SQUEL TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Kisah tentang ketulusan ....
Dan sungguh setelah kesulitan terdapat kemudahan.
Sebuah peristiwa nahas mempertemukan dua sosok terpaut usia 20 tahun.
Keduanya patah hati dan merana sebab kehilangan orang tercinta. Hingga kekosongan itu saling melengkapi ...
Kebersamaan perlahan menumbuhkan benih-benih cinta itu ...
Rasa yang sekian lama seolah mati, kini memiliki tempat berlabuh.
Mampu kah hubungan itu mudah ditempuh?
"Setiap melihatmu aku seakan sedang melihat Dia ... Dan darimu aku kembali tau ada ekspresi wajah bernama senyum dan ada sebuah rasa bersama bahagia ...." (Dimas)
"Siapa sebetulnya pemilih wajah ini? Apakah ia begitu berarti untuk Om?" (Shofie)
Selain kisah kedua tokoh di atas, kisah anak-anak Dimas juga akan ditampilkan di sini❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERKUMPUL
Lima hari sudah Dimas tak terlihat, selama itu komunikasi hanya berjalan melalui sambungan telepon. Setelah Qii pulang dari Rumah Sakit, Dimas bersiap untuk pertunangan Mayra yang akan diadakan di Rumah Sentra Duta.
Pilihan Senta Duta adalah keputusan akhir setelah Dimas mendengar Dirga terus berceloteh tak akan datang jika pertunangan diadakan di Vila karena ada Shofi di sana. Mayra dan Diyara sejujurnya tak ada masalah sedang Qi cenderung tak setuju tapi tidak sekekeh Dirga. Menjaga kerukunan keluarga, Dimas memutuskan Sentra Duta menjadi keputusan akhir.
Dimas sedang berkumpul dengan dua anaknya di ruang keluarga saat ini. Mayra yang sudah mengambil cuti 3 hari ke depan tampak sedang memijat kaki Qii yang masih dalam tahap pemulihan. Kepala anak terkecil itu tampak nyaman berada di atas paha ayahnya. Dimas terus menyapu kepala Qii.
"Untung kamu nggak lama Dek nginep di hotelnya (Rumah sakit)!" ucap Mayra menatap wajah adik kecilnya yang telah berusia 20 tahun tapi tampak begitu manja pada Dimas. Yah, bagaimana pun mereka tidak tinggal bersama, kesempatan berkumpul seperti ini dipakai Qii untuk melepas rindu dengan Dimas.
"Aku sih maunya lama Kak, ehh udah di suruh pulang aja sama dokternya!"
Jemari Dimas menjawil gemas hidung Qii. "Nakal, setiap orang pasti menolak menginap lama di Rumah Sakit. Ini kamu malah maunya lama-lama!" heran Dimas.
Raga itu bangkit dan memeluk Dimas. "Aku senang selalu ada ayah menemaniku saat aku di Rumah Sakit kemarin, terima kasih Ayah ... Aku sangat sayang Ayah!" Kepala itu tampak nyaman berada di dada Dimas. Dimas menyapu kepala itu dan merangkum wajahnya, ia menciumi wajah Qii dan membawa wajah itu kembali ke dadanya.
"Tinggalah di Vila, agar Ayah selalu bisa melihatmu!"
"Tapi aku tidak suka ada wanita yang mirip Bunda di sana!"
"Dia wanita baik, Sayang! Anggaplah ia seperti Kakakmu juga!"
"Tidak Ayah! Saat melihatnya aku seakan melihat Bunda, itu jelas-jelas hal semu karena nyatanya bunda sudah tenang!" Dimas tersenyum getir.
"Bahkan Qii bisa lebih rasional dibanding aku yang senang menghanyutkan diri menatap Shofi seolah melihat Lyra," batin Dimas.
"Oh ya, kenapa Dirga belum kembali. Jam berapa pesawat Diyara mendarat?" Wajah itu mengarah pada putri pertama yang tidak memiliki darahnya tapi ia cintai sebesar ia mencintai anaknya yang lain.
"Sabar Ayah ... sebentar lagi mereka pasti datang," jawab Mayra.
Baru saja Mayra berhenti berucap, sepasang kaki tampak dengan cepat memasuki ruang keluarga.
"Ayahh ...." Tanpa aba-aba raga yang satu bulan ini memutuskan menutup kepala dengan hijab itu tampak mendaratkan tubuhnya ke bahu Dimas. Ia memeluk erat raga tegap yang sangat dirindukannya tersebut dari samping.
