Cerita ini berkisah tentang ketulusan cinta
seorang pemuda Tampan bernama Bima.
Dia sangat mencintai seseorang wanita
Cantik bernama Seila.
Walaupun Seila tidak pernah mencintainya
Tapi Cinta Bima begitu besar dan tulus
untuk Seila.
Hingga suatu hari Seila kehilangan kesuciannya dan di campakkan oleh
mantan pacarnya Bima tetap menerima
dan mencintai nya dengan sepenuh hati.
Bagaimanakah perasaan Seila kedepannya
untuk Bima ?
Akankah Seila membalas Cinta Bima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santai dyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. SEPATU HAK TINGGI
Bima membuka kan pintu mobil untuk Nafa,
seraya berkata.
"Dua, pizza ini, kamu bagikan ke teman teman kamu di sana, Yang satu aku bawa,"
"Baiklah, Kak Bima,"
"Ya sudah, aku pergi dulu."
"Kak Bima, tunggu !
"Ada, Apa lagi !"
"Menunduk sedikit Kak, sini aku bisikin, aku ingin mengatakan sesuatu, kalau kak Bima
berdiri tegak begitu, susah bicara nya,"
Ucap Nafa manja.
Bima pun menurut , dia membungkuk kan sedikit badan nya.
Dengan sigap, secepat kilat, Nafa mendarat kan ciuman di pipi kiri Bima.
Bima yang tidak menyangka, Nafa nekad mencium nya, cuma bisa membelalakkan kedua bola matanya.
"Busyet....!!! Nekad amat, ini anak." Grutu Bima dalam hati.
Nafa tersenyum dan berlari kecil pergi. menjauh, seraya melambaikan tangan nya.
Bima, mengusap usap pipi nya sambil, menengok ke kiri dan kanan, khawatir kalau kalau ada yang melihatnya.
Tiba tiba matanya teetuju pada sebuah pohon rindang, Bima melihat ada bayangan disana.
Dengan cepat, Bima melangkah mendekati pohon itu, tapi belum sempat melangkah
Lebih dekat, sebuah tepuk tangan. mengalihkan perhatian nya.
Bima mengikuti suara tepukan tangan dan,
"Astaga !Seila,"Pekiknya dengan suara pelan.
"Sejak kapan dia disana, jangan jangan Seila melihat, Nafa mencium nya, wah bisa mampus aku nanti,tapi apa pengaruh nya , Seila tidak akan perduli, aku di peluk orang ataupun tidak."
Gumam Bima dalam hati.
Tanpa diketahui Bima sepasang mata dengan tatapan tajam dan sinis, yang dari tadi
mengawasi gerak gerik mereka pun ,berlalu pergi.
Bima mendekati Seila.
"Sejak kapan, kamu disini."
"Sudah dari tadi, aku menunggu Bondet, tadi aku minta dibelikan makanan.karena lama, aku keluar dan menunggu nya di sini.
Dan kebetulan malah melihat mu dengan seorang wanita,".Ucap Seila cuek.
Bima yang mendengar kalimat Seila, melihat nya dengan seorang wanita tiba tiba terbatuk batuk.
"Apa..? dengan seorang wanita, lalu kamu melihat apa lagi." Tanya Bima gugup.
"Melihat apa lagi ! Seila mengulang pertanyaan Bima, yang di jawab Bima dengan anggukan.
"Melihat dia pergi, melambaikan tangan."
Ucap Seila cuek.
Bima menghela nafas lega.
"Oh, Syukurlah, kalau begitu."
"Kok Syukur lah, memangnya ada apa sih !
"Ngak ada, ayo masuk aku bawa pizza, kesukaan mu."
"Wah..,,enak itu, mana aku yang bawa ."Pinta Seila cepat.
Bima tersenyum dan mengeleng kan kepalanya, seraya mengulurkan kotak pizza.
Dengan cepat, Seila merampas kotak pizza
itu.
Melihat Seila berjalan dengan cepat sambil berlari kecil.
"Hei...!jalan nya pelan pelan jatuh terpleset nanti."Ucap Bima khawatir.
"Kamu saja yang jalan pelan, aku sudah lapar."
Jawab Seila singkat.
