Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Konfrontasi Tiga Arah
Renard masuk tanpa suara yang sia-sia.
Pintu terbuka. Udara koridor yang dingin mengalir ke kamar Momo, membawa aroma hujan, kayu basah, dan sesuatu yang lebih tajam dari kemarahan. Renard berdiri di ambang pintu dengan mantel gelap belum dilepas. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Itu lebih buruk daripada teriakan.
Momo berdiri di depan lemari.
Kesalahan pertama.
Mata Renard turun ke kakinya, lalu naik ke wajahnya. Ia tidak melihat ke seluruh ruangan seperti orang mencari. Ia hanya menatap Momo, dan dari tatapan itu Momo tahu ia sudah selesai mencari sebelum membuka pintu.
"Keluar," kata Renard.
Satu kata.
Tidak ditujukan kepada Momo.
Di belakangnya, Sen tidak bergerak.
Momo mengangkat dagu. "Siapa yang kamu ajak bicara?"
Renard berjalan masuk. "Jangan paksa aku mengulang."
Setiap langkahnya membuat kamar terasa lebih kecil. Luka di tubuhnya belum pulih, tetapi kehadirannya tetap memenuhi ruang seperti api yang menolak padam. Momo merasakan dorongan bodoh untuk mundur. Dorongan lain, lebih bodoh lagi, ingin berdiri lebih dekat agar ia bisa tahu apakah Renard masih demam.
Ia membenci keduanya.
"Ini kamarku," kata Momo.
Renard berhenti satu langkah di depannya. "Sejak kapan kau percaya ada wilayah yang tidak bisa kumasuki?"
"Sejak kamu bilang ini bukan penjara."
Sesuatu bergerak di mata Renard. Bukan rasa bersalah. Bukan sepenuhnya. Lebih seperti luka yang tersentuh kuku.
"Minggir."
"Tidak."
Diam jatuh.
Di luar, hujan menepuk kaca. Di dalam, Momo bisa mendengar napas sendiri, terlalu cepat. Renard menunduk sedikit. Ia begitu dekat sampai Momo bisa melihat urat tipis di lehernya, garis kelelahan di bawah matanya, dan warna pucat yang ia sembunyikan dengan keras kepala.
"Momo," katanya rendah.
Nama itu bukan bujukan.
Nama itu adalah peringatan yang dibungkus kelembutan terlalu gelap.
Kulit Momo meremang.
"Jangan pakai suaramu seperti itu," bisiknya.
Tatapan Renard turun ke bibirnya. Hanya sesaat. Namun cukup untuk membuat kamar berubah suhu. Ia tidak menyentuh Momo, tetapi seluruh tubuh Momo seperti mengingat semua sentuhan yang pernah hampir terjadi: tangan di pinggangnya di gala, jari yang menangkap pergelangannya, dada basah yang menekan udara ketika ia menariknya dari kolam ular, napas panas saat ia berkata akan memaksanya mencinta.
Renard melihat reaksi itu.
Tentu saja ia melihat.
Matanya menggelap.
"Kau gemetar."
"Karena marah."
"Bukan hanya itu."
Tamparan akan lebih mudah daripada kalimat itu.
Momo menahan napas. "Kalau kamu tahu semua hal, kenapa masih bertanya?"
"Karena aku ingin kau memilih jujur sebelum aku mengambil kebenaran sendiri."
Dari dalam lemari, Sen akhirnya tertawa pelan. Suara itu lemah, tetapi tajam. "Masih dramatis seperti biasa."
Momo memejamkan mata.
Renard tidak menoleh. "Keluar, Sen."
Pintu lemari terbuka perlahan.
Sen muncul dari balik bayangan, satu tangan menahan bahu yang diperban. Wajahnya pucat, bibirnya hampir tidak berwarna, tetapi matanya menantang. Ia berdiri dengan tubuh yang jelas bisa roboh kapan saja, namun senyumnya tetap hidup seperti pisau kecil.
"Aku harus memuji keamananmu," kata Sen. "Lebih hangat dari Pulau Raja."
Renard akhirnya menoleh.
Udara membeku.
