#Mature conten
#Harap bijak memilih bacaan
# Isi mengandung unsur 18+
Sebuah rayuan, bisa membuat seseorang terjebak dalam pusara angan-angan yang indah, melebihi logikanya tanpa sadar.
Disinilah kisah sang tokoh utama bermula. Elena tanpa sadar mulai masuk kedalam bujuk rayu yang akan mengubah hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan lupa, untuk menekan tap Love, like serta komentnya ya, Terima kasih telah membaca.
Find me on IG @Armalik King
Facebook @Armalik King
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armalik King, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 sahabat
Pagi itu Elena terbangun, karena suara gaduh dari sang sahabat yang telah lama tak berjumpa dengannya. Padahal Elena amat begitu mengantuk setelah menangis semalaman. Kini wanita yang bernama lengkap Elena Leonard itu sedang asyik membilas tubuhnya di kamar mandi. Sejujurnya, Elena sedang menikmati waktu mandinya dengan berendam di bak berendam dengan aroma terapi dari sebuah lilin, lengkap air hangat yang ditutupi oleh busa sabun ke seluruh tubuhnya itu.
Ia tampak menutup kedua matanya. Elena masih tak bisa menerima kenyataan atas takdirnya ini. Bagikan jatuh tertimpa tangga bahkan ia terjatuh kedalam sebuah jurang tanpa dasar. Pikirannya kini memutar kembali memori bersama sang kekasih hati Xander. Mereka menghabiskan waktu selama 6 tahun ini bersama. Bahkan mereka telah mengetahui kebiasaan masing-masing. Setelah di pikirkan beberapa kali pun, Elena tak melihat atau mengetahui sedikitpun kesalahan pada Xander.
Karena ia mengatakan di pesan itu bahwa, dirinya pergi bersama seorang wanita yang ia cintai dan yang pantas untuknya. Seketika kelopak mata indah, dengan bulu mata yang panjang dan lentik itu terbuka. Elena merubah raut wajahnya menjadi kesal. “Astaga! Ada apa dengan diriku? Aku tak bisa terus-menerus mengingatnya!” ucap Elena yang bangkit berdiri dari dalam bak berendam tersebut.
Ia berjalan menuju ruangan berkaca yang tak jauh dari bak berendam itu. Jemari tangannya memutar keran dan air dari shower mengguyur tubuhnya yang membuat busa-busa sabun mulai meluncur turun dari tubuh indahnya itu. “Cepat sadarlah Elena! Dia memang tam mencintaimu!” gumam Elena pada dirinya sendiri.
Setelah selesai, Elena pun bergegas keluar dari dalam kamar mandi. Dengan memakai jubah handuknya, ia melangkah pergi menuju pintu ruangan wardrobenya. “Dia benar-benar memanfaatkan situasi hingga sehari sebelum malam pernikahan? Apakah dia memang, hanya ingin mengincar tubuhku untuk dinikmatinya?” batin Elena geram. Ia berjalan dengan menggosokkan handuk kecil pada rambutnya yang basah.
Elena terkejut ketika pintu ruangan wardrobenya terbuka. “Astaga! Apa yang kau lakukan, Lucy!?” teriak Elena ketika melihat kearah Lucy yang sedang menelisik cincin pertunangan Elena. Seketika itu Lucy terkejut menatap kearah Elena, dengan diikuti senyuman terpaksa yang membuatnya canggung. Elena berlari kecil menghampiri Lucy. Ia bergegas mengambil kembali cincin itu dan menyimpannya dalam kotaknya kembali.
“Ah, aku lupa... jika kau selalu penasaran dengan hal apa pun!” ucap Elena dengan wajah datarnya.
“Aku hanya penasaran saja dengan cincinmu. Karena kau hanya mengirimkan videonya saja,” kelit Lucy dengan menunjukkan jarinya pada cincin yang di pegang Elena.
Elena tak mengindahkan ucapan Lucy dan segera menyimpan cincin inti ke tempatnya kembali. Ia berjalan pergi meninggalkan Lucy dan memilih beberapa pakaian yang akan dipakainya kali ini. Lucy sedari tadi mengikuti kemana pun Elena pergi. Bahkan ia berkomentar dengan beberapa pakaian yang Elena ambil. Tetapi, tiba-tiba Lucy berkata bahwa ia pernah melihat cincin itu di sebuah toko besar perhiasan.
“Aku lupa dimana itu, hanya saja modelnya begitu mirip dengan cincinmu. Dan yang ku ingat hanya negaranya yang ku kunjungi itu. Kalo tidak salah itu di daerah Macau,” tutur Lucy dengan melipat tangannya dengan mata melirik kearah atas seolah sedang mencoba berpikir.
“Apa? Mungkin kau salah lihat,” ujar Elena yang mengambil beberapa pakaian, lengkap dengan aksesoris di kepalanya yang akan ia kenakan.
Lucy kembali bergegas mengikuti Elena, tetapi kali ini Elena menghentikannya dengan melebarkan telapak tangan dihadapan Lucy, seraya berkata stop. Karena ia akan berganti pakaian saat ini. Lucy menunggunya dibalik tirai tinggi di dalam ruangan wardrobe itu. Gadis cerewet yang menjadi bintang iklan terlaris, di negeri ini masih saja mengajak Elena berbicara.
