Kisah ini dibumbui dengan air mata, emosi, kesabaran, perjuangan, kecerdasan, dan permainan otak.
Berawal dari dilecehkan calon suaminya, hamil, lalu keguguran, dijebak sampai terkena sindrom trauma pelecehan seksual dan dikhianati orang-orang kepercayaan sampai gagal menikah di hari-H. Tidak hanya disitu, setelah dia menikah dengan pemuda kaya nan rupawan dari Negeri Ginseng yang telah menyelamatkan hidupnya, wanita ini harus menghadapi beberapa wanita pengganggu yang sering kali ingin merebut suami berharganya. Namun, saat ini tidak mudah untuk berhadapan dengannya, karena dia wanita tangguh, cerdik dan pandai bersilat lidah.
Aku sarankan jangan mengusik ketenangannya, apalagi sampai berniat merebut suaminya! Kalau tidak, hidup kalian akan dibuat merana seperti para pelakor yang ada di dalam cerita ini. Yuk, simak, cerita yang bikin greget gemes degdeg serrr ini...
...
Mampir juga ke karyaku yang lainnya, 'Istri Kecil Yang Nakal' sangat direkomendasikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Alyazahras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dosa besar
.
Pagi hari.
Pukul 04:12 WIB.
Esme terbangun dari tidurnya, sebenarnya memang Esme sudah terbiasa bangun sepagi itu sebelum azan subuh berkumandang.
Ia mengerjapkan matanya perlahan, sambil menekan kepalanya karena pusing. Bola matanya melirik kesana kemari, tapi kenapa kamarnya sangat gelap gulita. Esme tak bisa melihat isi kamar itu.
"Bi Inah! Dirumah sedang mati lampu, kah?" panggilnya.
Tapi, tidak ada jawaban sama sekali. Suasananya sangat hening.
Uh, aku merasa bagian kewanitaanku tidak nyaman. Ini terasa agak perih. (Batin Esme, terheran)
Kemudian, ia memberanikan diri beranjak dari tidurnya karena Esme sangatlah penakut.
Dalam keadaan gelap seperti ini, Esme selalu memikirkan sesuatu yang berbau horor. Misalnya seperti bayangan baju yang menggantung saja, bisa ia anggap sebagai hantu.
Lalu, saat Esme menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya itu, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang janggal karena tubuhnya terasa ringan. Saat tangannya menyentuh saklar lampu, dengan cepat Esme menekannya. Beberapa lampu yang berada dikamar itupun akhirnya menyala.
Esme langsung tertohok dengan apa yang ia lihat. Ternyata, ini bukan kamarnya, dan Esme semakin terhentak kaget saat melihat tubuhnya yang tak berbusana, Esme telanjang bulat. Matanya membulat dengan sempurna, jantungnya berpacu begitu cepat, tubuhnya gemetar hebat. Lalu Esme menarik selimut dan membalutkannya kembali ke tubuhnya.
A-apa yang sebenarnya terjadi padaku? (Batin Esme, dengan nafas yang terengah-engah karena panik)
Saat Esme membalikan tubuhnya, ia melihat ada sosok lelaki yang juga tidak memakai pakaian, sedang tidur meringkung membelakanginya.
Wajah Esme semakin pucat, detak jantungnya pun kian berdetak hebat.
Rasa penasarannya menggebu.
Dengan rasa gugup yang menyerbu Esme langsung melangkahkan kakinya, melihat siapa sosok lelaki yang sudah menidurinya itu.
Degg!!
Bergetar hebat tubuhnya saat Esme mengetahui siapa lelaki itu.
"Leo?" Esme menatap hampa wajah Leo, dengan rasa kecewa yang begitu besar.
Tubuhnya merosot jatuh ke lantai dengan mulut menganga. Tetes demi tetes, air matanya mulai mengalir deras. Ia menggigit bibir bawahnya, mengerutkan dahinya, menyengkram selimut yang sedang melingkar di tubuhnya.
Seketika, Esme mengingat kejadian semalam saat ia mabuk karena menunggu Leo.