Momo pernah melihat Renard marah. Ia pernah melihatnya dingin, kejam, bahkan hampir hancur. Tetapi tatapan yang ia berikan kepada Sen malam itu berbeda. Tidak panas. Tidak meledak. Justru kosong, seperti ruang sebelum peluru ditembakkan.
"Kau menyembunyikannya," kata Renard.
Bukan pertanyaan.
Momo menelan ludah. "Dia terluka."
"Kau menyembunyikannya."
"Aku dengar."
"Di kamarmu."
"Dia hampir mati."
Renard menatapnya lagi. Di balik ketenangan itu ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kemarahan. "Dia yang mencoba membunuhmu di tebing."
Momo merasakan kata-kata itu masuk ke tulang.
"Aku tahu."
Kali ini Renard benar-benar diam.
Sen juga menatap Momo, mungkin tidak menyangka ia akan mengatakannya begitu terbuka.
Momo memaksa dirinya berdiri tegak. "Aku tahu dia sengaja tidak menahan tanganku. Dia sudah mengaku."
Renard bergerak begitu cepat sampai Momo hampir tidak sempat bernapas. Dalam satu detik, ia sudah berada di depan Sen. Tangannya mencengkeram kerah pria itu dan membenturkan tubuh Sen ke lemari.
Sen mengerang. Perban di bahunya langsung memerah.
"Renard!" Momo menarik lengan Renard.
Rasanya seperti menarik besi panas.
Renard tidak melepas Sen. "Kau mengaku padanya?"
Sen tersenyum dengan darah di bibir. "Dia pantas tahu."
"Kau tidak pantas hidup cukup lama untuk bicara."
"Tapi aku hidup. Menyebalkan, ya?"
Cengkeraman Renard menguat.
Momo menyelipkan tubuh di antara mereka. Bukan keputusan pintar. Ia tahu itu saat melakukannya. Dada Renard hampir menabrak punggungnya, panas dan keras. Sen di belakangnya bernapas putus-putus.
"Lepaskan," kata Momo.
Renard menatapnya dari jarak yang terlalu dekat. "Minggir."
"Tidak."
"Dia mencoba membunuhmu."
"Aku tahu."
"Dan kau melindunginya dariku."
"Aku melindungi diriku dari menjadi orang yang membiarkan seseorang mati di lemariku."
"Jangan memutar kata."
"Aku tidak memutar apa pun!" Suara Momo naik. "Aku tahu apa yang dia lakukan. Aku tahu dia busuk. Aku tahu dia memakai aku. Tapi aku bukan pembunuh, Renard. Aku bukan kamu. Aku bukan dia. Aku tidak akan membiarkan orang mati hanya karena itu lebih mudah untuk hatiku."
Kalimat itu mengenai Renard seperti luka baru.
Tangannya perlahan turun dari kerah Sen.
Sen menyandarkan tubuh ke lemari, tertawa kecil meski wajahnya pucat. "Kau dengar? Dia bukan milikmu untuk dijadikan cermin."
Renard menoleh. "Diam."
"Lepaskan dia, Renard," kata Sen. "Dia bukan bidakmu."
Senyum Renard muncul. Tidak ada hangat di sana. "Dan dia bukan damselmu."
"Aku tidak mengaku pahlawan."
"Bagus. Karena kau buruk dalam peran itu."
Momo berada di antara mereka, dada naik turun, merasa seluruh kamar menariknya dari dua arah. Sen membawa jawaban, luka lama, dan rasa bersalah yang telanjang. Renard membawa bahaya, perlindungan, dan obsesi yang membuatnya merasa terkurung sekaligus dilihat sampai ke dasar. Dua pria itu membicarakannya seperti pusat perang, tetapi yang paling menakutkan adalah bagian kecil dalam diri Momo yang sadar bahwa ia memang telah menjadi pusat sesuatu yang tidak bisa ia hentikan.
"Cukup," katanya.
Tidak ada yang mendengar.
Sen mengusap darah dari bibirnya. "Aku punya salinan dokumenmu."
Mata Renard menyipit.
"Struktur Aula Dalam. Foto. Catatan pengawasan. Termasuk tentang dia." Sen mengangguk ke arah Momo. "Kalau kau tidak membebaskannya, aku kirim semuanya ke media."
Renard menatap Sen seolah pria itu baru menawarkan permainan anak-anak.
