Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prapta
Malam semakin larut tapi Prapta belum juga datang, padahal Safana sudah menyiapkan makan malam untuk Prapta di tepi kolam sesuai permintaannya. Safana menunggu dengan sabar, sampai ketika gerimis turun perlahan, Safana baru beranjak ke dapur mencari Sumi.
“Mbak, tolong bantuin Saya ya. Angkatin semua hidangan yang ada di tepi kolam dan letakkan di kamar Mas Prapta.“
“Baik Saf“ Sumi berlari keluar dan memindahkan semua piring makanan ke nampan kemudian membawanya ke kamar Prapta.
Safana yang masih di dapur memperhatikan rintik yang jatuh diatas kolam, Ia yang tengah mendongkol karena prapta tak juga pulang, mendadak ingin melakukan sesuatu.
“Pasti enak berenang sambil hujan-hujanan. Kesalku pasti hilang,“ tanpa berpikir dua kali Safana berlari ke kolam dan menceburkan dirinya. Berenang sesuka hatinya tanpa menggubris dinginnya air yang menyentuh kulitnya.
Jam dipergelangan tangan menunjukkan pukul sepuluh malam, Prapta yang teringat janjinya untuk makan malam bersama dengan Safana beranjak dari kursi diruang kerja Heidy.
“Mau kemana ?” Heidy terkejut.
“Pulang. Aku letih dengan perdebatan soal corak batik yang akan Kau buat,“
Heidy menahan pergelangan tangan Prapta yang hendak berlalu.
“Baiklah Kita akhiri. Tapi sudah malam begini, bagaimana kalau Kita makan malam bersama dulu lalu Kau antarkan Aku pulang“ Heidy merapatkan tubuhnya ke dada Prapta.
Prapta meliriknya dengan senyum simpul “Sepertinya menyenangkan. Tapi maaf Aku tidak bisa, Aku ada janji makan malam dirumah“ Prapta menolak dengan halus.
“Aku akan menghadiahkan tubuhku kalau Kau mengabulkan permintaanku” Heidy mengusap bibir Prapta dengan jemarinya yang lentik terawat.
Prapta menurunkan jemari Heidy yang mengusap bibirnya.
“Lain kali saja. Lain kali akan kupenuhi permintaanmu” Prapta mengangkat dua jarinya bersumpah.
Ia memang biasa bermesraan sesaat dengan Heidy dan para model batiknya.
“ Apapun itu permintaannya ?” Heidy seperti punya peluang.
Prapta mengangguk mengiyakan.
“Kau tahu Aku bukan type pria yang suka ingkar janji“ Prapta membalikkan tubuhnya dan berlalu dari ruang kerja Heidy.
Bergegas ke halaman parkir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba dirumah.
“Hujan seperti ini apa Safana masih mau menungguku,“ Prapta bergumam sendiri saat memperhatikan hujan yang mengguyur jalan raya.
Dari balik jendela dapur Mbak Sumi yang tengah mencuci piring melihat sekilas ke kolam, menggeleng-nggelengkan kepala ketika melihat Safana yang masih asyik berenang tanpa peduli hujan lebat yang turun dan malam yang terus merambat.
“Bener-bener anaknya kuat“ Sumi menggumam sendiri.
Ia melanjutkan pekerjaannya kembali dan tak lagi memperhatikan Safana. Setelah selesai merapikan cucian piring Sumi beranjak ke kamarnya untuk tidur.
Sumi tak tahu kalau sebentar kemudian setelah Ia masuk kamar, anak majikannya pulang. Prapta masuk ke dalam rumah dan melongok ke tepi kolam yang tampak sepi. Prapta tak menyadari kalau Safana masih berada di dalam kolam.
Ia langsung menuju kamarnya, menyalakan lampu dan melihat meja kerjanya yang penuh tersaji hidangan pesanannya. Prapta tersenyum melihatnya dan buru-buru duduk dibelakang meja kerjanya.
“Safana benar-benar menepati janjinya,” Prapta mulai melahap satu persatu hidangan yang ada dimejanya.
“Pasti anak itu sudah tidur sekarang,“ Prapta menyimpulkan, sama sekali tak menyadari kalau Safana baru saja naik ke permukaan kolam setelah melihat lampu dikamar Prapta menyala.
Prapta dan orang tuanya baru saja masuk ke ruang makan. Mereka bertiga menempati kursi masing-masing. Saat duduk mereka melihat apa yang disajikan dengan heran. Hanya ada nasi goreng dan orange juice yang tersaji pagi itu. Menu ini biasa sumi yang membuat.