"Sepatu kamu, hak nya terlalu tinggi Non !hati hati,"Teriak Bima khawatir.
Seila berhenti dari berlari kecil nya.
Dan menunduk ke bawah tiba tiba dia melepas sepatunya.
"Ini..!tolong bawakan."
Ucap Seila seraya melempar sepatu ke arah Bima.
Bima yang tidak menyangka akan di lempar sepatu hampir saja mengenai dahi nya
Untung, Bima seorang guru pelatih karate yang sudah teruji kemampuannya sehingga mudah berkelit dan menangkap nya.
"Seila, tunggu !"
Seila pura pura tidak mendengar dia terus berlari menuju ruang kantor.
" Hampir saja, kepalaku benjut kena sepatu hak tinggi ini, masak sih mau latihan karate pakai sepatu hak tinggi begini ,"Grutu Bima dalam hati.
Sampai di depan pintu kantor Bima membuka pintu dan melongo kaget.
"Seila..!Serunya.
"Mana pizza bagian ku ? masak kamu habiskan semua."
Seila hanya tersenyum
" Lapar,"Ucap Seila cuek dan tanpa dosa.
"Aku kan, juga lapar."keluh Bima seraya duduk di depannya.
"Masak," Tanya Seila seolah tak percaya
Bima mengangguk.
"Bukan nya tadi, juga sudah makan berduaan di dalam mobil," Ucap Seila ketus.
Mendengar ucapan Seila yang dengan lantang mengatakan sudah makan berduaan di dalam mobil, membuat Bima menelan ludah nya sendiri dengan kasar.
Ada rasa cemas dan khawatir jika tiba tiba kejadian di dalam mobil itu Seila mengetahui
semua nya.
Bima tidak bisa membayangkan apa yang akan Seila lakukan padanya.
Di pukul di tampar di marahi atau pun di caci
itu tidak akan membuat nya takut.
Yang membuat nya takut, Seila mendiamkannya dan meninggalkan nya.
Bima menatap Seila dengan tatapan sayu.
"Maafkan aku...!Ucap Bima pelan.
Seila melihat Bima bagaikan anak kecil yang habis melakukan kesalahan dan di marahi ibunya membuat nya , menjadi merasa lucu.
"Hei....Pak Guru. ! kenapa mukamu di tekuk begitu, lucu tau."Ucap Seila seraya tertawa.
"Aku, minta maaf, tidak seharusnya aku menumpang di mobil itu,maafkan aku."
Ucap Bima menyesal.
Seila tidak menghiraukan ucapan Bima,
Seila berdiri dari duduknya dan melangkah
pergi.
Melihat sikap Seila hati Bima bagai di iris iris,
Ketakutan nya semakin menjadi jadi, duh, dia
ngambek, ketika melihat Seila berlalu meninggalkan nya, tanpa bicara.
Dengan cepat Bima menghentikan langkah Seila dan menhadang di depan nya.
Melihat langkah nya di halangi, Seila mengkerut kan dahi nya.
"Kamu kenapa menghalangi jalanku, mingir sana."Ucap Seila kesal.
Bima, meraih tangan Seila dan menarik nya dalam pelukan nya.
"Maafkan aku.."Ucap Bima penuh harap.
Seila yang tidak menyangka akan di peluk, dia mencoba memberontak dan melepaskan diri.
Tapi pelukan Bima begitu kuat, seakan akan takut di tinggalkan.
Karena memberontak tidak bisa, maka Seila
menginjak kaki Bima dengan kuat, sehingga
menggeluarkan jeritan kecil, bersamaan dengan lepasnya pelukan Bima.
"Auuuuuhh....!
"Rasain tuh... !sembarangan saja main peluk orang." Dengus Seila kesal.
Bima masih meringis memegangi kaki nya.
"Aku kan, cuma mau minta maaf."Ucap Bima membela diri.
"Memangnya, kamu salah apa, Kak Bima ?"
Baru kali ini Bima mendengar Seila memangilnya Kak Bima, diam diam ada rasa senang dan tersanjung dalam hatinya.
"Tadi kamu kan marah, langsung mau pergi, begitu."Ucap Bima menggingatkan.