"Coba saja."
Sen tertawa. "Kau pikir aku datang tanpa rencana cadangan?"
"Aku pikir kau datang karena terluka, dikejar, dan cukup putus asa untuk bersembunyi di lemari perempuan yang kau coba bunuh."
Momo hampir tersedak karena kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah.
Sen tidak kehilangan senyum, tetapi rahangnya mengeras. "Kau selalu pandai membuat dosa orang lain terdengar lebih menjijikkan daripada dosamu sendiri."
"Karena dosaku tidak pernah pura-pura menjadi penyelamatan."
"Kau menculiknya."
"Aku menjaganya tetap hidup."
"Kau menyebutnya milikmu."
"Karena dunia lebih cepat mundur dari sesuatu yang sudah diklaim."
"Dan dia? Apa kau pernah bertanya apakah dia ingin diklaim?"
Renard tidak menjawab.
Momo menatap punggungnya. Untuk pertama kalinya dalam konfrontasi itu, diam Renard terasa bukan strategi. Terasa seperti sesuatu yang tidak berani ia sentuh.
Momo berkata pelan, "Aku juga ingin jawabannya."
Renard menoleh.
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Tidak sekeras ancaman Sen, tetapi lebih tajam.
Apakah Renard pernah bertanya?
Apakah ia peduli pada jawaban?
Atau apakah sejak awal Momo hanya perempuan dalam folder biru, sesuatu yang tidak patah, sesuatu yang ingin ia ambil sebelum dunia mengambilnya lebih dulu?
Di luar kamar, suara langkah pengawal terdengar mendekat. Albert pasti sudah memanggil mereka. Sen melihat ke pintu, menghitung jarak, lalu melihat jendela.
"Sen," kata Momo, memahami sebelum ia bergerak. "Jangan bodoh."
"Terlambat untuk nasihat itu."
Renard bergerak, tetapi Sen sudah melempar lampu meja ke lantai. Cahaya pecah. Kamar masuk ke setengah gelap. Momo tersentak. Sen menyambar kursi, menahannya di antara dirinya dan Renard, lalu menerjang ke arah jendela.
"Tangkap dia!" suara Albert terdengar dari koridor.
Kaca terbuka dengan bunyi keras. Angin dingin masuk. Sen naik ke ambang jendela lantai dua, wajahnya putih oleh sakit tetapi matanya menyala.
"Momo," katanya.
Ia tidak menyelesaikan kalimat.
Mungkin tidak ada kalimat yang cukup aman untuk diselesaikan.
Sen melompat ke gelap.
Momo berlari ke jendela, tetapi Renard menarik pinggangnya dari belakang sebelum ia terlalu condong keluar. Tarikan itu kuat, posesif, dan penuh panik yang tidak ingin diakui. Punggung Momo menabrak dada Renard. Tangannya terkunci di perut Momo.
Di bawah, semak bergoyang. Teriakan pengawal pecah. Lalu bayangan Sen hilang di antara kabut dan hujan.
"Lepas," kata Momo, tetapi suaranya tidak sekeras yang ia inginkan.
Renard tidak langsung melepas.
Napasnya menyentuh rambut Momo. Tubuhnya panas di balik mantel dingin. Untuk satu detik buruk, Momo ingin bersandar. Bukan karena memaafkan. Bukan karena menyerah. Karena ia lelah berdiri di tengah perang yang memakai namanya.
Lalu Renard berkata di dekat telinganya, suaranya lebih sakit daripada marah.
"Aku yang menyelamatkanmu. Dia yang mencoba membunuhmu. Dan kau menyembunyikan dia."
Momo menutup mata.
Kalimat itu lebih berat daripada pelukan di pinggangnya.
Renard akhirnya melepaskan Momo, tetapi jaraknya tidak benar-benar hilang. Ia berdiri di belakangnya seperti bayangan yang menolak pergi.
Momo menatap gelap di bawah jendela.
Untuk pertama kalinya sejak Pulau Raja, ia tidak tahu siapa yang lebih ia takutkan.
Pria yang ingin memilikinya.
Pria yang pernah membiarkannya jatuh.
Atau dirinya sendiri, yang mulai merasa sakit ketika salah satu dari mereka terluka.