Kau membuatku gila saat kau yang aku rasa berbeda telah pergi. Dan lebih menggilanya lagi aku tak pernah menemukanmu. Aira! Datanglah padaku, aku menunggumu. -Arka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UlanZu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terciduk
“Kakak! Tutup mulutmu!” Teriak Leon kesal dengan pernyataan Arka. Arka tersenyum begitu saja.
Aira yang sedang minum setelah tersedak barusan langsung melemparkan tatapan kekesalan kearah Leon. Membuat Leon meringngis dengan rasa tidak enak dengan seseorang yang di jebak 3 tahun silam.
“...Hehe kak Aira ... aku bawa iga bakar madu lada hitam buat kakak saja. Si tebar pesona kayaknya lagi enggak lapar dan lagi mie ini gak sehat.” Rayuan Leon supaya Aira tak lagi marah.
Tiba tiba Leon berdiri dan kepala menunduk didepan Aira dan meminta maaf “Aku bener bener minta maaf kak. Tolong dimaafkan.”
Aira yang tertegun dengan sikap Leon sedikit iba karena ini sudah terjadi mau kembali ke awal lagi jelas gak bisa.
“Karena iga bakarnya enak, kamu duduk aj kembali aku akan perlahan ngertiin kamu, tapi tidak buat pelakunya yang saat ini." Aira yang sedang enak makan iga.
“Ah dia itu memang ahli memangsa gadis-gadis." Leon dengan senyum bibir menipis dan melirik sang kakak.
Bibir Arka sedikit mendesis disela-sela rapatan gigi-giginya. “Haha adikku memang pintar sekali menindas kakaknya."
Lumayan lama mereka bertiga berbicara. Apalagi si Leon tambah cerewet gak berhenti tanya tentang Aira penasaran. Jam mulai lebih malam, Leon yang sudah pulang. Pekerjaan Aira juga sudah selesai tinggal diserahkan pada Arka dan setelah Arka meneliti hasil kerja Aira ... Arka meminta Aira pulang bersama.
“Pulang bersamaku, nanti kau tidur di apartemenku saja.” ajakan Arka.
“Pulang barengan mungkin iya, karena sudah malam, tapi aku mau tidur di kamarku." dengan menunduk memelas.
Arka berdiri lalu berjalan menggandeng tangan Aira sambil menelfon bodyguardnya untuk menyiapkan motor sportnya. Dilantai bawah Arka memasangkan helm pada Aira, tidak terasa mereka sangat terlihat seperti pasangan yang baru berpacaran. Aira yang cemberut dengan kelakuan Arka sedikit sebal karena apa yang dilakukan Arka tanpa pamit dan harus dipatuhi tanpa bisa menolak lagi.
Laju motor Arka begitu cepat menembus serpihan dinginnya angin malam saat itu. Arka yang begitu gagah mengendarai motor sportnya siapapun pasti akan meleleh hatinya melihat kerennya Arka yang dipadukan dengan wajahnya yang sangat mempesona dengan matanya dengan tatapan sayu. Seolah siapapun yang beradu tatapan dengan Arka akan bisa menyerahkan tubuhnya dengan sukarela. Tapi, tidak untuk Aira yang lebih tahan dari segalanya itu. Arka menarik tangan Aira dan memintanya berpengangan kuat karena Arka mau menambah laju motornya.
“Pegangan yang erat Aira."
“Jangan terlalu cepat, begini saja cukup.” teriak Aira.
“Ayo pegangan kataku.”
“Iya iya..! Baiklah." huufff dasar orang gila selalu saja semaunya sendiri, dalam pikiran Aira.
Aira yang enggan memeluk perut Arka dari belakang, perlahan tangan Aira melingkari perut Arka dengan canggung ”Begini?!"
Tangan Arka menarik kedua tangan Aira supaya lebih dekat ke punggung Arka, tiba tiba entah bagaimana mereka merasakan hal asing dalam hati mereka dan membuat rona pipi mereka memerah.
Aira nampak bingung karena Arka berjalan bukan ke arah Apartemen, tapi entah kemana ... tidak lama Aira melihat jembatan yang memperlihatkan pemandangan lampu kota dan jauh dari kebisingan, entah kenapa Arka begitu suka melihat indahnya lampu lampu kota. Arka berhenti dan memarkirkan motor setelahnya Aira masih bertanya-tanya, kenapa turun disini.