“Kenapa Safana tak membuatkan sarapan pagi ini ?” Prapta membatin.
“Non Safana kayanya masih dikamar,“ tanpa diminta Sumi memberitahu.
“Tumben“ Prapta mengira Safana masih kesal karena Ia terlambat pulang dan Mereka tidak makan malam bersama.
“Mungkin kecapean, soalnya semalam Dia berenang ,“
“BERENANG ?”semua terkejut mendengarnya.
Sumi mengangguk.
“Jangan-jangan Safana sakit karena berenang pas hujan deras semalam“ Ibunya berpikir.
Prapta mendadak diliputi rasa khawatir, Ia secepat kilat berlari menuju kamar Safana, membuka pintunya dan mendapati anak itu masih meringkuk dibawah selimut dengan wajah pucat pasi. Prapta menghampiri tepi tempat tidurnya dan meraba dahinya.
“Ia demam“ Prapta mencemaskannya.
Orang tua Prapta dan Sumi yang menyusul ke kamar ikut merasa khawatir.
“Biar Papa telephone Dokter keluarga,” Ayah Prapta beranjak meninggalkan kamar Safana.
“Mama ambilkan thermometer dulu,” Ibunya menyusul keluar.
Tinggal Sumi yang masih berdiri tegak menunggu perintah.
“Masakkan bubur hangat untuknya,” Prapta menyuruh.
Sumi mengangguki dan meninggalkan kamar.
“Aku akan siapkan kompres untukmu,“ Prapta mengusap wajah Safana sebelum berlalu ke dapur.
Prapta tak jadi berangkat ke kantor, Ia memilih tinggal dirumah dan menyerahkan semua urusan pekerjaannya pada manager tiap divisi di lini produksi batiknya. Sepanjang pagi itu Ia telaten mengompres Safana agar demamnya turun.
“Dokter Arifin sudah datang “ Ibu muncul dengan dokter keluarga Mereka.
“Siapa ini ?, calon istri Prapta atau kerabat Kalian dari jauh,“ sambil berjalan mendekati tubuh Safana dan memeriksa kondisinya Dokter bertanya.
“Safana ini anak teman Kami“ Ibu Prapta yang menjawab.
Dokter arifin mulai menghitung denyut nadi Safana.
“Apa aktivitasnya kemarin sampai bisa demam separah ini ?” Dokter Arifin memasukkan alat-alat medisnya yang telah selesai digunakan untuk memeriksa.
“Ia habis berenang semalam“ Ibu Prapta menjelaskan.
“Pantas. Anak gadis memang susah dilarang kalau ada maunya“ Dokter Arifin geleng-geleng kepala.
Sementara Prapta menebak-nebak alasan Safana berenang, mungkin Safana bosan menunggunya pulang dari kantor dan karena Ia melupakan janjinya
“Saya tuliskan resepnya. Nanti tinggal di tebus di apotik. Antibiotiknya jangan lupa dihabiskan“ Dokter Arifin menyodorkan resep yang sudah dicatatnya pada Ibu Prapta.
“Biar ibu yang belikan. Kamu disini saja menjaganya ,“
Prapta mengangguk, membiarkan Ibu dan Dokter Arifin pergi.
Tak lama Sumi masuk membawakan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh manis untuk sarapan pagi Safana.
“Ini Mas,”
“Taruh saja ,“
“Eh iya Mas, semalam Safana belum makan waktu berenang. Ia nggak mau makan, katanya nunggu Mas pulang ,“
Prapta memukul keningnya “Sumi, kenapa Kamu baru bilang ?, sekarang keluar Kamu, Kamu disini malah bikin Saya jadi tambah merasa bersalah,“
Sumi nyengir, buru-buru meninggalkan kamar Safana dan menutup pintunya dari luar.
Prapta menatap Safana yang terbaring lemah, Ia lalu mengusap pipinya perlahan “Safana, bangunlah ,“
“Mmm…” Safana hanya menggumam
“Safana, Kau harus bangun. Kau harus makan“ Prapta merengkuh bahunya dan mencoba mendudukannya.
“Mas Ardi…” Safana mengerjapkan matanya berat.
“Bukan ini Aku Prapta, buka matamu yang lebar. Ayo Safana“ Prapta menumpuk bantal untuk sandaran punggung Safana.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya