WARNING!
Bukan Untuk Anak di bawah umur (21+)
Cinta segitiga dan patah hati yang membuat baper berat.
No Debat dan baca dengan bijak!
Hanya sekedar hiburan bagi yang ingin kisah cinta romantis.
Wilona tidak menyangka jika selepas kepergian sang ayah, ibunya menikah lagi dengan seorang duda kaya raya. Akibat pernikahan itu, Wilona harus bersaudara dengan Wildan, anak cowok menyebalkan yang menjadi saingannya di sekolah.
Wildan yang belum bisa menerima pernikahan papanya, memilih kuliah di luar negri. Setelah perpisahan bertahun-tahun, Wilona bertemu kembali dengan Wildan saat mereka dewasa. Namun sikap Wildan berubah drastis. Dengan pesonanya, ia berusaha mendekati dan menggoda Wilona. Namun benarkah Wildan jatuh cinta pada Wilona? Atau justru Elzen, sang CEO playboy, yang tulus mencintai Wilona?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Dia Kembali
Wilona menggunakan blazer merahnya dan berjalan keluar dari kamar. Ia merasa sangat bersemangat karena akan mengajar di hari pertama tahun ajaran baru.
"Wilo, kamu sudah rapi pagi-pagi sekali. Ayo, sarapan dulu," ucap Ny. Kalea menyuruh Wilona duduk di meja makan.
"Hari ini Wilo mau menyambut kedatangan murid-murid baru, Ma. Akan ada sesi perkenalan juga. Wilo mau datang lebih pagi supaya bisa bertemu orang tua mereka."
"Mama senang kamu menikmati pekerjaanmu, Wilo."
"Hari ini aku juga jadi siswa baru di Kelas dua. Kenapa ya liburan kenaikan kelas cepat sekali. Aku masih ingin maen game," keluh Reymond merasa malas.
Tuan Adrian mengelus rambut putra kecilnya itu.
"Rey, harus semangat sekolah. Katanya kamu ingin jadi seperti Kak Wildan. Kalau begitu harus rajin belajar mulai sekarang."
"Iya, Pa. Kak Wildan itu keren. Rey mau jadi dokter seperti Kak Wildan," puji Reymond dengan mulut penuh makanan.
"Bagaimana kalau kamu jadi guru seperti Kakak, Rey?" goda Wilona pada adiknya.
"Gak mau, ah. Nanti aku marah-marah terus tiap ada anak yang bandel."
"Bukannya kamu sendiri bandel, Rey?" tanya Wilona mengejek adik kecilnya.
Reymond menjulurkan lidahnya kepada Wilona, hingga membuat Papa dan Mamanya tertawa geli.
"Rey, Papa dan Mama akan mengantarkanmu ke sekolah hari ini," ucap Tuan Adrian sembari tersenyum.
"Asyik, nanti pulang sekolah langsung ke Mall ya, Pa."
"Papa harus ke kantor setelah mengantarmu, Rey. Kamu ke Mall saja bersama Mama."
"Papa jadi masuk kantor hari ini?" tanya Wilona keheranan.
"Iya, Wilo, Papa ada meeting penting dengan investor. Kemungkinan sampai malam. Oh ya, Papa lupa mengatakan hari ini adalah hari terakhir Pak Jan bekerja sebagai supir kita. Mulai besok kamu akan diantarkan oleh keponakannya."
"Apa Pak Jan sakit lagi, Pa?"
"Tidak. Pak Jan ingin pensiun karena sekarang badannya mudah kecapekan dan lemas."
Ny. Kalea meletakkan sepiring sandwich di atas meja makan.
"Wilo, nanti kamu pulang jam berapa dari sekolah?"
"Sekitar jam dua siang, Ma."
"Setelah Reymond pulang sekolah, Mama akan mengantar Rey ke Mall. Lalu Mama akan ke rumah Tante Lydia. James, anak bungsu Tante Lydia, berulang tahun. Jadi kamu akan sendirian di rumah sampai sore."
"Iya, Mama tenang saja. Ada Bi Rani dan para pelayan yang menemaniku."
"Ma, Pa, Wilona berangkat sekarang. Rey, Kakak berangkat ya. Bye..." ucap Wilona mengecup pipi Reymond.
"Bye, Kak."
...****************...
"Pak Jan, apa Bapak akan berhenti bekerja?" tanya Wilona di dalam mobil.
"Iya, Non. Bapak sudah sakit-sakitan sekarang, lebih baik Bapak istirahat. Besok keponakan Bapak yang akan mengantarkan Nona Wilona ke sekolah. Namanya Elang. Dia mahasiswa semester akhir di jurusan Bahasa Inggris. Elang minta Bapak mencarikan pekerjaan sampingan supaya dapat penghasilan. Dia setuju menjadi supir pribadi menggantikan Bapak."
