NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

​"Marah... Enggak... Marah... Enggak... Marah... Enggak... Marah..." Kedua mata Michelle lebar. "Enggaak!"

​"Berisik."

​Michelle reflek berbalik badan, langsung berjingkat saat melihat Alvin berdiri di ambang pintu. Menatapnya yang sedang berdiri di samping kolam renang sambil berbicara sendiri, di tangannya terdapat setangkai bunga kamboja yang sudah tidak berkelopak.

​Perhatian Alvin teralih pada benda di tangan Michelle, kening cowok itu berkerut.

​"Lo ngapain?"

​Michelle menunduk menatap tangkai bunga kamboja di tangannya, lalu segera menarik tangan ke belakang punggung sambil cengingisan.

​"Enggak ngapa-ngapain, Kak Alvin sendiri mau apa? Mau berenang?"

​Alvin mendesis. "Siapa yang mau berenang malem-malem begini."

​Michelle terkekeh garing. "Kak Alvin—"

​"Bisa diem nggak?" potong Alvin. "Pusing gue denger suara cempreng lo terus."

​Jawaban Alvin membuat Michelle mengerucutkan bibirnya. "Kak Alvin kenapa jadi judes begini sih sama Michelle? Emang salah Michelle apa?"

​"Salah lo karena lo bal—" Kalimat Alvin terputus, cowok itu menatap Michelle yang tampak menunggu kelanjutan dari jawabannya.

​"Karena Michelle?"

​Alvin mengalihkan pandangan. "Tidur sana, udah malem," ujar cowok itu.

​Michelle mendesis kesal. "Kebiasaan suka bikin penasaran tapi digantung, sakit tau!" kesal cewek itu sambil mencak-mencak.

​"Nggak usah banyak protes, gue nggak peduli."

​Michelle mendelik. "Nggak peduli tapi dibelain sampe berantem, bohongnya nggak jago!"

​Alvin melirik sekilas, lalu memejamkan mata, menikmati hembusan angin malam di pinggir kolam rumahnya.

​Michelle menatap kesal cowok itu sebelum melangkah hendak meninggalkan area kolam renang, Alvin lebih menyebalkan saat mengabaikannya daripada menjawab pertanyaan dengan kalimat pedasnya.

​"Michelle."

​Langkah Michelle tertahan saat dua langkah lagi ia akan melewati pintu, cewek itu berbalik.

​"Apa?"

​Alvin juga berbalik, tapi tidak ada kalimat apa pun yang cowok itu katakan sampai Michelle membuka mulut hendak bertanya lagi. Alvin segera menyaut sebelum Michelle bersuara.

​"Jangan berharap lebih buat yang tadi," tutur cowok itu. "Gue sama sekali nggak belain lo."

​.

.

.

​"JAKA, BALIKIN JUS JAMBU GUE!"

​Michelle yang baru satu langkah melewati pintu kelas reflek melompat mundur sambil menutup kedua telinga begitu melihat Meyra melesat tak jauh di depannya, sedang mengejar Jaka yang berlari mengelilingi kelas sambil mengangkat tinggi botol minum berwarna merah muda.

​Michelle mengusap dadanya, masih pagi sudah mendapat kejutan yang tidak baik untuk kesehatan telinga dan jantung.

​"Woi! Lo berdua bisa diem nggak?!" teriak Beno yang tampak kacau di pojok belakang, cowok itu pasti bekerja keras karena hari ini ada ulangan Fisika.

​"Lo kenapa Ma kayak habis kena tornado gitu?" tanya Galuh pada Beno.

​"Bacot lo! Jauh-jauh sana! Punya temen pada nggak ada akhlak, nggak ada yang ingetin kalo hari ini ada ulhar Fisika!" ujar Beno kesal.

"Udahlah besok-besok mau pindah ke IPS aja gue, cari kelas yang isinya punya akhlak lumayan!"

​"MANGGAAAAAA!" sahut seisi kelas, lalu tertawa.

​"Michel, ngapain masih di depan pintu?"

​Michelle terlonjak saat seseorang menepuk pundaknya, ia langsung bergerak menjauh memberi jarak begitu tahu siapa yang berdiri di sampingnya sekarang.

​Cowok itu terkekeh. "Lihatinnya biasa aja kali, kaget banget?"

​Michelle mengerjap. "Lo?"

​"Raffa, temen sekelas lo. Astaga Michelle, hampir seminggu di sini lo belum hafal temen sekelas?" tanya cowok itu. "Gue Raffa yang duduk di pojok, depan bangku Jaka sama Beno."

​"Ohh, Raffa! Iya inget, lo yang dapat nilai sempurna matematika kemarin kan?"

​"Biasa aja."

​Jawaban santai Raffa sontak membuat Michelle terperangah, bisa-bisanya cowok itu bilang kalau nilai sempurna Matematika adalah biasa, apa semudah itu Matematika untuk cowok dengan name tag bertuliskan Raffa Bramasta ini?

​Michelle menatap kagum cowok di depannya ini, siapa pun yang bisa berhadapan langsung dengan Raffa pasti tidak akan cukup jika memandangnya sejenak. Bisa dibilang Raffa adalah salah satu cowok tampan idaman di kelas, walau katanya Galuh si ketua kelas adalah yang nomor satu.

