NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Pelat nomor mobil tak di kenal

Ruang kerja yang tadinya hangat mendadak terasa tegang. Udara dipenuhi aroma kayu dan bahaya yang membayang. Zevanna langsung melangkah mundur, menepis pelan tangan Areksa dari pipinya. Otaknya masih berusaha mencerna fakta gila yang baru saja ia dengar.

"Obsesi?" Zevanna menatap Areksa tak percaya. "Jadi, pembunuh ibuku itu pamanmu sendiri? Cuma gara-gara alasan konyol begitu?!"

Areksa berjalan santai menuju mejanya. Wajahnya kembali tenang dan dingin.

"Orang kaya yang kelewat obsesif memang suka nekat, Zevanna," jawab Areksa datar. "Dia suka ibumu, tapi ibumu milih ayahmu. Dia sakit hati, lalu ngerencanain semuanya."

"Dan sekarang dia mau incar aku juga?!" Zevanna bersedekap, dadanya naik turun menahan emosi. "Kalau gitu, kenapa kita cuma berdiri di sini? Panggil polisi! Cari Bibi Sumi sebelum dia kabur makin jauh!"

Areksa menatap Zevanna santai. "Polisi nggak akan bisa ketemu dia. Dia mainnya di belakang layar, Nana. Kalau kamu gegabah, kamu cuma ngantar nyawa."

"Aku nggak takut!" potong Zevanna cepat. "Belasan tahun aku hidup cuma buat balas dendam! Aku bukan cewek lemah yang harus kamu sembunyiin di rumah ini, Areksa!"

Areksa terkekeh pelan. Ia berdiri lalu berjalan mendekati Zevanna. Langkahnya tenang, tapi tatapannya bikin merinding. Walau begitu, Zevanna tetap berdiri tegak, tak mau kalah.

"Keras kepala banget, sih?" Areksa berhenti tepat di depan Zevanna, menunduk sedikit. "Aku bukannya nyembunyiin kamu. Aku lagi atur rencana. Jangan ngerusak semuanya cuma gara-gara kamu emosi."

"Rencana apa?!" Zevanna menatap mata Areksa galak. "Paman Bram mati diracun, Bibi Sumi kabur, dan sekarang muncul musuh baru! Mana ada rencana kayak gini? Terus... masalah syarat pewaris dari kakekmu itu!"

Areksa menatap wajah Zevanna yang bersungut-sungut. Raut dingin di wajah pria itu perlahan melunak, menyembunyikan rasa gemas melihat istrinya yang sedang emosi.

"Kenapa sama syarat itu?" tanya Areksa pelan, tangannya terulur hendak merapikan anak rambut Zevanna. "Bukannya kemarin kamu udah setuju?"

"Aku memang setuju!" Zevanna menepis tangan Areksa dengan waut wajah kesal. "Tapi makin ke sini, aku makin sadar kalau aku cuma dimanfaatin! Kamu dan kakekmu sama aja! Kalian jadiin anak yang bahkan belum lahir itu cuma sebagai alat penjamin aset dan politik keluarga!"

"Zevanna..."

"Nggak usah potong!" pangkas Zevanna galak, menunjuk dada Areksa pakai jari telunjuknya. "Aku terima syarat itu karena aku butuh perlindungan dan ingin balas dendam! Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya seolah-olah anak itu cuma 'barang transaksi' buat ngamankan 50% saham logistik!"

Areksa memegang jari telunjuk Zevanna yang menempel di dadanya. Bukannya marah, ia malah tersenyum tipis melihat keberanian dan harga diri istrinya yang tinggi.

"Dengerin dulu, Nana," bisik Areksa. Ia menarik tangan Zevanna sampai tubuh mereka makin rapat. "Memangnya kapan aku bilang cuma anggap anak itu alat?"

Zevanna tertegun, tatapannya menyipit curiga. "Maksudmu?"

"Aku setuju sama syarat Kakek bukan cuma demi saham atau politik," kata Areksa, suaranya berubah dalam dan serius. "Kakek memang mikir gitu, tapi aku beda. Aku butuh alasan yang sah buat ngunci kamu di sampingku selamanya... sekaligus alasan buat hancurin siapa pun yang berani ganggu keluarga kecil kita."

Zevanna menatap Areksa ragu. "Kamu... nggak cuma manfaatin aku?"

"Pikir pakai logika kamu, Zevanna," Areksa mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan. "Kakek menekan dari atas, paman bungsuku ngincar kamu dari belakang. Kalau aku cuma mau manfaatin kamu, aku udah kasih kamu ke Kakek dari kemarin. Tapi kamu di sini... sama aku."

"Aku tetap nggak suka dijadikan alat, Areksa," gumam Zevanna. Nadanya sedikit melunak karena jarak mereka yang terlampau dekat, membuat dadanya berdebar tak karuan.

"Aku tahu," Areksa mengecup singkat sudut bibir Zevanna, membuat napas wanita itu tertahan. "Anak kita nanti nggak akan jadi alat siapa pun. Dia bakal jadi penerusku, dan kamu... tetap Nyonya di rumah ini. Ngerti?"

Zevanna menggigit bibir bawahnya, bingung harus membalas apa. Sentuhan dan kata-kata Areksa selalu berhasil melumpuhkan pertahanannya. Baru saja ia mau membuka mulut untuk protes lagi, tiba-tiba...

Brak! Brak!

Pintu ruang kerja diketuk keras dari luar.

"Tuan Muda! Ada mobil asing tanpa pelat nomor mendobrak masuk lewat gerbang depan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!