Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 PMS?
Bab 9 PMS?
“Ma, lo ngerasa enggak sih kalau Kalila akhir-akhir ini berubah. Ada yang aneh gitu sama dia,” ucap Elina sambil mereka berjalan kembali ke kelas. Kama berpikir sejenak, dia merasa kalau adiknya sejak dulu memang aneh. Kama pun menjawab pertanyaan Elina dengan menggelengkan kepalanya.
“... masa lo enggak sadar sih? Lo kembarannya harusnya lo tahu detail tentang kembaran lo sendiri.”
“Ya habisnya adik gue 'kan emang aneh sejak lahir. Kembaran sih kembaran, tapi enggak bisa tahu semuanya juga kali,” jawab Kama yang membuat Elina sedikit tertawa.
”Hahaha ... bukan aneh itu maksudnya, Ma. Maksud gue, dia bertingkah laku diluar seperti biasanya.” setelah Kama berpikir cukup lama, akhirnya dia menyadari kalau memang ada yang berbeda dengan adiknya.
“Iya ya, kalau dipikir-pikir memang ada yang aneh. Emmm ... mungkin dia lagi PMS. Soalnya klo dia lagi PMS suka aneh dan enggak jelas.” Elina hanya mengangguk dan percaya akan hal itu.
Selama pelajaran, ponsel Kalila terus bergetar. Pesan yang sama berulang kali masuk dikirimkan oleh Danes membuat Kalila merasa geram. Hari ini benar-benar hari yang sial untuk Kalila. Dia membuka ponselnya melihat isi pesan dari Danes.
Danes :“Pulang sekolah aku tunggu di Sekolah!” Danes terus mengirimkan pesan yang sama dan tidak akan berhenti sebelum Kalila membalas isi pesannya. Dengan terpaksa Kalila membalasnya.
Kalila :“Enggak bisa!” jawab Kalila singkat. Danes hanya tersenyum melihat isi pesan dari Kalila dan segera membalas pesan dari wanita pujaan hatinya.
Danes :“Tapi sekarang aku sudah di sekolah. Jadi tidak ada penolakan, oke!”
Kalila mendengus kesal dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tidak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Kalila terlebih dahulu pamit pada Hesti pulang duluan. Dia lebih dahulu pergi ke UKS untuk menyerahkan surat pertanyaan. Kalila segaja memperlambat langkahnya agar Danes tidak menunggunya keluar dari sekolah. Sebelumnya Kalila sudah memberitahukan pada Kama, kalau dia akan terlambat pulang untuk menyerahkan tugas. Akbar dan Elina pun menunggu Kalila di parkiran mobil.
Sambil melihat sekitar, Kalila masuk ke ruangan UKS. Tanpa mengetok pintu, Kalila langsung masuk ke dalam. Betapa kagetnya Kalila saat melihat Danes yang ada di sana sedang asik mengobrol dengan Akbar. Kalila seketika menghentikan langkahnya dan berbalik badan agar tidak terlihat oleh Danes.
“Kalila! Kamu mau kemana?” teriak Akbar dan membuat Danes membalikkan badannya.
“Lila! Kamu tahu aku di sini? Kok seneng banget ya kamu nyamperin aku ke sini. Padahal aku enggak bilang sama kamu kalau aku mampir sebentar ke UKS. Apakah ini yang di namakan insting jodoh?” ucap Danes sambil melemparkan senyum pada Kalila.
Akbar mengerutkan keningnya saat melihat gaya bicara Danes yang terlihat cukup akrab dengan Kalila. Seketika dia langsung menatap mata Kalila seolah-olah meminta penjelasan ada hubungan apa dirinya dengan Danes. Kalila hanya membuang napas kasar, berjalan mendekat meja Akbar dan meletakkan surat pernyataan di atas meja.
“Kamu kenapa?” tanya Danes mengambil surat itu di atas meja, tapi sebelum Danes melihat isinya, dengan cepat Akbar mengambil kertas itu dan dia masukkan ke dalam tas. Danes hanya mengangkat bahunya dan kembali melihat Kalila.
“Sekarang kamu boleh pulang!” ucap Akbar dengan wajah yang cukup serius.
Kalila sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dan langsung berjalan keluar, tanpa memedulikan Danes yang sejak tadi melihat ke arah dirinya.
“Pak Akbar, saya duluan ya! Biasa kekasih saya lagi PMS. Btw ... makasih yaa Pak sudah mengantikan posisi saya selama saya masih ujian. Selamat siang, Pak!” pamit Danes dan langsung mengejar Kalila.
Akbar mematung saat mendengar apa yang dikatakan oleh Danes tadi. Akbar tidak percaya dengan yang didengarnya. Sambil merapihkan bukunya, Akbar sesekali memegang dadanya yang tiba-tiba merasa berat untuk bernapas.
“Ada apa denganku?” lirihnya.
Di sisi lain, Kalila dengan cepat melangkahkan kakinya menuju mobil Elina. Tapi sayang, langkah Kalila tidak sepanjang langkah Danes, sehingga Danes dapat menyusulnya.
“Kenapa pake kabur segala sih? Aku sengaja loh beres ujian bela-belain ke sini hanya untuk jemput kamu. Kamu kenapa sih masih sama aja dari dulu sensi banget sama aku,” ucap Danes sambil mengenggam terus tangan Kalila.
“Lepasin! Lepasin enggak ....!” teriak Kalila.
“Iya-iya maaf. Habisnya kamu sih jutek banget sama aku. Kita pulang bareng yuk! Tadi aku udah chat Kama dan Elina kalau mereka duluan saja, biar kamu pulang sama aku.” Kama dan Elina memang cukup dekat dengan Danes, karena saat Danes dulu masih sekolah, dia suka menghampiri mereka saat di kantin dan makan siang bersama. Kalila tidak percaya dan melihat ke arah parkiran mobil, Ternyata apa yang dikatakan Danes, kalau kedua saudaranya sudah dikabari oleh Danes benar, karena tidak ada mobil yang terparkir di sana.
“Maksud kamu apa sih? Ya sudah aku naik angkot aja!” kesal Kalila dan berjalan menuju gerbang sekolah.
Danes berlari kecil dan menggenggam tangan Kalila sampai dia berhenti melangkah.
“Ayolah! Masa kamu enggak kasihan sama aku, udah jauh-jauh ke sini malah diabaikan.” melihat Danes yang memasang wajah memelas akhirnya membuat Kalila menjadi luluh. Danes pun tersenyum ketika Kalila mengangguk mau mengikuti dirinya.
Danes membuka pintu mobil sambil berkata, “Silakan naik tuan putri!” Kalila hanya menggelengkan kepala dan masuk ke dalam.
Akbar yang melihat keduanya dari kejauhan hanya mengepalkan kesua tangannya. Entah mengapa dia merasa emosi melihat kedekatan Danes juga Kalila. Kata kekasih pun terus terngiang-ngiang dalam pikirannya, ‘Apa benar dia kekasih Kalila?’ pertanyaan yang terus muncul sehingga membuat Akbar penasaran.
“Pak Akbar! Kenapa masih di sini? Ayok!” ajak Sarah dan Akbar pun mengikuti langkahnya tapi matanya terus menatap ke ara mobil Danes yang kini sudah mulai keluar dari gerbang sekolah.
~Bersambung~