Memandang Aira selesai lepas helm. "Disini sangat bagus saat malam.” Sambil berjalan ke arah jembatan.
“Kenapa kau diam, ayo ikuti aku.” Aira yang masih bingung dengan sikap Arka apa memang dia sebaik itu? sebenarnya dia... lembut dengan wanita. Saat berjalan menuju jembatan.
“Apa kalian sedang bertengkar? Kalian sangat serasi, hidup itu tidaklah mudah nak ... selalu jaga pasanganmu.” Sahut nenek dipinggiran jalan paving yang tertata indah.
Dengan cepat Arka Aira menoleh ke arah nenek tersebut. Sedikit terkejut Aira langsung bereaksi. “Eem nek kami bukan pasangan," sahut Aira.
“Saat bertengkar terkadang nenek dulu juga begitu. Suami sendiri tidak diakui
suaminya. Jangan nak ... nanti menyesal ... kayak nenek hehehe. Sudah lebih baik kalian gandengan tangan nikmati pemandanan ini."
“Terima kasih nek ... kami akan dengarkan saran nenek. Istriku ini memang gampang bicara yang aneh-aneh ....” Senyum arka menjawab perkataan nenek tersebut.
Arka menggandeng tangan Aira dan berucap "Nenek kami pamit kesana dulu," ucap Arka, nenek mengangguk anggukkan kepala sambil tersenyum manis.
Arka Aira segera berjalan menjauh, dengan suasana yang sangat tenang, hembusan angin yang tenang seakan intonasi yang pas sehingga terbuai siapapun yang merasakannya. Sedikit lebih pelan langkah mereka berdua Aira yang merasa senang tersenyum menikmati udara segar tersebut seakan terlena dan saat Aira menoleh dan terlihat tangannya masih bergandengan. Aira seakan tersekat dari pikirannya tadi.
Dan secara bersamaan Arka juga menoleh ke bawah arah tangan mereka seperti mendapati lonceng pengingat Aira dan Arka cepat melepaskan tangan mereka dari tangan yang dari tadi tanpa sadar selalu berpegangan. Mereka memalingkan muka dan tidak bisa dipungkiri pipi mereka merah merona.
“Maaf ...,” Aira menunduk.
“Kita kesana ...!” Arka berusaha memecahkan kecanggungan yang terjadi. Aira mengikuti langkah kaki lelaki didepannya itu, dan berhenti saat langkah kaki Arka terhenti.
“Disini lebih bagus dan nyaman, apa kau suka Aira?”
Mengangguk dengan senyum manisnya. "Ini tempat favoritmu?”
“Bukan juga. Cuma dari kecil aku suka lihat lampu kota malam hari.” ujar Arka.
“Arka ...,” Dengan tangan Aira sedikit menarik kemeja Arka dan memasang ekspresi bibir mengerut.
“Iya ...” menoleh ke posisi Aira.
“Aku ragu ... tapi bolehkan kau tidak melakukan itu kepadaku. Kau bisa cari pasangan, pacar atau perempuan lain yang sukarela terhadapmu.” Muka Arka langsung menggelap dengan tatapan tajam.
“Tapi aku nggak salah, 'kan? kenapa kau menatapku seperti itu. Aku dengar kamu punya tunangan. Tunanganmu pasti akan kecewa terhadapmu."
Arka Medongakkan dagu Aira dan tangan satunya menggenggam tangan Aira yang menarik kemejanya tadi.
“Dia bukan tunanganku Aira, jangan mencemaskan tentang statusku. Aku enggak ijinkan kamu menolakku dan lagi aku punya begitu banyak fotomu bahkan ada juga yang sedang bersamaku, mungkin foto itu akan jadi ancamanmu kalau kamu hendak kabur dariku.”
“Kau...” Aira melirik tajam keatas tepat mata Arka. "hhuuffff baiklah, tapi malam ini ... jangan lakukan itu dulu.” Aira
“Kenapa, apa kau sakit?”
“Tidak, tapi kau ..., kau waktu itu melakukannya sedikit kasar dan keras. Jadi...it--ituku sakit.”
Arka tertawa lebar dan sangat senang mendengar Aira menjelaskannya dengan begitu polos dan sangat imut.