Menurutnya, mungkin saat ia mabuk, Leo kembali ke club dan mereka hilang kendali.
Ia benar-benar tak menyangka, calon suaminya melakukan hal sekotor itu, merampas kesuciannya sebelum mereka dinyatakan sah sebagai suami istri. Hatinya begitu tersayat hebat!
Esme merasa sudah tidak memiliki harga diri lagi. Mungkin setelah mereka menikah, Esme tidak akan menjadi istimewa lagi dimata Leo. Hal itulah yang membuatnya begitu kecewa sampai kedasar-dasarnya.
Esme menundukkan kepalanya, menatap bagian kewanitaannya. Hatinya menjerit.
Ternyata, penyebab rasa perih dibagian kewanitaanya itu karena mereka berdua sudah melakukannya.
Beberapa pertanyaanpun muncul dibenaknya.
Leo, mengapa kau menjadi lelaki seperti ini? Bukankah dari dulu, kau sangat meninggikan martabat seorang wanita? (Batin Esme menjerit, kedua pipinya sudah sangat basah karena air mata kekecewaan yang mengalir deras)
Esme berjalan perlahan, mendekati Leo. Ia menjejakan lututnya di atas lantai dengan menatap wajah Leo yang sedang terlelap.
"Leo, aku memang mencintaimu. Tapi, bukan begini caranya! Kau pasti tahu kelemahan terbesarku adalah kamu. Sebesar apapun kamu melakukan kesalahan, dan sebesar apapun aku menanggung kekecewaan itu, aku pasti akan tetap memaafkanmu!" gumam Esme dengan tangisan yang ia tutup-tutupi.
Kemudian, Esme beranjak dan menghapus air matanya. "Apakah aku bisa memaafkan dirimu dan juga diriku sendiri atas dosa besar yang telah kita lakukan?" Pandangan matanya kosong melompong.
Tiba-tiba Esme menyeringai, "ya! Aku hanya cukup melupakannya. Anggap saja, malam ini tidak terjadi apa-apa diantara kita. Toh, sebentar lagi kita akan menikah. Kita hanya melakukannya satu kali, aku tidak mungkin akan langsung hamil, kan?" Esme berusaha berpikir positif, ia tidak ingin terlalu berlarut dalam kekecewaannya itu.
Tapi, bagaimana jika ayah dan ibu tahu? (Batin Esme mulai dibalut kecemasan lagi)
Tiba-tiba, Esme membelalakan matanya, ia tersadar.
"Ah! Ayah, ibu? ... J-jam berapa ini?" gumamnya dengan perasaan panik.
Esme langsung mencari ponselnya dan memeriksa pukul berapa sekarang.
Pukul 04:28 WIB
Esme menghela nafas lega, sambil menyapu keringat didahinya karena saat ini masih sangat pagi. Langitpun masih gelap, ia bisa menggunakan otak cerdiknya untuk mengendap-endap memanjat dinding, memasuki kamarnya tanpa sepengetahuan Ny.Hilda dan Th.Harits.
Esme pun segera memakai gaunnya kembali, dan bergegas keluar dari kamar itu meninggalkan Leo begitu saja disana.
Kemudian, Ia berjalan menelusuri lorong-lorong club, suasananya sudah sepi, hanya ada beberapa orang saja. Musik dan lampu diskotek pun sudah padam.
Kemudian, Esme memesan ojek online.
Tak lama, ojek online itupun datang. Esme langsung menyuruhnya berkendara dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya ia sampai di rumahnya.
Rumahnya terlihat gelap. "Sepertinya, ayah dan ibu masih tertidur," gumam Esme.
Kemudian, seperti rencana yang sudah ia susun dalam otaknya. Esme langsung melepas heels-nya dan memanjat dinding menuju balkon kamarnya dengan lincah.
Esme menyongkel jendela dengan jepit rambutnya, karena saat Esme meninggalkan kamar, ia sengaja tak mengunci jendelanya.
Masuklah Esme lewat jendela itu sambil mengendap-endap.
