NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17

Aroma sup ayam hangat dan kaldu herbal merayap lembut mengisi setiap sudut ruang perawatan VVIP St. Jude Memorial Hospital.

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela kaca besar membuat ruangan itu terasa jauh lebih hidup dan berwarna ketimbang hari-hari sebelumnya yang mencekam.

Di meja sofa U-shape di sudut ruangan, Daddy Kaelor duduk menyilangkan kaki sembari membaca koran korporat edisi pagi, sementara Mommy Suzzy dengan telaten menata mangkuk keramik berisi sup hangat yang baru saja dibawakan oleh koki pribadi keluarga Vale-Knight.

Namun, di atas dan di samping ranjang perawatan, sebuah pemandangan yang sangat kontras sedang terjadi.

Darion Vale-Knight—pria yang baru beberapa jam lalu mengucapkan sumpah mati yang teramat puitis dan dramatis di depan orang tuanya—kini mendadak membatu.

Pria tinggi berotot dengan setelan kemeja yang dilipat rapi itu tampak duduk di kursi kayu dengan gestur yang sangat kaku.

Punggungnya tegak lurus bagaikan papan, dan kedua tangannya yang biasa begitu lincah menangkis argumen di ruang sidang kini terpaku kaku di atas paha.

Di atas ranjang, Lara Giger pun tidak kalah canggungnya. Wajahnya yang memar secara ajaib merona merah muda. Kedua matanya menatap tajam ke arah selimut putih yang menutupi kakinya, menyusuri benang-benang kain seolah-olah itu adalah objek paling menarik di seluruh jagat raya.

Begitu atmosfer dramatis menguap dan berganti dengan rutinitas pagi yang kasual, kesadaran murni mendadak menghantam mereka berdua: mereka seakan baru saja menyatakan cinta dan sumpah setia di depan Mommy Suzzy dan Daddy Kaelor secara terang-terangan.

"Ehem..." Darion berdehem pelan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Suaranya sedikit melengking, kehilangan nada baritonnya yang biasa mendominasi. "Lara... mau... mau minum air?"

Lara mengeripkan matanya cepat, masih menolak menatap wajah Darion secara langsung. "A-apa? Oh... air. Boleh. Maksudku... tidak terlalu haus, tapi kalau ada... tidak apa-apa."

"Baik. Air. Aku... aku ambilkan," sahut Darion cepat, terlalu cepat bahkan.

Pria itu berdiri begitu mendadak dari kursinya hingga lututnya menghantam sudut meja kecil di samping tempat tidur.

Brak!

Gelas kaca di atas meja berguncang keras, hampir saja terguling jika Darion tidak menyambarnya dengan refleks yang kelewat panik. Wajah pria itu langsung memerah padam sampai ke ujung telinganya.

Dari arah sofa, Suzzy melirik pelan melalui sudut matanya, menyunggingkan senyuman tipis penuh arti sembari terus mengaduk sup di mangkuk. Kaelor, yang berpura-pura sibuk membalik halaman korannya, hanya berdehem pelan menahan tawa yang mulai menggelitik tenggorokannya.

"Ini airnya," ucap Darion pelan, mengulurkan gelas itu dengan kedua tangannya seolah-olah sedang menyerahkan piala berharga dalam upacara kenegaraan.

Lara meraih gelas tersebut, namun karena rasa canggung yang teramat sangat, jemarinya yang gemetar secara tidak sengaja bersentuhan dengan jemari Darion yang hangat. Semburan rasa fiktif mendadak membuat Lara menarik tangannya sedikit, menyebabkan beberapa tetes air memercik ke selimut.

"Maaf!" seru Lara cepat-cepat dengan wajah memerah sempurna.

"Tidak, aku yang minta maaf. Tanganku... tanganku yang licin," potong Darion panik, langsung menyambar tisu di samping ranjang dan meraba-raba permukaan selimut untuk mengeringkan tetesan air yang sebenarnya hanya setitik kecil.

"Darion, tidak apa-apa, sungguh... ini cuma air," bisik Lara, berusaha menahan gerakan tangan Darion yang terlalu heboh.

"Tapi nanti basah, Lara. Kalau dingin, nanti rusukmu yang memar bisa ngilu lagi—"

"Darion, sayang," potong Suzzy dari sudut ruangan dengan suara yang diulur manis, menghentikan kepanikan konyol putranya. "Kau ini mau memberi minum pasien atau mau mengajak perang tumpah air?"

Kaelor akhirnya melipat korannya, melirik ke arah Darion dengan tatapan mengejek khas seorang ayah. "Aku tidak pernah tahu kalau pengacara terbaik di Los Angeles yang memenangi puluhan kasus persidangan rumit bisa mendadak gagap dan ceroboh hanya karena memegang gelas air minum."

"Dad," tegur Darion dengan nada defensif, matanya melirik tajam ke arah ayahnya, meski rona merah di pipinya semakin tidak bisa disembunyikan. "Aku hanya memastikan Lara nyaman."

