Di dunia yang dikepung miliaran Monster ciptaan entitas purba Vitallion, kedudukan manusia ditentukan oleh seberapa agung Anima yang mereka panggil di Aula Kebangkitan.
Kael Ardyn, putra tunggal mendiang pahlawan militer, mendapati takdirnya hancur dalam semalam. Bukan makhluk Mitologi agung yang ia bangkitkan, melainkan Morthas (Sang Penuai Nyawa)—entitas Kelas Misterius berwujud Malaikat Maut yang terhapus dari sejarah ribuan tahun.
Dicap sebagai ancaman haram oleh Kerajaan Barat yang korup, Kael dijatuhi hukuman eksekusi mati. Diselamatkan di detik-detik terakhir oleh pendiri Guild Scar Horizon, Kael dilarikan ke alam liar di luar Dinding Peradaban.
Bersama persekutuan empat jiwa abnormal penguasa Anomali—Phoenix Api, Mammoth Purba, dan Kraken Kinetik—Kael menempa jiwanya untuk menguasai energi Kematian murni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: REUNI DI TENGAH NERAKA DAN Sinergi PERTEMPURAN
BAB 27: REUNI DI TENGAH NERAKA DAN Sinergi PERTEMPURAN
Matanya membelalak lebar, mengunci pemandangan brutal di depannya tanpa berkedip. Benteng Kerajaan Volcania yang biasanya berdiri megah kini berubah menjadi arena pembantaian yang mengerikan.
Impian Ren untuk memamerkan aksi heroismenya mendadak menguap di udara. Puluhan Beast Peringkat Menengah merangsek bagaikan lautan pasir yang tak bertepi, disokong oleh dua raksasa Peringkat Tinggi yang sedang bertarung frontal melawan Kapten Gareth dan Jenderal Veron.
“Kael… apa-apaan ini? Ini benar-benar di luar nalar!” seru Ren serak, suaranya gemetar oleh keheranan yang mendalam.
Kael tidak menjawab dengan kepanikan. Manik matanya yang gelap dan dingin bergerak cepat, mengalkulasi garis pertahanan yang nyaris hancur dan celah yang bisa dimanfaatkan.
“Tidak ada waktu untuk terpukau, Ren. Kita harus membuka jalan menuju benteng sekarang!” jawab Kael tegas, nadanya dingin namun sarat akan komando mutlak.
Aura Ranah Perunggu Puncak di dalam wadah jiwa Kael berdenyut hebat, menyuplai energi spiritual yang padat ke seluruh sarafnya. Di sebelahnya, Ren menggertakkan gigi, memaksa aliran jiwanya ikut meledak hingga ke batas maksimal.
Manifestasi Anima di punggung mereka mulai merekah secara bersamaan. Kabut hitam Void membalut raga Kael, sementara tentakel kinetik Kraken Rin mulai menari liar di belakang bahu Ren.
“Ayo, Ren!”
“Ya!”
Dua pemuda itu melesat maju bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, merobek debu pertempuran. Kael memutar tubuhnya di udara, mengayunkan Sabit Penuai Nyawa dalam satu tebasan melengkung yang memotong lintasan.
WHUUUUUSSSSH!
Bilah sabit merah menyala yang membawa hawa Kematian murni menghantam telak pelindung dada seekor Beast Peringkat Menengah.
BRAKKKKKK!
Benturan konseptual itu menahan pergerakan sang monster secara frontal, memicu gelombang kejut yang menerbangkan kerikil di sekitarnya.
“Ren, sekarang!” teriak Kael tanpa menoleh.
“Rasakan ini, Monster Sialan!” jerit Ren beringas.
Empat tentakel kinetik dari Anima Kraken Rin meluncur bagaikan tombak baja, meninju tepat di rahang dan dada Beast tersebut secara beruntun. Hantaman dahsyat itu membuat tubuh masif sang monster terhuyung mundur kehilangan keseimbangan.
Memanfaatkan celah sempit di barisan musuh, Kael menaikkan volumenya, menembus gemuruh perang. “HUGO! BUKA JALAN KAMI!”
Jauh di garis depan, Hugo yang mendengar teriakan itu langsung memusatkan aliran elemen tanahnya tanpa ragu.
BRUUUUUSSSSSHHHH!
Bumi di depan celah benteng terbelah, mengangkat struktur pondasi batu yang meratakan tumpukan bangkai dan bebatuan liar. Jalur lurus berstruktur padat tercipta secara instan, menyambungkan posisi Kael dan Ren langsung ke titik pertahanan utama.