​Setelah mendengar jawaban Raffa tadi, Michelle menyimpulkan kalau cowok ini tidak hanya tampan dan ramah, tapi juga mendekati sempurna dengan kecerdasannya di beberapa mata pelajaran terutama yang berhubungan dengan hitung menghitung.

​"Al?"

​"Hah?" Michelle kembali tertarik dari lamunan saat Raffa melambaikan tangan di depan wajahnya.

​"Lo denger pertanyaan gue tadi, kan?"

​"H-hah? Oh iya denger-denger, ini mau masuk kelas. Ayo keburu bel," jawab Michelle gugup, lalu memasuki kelas dengan tergesa sambil merutuki diri.

​Sementara di depan pintu, Raffa menggeleng heran dengan kedua sudut bibir tertarik membentuk senyuman.

​"Padahal gue tanya udah belajar belum, malah dijawab gitu," gumam Raffa, lalu memasuki kelas.

​"SIALAN LO, JAKA! JUS JAMBU GUE PASTI LO YANG HABISIN, KAN?!"

​Michelle kira perdebatan Meyra dan Jaka sudah selesai, ternyata masih berlanjut, dan hanya bel masuk berbunyi atau guru masuk kelas yang bisa menghentikan pertengkaran mereka berdua.

​.

.

.

.

.

​"Kak Alvin."

​Jari Alvin yang semula bergerak mengetik di atas layar ponselnya langsung terhenti, namun cowok itu tidak menegakkan wajah untuk melihat siapa yang kini duduk di depannya.

​"Kak Alvin nggak pesen apa-apa?" tanya Michelle karena tidak melihat makanan atau minuman apa pun di depan cowok itu.

​Kali ini Alvin menatap Michelle dengan tatapan dingin seperti biasa, membuat Michelle langsung menarik paksa kedua ujung bibirnya.

​"Lo ngapain duduk di sini?" tanya Alvin dingin.

​Michelle sempat gagap mencari jawaban. "Pengen aja," jawab Michelle akhirnya.

​"Oke." Alvin mengangguk, cowok itu beranjak.

​"Loh, Kak Alvin mau ke mana?" tanya Michelle, ikut beranjak.

​Alvin menoleh. "Pindah."

​"Kenapa pindah? Kan Michelle--"

​"Pengen aja," sahut Alvin, lalu pergi meninggalkan bangku kantin itu, bahkan meninggalkan kantin yang mulai ramai.

​Michelle mengerutkan keningnya, ia mengendus beberapa kali sampai mengangkat tangan dan mengendus dekat ketiaknya.

​"Padahal gue nggak bau, kenapa Kak Alvin nggak mau deket-deket sama gue ya?"

​"Bego!"

​Michelle reflek menoleh saat mendengar suara seseorang mengatainnya dari belakang, entah benar mengatainnya atau orang lain, tapi Michelle yakin kalau kata-kata itu untuknya setelah tahu siapa pelakunya.

​Michelle meneguk salivanya susah payah saat melihat Lena dan dua teman cewek itu berdiri tak jauh darinya. Lena menatap Michelle mengejek, begitupula dengan dua teman cewek itu.

​"Alvin nggak mau deket-deket sama lo, karena lo bukan tipe dia," ujar Lena, cewek itu melangkah lebih dekat pada Michelle yang membuat Michelle reflek bergerak mundur. Tapi pergerakkannya terkunci karena punggungnya menabrak meja.

​Lena menarik ujung bibirnya. "Udah gue peringatin sebelumnya, jangan deket-deket Alvin," desis Lena terdengar mengerikan di telinga Michelle. "Ini peringatan kedua, untuk selanjutnya bukan lagi peringatan yang bakal gue kasih," sambung cewek itu.

​Lena bergerak mundur, masih dengan senyuman miring yang tercetak di bibir berpoles itu. Cewek bersurai sebahu itu sempat merubah tatapannya menjadi penuh ancaman sebelum pergi bersama dua temannya.

​Michelle menahan napas saat mendapat tatapan itu dari Lena, dan menghela napas lega begitu Lena pergi.

​"Gila, ngeri banget kayak Bellatrix Lestrange." Michelle bergidik.

​.

.

.

.

.

​Michelle melirik Meyra yang kini berjalan di sampingnya, cewek itu diam saja tidak bersuara padahal biasanya akan heboh sendiri membicarakan gosip-gosip baru yang ia baca dari akun gossip sekolah.

​Memang sedikit terasa aneh, tapi Michelle tetap bungkam sebelum Meyra bersuara lebih dulu. Michelle tahu, Meyra tidak akan betah hanya diam lebih dari lima menit.

​Tiga detik kemudian terdengar helaan napas. "Capek banget gue diem doang," keluh Meyra. "Ayo ngomong, gue dengerin!"

​Michelle melirik Meyra sekilas sambil terus berjalan. "Ngomong apa?"

​Sekali lagi terdengar helaan napas lelah, namun kali ini bercampur kesal dan menahan sabar. Michelle menarik ujung bibirnya sekilas sebelum kembali memasang wajah biasa.

​"Tadi Kak Lena bilang apa?"

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!