Sisilia Maharani awalnya adalah seorang gadis yang cantik, ceria dan baik hatinya. Walaupun Sisilia anak tunggal tapi tidak membuat dia jadi manja.
Setahun lalu Sisilia baru ditinggal mamanya karena sakit. Inilah titik awal kesengsaraan dalam kehidupannya dimulai. Keluarga yg dulunya cukup harmonis mulai terganggu dengan adanya perempuan laen dalam kehidupan papanya. Satu per satu masalah mulai timbul dalam hidup Sisil, baik masalah pribadi dengan pacarnya, Handoko juga masalah dengan papanya.
Bagaimana dengan pacarnya yg bernama Handoko?
Apakah Handoko seorang laki-laki yg bertanggungjawab dan bisa diharapkan?
Apakah papanya Sisilia akan menikah lagi? Bagaimana nanti dengan mama tirinya?
Akankah Sisil menemukan kebahagiaan?
Yuukk kita ikuti saja kisahnya yaa.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Dhenok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Bertemu mantan
Setelah tadi pagi sempat uring-uringan gak jelas, siangnya sehabis makan siang Handoko tertidur pulas di sofa. Mungkin efek kurang tidur.
Menjelang agak sore, sehabis bangun tidur Handoko langsung mandi. Dia bersiap-siap untuk menjemput mantan nya. Sore ini Lila, mantan nya akan pulang setelah selama empat tahun ditugaskan keluar kota dari perusahaan tempat kerjanya.
Handoko mempersiapkan dirinya serapih dan sewangi mungkin agar dihadapan mantannya nanti dia terlihat ganteng. Padahal udah ganteng sih, cuma dia suka kurang percaya diri.
Handoko walaupun berkacamata minus tapi tidak mengurangi kadar ketampanan nya. Dia selalu menjaga penampilan nya. Wajahnya terlihat lebih muda daripada umurnya.
"Gilaa... lu pake parfum berapa banyak? Sebotol? " ejek Manto yang melihat Handoko baru keluar dari kamarnya dan harum semerbak parfum langsung menyebar.
"Gaklah....cuma dari kepala sampai ke badan aja" Handoko dengan enteng menjawab sambil nyengir.
"Masya allah Han......lu mau ketemu mantan aja udah sama kaya kondangan! " sindir Manto sambil geleng-geleng kepala.
"Mantan spesial pake telor To... " Handoko terkekeh sambil menaik turunkan alisnya. Manto ikutan terkekeh.
"Gimana penampilan gue To? Udah kaya opa-opa Korea belum? " Handoko tertawa sendiri dengan pertanyaan nya.
"Udah bukan kaya opa-opa lagi......kaya aki-aki lu! " tawa Manto keras. Seneng rasanya bisa ngatain Handoko.
Manto memperhatikan penampilan Handoko yang bener-bener udah kaya anak abege mau pacaran. Pake kaos krah, celana panjang jeans dan ditambah sepatu pantovel gaya anak muda sekarang. Kumis pun sudah tercukur bersih.
Manto bukannya iri sama teman dekat sekaligus atasannya ini, tapi dia cukup kesal aja kenapa Handoko tidak bisa bersikap layaknya laki-laki dewasa. Kalau urusan pekerjaan okelah memang Handoko bisa diandalkan, tapi urusan pribadi....jangan berharap banyak deh.
"Sial lu!" kilah Handoko sambil menyulut rokoknya.
"Lu nampaknya bahagia banget Han!" Manto mengamati wajah Handoko yang menampakkan kebahagiaan.
"Yee gimana gak bahagia To..... empat tahun gue gak pernah ketemu, telpon juga kaga eehh tau-tau doi nelpon minta dijemput gue....coba tuh lu bayangin! " cerita Handoko sambil mengepulksn asap rokoknya.
"Terus habis ketemu mantan lu ngapain? " penasaran Manto bagaimana nanti Handoko akan bersikap.
"Ngapain gimana? Ya anterin dia ke rumahnya dong.. " Handoko bingung dengan pertanyaan Manto yang gak jelas.
"Maksud gue lu lanjut lagi jalan sama mantan?? " Manto menatap Handoko.
"Nah itu gue belom tau To. Tergantung respon nya dia aja ntar gimana... " Handoko asal menjawab sebab dia sendiri juga gak tau gimana kelanjutan nanti setelah ketemu Lila.
Inilah yang Manto gak suka dari Handoko. Semua yang mau dilakukan gak jelas. Manto sudah menduga pasti semua ini ada campur tangan Meiske, mama Handoko.
Suasana seketika menjadi hening. Hanya kepulan asap yang terlihat. Handoko dan Manto terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
"Gue jalan dulu To, takut kejebak macet! " Handoko pamit memecah keheningan di antara mereka. Manto hanya diam memandang Handoko yang bangkit dan berjalan keluar.
Handoko mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir. Kemudian dilajukannya mobilnya mantap menuju bandara.
*
*
Sementara itu di dalam sebuah pesawat tampak seorang gadis mungil, berambut panjang sebahu. Kesannya cantik dan imut. Lila memejamkan matanya, tapi tidak tidur.
Terbayang wajah Handoko yang tampan di benaknya. Dia membayangkan bagaimana pertemuan nya nanti dengan Handoko.
"Apakah Handoko masih tetap menyayangi ku? " tanya Lila dalam hatinya.
