Berada dalam lingkungan sekolah terfavorit dan populer tak membuat Ve berkecil hati. Meski bully-an masih terus terjadi tetapi Ve punya sejuta cara untuk menghadapinya. Belum lagi Salsa yang tak pernah berhenti menganggunya.
Sayangnya ia juga harus dipusingkan dengan cinta dua lelaki tampan dan kaya raya tetapi berbeda karakter. Al sikapnya dingin, sedang Dion sangat humble. Parahnya lagi mereka mencintainya, meski tau Ve gadis miskin.
Lalu bagaimanakah kisah cinta mereka di masa putih abu-abu itu, dan siapakah yang ahirnya memenangkan hati Ve? Apakah cinta bisa menembus batas perbedaan antara si kaya dan si miskin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERPAKSA DEH
Happy reading all😘
Masalah pejemputan Darren telah selesai dengan baik. Kini bahkan Darren sudah berada di dalam kamarnya. Sementara Al masih terduduk lemas di rumah sakit.
Rupanya Ve bukan hanya demam biasa, Ve yang mempunyai kebiasaan telat makan kini harus rela berbaring di atas brankar rumah sakit karena kondisi tukak lambungnya bermasalah. Demam yang ia rasakan saat itu juga salah satunya dipicu hal ini.
Belum lagi, hampir selama tiga puluh menit berada di dalam sebuah tempat yang lembab, dengan kondisi badan yang basah semakin membuat suhu tubuhnya meningkat. Alhasil mau tak mau ia harus opname minimal satu kali dua puluh empat jam di Rumah Sakit.
Al begitu bingung, kenapa harus dia yang berada di posisi kali ini, padahal ia amat tidak suka berdekatan dengan wanita. Tetapi Ve secara tidak langsung dan tanpa ia sadari, selalu saja berdekatan dengannya.
"Ma, Mama ... Ve ingin ikut, Ve takut sendirian disini ... hiks ... hiks ..."
Tanpa ia sadari Ve maracau tidak jelas, padahal demamnya sudah tidak begitu tinggi seperti kemarin. Al begitu terenyuh ketika mendapati Ve seperti ini.
"Memangnya Mama Papanya kemana?" batin Al.
Ceklek.
Pintu kamar Ve terbuka. Al menoleh, "Mama?"
"Anak nakal, kenapa nggak bilang kalau kamu ke rumah sakit Om Wisnu?"
"Maaf, Ma, Al bingung mau bawa dia kemana, akhirnya ke sini deh!"
"Nih, kamu ganti baju dulu, baunya asem ih, pasti lom mandi dari pagi," ejek mama sama Al.
Tak mau berlama-lama dengan putranya, ia lebih memilih untuk mendekati gadis cantik yang terbaring lemah itu. Tangan mamanya bahkan sudah menyentuh lembut wajah Ve.
"Mama mau ngapain?" ucap Al panik.
"Cie, cie, yang nggak mau pacarnya di sentuh Mama."
"Apa-an sih, Ma, dia tuh cuma wakil kelas doang."
"Elah, sekarang bilang nggak cinta, ntar jadi ngebucin kapok, loh! Udah mandi sana, bau tau nggak sih, Dek."
Mama Putri pun mendorong putranya untuk segera masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian Ve mulai mengerjapkan kedua matanya.
"Tante siapa?" tanya Ve dengan kondisi masih lemas.
"Hai cantik, tante Mamanya Al, yang bawa kamu ke sini."
Putri pun mendudukkan dirinya di samping brankar. Sedangkan Ve masih menyisir ke sekelilingnya. Bau obat-obatan masih menyeruak menusuk hidung, meski sudah tersamar dengan wangi-wangian di kamar itu.
"Apa, saya di rumah sakit, Tante?"
"Iya sayang, tadi kamu demam, makanya dibawa Al ke sini. Oh ya, nama kamu siapa cantik?"
Ve mulai menyandarkan dirinya pada headboard ranjang.
"Saya Veeya, Tante, biasa dipanggil Ve."
"Nama yang cantik sesuai orangnya."
"Waduh, ini jam berapa ya, Tan, pasti nenek sudah panik karena saya karena belum pulang."
Seketika pemilik wajah pucat itu panik, ia pun hampir mencabut infus yang masih tertempel di tangannya.
"Eh, sayang, mau ngapain?" tanya Mama Al panik.
"Mau pulang, Tante, saya sudah enggak apa-apa kok."
"Sini, tante pinjam ponsel kamu, biar tante yang hubungin nenek kamu."
"Maaf, Tante, Ve nggak punya ponsel," cicitnya lirih.
"Astaga," batin Mama Al.
Seketika ia pun teringat akan masa mudanya yang mungkin bernasib sama dengan Ve.
Ceklek. Kini giliran pintu kamar mandi terbuka.
"Eh, gantengnya Mama udah selesai mandi."
"Ha-ah mandi?" ucap Ve keceplosan.
Ve sampai melotot melihat kegantengan Al yang tiba-tiba berlipat. Apalagi rambutnya yang masih basah, lalu roti sobek dibalik kaos oblong putih yang dipakainya mengintip, semakin membuat getaran aneh di hati Ve.
"Ommo ... ganteng juga ternyata," gumam Ve.
