Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Lihat itu, Wen Ren benar-benar ketiban rezeki! Dia mendapat dukungan penuh dari Senior Lin Yan. Katanya, selama dua bulan terakhir dia minum semangkuk Sup Peningkat Darah setiap hari tanpa pernah putus."
"Aku sendiri cuma mendapat 1 Poin Kontribusi sehari. Kalau mau menabung untuk membeli semangkuk Sup Peningkat Darah, aku harus hidup tanpa makan dan minum selama lebih dari empat tahun! Mana mungkin masih bisa mengejarnya!"
Nada suara Lu Chen dipenuhi rasa iri.
Qin Shang juga cukup terkejut melihat betapa besar investasi Lin Yan terhadap Wen Ren. Namun, ia tahu tidak ada yang namanya makan siang gratis. Mengapa Lin Yan rela mengeluarkan biaya sebesar itu demi Wen Ren?
Setelah melihat Wen Ren berhasil menembus tingkat kultivasi berikutnya, Qin Shang mulai bertindak sedikit lebih berani.
Lima hari kemudian, saat bekerja, ia membawa serpihan Batu Qianjun dua kali lebih banyak daripada biasanya. Ia juga melangkah sekitar tiga meter lebih jauh ke arah sungai bawah tanah.
Qin Shang menyadari bahwa selain Lin Kai yang sempat memandangnya dengan heran, tidak ada orang lain yang memperhatikannya.
Bahkan para penegak hukum yang berjaga di tepi sungai hanya benar-benar mengawasi mereka pada beberapa hari pertama karena khawatir dirinya dan Lin Kai menjatuhkan serpihan Batu Qianjun.
Setelah melihat gerakan mereka semakin terampil, para penegak hukum pun tidak lagi memberi perhatian khusus kepada mereka. Fokus mereka beralih kepada para pendatang baru.
Di Divisi Penyaringan Pasir Roh, hampir setiap satu atau dua hari selalu ada orang baru yang datang, sementara sebagian lainnya pergi.
Mereka yang pergi biasanya dipindahkan ke divisi lain, atau karena terlalu lama menyaring Pasir Roh di sungai bawah tanah hingga tubuh mereka diserang hawa dingin, jatuh sakit, bahkan kehilangan nyawa.
Bahkan bagi seorang petarung sekalipun, tidak banyak yang mampu mengakhiri hidupnya dengan tenang di Gunung Tianyuan.
Sejak saat itu, jumlah Pasir Roh Tanah yang diserahkan Qin Shang setiap hari meningkat menjadi dua kali lipat.
Upahnya pun naik dari 1 Poin Kontribusi menjadi 2 Poin Kontribusi per hari.
Dua bulan kembali berlalu.
Tepat enam bulan sejak Qin Shang dan yang lainnya tiba di Gunung Tianyuan.
Hari itu, Qin Shang sedang menyaring Pasir Roh di sungai bawah tanah. Air sungai yang sedingin es terus menghantam baki penyaring di tangannya, sekaligus membasahi seluruh tubuhnya.
Namun perlahan, gerakannya terhenti.
Seluruh tubuhnya mulai memerah.
Keadaan itu berlangsung sekitar satu menit sebelum Qin Shang kembali membuka mata.
"Aku akhirnya mencapai Tahap Peningkatan Darah Ketiga! Tak kusangka, hanya dalam waktu setengah tahun aku sudah menempuh jalan yang dulu membutuhkan delapan tahun bagi Senior Lin Yan."
Qin Shang merasakan darah dan energinya mengalir deras bagaikan gelombang yang tak pernah berhenti.
Bahkan baki penyaring di tangannya kini terasa seringan bulu.
Rasa gembira yang memenuhi hatinya nyaris tak dapat disembunyikan.
Setelah mencapai Peningkatan Darah Ketiga, kekuatannya kembali meningkat pesat.
Namun, tak lama kemudian ia kembali menenangkan diri.
Selama enam bulan terakhir, ia juga telah memahami sistem kultivasi bela diri di Gunung Tianyuan.
Secara garis besar, orang-orang di Gunung Tianyuan terbagi menjadi tiga golongan.
Golongan pertama adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang maupun pendukung.
Selain Wen Ren, seluruh murid Kelas 11 termasuk dalam golongan ini.
