Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Matahari pagi Karibia naik perlahan melintasi cakrawala, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah jendela suite sayap barat. Di luar sana, sisa-sisa jejak pertempuran berdarah semalam telah dibersihkan secara efisien oleh tim khusus Kenzo. Tidak ada lagi pecahan kaca, tidak ada lagi aroma mesiu, dan tubuh Diego telah lenyap tanpa bekas, seolah keberadaan pria Spanyol itu dihapuskan begitu saja dari muka bumi.
Namun di dalam kamar, atmosfer mencekam belum sepenuhnya menguap.
Di atas tempat tidur, Kenzo terbaring telentang. Napasnya terdengar berat, memburu, dan tidak teratur. Kemeja hitam yang semalam dikenakannya telah dilepas, memperlihatkan perban putih melingkar di bahu kirinya, perban yang kini mulai ternoda oleh rembesan darah baru dan cairan kekuningan.
Luka goresan peluru yang didapat Kenzo saat pasang badan melindungi Clara dari serbuan anak buah Diego semalam mengalami infeksi parah. Hujan lebat, air laut, dan racun mesiu yang menyusup ke dalam luka terbuka membuat suhu tubuh pria itu melonjak drastis hingga mencapai tingkat yang membahayakan.
"Tuan Kenzo menolak dievakuasi ke rumah sakit pulau utama,"
ujar Kevin dengan wajah tegang saat berdiri di ambang pintu bersama seorang dokter pribadi. "Dia menegaskan tidak akan bergerak satu meter pun dari sisi Anda, Miss Clara. Dokter sudah memberikan antibiotik dosis tinggi melalui infus, tapi kita harus terus mengompres dan memantau lukanya agar infeksi ini tidak menyebar ke aliran darah."
Clara berdiri mematung di samping tempat tidur. Matanya menatap raut wajah Kenzo yang biasanya dingin, tegas, dan dominan, kini tampak pucat pasi dengan peluh dingin yang membasahi dahi serta rahangnya yang mengeras menahan sakit.
Sejak pria itu menculiknya, Clara melihat Kenzo dalam kondisi yang begitu rapuh dan tak berdaya.
"Kenapa..."
bisik Clara dengan suara parau,
"kenapa dia begitu bodoh? Dia bisa saja membiarkan dokter merawatnya di fasilitas medis yang lebih layak."
Kevin menatap Clara dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Karena bagi Tuan Kenzo, bahaya terbesar baginya bukanlah luka tembak di tubuhnya, Miss. Bahaya terbesar baginya adalah kemungkinan Anda menghilang dari pandangannya saat dia memejamkan mata."
Kevin membungkuk hormat lalu melangkah keluar bersama sang dokter, meninggalkan Clara sendirian di dalam kamar yang sunyi.
Clara melangkah mendekat ke tepi pembaringan. Ia menarik sebuah kursi kayu dan duduk di samping tempat tidur. Di atas meja nakas, telah tersedia mangkuk berisi air es, beberapa lembar kain kasa steril, dan cairan antiseptik medis.
Jemari Clara yang gemetar terangkat perlahan, menyentuh dahi Kenzo. Panasnya terasa menyengat kulitnya. Pria yang biasanya mengontrol setiap helai napas Clara dengan kekuatan penuh ini kini sepenuhnya berada di bawah kemurahan hatinya. Inilah kesempatannya, bisik sebuah suara jauh di dalam benak Clara.
Di dalam ruangan ini, Kenzo sedang tidak berdaya. Senjata apinya tergeletak di dalam laci yang tak terkunci. Jika Clara mau, ia bisa saja mengambil kunci akses vila dari saku celana Kenzo, membiarkan infeksi itu merogoh nyawa sang pria, atau bahkan mengakhiri ketakutannya detik ini juga. Pria ini adalah iblis yang mengurung kebebasannya, monster yang membantai Diego tanpa kedipan mata di depan wajahnya.
Namun, saat Clara menatap perban berdarah di bahu Kenzo, ingatan semalam kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Suara dentuman senjata, raungan Diego yang ingin merebutnya, dan bayangan Kenzo yang menerjang maju tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Peluru yang merobek daging bahu Kenzo semalam adalah peluru yang seharusnya menembus dada Clara jika Kenzo tidak menjadikan tubuh bidangnya sebagai perisai hidup.