Ia langsung berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum kedua orang tuanya bangun dan menyadari Esme tidak pulang semalaman.
Setelah selesai mandi, ia langsung mengenakan mukena dengan rambut yang masih basah. Tiba-tiba, di luar kamarnya terdengar suara ayah dan ibunya sedang beradu pendapat. Sepertinya Ny.Hilda dan Tn.Harits sedang mencemaskan Esme karena tidak pulang.
"Aku sudah menunggunya sampai jam dua malam. Tapi, Esme tidak kunjung pulang. Beberapa kali aku menelepon Leo, tapi dia tidak mengangkatnya." Tn.Harits berbicara keras pada Ny.Hilda sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar Esme.
Bi Inah langsung menghadang Tn.Harits.
"Tuan, Nona Esme benar-benar sedang tertidur, katanya tidak ingin diganggu. Ia memang pulang larut malam, dan saya melihatnya," jawab Bi Inah dengan keringat yang mengucur deras.
"Inah, aku memang sudah tua tapi mataku tidak rabun. Dari dulu kau selalu membantunya berbohong padaku kan? Sekarang aku tidak akan mempercayaimu lagi! Cepat minggir, jangan menghalangi jalanku." Tn.Harits benar-benar emosi sambil terus berjalan melewati Bi Inah.
Keributan itu sampai-sampi membuat Balmond dan Lolyta keluar dari kamar tidurnya.
Saat Tn.Harits akan membuka paksa pintu kamar Esme, Esme yang masih mengenakan mukena langsung membuka pintu itu terlebih dahulu, hingga membuat Tn.Harits, Ny.Hilda dan Bi Inah terhentak kaget.
"Esmeralda ... k-kau ?" Tn.Harits menatap bingung dengan perasaan sedikit malu.
"Ayah dan ibu jika bertengkar lihat waktu, dong! Salat subuhku menjadi tidak khusyuk, nih," geram Esme, ia mengernyitkan dahinya hingga Tn.Harits dan Ny.Hilda tertipu dengan raut wajah Esme yang berpura-pura marah itu.
Esme langsung menutup pintu kamarnya, tanpa mendengar keluh kesah yang membuat Tn.Harits semarah itu.
"Tuh, kan. Aku sudah bilang jangan mengkhawatirkannya. Esme akan aman bersama Leo, kau ini selalu berlebihan. Cepat turun, kita juga belum salat subuh!" Pada akhirnya, Tn.Harits lah yang kena semprot oleh Ny.Hilda.
Tn.Harits tertunduk, ia tersipu malu karena sikapnya yang tak bisa mengontrol emosinya.
Bi Inah menghela nafas lega, sambil menyapu keringat di dahinya, kemudian ia berlalu meninggalkan Tn.Harits yang masih membatu dengan raut wajah bingung di depan kamar Esme.
...
Di dalam kamar Esme.
Esme bersandar pada pintu dengan kehampaan di dasar hatinya, perlahan air matanya menetes. "Ayah, ibu ! Maafkan aku. Aku terpaksa berbohong pada kalian. Aku sudah menghancurkan kepercayaan kalian, dan membuat kalian sangat khawatir! Maafkan aku," gumam Esme dengan tubuh yang gemetar.
Esme mengutuk dirinya sendiri karena kecerobohannya malam itu.
Kemudian, Esme menjalankan salat subuh dengan benar. Disetiap gerakan salatnya, air mata Esme menetes perlahan, dan pada saat sujud terakhir, air matanya pecah tak terbendung, ia tak bisa lagi menahan tangisan kekecewaannya itu.
Setelah selesai salat, Esme menutup mulutnya dengan kain, ia menangis menjerit-jerit disitu, memohon ampun pada Allah, meratapi dosa besar yang tak sengaja telah ia lakukan dengan Leo.
Hingga tangisannya itu membuat mukena yang ia pakai menjadi sangat basah. Tubuh Esme pun menjadi lelah dan seketika Esme tertidur di atas sajadah.
....
BERSAMBUNG !!!!
jangan lupa di favoritkan dulu, baru di like, komen & vote ❤