“Apa perlu aku periksa?"
“Jangan!”
“Hahaha."
“Jangan ketawa, itu nggak lucu.”
“Aira ... saat ini memang sakit, kau harus sering bersamaku agar tidak terasa sakit lagi." perkataan jahil Arka.
Arka menarik tubuh Aira dengan tangan Arka membelakangi tubuh Aira dan segera memeluknya.
“Malam ini aku nggak akan melakukannya tapi kau harus menemani aku tidur. Aku sudah siapkan baju baju untukmu di kamarku."
Aira yang sedikit menunduk dalam pelukan Arka tanpa bisa menolak perkataan Arka yang bisa saja menyebarkan fotonya ke media.
******
Sampai apartemen Arka. Arka segera mandi setelah itu bergantian Aira mandi. Malam ini Arka absen dari makan malamnya karena tadi siang dia sedikit banyak makan dari porsi biasanya. Saat Aira setelah mandi segera memakai baju di lemari yang Arka bikin untuk baju Aira. Begitu banyak dan ini semua baju baju berlabel kelas atas semua. Arka yang sudah duluan berbaring, manggil Aira agar segera lekas mendekat ke diri Arka.
Aira datang perlahan membaringkan tubuhnya ke kasur agak menjauh dari Arka dan memasang selimut tebal pada tubuhnya dengan posisi menunggingi tubuh Arka Max. Arka yang sedikit sebal mendekatkan diri sampai merapatkan ke tubuh kecil Aira dengan tangan merangkul erat tubuh Aira, perlahan bibir Arka mencecapi punggung putih halus Aira dari belakang yang terbuka karena Arka hanya sediakan baju dress daster piyama yang akan membuat Arka tergoda tapi juga nyaman dipakai Aira.
Aira yang sedikit terpekik seraya tak bisa menahan diri dari gejolak dalam tubuhnya dan memberanikan diri melontarkan perkataan.
“Kau berjanji tidak akan lakukan itu malam ini."
Arka yang awalnya tak menghiraukan perkataan Aira ... tapi menyempatkan berkata.
“Tidak... aku tidak akan melakukannya tapi biarkan aku seperti ini dulu sebelum tidur, kau tidurlah."
“Mana mungkin aku bisa tertidur kalau kamu terus begitu."
Arka membalikkan tubuh Aira dan langsung mengarahkan ciuman dan lumatan pada Aira dan mesesapi bahu, leher hingga membekas merah merah dibuat Arka. Arka tersenyum menatap Aira. “Sekarang tidurlah kau mungkin lelah karena aku menyuruhmu lembur sampai malam, itu buat hukuman kamu yang sudah berani mengikat seorang Arka."
Malam terlewatkan begitu menyenangkan bagi Aira, tapi memilukan buat Arka yang menahan nyeri ... Mereka tertidur pulas hingga matahari sudah menyinari permukaan bumi dengan terang. Akhir pekan mereka buat tidur sampai siang. Arka yang bangun lebih dahulu segera mandi dan memasangkan selimut pada tubuh Aira yang tubuh bagian atas membekas merah merah yang begitu banyak.
Arka masih mandi. Aira sedikit tersadar dan segera bangun ... tapi pendengaran Aira tidak salah. Arka masih mandi tapi Ada langkah kaki yang semakin keras suara langkah dari sepatunya. Aira yang bertanya tanya siapa yang datang. Tidak mau ambil pusing Aira sembunyi dalam lemari yang khusus untuk Aira yang sudah diisi penuh baju oleh Arka tapi Aira masih bisa menyelinap dalam lemari tersebut meski banyak baju disana.
“Arka ...Arka sayang...Omma datang...sambil membuka pintu kama. “Arka ... kamu mandi ya."
Lemari ini baru ya ... tapi seperti lemari perempuan. Bukan selera cucuku. Pikir Omma. Perlahan membuka lemari yang memang tidak terkunci.
Arka yang menyadari Omma nya datang langsung memakai piyama dan lari menemui Omma nya. Di waktu yang sama Omma melihat sesuatu yang sedang memejamkan mata dengan erat dengan tubuh meringkuk takut di dalam lemari.
“Arka Apa Omma Akan Mempunyai Cucu...??"
Sehat n Sukses Slalu y Thor To Pean..👍👍🖐️💪💪