"Oh, itu aku tadi mau menggambil kan pizza yang sengaja ku simpan untukmu."
"Jadi, tadi itu bukan marah ? Tanya Bima ingin tau.
"Bukan lah, emang nya marah kenapa ?"
Mata Bima yang tadinya suram karena sedih tiba tiba berbinar ceria, melihat Bima hendak mendekat, Seila berteriak.
"Stop ! disitu..! tidak perlu mendekat ."Ucap Seila menghentikan langkah Bima.
"Aku ambilkan, kamu duduk saja disana,"
Ucap Seila tegas.
"Kenapa tidak boleh mendekat, takut kupeluk lagi ya ?"ledek Bima .
"Ini kantor, Bukan Rumah."Ucap Seila menggingatkan.
"Oh , kantor! kalau begitu di rumah, di dalam kamar boleh dong."
Ucap Bima sambil mengedipkan matanya.
Seila tidak menanggapi ucapan itu.
Baginya Bima itu konyol kalau bicara.
"Ini pizza nya, aku sisain tiga potong, untuk kamu."
Setelah meletakkan pizza di atas meja ,
Seila berniat akan pergi, tapi tangan Bima
menghentikan nya.
" Suapin, dong,"Pinta Bima lembut .
"Ngak, mau...!makan saja sendiri."
Ucap Seila ketus
"Coba lihat hasil dari injakan kakimu
Bima menunjukkan kaki nya yang lecet dan memar merah kepada Seila.
Seila yang awalnya cuek dan tidak mau perduli
saat matanya melihat kulit kaki Bima ada yang terkelupas menjadi iba.
"Habis nya kamu sih, main peluk saja."
Sebentar aku ambil obat dulu.
Saat Seila hendak berlalu pergi, Bima menahan nya.Tidak usah ngak sakit kok cukup kamu suapin aku makan nanti pasti cepat sembuh.
"Benarkah ?"Mana ada luka bisa sembuh cuma dengan disuapin."Grutu Seila.
"Ada...ayolah..! rengek Bima kepada Seila.
"Aku sudah lapar dari tadi , kamu saja sudah kenyang kan."
Seila yang teringat dengan luka kaki Bima akhirnya menuruti permintaan Bima.
"Buka, mulutnya." Pinta Seila, dengan telaten Seila menyuapin Bima.
"Akhirnya, bisa makan dengan di suapin istri juga."Gumam Bima dalam hati senang.
"Kenapa menatapku begitu ? Tanya
Seila yang merasa risih karena Bima terus menatap nya membuat hatinya jadi tidak nyaman.
Bima tersenyum.
"Terima kasih," Ucap Bima lembut.
"Ketika Seila mau menyuapkan pizza yang ke tiga ke mulut Bima, tiba tiba Bima memegang tangan Seila.
" cukup."
"Sekarang giliran ku menyuapimu ayo buka mulut nya."
"Idih apaan, aku sudah kenyang ngak mau."
Tolak Seila cepat.
"Ayolah, cuma sepotong saja koh,"Pinta Bima merajuk.
Namun Seila tetap menolak.
"Auuuuuhh....perih sekali," Ucap Bima pura pura kesakitan.
Seila yang melihat Bima kesakitan, tidak tega.
"Sini, biar ku obati."
"Tidak usah !"
Tolak Bima.
"Nanti jadi inveksi lho." Ucap Seila menggingatkan .
"Kalau mau membuat sakit ku berkurang dan sembuh, kamu cukup menerima aku suapi."
Seila melotot... mendengar ucapan Bima.
"Ada ada saja," Ucap Seila cuek.
"Ayolah sekali saja," renggek Bima
"Cobalah rasakan bedanya, makan disuapin itu rasanya enak.
"Masak, sih !"
Bima menggagguk
"Mau, yaa...!
Karena Bima tak henti membujuk akhirnya
Seila pun menurut, dibuka nya mulutnya.
Ketika pizza itu sudah di dekat mulut Seila
terdengar suara dari pintu.
Cie....e....e...e....!yang lagi romantis romantis nya.
Sontak Seila dan Bima menoleh ke pintu.
Bersambung....
aku dkung kamu jd madu