sesuatu yang lebih sunyi.
"Aku hanya ingat bahwa aku datang belakangan."
Arya berdiri pelan. "Nayla..."
Ia mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu.
"Jangan jawab sekarang. Kamu sendiri yang bilang belum punya hak menjawab."
Kalimat itu kembali kepadanya seperti cermin.
Nayla berjalan ke pintu teras, lalu berhenti.
"Terima kasih untuk latihan hari ini."
"Kita lanjut setelah lukaku membaik."
"Kita lihat nanti."
Ia pergi.
Di teras, matahari akhirnya hilang di balik bukit.
Arya menatap ponsel di tangannya, lalu dokumen Prabu yang terletak di meja ruang kerja melalui pintu kaca.
Perang keluarga, aset tersembunyi, tiga pembuktian, Andini, Nayla.
Semua garis bergerak mendekat.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan Rumah Besar Permata, Arya merasa bahwa musuh terbesarnya mungkin bukan hanya orang yang ingin menghancurkannya.
Melainkan hati orang-orang yang mulai ia izinkan mendekat.