Mereka hanya bisa bekerja sedikit demi sedikit untuk mengumpulkan Poin Kontribusi, lalu menukarkannya dengan Sup Peningkat Darah.
Golongan kedua adalah mereka yang memiliki latar belakang atau kekuatan pendukung.
Ma Haoran adalah salah satu contohnya.
Selama enam bulan terakhir, Qin Shang selalu berlatih di tepi sungai setiap pagi. Ma Haoran juga melakukan hal yang sama.
Seiring kemampuan bahasa Qin Shang semakin baik, percakapan di antara mereka pun menjadi semakin sering.
Dari situlah Qin Shang mengetahui bahwa Ma Haoran memiliki kerabat di Gunung Tianyuan.
Walaupun kerabatnya bukan Grandmaster Tahap Pembukaan Meridian, ia tetap merupakan seorang ahli kuat di Tahap Penempaan Tulang.
Karena itulah Ma Haoran dapat menikmati semangkuk Sup Peningkat Darah setiap hari tanpa pernah terputus.
Adapun golongan ketiga adalah para jenius berbakat dalam bela diri.
Sekalipun tidak memiliki latar belakang, orang-orang seperti ini tetap akan menarik perhatian para tokoh besar, direkrut ke dalam kubu mereka, lalu dibina dengan sepenuh hati.
Wen Ren termasuk dalam golongan ini.
Bakatnya bahkan sedikit lebih tinggi daripada Ma Haoran.
Tentu saja, Wen Ren masih belum bisa disebut sebagai jenius bela diri terbaik.
Kalau benar-benar berada di tingkat itu, yang menerimanya sebagai murid bukanlah Lin Yan, melainkan para tokoh besar lain yang akan saling berebut untuk mendapatkannya.
Sementara itu, Lin Yan sendiri berasal dari golongan pertama.
Meski ia dibawa ke Gunung Tianyuan oleh Mo Yuan, Mo Yuan sama sekali tidak memberikan bantuan kepadanya.
Bakat alaminya juga tidak tergolong luar biasa.
Dulu, ia hanya bisa bekerja sambil mengumpulkan Poin Kontribusi sedikit demi sedikit.
Butuh delapan tahun penuh bagi Lin Yan untuk mencapai Tahap Peningkatan Darah Ketiga.
"Memiliki seseorang yang membimbing dan tidak memiliki siapa pun benar-benar seperti langit dan bumi."
"Untungnya, aku memiliki Energi Abadi dari Alam Abadi untuk membantuku berkultivasi."
"Meski begitu, aku tidak boleh menjadi sombong atau gegabah. Hanya dengan melangkah mantap sedikit demi sedikit, aku bisa bertahan dalam jangka panjang."
Tiga hari kemudian, tibalah hari pembagian Poin Kontribusi.
Qin Shang pergi ke Divisi Urusan Umum untuk mengambil Poin Kontribusinya.
Setelah dikurangi seluruh pengeluaran selama beberapa bulan terakhir, ia masih memiliki 250 Poin Kontribusi.
Selama lima bulan bekerja, pada dua bulan pertama ia mengikuti aturan dengan patuh sehingga hanya memperoleh 30 Poin Kontribusi setiap bulan.
Memasuki dua bulan berikutnya, hasil kerjanya meningkat dua kali lipat sehingga ia berhasil mengumpulkan total 120 Poin Kontribusi.
Pada bulan terakhir, Qin Shang menyadari bahwa seluruh petugas pengawas dan pencatat telah diganti.
Karena itu, ia bekerja habis-habisan dan berhasil memperoleh 80 Poin Kontribusi hanya dalam satu bulan.
Dengan demikian, jumlah seluruh Poin Kontribusi yang diperolehnya mencapai 260.
Sebanyak 10 Poin Kontribusi ia tukarkan menjadi uang untuk membayar sewa rumah, biaya hidup, sekaligus melunasi utangnya kepada Ma Haoran.
Lin Kai juga sangat terkejut melihat peningkatan kekuatan Qin Shang.
Namun, setelah Qin Shang mentraktirnya minuman hangat di gua bagian atas dan secara terus terang memintanya merahasiakan hal itu, Lin Kai benar-benar menepati janjinya dan tidak membocorkan apa pun.
"Dengan 250 Poin Kontribusi, aku bisa menukar lima mangkuk Sup Peningkat Darah."