Kael dan Ren memacu kaki mereka melintasi lintasan tanah buatan Morgrath, melompati sisa-sisa reruntuhan dengan kecepatan penuh.
Dalam hitungan detik, mereka berdua berhasil menerobos kepungan, mendarat mulus di samping rekan-rekan mereka. Kini, tim Scar Horizon telah berkumpul secara lengkap di medan perang Volcania!
“WOOOOOUUAHHH! Kerja bagus, Gendut!” ujar Ren dengan cengiran lebarnya, menepuk keras bahu Hugo hingga pemuda tambun itu sedikit terdorong ke depan.
Belum sempat Hugo membalas tepukan itu, sepasang mata merah menyala dari udara melirik tajam ke bawah.
“Jangan bercanda di saat seperti ini, Bodoh! Gelombang berikutnya datang!” bentak Elena dari balik kepakan Sayap Pyrael, suaranya melengking penuh peringatan.
Kael menyipitkan matanya, merasakan vibrasi tanah yang kembali bergetar hebat. “Mereka datang…” gumam Kael pelan.
ROOOOOOARRRRR!
Gerombolan Beast Peringkat Menengah yang tersisa kembali memutar haluan, merangsek maju secara brutal untuk meremukkan garis pertahanan yang baru saja terbentuk.
“Hugo, buat pertahanan berlapis!” komando Kael lugas.
“Dimengerti!” sahut Hugo mantap.
Hugo menghentakkan kedua telapak tangannya ke tanah, memanggil porsi energi penuh Morgrath.
KRAAAAK! BRAK! BRAK!
Tembok-tembok batu murni bertingkat mencuat dari dalam bumi, membentuk barisan perisai kokoh di depan mereka. Gelombang Beast yang merangsek langsung menabrakkan diri, membombardir dinding batu Hugo secara brutal hingga retakan tipis mulai bermunculan.
“Elena, serang barisan belakang! Pisahkan formasi mereka!” seru Kael mengarahkan pandangannya ke udara.
Elena mendengus ketus di udara, meskipun gerakannya bekerja dengan sangat presisi. “Cih, berani-beraninya kau mengaturku, Junior!”
Meski mulutnya bergumam gusar, kesiapan taktis Elena tidak perlu diragukan. Ia memiringkan kendali Pyrael, memfokuskan pendaran api neraka ke barisan cadangan musuh.
BOOOOM! BOOOOM! BOOOOM!
Tembakan beruntun berupa bola-bola api raksasa menghujani tanah dari udara, menciptakan ledakan beruntun yang membakar dan mengacaukan formasi belakang Beast. Ledakan masif itu memutus koordinasi musuh, menyisakan hanya tiga ekor Beast Peringkat Menengah yang terjebak di barisan depan dinding Hugo.
“Suna, bergerak bersama!” panggil Kael singkat.
Kael dan Suna melesat secara bersamaan, melompati pembatas dinding batu yang dibuat Hugo dengan gerakan yang teramat presisi.
WUUUHHHSSSH! WUUUSSHHH!
Ren yang masih berdiri di atas dinding batu mengulurkan tangannya, mencoba memanggil Kael. “Hei, Kael! Aku juga mau—”
Namun, Kael dan Suna telah melesat mendahului angin, mengabaikan panggilan Ren demi mengeksekusi celah pertarungan yang teramat sempit.
BRAKKK!
Sabit Morthas di genggaman Kael menghantam telak pelindung dada Beast terdepan. Lapisan zirah batu milik monster itu ternyata teramat keras, menahan mata pisau Kael hingga memercikkan kilatan api spiritual.
Namun, Kael tidak berniat menumbangkan musuh sendirian. Ini adalah umpan taktis! Ketika fokus penuh sang Beast terkunci total pada tekanan Sabit Morthas, Suna melesat dari titik buta dengan kecepatan kinetik yang tak tertangkap mata.
SRAAAATTTTTT!
Dengan satu tebasan melingkar yang sangat tajam, sepasang belati kinetik Suna menghantam tepat di kedua organ mata Beast tersebut.
ROOOOOOARRRRR!
Raungan kesakitan yang memekakkan telinga meledak dari mulut monster itu. Pandangannya buta seketika, membuatnya mengamuk secara liar dan mencakar udara ke segala arah tanpa pola.
“Ren, sekarang!” teriak Kael memberi sinyal eksekusi akhir.
Mendengar namanya dipanggil secara resmi, rasa kesal Ren menguap seketika, berganti dengan seringai beringas di wajahnya.