Mama Al yang tau akan arti tatapan mata Ve yang tertuju pada putranya, jadi terkekeh geli. Jangan ditanya ekspresi Ve yang masih merah padam karena ulah Al barusan.
"Kamu sudah sadar?"
Putri menyenggol lengan Al.
"Dek, kamu kok gitu tanyanya, nggak sopan ih."
"Lah, nggak sopan gimana sih, Ma."
"Yang mesra dikit dong."
"Ha-ah," ucap Al sambil melotot.
Sedangkan Mama Al semakin gencar menggoda putranya yang anti cewek itu.
Ternyata tak lama kemudian, Papa Al datang dan menyusul masuk ke dalam kamar Ve.
"Loh, Papa kesini juga," ucap Al kaget.
"Iya nih, Mama kamu yang minta diantar ke sini tadi."
Tiyan pun menoleh pada Ve yang memaksakan tersenyum padanya.
"Hmm, malam, Om."
"Malam."
Dengan sikap yang acuh mirip Al, Ve mulai sadar kalau sikap dan perilaku Al pasti menurun dari papanya.
"Oh iya, tadi kamu bilang hawatir sama nenek kamu 'kan? Gimana kalau tante antar kamu pulang sama om."
"Gak apa-apa kan, Pa?"
"Lah, trus Al ngapain?"
"Udah, kita pakek mobil kamu lah, lagian mobil papa barusan dipakai kakak kamu kok."
"Darren jadi pulang, Ma?"
"Hust, sama kakaknya kok panggil nama, iya kakak kamu sudah pulang, kan tadi kita jemput dia, kamunya sih ngilang ke sini, jadi kita jemput berdua."
"Iya, Ma, Al salah, maaf."
"Ya dah sana bilang sama Om Wisnu kalau Ve mau kita bawa pulang sekarang."
"Iya, Ma."
Tanpa berpamitan sama Ve, Al melangkah pergi. Kini di dalam ruang rawat itu hanya ada Ve, Putri dan Tiyan, kedua orangtua Al.
"Ve, kamu jangan takut ya, Al emang dingin sama cewek tapi dia baik kok."
"Iya, Tante, nggak apa-apa kok, udah biasa."
Lima belas menit kemudian semua telah selesai, kini mereka berempat sudah siap untuk meninggalkan Rumah Sakit. Mereka pun menggunakan mobil Al untuk mengantar Ve pulang.
🍃Sementara itu di rumah Nenek Safa.
"Dimana anak nakal itu, kenapa belum pulang?"
Nenek Safa pun terlihat mondar mandir di depan pintu rumahnya. Meski Ve hanya cucunya, tetapi tanpa adanya Ve, nenek tidak akan mungkin mau bertahan hidup di kota yang kejam itu.
"Perasaanku nggak enak banget, Ya Allah, lindungi Raya di mana pun ia berada, Ya Allah, Aamiin."
Salah satu tetangga yang kebetulan melihat hal itu kaget dan merasa kasihan. Lalu ia menghampiri nenek.
"Loh, Nek, kenapa jam segini belum istirahat?"
"Itu, anu, Raya belum pulang sekolah."
"Lah, ini udah malam banget lo, Nek, mungkin Raya nginep di rumah temannya kali, Nek."
"Gak mungkin ah, Raya bukan tipikal gadis yang suka ninggalin neneknya tanpa pamit, kok."
"Ya sudah, Nek, jangan ngegas, sabar aja, semoga Raya segera balik. Aamiin."
Tak berapa lama kemudian, di ujung gang itu mobil milik Al sudah berhenti.
"Loh beneran kamu tinggal di sini sayang? tanya mama Al.
"Iya, Tante, memangnya kenapa?"
"Enggak apa-apa, sih, emang rumah nenek kamu yang mana?"
"Hehehe, rumah nenek masih jalan lagi masuk ke dalam gang itu."
"Oh, kalau gitu, Om sama Tante nganter sampai sini ya, biar Al yang gendong kamu sampe rumah."
"Ha-ah kok aku lagi mah!" protes Al
Mamanya pun menoleh.
"Kalau bukan kamu, trus yang bantu Ve harus Papa gitu!"
"Ya, nggak gitu juga sih."
"Udah, nggak usah banyak protes, Mama gak suka."
"Enggak usah Kak Al, biar aku jalan sendiri aja, makasih udah bantuin aku seharian."
Ve lalu menoleh ke depan.
"Makasih Om dan Tante, maaf nggak bisa menjamu tante sama om di rumah."
"Iya nggak apa-apa kok, Ve."
Lalu Ve pun salim sama mereka lalu membuka pintu mobil.
Ceklek
"Ve tunggu ..." seru Al yang tak tega melihat ia sendirian.
"Biar aku antar."
...🌹Bersambung🌹...
Oh ya jangan lupa dukungan like, rate dan favorit ya kak. Jangan lupa 🌹☕ dan VOTE untuk menyemangati Author, makasih banyak🙏🤗
Akhirnya es baloknya Al yg mementing kan belajar dari berpacaran akhirnya runtuh dengan kehadiran nya Veeya..
terimakasih Outhor semoga sukses selalu..🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹✌️✌️✌️✌️✌️✌️
Sabrina itu lebih gila dari anaknya Salsa...
sepertinya Lisa tau apa yg terjadi saat ini...