Qin Shang bergumam dalam hati.
Tentu saja, lima mangkuk Sup Peningkat Darah itu bukan untuk dirinya.
Melainkan untuk Lu Chen.
Sekarang, setiap hari Qin Shang dapat menyerap Energi Abadi dari Alam Abadi sehingga ia sama sekali tidak lagi membutuhkan Sup Peningkat Darah.
Selain itu, saat ia berhasil menembus tingkat kultivasi dulu, Sup Peningkat Darah yang diberikan Lu Chen juga telah banyak membantunya.
Ditambah lagi, hubungan persahabatan mereka memang sudah cukup erat.
Bahkan seandainya Lu Chen tidak pernah memberinya Sup Peningkat Darah sekalipun, Qin Shang tetap akan membantunya mencapai Tahap Peningkatan Darah.
Keesokan paginya, Qin Shang tidak pergi berlatih di tepi sungai.
Ia berencana langsung menuju Divisi Makanan Obat untuk menukar Poin Kontribusinya dengan Sup Peningkat Darah.
Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Ia pun berbalik dan melangkah menuju tepi sungai.
"Sebaiknya aku bertanya dulu kepada Ma Haoran. Siapa tahu dia punya cara mendapatkan Sup Peningkat Darah dengan harga yang lebih murah."
Setelah tinggal selama setengah tahun di Gunung Tianyuan, Qin Shang telah memahami banyak hal.
Salah satunya adalah perbedaan harga sewa di wilayah hulu dan hilir, baik di sisi timur maupun barat Kota Kecil Tianyuan.
Akar perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa setiap wilayah berada di bawah perlindungan kekuatan yang berbeda.
Sebenarnya, di Gunung Tianyuan tidak ada sistem penyewaan rumah yang resmi.
Siapa pun bebas membangun tempat tinggal selama bukan di kawasan terlarang.
Namun, tinggal di daerah terpencil sangat berbahaya.
Seseorang bisa dirampok.
Bahkan dibunuh.
Sekalipun Tim Penegak Hukum turun tangan, sering kali mereka tidak menemukan petunjuk apa pun sehingga kasus tersebut berakhir tanpa penyelesaian.
Karena itulah bermunculan berbagai kelompok yang membentuk faksi masing-masing, menguasai wilayah tertentu, lalu memungut biaya sewa.
Wilayah hulu di sisi timur sungai berada di bawah perlindungan lima Grandmaster Tahap Pembukaan Meridian.
Tidak seorang pun di Gunung Tianyuan berani mencari gara-gara dengan mereka.
Menyewa tempat tinggal di wilayah kekuasaan mereka bukan hanya menjamin keamanan, tetapi jika seseorang ditindas di luar kawasan permukiman, orang-orang mereka pun akan turun tangan membela.
Selain itu, mereka juga rutin mengadakan perdagangan internal serta memberikan bimbingan bela diri secara berkala.
Karena itulah biaya sewanya menjadi yang paling mahal.
Sementara itu, wilayah hilir berada di bawah perlindungan kelompok yang kekuatannya lebih lemah.
Mereka hanya bertanggung jawab menjaga keamanan kawasan permukiman, sedangkan urusan di luar wilayah itu sama sekali tidak mereka pedulikan.
Oleh karena itu, biaya sewanya juga menjadi yang paling murah.
Adapun para kultivator abadi yang tinggal di puncak Gunung Tianyuan sama sekali tidak mencampuri kemunculan berbagai kelompok tersebut.
Yang mereka pedulikan hanyalah apakah hasil produksi Batu Roh setiap bulan memenuhi target atau tidak.
Melihat keadaan Gunung Tianyuan seperti ini, ditambah lagi Poin Kontribusi dapat diperjualbelikan, Qin Shang merasa pasti ada peluang besar yang bisa dimanfaatkan.
Dan dugaannya memang benar.
Sesampainya di seberang sungai, Qin Shang mengutarakan pertanyaannya kepada Ma Haoran. Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata,
"Memang ada Sup Peningkat Darah yang harganya lebih murah. Ada yang dijual per mangkuk, ada juga yang dijual dalam bentuk paket bahan obat yang sudah diracik. Tinggal dibawa pulang lalu direbus sendiri."
Mata Qin Shang langsung berbinar.
"Di mana bisa mendapatkannya?"
"Pasar Gelap."