NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pilar-Pilar Ketiadaan

​Langit di atas Distrik Guro telah berubah menjadi jingga kemerahan saat panggung bayangan Han Do-Yoon meluncur kembali menuju Rumah Tahanan Seoul. Di atas platform itu, Kwak Min-Soo tampak sibuk memeriksa tumpukan komponen mesin yang ia masukkan ke dalam Cincin Subruang-nya. Ia adalah tipe orang yang akan merasa gelisah jika tidak ada kabel atau baut yang ia sentuh selama lebih dari satu jam.

​Yoo Ji-Ah dan Baek Hyun-Woo berdiri di sisi lain, menjaga jarak. Hyun-Woo, sebagai pembunuh bayaran yang terbiasa bekerja sendiri, masih tampak tidak nyaman dengan kehadiran banyak orang di sekitarnya. Sementara Ji-Ah sesekali melirik ke arah Do-Yoon, yang berdiri paling depan dengan tatapan tajam mengarah ke cakrawala.

​Rumah Tahanan Seoul kini telah bertransformasi menjadi markas yang sesungguhnya. Kubah pelindung biru yang menyelimuti wilayah itu berkilau tertimpa cahaya matahari terbenam.

​Saat panggung bayangan mendarat di lapangan dalam, Kang Tae-Ho sudah menunggu di sana dengan barisan para tahanan yang kini tampak lebih rapi, meski pakaian mereka masih compang-camping.

​"Ketua!" Tae-Ho memberi hormat dengan gaya militer yang kaku, lalu matanya beralih ke sosok pria berkacamata yang turun di belakang Do-Yoon. "Siapa dia?"

​"Kwak Min-Soo," jawab Do-Yoon singkat. "Kepala Divisi Teknik dan Konstruksi Serikat Ketiadaan."

​Min-Soo turun dari panggung, mengamati sekeliling dengan tatapan kritis. Ia berjalan menuju tembok beton penjara, menempelkan telinganya ke permukaan tembok, lalu menggetok-getok beton tersebut dengan kepalan tangannya. Wajahnya berubah masam.

​"Tembok ini sudah terlalu rapuh," gumam Min-Soo, membuat para tahanan yang bekerja di sekitarnya berhenti dan menatapnya dengan takut. "Struktur betonnya tidak diperkuat dengan baja tulangan yang cukup untuk menahan benturan monster Tingkat C. Jika gelombang besar datang, tembok ini akan hancur seperti biskuit dalam hitungan menit."

​Tae-Ho, yang merasa harga dirinya sedikit terganggu karena ia yang memimpin penguatan tembok, melangkah maju. "Aku sudah memperkuatnya dengan semua meja besi yang bisa kutemukan!"

​Min-Soo menoleh, menatap Tae-Ho yang setinggi raksasa itu dengan tenang. Ia bahkan tidak merasa terintimidasi. "Besinya berkarat, las-lasannya amatir. Kau sedang membangun kuburan massal, bukan benteng."

​Tae-Ho hendak menggeram, namun Do-Yoon mengangkat tangan kanannya.

​"Cukup," potong Do-Yoon. "Min-Soo tidak salah. Tae-Ho, mulai hari ini, kau harus mengikuti instruksinya dalam pembangunan pertahanan. Dan Min-Soo, berhentilah mengeluh. Gunakan sumber daya yang ada di gudang besi dan apa pun yang bisa kau ambil dari pabrik-pabrik di Guro."

​Do-Yoon berjalan menuju gedung utama, diikuti oleh Ji-Ah, Hyun-Woo, dan Seo Ah-In yang muncul dari pintu blok medis. Semua anggota inti Serikat Ketiadaan kini berkumpul.

​Di ruang rapat yang kini telah dibersihkan dan dipasangi peta kota Seoul di dindingnya, Do-Yoon menatap kelima orang di depannya. Mereka adalah kombinasi aneh: seorang pembunuh, seorang ksatria, seorang tabib, seorang mekanik, dan seorang pendekar pedang.

​Namun di mata Do-Yoon, mereka adalah aset terpenting yang akan menentukan nasib umat manusia.

​"Malam Bulan Berdarah akan jatuh dalam kurang dari empat puluh delapan jam," Do-Yoon memulai rapat. "Sistem akan mengubah aturan permainan. Monster yang mati tidak akan benar-benar mati, melainkan bangkit kembali dengan atribut yang meningkat. Jika kita tidak memiliki pertahanan yang bisa memurnikan atau menghancurkan tubuh mereka hingga menjadi debu, kita tidak akan bisa bertahan."

​"Berapa banyak monster yang akan menyerang?" tanya Ah-In, wajahnya tampak cemas memikirkan anak-anak yang ia lindungi.