"Nyaman?" seru Suzzy seraya berdiri menenteng mangkuk sup hangat, melangkah mendekati ranjang dengan senyuman menggoda yang sangat lebar. "Bagaimana Lara bisa nyaman kalau dari tadi kau duduk seperti patung garuda dan menatapnya seolah kau mau memakan selimutnya?"

"Mommy!" bisik Darion setengah tertahan, merasa harga dirinya runtuh seketika di hadapan Lara.

Lara menundukkan kepalanya dalam-dalam, menggigit bibirnya yang bawah demi menahan tawa yang sejujurnya sangat ingin meledak di dadanya.

Rasa canggung yang menyiksa ini terasa teramat manis, sebuah kontras yang bertolak belakang dari atmosfer ancaman dan kekerasan yang selama dua tahun ini menghantuinya bersama Billy.

Di sini, di dalam ruangan ini bersama keluarga Vale-Knight, rasa canggung adalah bentuk kehangatan manusiawi yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

Suzzy meletakkan mangkuk sup di atas meja dorong di atas ranjang Lara. Ia menepuk bahu Darion pelan, memaksa putranya yang menjulang tinggi itu untuk sedikit bergeser.

"Sudah, geser sedikit, Darion. Kau berdiri di situ seperti tiang listrik, menghalangi sirkulasi udara," omel Suzzy jenaka. Ia duduk di pinggir ranjang, mengambil sendok dan meniup sup hangat itu perlahan. "Lara, biar Mommy yang menyuapimu sup ini. Sup herbal ini sangat bagus untuk memulihkan memar dan stamina."

"Terima kasih, Mommy... tapi aku bisa makan sendiri," puji Lara halus, hendak meraih sendok dari tangan Suzzy.

"Tidak boleh," pangkas Suzzy lembut namun tak terbantahkan. "Tanganmu masih dipasang infus, dan lebam di bahumu belum pulih. Lagi pula... kalau Mommy tidak menyuapimu sekarang, nanti si Bodoh di sampingmu ini akan menawari bantuan dengan tangan gemetar dan supnya malah tumpah ke bajumu."

"Mommy, aku ada di sini dan aku mendengar semuanya," gumam Darion pasrah, menyilangkan dadanya sembari bersandar pada pilar ruangan dengan raut wajah merajuk yang sangat langka.

Kaelor terkekeh keras dari sofanya. "Biarkan saja dia, Suzzy. Anakmu itu sedang berusaha keras menutupi rasa malu karena sumpah puitisnya tadi pagi."

"Dad, tolonglah," ratap Darion pelan, menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan.

Lara tidak bisa menahannya lagi. Sebuah tawa kecil yang merdu akhirnya lolos dari bibirnya. Aww—ia merintih sedikit saat otot perutnya menegang menahan tawa, memicu rasa ngilu di rusuknya, namun senyuman lebar tetap mengembang di wajahnya yang memar.

"Jangan tertawa terlalu keras, Lara, nanti sakit lagi," bisik Darion refleks, melangkah mendekat dengan raut khawatir yang murni.

Lara mendongak, menatap mata cokelat gelap Darion yang penuh dengan kecemasan murni. Kali ini, rasa canggung itu perlahan meleleh, digantikan oleh kehangatan yang mendalam. Lara menyunggingkan senyuman paling tulus yang pernah ia miliki.

"Aku tidak apa-apa, Darion," tutur Lara lembut. "Aku hanya... aku hanya sudah sangat lama tidak merasakan suasana rumah yang seperti ini."

Kata-kata sederhana itu seketika membungkam godaan jenaka Suzzy dan Kaelor.

Ruangan itu mendadak diselimuti keheningan yang penuh rasa haru. Suzzy menatap Lara dengan pendar mata yang kian menyayangi, mengusap helai rambut Lara di belakang telinganya.

"Mulai hari ini dan seterusnya, ini adalah rumahmu, Lara," ucap Suzzy dengan nada penuh kesungguhan. "Kau punya kami. Kau punya Mommy, Daddy, dan... si Tiang Listrik yang kaku ini."

Kaelor berdiri, berjalan mendekat dan menepuk bahu Darion dengan bangga, lalu menatap Lara. "Keluarga kita memang sedikit berisik, Lara. Tapi kami tidak pernah membiarkan orang yang kami sayangi berjalan sendirian."

Darion menatap Lara, dan kali ini ia tidak memalingkan pandangannya lagi. Pria itu menyunggingkan senyuman tipisnya yang khas—senyuman hangat yang dulu selalu menjadi tempat perlindungan Lara saat mereka masih remaja.

"Dengar kan?" bisik Darion pelan di samping ranjangnya. "Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari keluarga berisik ini lagi, Lara Giger."

Lara mengangguk perlahan, membiarkan Suzzy menyuapkan sendok pertama sup hangat ke dalam mulutnya.

Di tengah aroma herbal yang menenangkan, riuh godaan penuh kasih sayang, dan tatapan protektif dari pria yang memegang janjinya, Lara tahu bahwa luka di fisiknya mungkin butuh waktu untuk sembuh... namun jiwanya yang sempat hancur kini telah menemukan tempat terbaik untuk ditata kembali.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!