Selama empat tahun Lila sudah meninggalkan Handoko. Dia memang sengaja tidak melakukan kontak atau apapun, sebab Lila sendiri harus menata hatinya juga. Ternyata sulit juga untuk melupakan seorang Handoko di hatinya Lila. Walaupun sudah beberapa kali Lila berpacaran lagi. Tetap Handoko menempati relung hatinya yang terdalam.
Lila membayangkan apa yang mau dilakukannya ketika bertemu Handoko. Dia tersenyum sendiri. Rasa rindunya semakin tidak terbendung.
*
*
Hampir satu jam setengah Handoko mengendarai mobilnya dan akhirnya dia memasuki bandara. Di parkirnya mobilnya di parkiran mobil yang letaknya agak jauh sedikit. Sebab di bagian depan sudah terisi semua.
Kemudian Handoko berjalan dan menunggu di depan pintu kedatangan. Entah mengapa dia jadi grogi. Tidak pernah terbayangkan jika hari ini dia akan bertemu kembali dengan Lila, yang statusnya adalah mantan.
Handoko menutupi groginya, Handoko menyulut sebatang rokok. Handoko tidak tahu akan bersikap bagaimana nanti dengan Lila. Membayangkannya saja sudah membuat salah tingkah, apalagi bertemu langsung.
Tiba-tiba hapenya bunyi, tertera mama.
"Ya Ma... " sahut Handoko pelan.
"Kamu sudah jemput Lila di bandara? " suara Meiske terdengar.
"Ini sudah sampai bandara Ma, lagi nunggu. Pesawatnya belum mendarat. " sahut Handoko agak kecang sebab suasana disana ramai sekali.
"Ohh oke. Udah dulu ya. Salam untuk Lila dari Mama. " Meiske memutuskan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban Handoko.
Setelah menunggu dua puluh menit terdengar tanda yang memberitahukan bahwa pesawat dari kota M sudah mendarat. Handoko membuang rokoknya yang tinggal sedikit.
Hati Handoko berdebar-debar. Matanya fokus melihat orang-orang yang keluar dari dalam bandara. Banyak sekali orang yang keluar sebab ada dua pesawat yang mendarat hampir bersamaan.
Tidak lama berselang nampak seorang gadis mungil berkacamata hitam dengan rambut sepinggang berjalan dari dalam dengan menyandang tas di bahunya dan menyeret sebuah koper ukuran sedang. Gadis itu dari kejauhan sudah melambaikan tangan ke arah Handoko.
Handoko yang sedari tadi memperhatikan lalu-lalang orang yang keluar, akhirnya melihat seorang gadis mungil nanti cantik dan imut sedang melambaikan tangannya.
Handoko mengenalinya. Tidak ada perubahan dalam penampilan Lila. Segera dibalasnya lambaian tangan Lila.
Lila berjalan dengan anggun yang semakin dekat kepada Handoko. Sedangkan Handoko merasakan hatinya berdebar tidak karuan
Semakin lama semakin dekat. Dengan jarak yang tinggal sedikit lagi, Lila melangkah kan kakinya dengan cepat. Begitu sampai di depan Handoko, dipeluknya dengan erat.
Handoko tersentak kaget tidak menduga jika Lila akan memeluknya. Dibalasnya pelukan Lila.
Kemudian Handoko melepaskan pelukannya. Sehingga Lila pun melepaskan pelukannya. Tampak wajahnya sudah merah padam, malu.
"Yuukk... " Handoko mengambil koper Lila. Digandengnya tangan Lila berjalan menuju parkiran mobilnya. Dimasukkannya koper Lila ke dalam bagasi mobil. Kemudian membuka pintu untuk Lila. Lila tersenyum manis sekali. Handoko pun tersenyum bahagia.
Handoko melajukan mobilnya keluar dari bandara menuju rumah orang tua Lila yang sudah beberapa bulan ini kosong. Mereka sudah kembali menetap di kota S lagi. Kedua orang tua Lila memang tinggal di kota S. Dan mereka berteman baik dengan Meiske, mama Handoko.
"Gimana kabar kamu sayang? " Lila memecah kesunyian di dalam mobil. Handoko tetap fokus menyetir. Bibirnya tampak tersenyum tipis. Ternyata Lila masih menyayanginya. Hati Handoko penuh bunga-bunga cinta. Seakan cinta lama nya bersemi kembali.
"Baik sayang. Kamu yang gak ada kabarnya. " Handoko meraih jemari Lila. Diremasnya jari-jemari Lila dengan rasa sayang. Lila tersenyum bahagia.
"Kita gak usah bahas yang lalu ya sayang....yang penting kan sekarang aku sudah balik. " sahut Lila lembut.
"Iya sayang. Jadi kita lanjutkan hubungan kita sayang? " tanya Handoko sambil mengecup jemari Lila. Lila mendengar nya jadi sedikit bimbang.
"Iya sayang. Atau kamu gak mau? " Lila balik bertanya pelan.
"Kamu masih ada disini sayang! " Handoko membawa jari-jemari Lila ke dekat dadanya.
"Uuhh gombal.. " Lila tersenyum malu.
"Ini bukan gombal sayang, tapi kenyataan. Aku gak pernah melupakan mu. Gak ada yang bisa menggantikan posisi mu di hatiku sayang. " Handoko menjawab lembut sambil mencium tangan mungil Lila.
Tak lama berselang, mereka tiba di rumah Lila. Kemudian Lila meletakkan koper nya di kamarnya yang sudah lama kosong. Handoko membantu Lila membereskan dan membersihkan rumahnya Lila. Setelah rapih, Lila mandi dan bersiap-siap untuk pergi makan dengan Handoko.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=