​"Ribuan," jawab Do-Yoon tanpa basa-basi. "Tetapi jangan khawatir. Min-Soo akan membangun 'Dinding Api Kehampaan' di sepanjang perimeter. Tae-Ho, kau akan memimpin garis depan. Hyun-Woo, kau akan berada di menara pengawas, menghabisi target prioritas tinggi. Ji-Ah, kau bergerak lincah di sela-sela formasi, memastikan tidak ada satu pun monster yang menembus pertahanan Tae-Ho."

​"Lalu, apa tugasmu, Ketua?" tanya Hyun-Woo.

​Do-Yoon menoleh ke arah balkon, menatap kegelapan malam yang mulai turun. "Aku akan memburu pemimpin tertinggi dari gelombang Bulan Berdarah itu sendiri. Sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di perisai kita, aku akan memenggal kepala mereka."

​Keheningan menyelimuti ruangan. Strategi Do-Yoon sangat gila—ia mengandalkan pertahanan statis untuk menahan massa, sementara ia sendiri akan bertindak sebagai agen pemusnah di garis belakang musuh.

​"Ketua," sapa Tae-Ho, suaranya mantap. "Jika kau tidak ada di markas, perisai ini harus tetap kokoh. Min-Soo, apa yang kubutuhkan agar pertahanan ini bisa bertahan lebih dari enam jam?"

​Min-Soo mulai mencorat-coret sketsa di atas meja. "Aku butuh setidaknya dua ton baja, kabel tembaga dari pusat listrik, dan paling tidak sepuluh Inti Sihir tingkat menengah untuk mengalirkan arus listrik bertegangan tinggi ke barikade. Jika aku bisa membangun Tesla Coil statis di setiap sudut tembok, kita bisa memusnahkan monster tingkat rendah tanpa perlu menyentuh mereka."

​"Aku akan mencarikan bahan-bahannya," potong Ji-Ah. "Aku punya kecepatan untuk menembus kawasan industri lain."

​"Aku juga akan ikut," sahut Hyun-Woo. "Aku butuh tempat yang lebih tinggi untuk memantau pergerakan mereka."

​Rapat itu berlanjut hingga larut malam. Rencana-rencana detail, pembagian tugas, dan logistik diatur dengan efisiensi yang mengerikan. Do-Yoon hanya mengamati, sesekali memberikan masukan yang mengubah strategi mereka dari 'bertahan hidup' menjadi 'dominasi wilayah'.

​Saat rapat berakhir dan semua anggota kembali ke pos mereka, Do-Yoon tetap tinggal di dalam ruang rapat. Ia menatap ke luar jendela. Langit malam tampak tenang, namun ia tahu di balik ketenangan itu, Rasi Bintang sedang bersiap untuk memberikan tantangan yang lebih brutal.

​Ia memanggil Jendela Statusnya, menatap 42.100 Koin Emas yang tersisa.

​"Sudah waktunya untuk evolusi kedua," bisik Do-Yoon.

​Ia membuka Toko Sistem, mencari item yang hanya bisa dibeli oleh pengguna Kelas Pewaris Ketiadaan.

​[Buku Keahlian: 'Panggilan Raja Bayangan' (Peringkat Epik)]

Harga: 40.000 Koin Emas

Keterangan: Memungkinkan pengguna untuk membangkitkan pasukan bayangan dari mayat musuh yang telah ia bunuh. Pasukan ini memiliki 70% atribut dari saat mereka masih hidup.

​Jari Do-Yoon menekan tombol 'Beli'.

​Saldo koinnya nyaris habis, tersisa 2.100 koin. Namun, di tangannya kini tergenggam sebuah buku kuno bersampul kulit hitam yang dingin dan berdenyut.

​Begitu ia menyentuh buku itu, ribuan baris informasi sihir mengalir ke dalam otaknya. Ia tidak hanya mendapatkan keahlian baru; ia baru saja mendapatkan hak untuk membangun tentara abadi.

​Do-Yoon berdiri di balkon gedung administrasi, menatap lapangan luas tempat ratusan tahanan kini beristirahat.

​"Jika Bulan Berdarah akan membangkitkan monster-monster kalian," Do-Yoon menyeringai ke arah langit, "maka aku akan membangkitkan musuh yang lebih mengerikan untuk memburu kalian."

​Malam itu, di bawah bayang-bayang kegelapan, Han Do-Yoon mulai bermeditasi. Ia tidak tidur. Ia mulai menyerap sisa-sisa energi kematian dari ribuan monster yang telah ia bunuh selama empat hari terakhir ke dalam Inti Ketiadaan miliknya.

​Esok pagi, saat Bulan Berdarah muncul, dunia akan menyadari bahwa Han Do-Yoon bukan lagi sekadar seorang penyintas.

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!