“Sialan… Sang Pahlawan memang selalu datang di saat-saat terakhir!” seru Ren berapi-api.
Pemuda berambut merah itu melompat turun dari atas dinding batu, memacu langkahnya dengan gairah tempur yang meluap-luap.
Empat tentakel kinetik dari Anima Kraken Rin melilit erat leher Beast yang sedang mengamuk buta tersebut, mengunci pergerakannya secara mutlak. Sementara dua tentakel lainnya terangkat tinggi di udara, meluncur turun bagaikan godam besi yang menghantam wajah sang monster secara bertubi-tubi!
BOOOM! BOOOM! BOOOM!
Hantaman bertubi-tubi dari tentakel kinetik Kraken Rin meremukkan tengkorak Beast Peringkat Menengah tersebut. Keretakan masif menjalar di sepanjang zirahnya sebelum tubuh raksasa itu akhirnya hancur berkeping-keping, roboh tak bernyawa ke atas tanah berdebu.
Namun, medan perang tidak memberikan jeda untuk merayakan kemenangan. Dua Beast Peringkat Menengah lainnya yang tersisa di barisan depan langsung bereaksi. Melihat kawannya tumbang, kedua monster itu meraung murka dan melompat serentak, mengincar tubuh Ren yang masih berdiri di posisi terbuka!
“Woy, woy! Kalian berani menyerang sang pahlawan dari belakang, hah?!” seru Ren, matanya membelalak kaget.
ROOOOOOARRRRR!
Empat cakar tajam berukuran masif meluncur deras memotong udara, membawa angin tebasan yang sanggup merobek zirah besi dalam sekali usap. Ren mencoba menarik kembali tentakel Kraken Rin untuk memasang posisi bertahan, namun jeda akselerasi usai melancarkan serangan bertubi-tubi membuat pergerakannya terlambat sepersekian detik.
Di saat yang teramat kritis itu, fondasi bumi di bawah kaki Ren bergetar hebat.
“Morgrath! Kubah Pelindung!” teriak Hugo dari barisan belakang.
BRUUUUUSSSSSHHHH!
Lapis-lapis dinding batu padat berbentuk kelopak melengkung mencuat cepat dari dalam tanah, membungkus rapat tubuh Ren tepat sebelum empat cakar mematikan itu mendarat.
BRAAKKKKKK!
Hantaman cakar keras dua Beast tersebut menghantam permukaan kubah batu Hugo secara frontal. Benturan dahsyat itu memicu dentuman pekat yang menerbangkan debu ke udara.
KREKKKKK!
Retakan-retakan dalam mendadak menjalar di sepanjang permukaan kubah batu buatan Hugo. Meskipun pelindung bumi itu berhasil menahan dampak serangan utama, gempuran simultan dari dua monster Peringkat Menengah terbukti memeras sisa-sisa daya tahan elemen Morgrath hingga ke batas akhir.
Di balik asap debu yang membumbung, Kael dan Suna tidak tinggal diam. Mereka berdua bergerak lincah, memutari posisi kubah pelindung untuk mencari celah eksekusi.
Otak analitis Kael bekerja dengan tingkat presisi yang luar biasa. Sepasang manik matanya yang dingin merekam bagaimana pola pergerakan Beast saat menyerang kubah Hugo, memadukannya dengan momen ketika tentakel Ren mencekik leher monster pertama hingga runtuh.
Irama pergerakannya... ada di sana, batin Kael dingin.
Pengamatan tajam Kael mengunci satu titik vital di bawah struktur zirah keras musuh. Sebuah benjolan merah kehitaman yang berdenyut halus tersembunyi tepat di lipatan kulit di bawah dagu kedua Beast tersebut—pusat saraf aliran energi spiritual mereka!
“Suna! Incar benjolan di bawah dagunya!” seru Kael memberi instruksi singkat namun sangat jelas.
Suna melirik sekilas ke arah titik yang ditunjuk Kael, lalu mengangguk mantap tanpa ragu. “Dimengerti!”
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kael dan Suna melesat secara bersamaan mendahului hembusan angin!
WUUUHHHSSSH! WUUUSSHHH!
Sabit Morthas di tangan Kael berkilat pekat, membawa pendaran aura Kematian murni yang memotong tumpuan cakar Beast pertama, sementara Suna memacu akselerasi kinetik Anima Cheetah untuk menukik lurus ke arah titik buta di bawah dagu musuh kedua.
Bilah belati kinetik dan mata sabit merah menyala meluncur dalam satu lintasan presisi, siap mengeksekusi dua Beast Peringkat Menengah tersebut dalam satu tebasan simultan