"Sebenarnya saya sedih harus kehilangan Pak Jan. Selama ini Bapak yang selalu menemani saya kemana-mana. Tapi kalau Pak Jan memang ingin istirahat, saya tidak akan menghalangi. Pak Jan harus sering-sering mampir ke rumah nanti," ucap Wilona sedih.
"Iya, Non. Terima kasih."
Setibanya di sekolah, Wilona buru-buru menuju ke ruang kelas untuk persiapan menyambut kedatangan para murid. Namun seseorang mencegah langkahnya.
"Wilo, akhirnya kita ketemu lagi. Bagaimana kabarmu?" ujar Gabby memeluk Wilona.
"Gabby? Ini benar kamu, Gabriella. Wah, rambutmu sekarang panjang. Kamu cantik sekali," ucap Wilona mengagumi penampilan sahabatnya semasa sekolah itu.
"Kamu tuh yang cantik. Dari kelas sembilan dulu kamu memang sudah cantik. Tapi sekarang kamu makin cantik, deh. Kalau cowok-cowok di kelas kita ketemu kamu saat ini, pasti mereka langsung jatuh cinta."
"Kamu berlebihan, Gab," jawab Wilona merasa malu.
"Aku mau mengucapkan terima kasihhhh banyak. Kamu sudah memberikan informasi lowongan kerja disini. Aku bisa diterima sebagai admin keuangan karena rekomendasimu."
"Iya sama-sama, Gab. Sekarang kita bisa bertemu lagi setiap hari."
"By the way, Wilo kamu sudah punya pacar belum? Atau jangan-jangan malah punya calon suami?"
"Belum, aku ingin konsentrasi dulu sebagai guru. Aku baru aja diangkat sebagai wali kelas tahun ini, Gab."
"Aduh, Wilo, pekerjaan memang penting tapi cinta juga harus dipikirkan. Masa wanita secantik kamu sendirian, bisa bahaya. Cepat cari pacar lalu buru-buru nikah."
"Gab, nanti lagi ya ngobrolnya. Aku bisa terlambat menyambut murid-muridku."
"Okey, Bu Guru. Sampai jumpa nanti," ucap Gabby melambaikan tangannya.
Wilona berdiri di depan pintu kelas untuk menyambut murid-murid barunya di Kindergarten 2. Melihat wajah-wajah kecil yang imut dan polos, membuat Wilona bahagia dengan pilihannya menjadi seorang guru. Ia memang sudah lama menyukai anak-anak. Kini impiannya itu telah menjadi kenyataan.
"Good Morning, Gisella. I'm Miss Wilo, your class teacher," sapa Wilona kepada gadis kecil berkepang dua di hadapannya.
Gadis kecil itu tampak malu-malu menjawab sapaan dari Wilona.
"Gisella, say good morning to Miss Wilo," ucap Mama gadis kecil itu.
"Good morning, Miss," jawab Gisella dengan suara cedalnya.
Miss Rhena, asisten Wilona, mengantarkan Gisella ke dalam kelas.
Berikutnya murid-murid laki-laki dan perempuan datang bergiliran untuk masuk ke kelas. Mereka diantarkan oleh orang tuanya masing-masing di hari pertama sekolah.
"Good Morning, Kyle. How are you? I'm Miss Wilo, your class teacher."
"Good Morning, Miss Wilo. I'm fine, thank you," jawab anak laki-laki itu bersemangat.
Wilona tersenyum dan mengijinkan Kyle masuk ke dalam kelas.
Di barisan paling akhir, ada seorang gadis kecil berambut panjang yang mengenakan bando pink. Wajah gadis kecil itu tampak cemberut, tidak bersemangat seperti teman-temamnya.
"Good morning, Anabby. Your name, Annaby, right? I'm Miss Wilo," tanya Wilona melihat name tag yang terpasang di seragam gadis kecil itu.
Anabby menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menjawab sapaan dari Wilona. Di samping anak itu, Wilona hanya melihat seorang wanita pengasuh berseragam putih yang mendampinginya.
"Suster, kenapa Anabby sedih?" tanya Wilona mencari tau.
"Anabby minta Mama atau Omnya mengantar ke sekolah, Miss. Tapi Mamanya gak bisa karena kondisi kesehatannya. Kalau Omnya ada meeting penting di kantor."
"Oh, begitu."
Wilona mengalihkan pandangannya kepada Anabby. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Anabby dan tersenyum kepada gadis kecil itu.
"Anabby, jangan sedih ya. Di dalam kelas ada banyak teman-teman. Anabby bisa main dan belajar bersama Miss Wilo, Miss Rhena, dan teman-teman. Ayo, Anabby ikut Miss ke dalam," ajak Wilona menggandeng tangan Anabby.
"Suster, saya ajak Anabby ke kelas dulu."
"Iya, Miss, saya akan menunggu di luar," ucap Suster itu meninggalkan Wilona dan Anabby.
Di dalam kelas, Wilona memilihkan kursi paling depan untuk Anabby, agar ia lebih mudah memperhatikannya.