“Sepertinya penglihatanku tak salah lagi! Soalnya sebelum kesini aku harus mengadakan syuting iklan sebuah perhiasan, dan saat itu aku berjalan-jalan di sekitar mall terbesar di Macau! Jadi penglihatanku dan ingatanku pasti benar, Elena!” ucap Lucy yang masih yakin dengan pemikiran dirinya.
Elena selesai berganti pakaian. Ia berjalan melewati Lucy dengan menoleh ke arahnya, “Terserah! Lagian Aku sudah tak berminat lagi dengannya,” ucap Elena dengan wajah datarnya.
“Hah? Apa yang kau ucapkan?” tanya Lucy yang tak percaya dengan ucapan Elena.
“Ya, aku sudah tak berminat lagi dengan pria itu! Lagian dia juga tak mau menikah denganku! Lalu apalagi yang harus aku lakukan?” jawab Elena sambil berjalan keluar dari ruangan wardrobe dan menghampiri ranjangnya.
“Astaga! Jadi benar? Rumor itu?” tanya Lucy dengan wajah terkejut dan tak percaya pada ucapan sang sahabatnya itu. Elena hanya bersikap cuek. Ia berjalan menuju meja riasnya dan terduduk sambil menatap wajahnya sendiri. Lucy berlari kecil menghampiri Elena, ia ingin memastikan bahwa keadaan yang sebenarnya tidaklah sama dengan berita yang terdengar, mengenai pernikahan Elena dan Xander.
“Tuan putri, apa kau baik-baik saja? Tunggu... jadi matamu itu pasti...” tutur Lucy yang dengan seperti biasa berargumen dengan apa yang dipikirkannya sendiri. Lucy tampak memegang kedua pipi Elena. Wajahnya terlihat terkejut dan kini kening yang mengernyit menatap wajah Elena dengan rasa simpati dan kasihan. Tetapi dengan pandangan wajah datarnya, Elena melepaskan tangan Lucy dari wajahnya itu.
“Aku baik! Dan sekarang aku harus lebih baik lagi!” jawab Elena sambil merias wajahnya sendiri. Memang Elena sulit sekali untuk di dekati bahkan ia terkesan cuek dan dingin bahkan ia mencerminkan seorang tuan putri yang selalu bersikap sopan dan santun. Tetapi, Elena sedari dulu hanya ingin melakukan hal yang baik untuk kedua orang tuanya.
Karena memang sang ayah adalah keturunan bangsawan, jadi ia mengajarkan Elena bersekolah kepribadian untuk para bangsawan. Bagaimanapun Elena adalah keturunan kerajaan yang sudah pasti suatu saat nanti, sang nenek dari Elena dari ayahnya, memintanya untuk kembali ke lingkungan kerajaan. Segala peraturan di rumahnya, sama dengan peraturan di lingkungan bangsawan.
Sang ayah tak ingin di hina oleh saudara, atau keturunan bangsawan lainnya jika Elena, tidak berperilaku layaknya keturunan bangsawan meskipun, sang ayah telah memutuskan untuk keluar dari lingkungan bangsawan. Terlebih lagi, jika Elena harus berurusan dengan lingkungan kerajaan tanpa sang ayah atau pun ibundanya.
“Hei! Apa kau akan diam saja seperti ini dan menerima keadaan begitu saja?” tanya Lucy yang terlihat kesal dan bingung dengan sikap Elena.
“Lalu? Memangnya aku harus bagimana? Lagian jika di cari pun, tetap dia tak ingin menikahiku... coba kau berpikir lebih realistis, Lucy!” ungkap Elena dengan wajah datarnya sambil memoles bibir ranumnya itu.
Lucy terdiam mendengar ucapan Elena. Ia tengah berpikir bahwa yang du ucapkan Elena memang ada benarnya. Tetapi tetap saja itu tak benar. Lucy berkata bahwa kejahatan yang tak terampuni adalah kejahatan perasaan. “Hah? Apa maksudmu? Hahahah... kejahatan perasaan?” celetuk Elena yang tertawa karena ucapan sang sahabatnya itu.
“Astaga! Apa kau taj merasa telah di bohongi? Mengapa kejahatan perasaan atau cinta itu tak ada hukumannya? Karena memang tak bisa terlihat! Hanya perasaan saja yang akan menderita bahkan cara untuk melupakan perasaan itu membutuhkan bertahun-tahun. Dan bahkan ada lagi yang lebih parah yaitu, korban dari perasaan itu bisa membuatnya depresi dan mengalami masalah kejiwaan!” tutur Lucy dengan berjalan mengikuti Elena keluar kamarnya.
Mereka berjalan menuju lift untuk pergi ke lantai satu, dimana ruangan makan berada. Di dalam lift Lucy berkata bahwa Elena harus kembali mengambil semua aset dan warisan dari mendiang ayahnya. Elena selalu bercerita semua hal pada sang sahabatnya itu yang telah ia anggap seperti saudara sendiri. Elena hanya terdiam sedari tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tetapi dalam benaknya ia pun berpikir bahwa yang di ucapkan Lucy mengenai aset dan warisan daro orang tuanya itu, memang salah dirinya sendiri.
“Apa kau tak mencurigai sesuatu? Aku pikir menurutku, bahwa pria itu selama ini memang mengincar kedudukan dan juga hartamu! Dan ketika aku mengetahui kau memberikan serta asetmu, aku begitu terkejut! Sebetulnya cinta yang tulus itu bukan soal harta! Lebih tepatnya, kau di perdaya olehnya,” tutur Lucy yang berdiri di samping Elena dalam lift tersebut.
To be continue...