Pria ini mempertaruhkan nyawanya sendiri demi melindunginya, batin Clara bergejolak hebat.
Dilema moral yang teramat menyiksa meremukkan dada Clara. Rasa benci yang mendalam atas perampasan kebebasannya bertabrakan keras dengan rasa keterikatan yang aneh, sebuah kenyataan pahit bahwa monster yang paling ia benci di dunia ini justru adalah satu-satunya manusia yang rela mati demi memastikannya tetap bernapas.
Air mata membasahi pipi Clara. Dengan jemari yang gemetar, ia memeras kain basah dari mangkuk es, lalu meletakkannya dengan sangat lembut di atas dahi Kenzo yang membara.
"Kenapa kau harus melakukan ini, Kenzo?"
bisik Clara seraya menangis tanpa suara. "Kenapa kau harus menyelamatkanku jika tujuannya hanya untuk terus mengurungku?"
Saat kain dingin menyentuh kulitnya, Kenzo mengerang pelan di tengah ketidak sadarannya. Refleks tubuhnya bekerja instan, tangan kanan Kenzo yang kokoh melesat dari balik selimut, mencengkeram pergelangan tangan Clara dengan kuat.
Clara tersentak kaget, hampir saja membalikkan mangkuk air.
"Kenzo...!"
Mata Kenzo terbuka sedikit sayu, merah oleh demam tinggi, dan kabur oleh rasa sakit. Namun, begitu manik matanya yang kelam berhasil menangkap bayangan wajah Clara, genggaman tangannya pada pergelangan tangan Clara tidak mengendur sedikit pun.
"Clara..."
gumam Kenzo, suaranya parau, sangat lemah, dan pecah.
"Jangan...pergi..."
Pria yang semalam mengeksekusi musuhnya tanpa ampun kini bergumam memohon seperti seorang anak kecil yang takut kehilangan satu-satunya pegangan hidupnya. Obsesinya telah merasuk begitu dalam hingga ke dasar kesadaran paling bawah.
"Aku di sini, Kenzo,"
sahut Clara pelan, suaranya bergetar oleh campuran ketakutan dan kepasrahan yang mendalam.
"Aku tidak ke mana-mana."
Mendengar bisikan itu, napas Kenzo perlahan kembali tenang. Cengkeraman jemarinya pada tangan Clara mereda, berubah menjadi sebuah genggaman hangat yang protektif. Pria itu kembali memejamkan matanya, menyandarkan telapak tangannya di dalam genggaman Clara, mencari kehangatan di tengah rasa dingin ekstrem yang menyerang tubuhnya.
Clara tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemarinya terikat di dalam genggaman Kenzo.
Dengan tangan kanannya yang bebas, Clara meraih botol antiseptik dan kain kasa baru.
Sepanjang sisa pagi itu, di bawah pendaran sinar matahari Karibia yang makin terang, Clara dengan telaten membersihkan luka infeksi di bahu Kenzo, mengganti perban berdarah itu satu demi satu, dan mengusap peluh dingin di wajah sang pria.
Di dalam kamar yang sunyi itu, saat aroma obat-obatan bercampur dengan hangatnya terpaan angin laut, Clara menyadari sebuah kenyataan yang melumpuhkan jiwanya, kini benteng pertahanan psikologisnya sendiri mulai runtuh dari dalam. Ia telah terikat pada sang predator, bukan lagi hanya oleh gelang perak di tangannya, melainkan oleh utang nyawa dan benang-benang obsesi gelap yang takkan pernah bisa ia lepaskan.
Kenzo mempererat genggaman jemarinya dalam tidur lelapnya, seolah menyerap sisa-sisa hangat dari telapak tangan Clara yang pasrah. Clara menatap wajah tegas pria di sampingnya, membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua di bawah langit Karibia. Ia sadar, tidak akan ada lagi jalan kembali, perjalanan hidupnya kini telah sepenuhnya tenggelam dalam bersama Kenzo.