"Diyara putriku akhirnya ingat ayahnya!" bisik Dimas, ia membalik badan ke samping memeluk tubuh itu. Diyara pun membalas mengeratkan pelukannya.
"Dua bulan di Surabaya kamu lebih kurus, Nak! Apa Yandamu tidak memberi makanan enak untukmu, hem?"
"Bukan aku yang lebih kurus tapi tubuh ayah yang sedikit lebih berisi. Hiii ... Tenang saja Ayah, yanda memberi banyak makanan enak untukku di Surabaya."
"Benarkah? Coba lihat!" Jemari itu menaikkan dagu Diyara ke atas. "Benar ternyata bukan lebih kurus, tapi putriku ini tampak lebih cantik." Sebuah kecupan mendarat di kening Diyara.
"Ayahh ...." Dan Diyara tampak malu mendengar penuturan ayahnya, ia memang menggunakan pewarna tipis di bibirnya di pesawat tadi.
Tak lama raga tegap itu terlihat. "Pesawat delay Yah, jadi aku lumayan menunggu lama tadi!"
"Oh, pantas." Decak Dimas.
"Haii Qii, bagaimana sudah lebih baik?" Diyara memeluk raga sang adik yang berjarak 18 bulan darinya dan memiliki wajah serupa, hingga banyak yang menganggap mereka kembar.
"Sudah Kak. Kakak Cantik berhijab, sepertinya aku harus mencoba jilbab-jilbab Kakak!"
"Memakai jilbab itu jangan karena ikut-ikutan Qii," lontar Mayra seketika.
"Kakak ... selamat! Kakakku yang cantik sebentar lagi akan menjadi seorang istri!" Diyara merapatkan tubuhnya pada Mayra. Mayra memang sudah seperti ibu untuknya. Mereka tinggal bersama dan Mayra Selalu menjaga dan mengingatkan banyak hal pada Diyara.
"Oh ya, Sayang ... kamu jadi memakai bik Lasmi untuk memasak lusa?" tanya Dimas pada mayra.
"Jadi Yah, bik Lasmi dulu pernah bekerja lama pada keluarga kita dan menjaga rumah ini dengan baik, aku suka masakan-masakannya. Sekalian reuni juga pada sosoknya."
"Kamu sudah bertemu dengannya untuk memastikan kesiapannya, bukan?"
"Sudah, Yah!"
"Bagus kalau semua sudah kamu siapkan!"
Mayra tersenyum dan berujar lagi setelahnya. "Sedang untuk outfit akan diantar besok pagi oleh Anti Shifa!"
"Yea ... desainnya sesuai gambarku kemarin kan, Kak?" ceplos Qinara.
"Iya, Sayang. Semua akan memakai gaun calon designer terkenal adik Kakak yang cantik ini," lirih Mayra mencubit pipi Qinara gemas.
"Baik, semua sudah berkumpul, hari semakin sore kalian beristirahatlah! Ayah ada keperluan sebentar! Nanti malam kita bertemu lagi, oke!" Semua raga mengangguk menanggapi ujaran Dimas. Raga Dimas pun tak terlihat lagi setelahnya.
"Aku yakin ayah menemui wanita itu!"
"Ga! Jangan berasumsi, mungkin ayah ada keperluan lain!" ucap Mayra melirik Diyara dan Qii, tak ingin keduanya terpengaruh ujaran Dirga.
"Aku baru bertemu ia sekali itu pun saat ia masih tidak sadar pasca operasi, apa ia wanita yang buruk, Kak? Kasihan bunda jika wajahnya disematkan pada orang yang kurang baik," lirih Diyara.
"Aku juga baru bertemu sekali ia sedang berbincang dengan ayah. Sorot mata ayah sama seperti saat bersama bunda dan aku tidak suka. Hati ayah hanya boleh untuk bunda!" lugas Qii.
"Lihat saja, aku yakin dalam waktu dekat ayah akan minta izin kita untuk menikah dengannya!" Dirga berkomentar.
"Sudah! Stop! Kakak tidak suka kamu berasumsi sendiri, Ga! Tadi kalian diam saja saat ada ayah tidak ada yang membahas wanita itu, kenapa kalian kini membicarakan ayah kita di belakangnya!" Diyara dan Qii menunduk. Dirga acuh.
"Ga, kalau kamu penasaran hubungan ayah dengan wanita itu, nanti malam kita tanyakan pada ayah langsung, bagaimana? Kita tidak boleh membicarakan orang tua kita sendiri seperti ini, Kakak tidak suka!"
"Terserah Kakak!" Dirga berhambur pergi setelahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
⛅Happy reading😘
makanya jadi orang jgn lemah gitu