"Ok, Class, today we will sing together. Miss Wilo akan mengajak kalian menyanyi lagu "Twinkle Twinkle Little Star." After that we will coloring ," ucap Wilona memulai kelasnya.
Hari itu Wilona benar-benar menikmati suasana kebersamaan dengan murid-muridnya di dalam kelas.
...****************...
Sekitar jam dua siang, Wilona sampai di rumah. Suasana rumah yang sepi membuat Wilona memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Wilona merebahkan dirinya di tempat tidur, membiarkan tubuhnya rileks untuk sejenak.
"Nona, apa Anda tidak makan siang?" tanya Bi Rani mengetuk pintu kamar Wilona.
"Aku sudah makan siang di sekolah, Bi."
"Baik, Nona, kalau butuh sesuatu, saya ada di dapur. Saya turun dulu, Nona."
"Iya, Bi."
Kenapa hari ini panas sekali padahal aku sudah menyalakan AC. Lebih baik aku berganti baju yang agak tipis supaya tidak kepanasan,
batin Wilona bangun dari tempat tidur.
Wilona mengambil setelan tanktop dan celana pendeknya yang berbahan satin. Setelah berganti baju dan mengikat sebagian rambutnya ke atas, Wilona melangkah keluar dari kamar untuk turun ke lantai satu. Ia ingin membuat segelas jus jeruk untuk menghilangkan dahaganya.
Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar, Wilona mendengar suara langkah kaki seseorang menaiki tangga lantai dua.
Siapa itu? Bukankah tidak ada orang di lantai dua. Mama dan Reymond belum pulang. Bi Rani, Indah dan Sinta semua ada di lantai satu,
pikir Wilona cemas.
Sambil berjingkat agar tidak menimbulkan suara, Wilona kembali ke kamar. Ia mengambil tongkat baseball miliknya. Paling tidak, tongkat itu bisa dijadikan senjata membela diri apabila ada orang asing yang masuk ke dalam rumahnya.
Wilona memberanikan dirinya keluar dari kamar sambil memegang erat tongkat baseballnya. Langkah kaki yang terdengar seperti langkah seorang laki-laki itu semakin mendekat. Jantung Wilona berdegup kencang ketika laki-laki itu mendekat ke arahnya.
Dengan sekuat tenaga, Wilona memejamkan mata seraya mengayunkan tongkat baseballnya ke tubuh pria itu. Namun, tangan kuat pria itu berhasil menangkis serangan Wilona. Tangkisannya justru membuat Wilona kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terjerembap ke depan dan menimpa pria itu.
"Aduh, lepaskan aku!" pekik Wilona terkejut merasakan tangan pria itu menahannya.
"Apa kamu sudah gila sampai mau memukulku? Ternyata kelakuan konyolmu belum berubah setelah bertahun-tahun, Ilo," ucap pria itu dengan suaranya yang dalam.
Meskipun suara itu sedikit berubah dan terdengar lebih jantan, tapi Wilona masih sangat mengenalinya. Terlebih lagi, tidak ada orang lain yang akan memanggilnya dengan sebutan Ilo.
"Wil...dan," ucap Wilona membuka matanya.
Wilona mendapati dirinya sedang berada dalam pelukan Wildan. Saudara tirinya itu sedang memperhatikannya dengan sorot matanya yang tajam sekaligus menawan.
Wildan kini sudah berubah menjadi pria dewasa yang bertubuh tinggi dan atletis. Wilona bisa merasakan otot-otot tangan Wildan yang begitu kokoh menahan tubuhnya. Dengan kombinasi wajah tampannya yang sempurna, Wildan sangat cocok menjadi seorang model majalah atau aktor papan atas.
"Ma..af, aku tidak tau kalau kamu datang. Papa mengatakan kamu belum menentukan tanggal kepulanganmu ke Jakarta," ucap Wilona berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Sekarang, tolong lepaskan aku. A..aku mau memberitau Bi Rani untuk menyiapkan ke..perluanmu," pinta Wilona ingin segera lepas dari pelukan Wildan.
"Bagus juga alasanmu," kata Wildan masih menatap Wilona dengan tajam.
"Apa kamu selalu berpakaian seperti ini di dalam rumah? Bagaimana kalau ada pelayan atau supir pria yang melihatmu?" tanya Wildan dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
"I..ini karena aku sedang kepanasan. Lagipula di rumah tidak ada pelayan pria. Mama, Papa, dan Reymond sedang pergi. Sekarang...biarkan aku turun ke lantai satu."
Wildan melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis.
"Kamu bisa istirahat di kamarmu. Bi Rani membersihkan kamarmu setiap hari. A..aku turun dulu ke bawah," ucap Wilona gugup.
Tanpa menengok lagi, Wilona buru-buru pergi dari hadapan Wildan. Ia hanya ingin segera keluar dari situasi yang canggung itu.
sukses
semangat
mksh