NovelToon NovelToon
My Sweet Best Friend

My Sweet Best Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi
Popularitas:756
Nilai: 5
Nama Author: salbiah pulungan

tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.

ig author: Salbiah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bangun yaa

Mobil yang di kendarai oleh Veros melaju cepat menuju rumah sakit terdekat. Di samping kemudi, Skyler tampak marah dan khawatir namun mencoba tetap tenang. Matanya sesekali melirik ke arah spion tengah melihat keadaan Rigecherta.

Di belakang Rigecherta di baringkan berbantal paha Tivane yang masih menangis sesenggukan kecil.

" Veros masih jauh kah?" Tanya Tivane dengan suara terdengar bergetar oleh tangis nya. Bajunya bahkan sudah berlumuran darah, begitu juga dengan tangannya yang terus menahan darah Rigecherta agar tak semakin banyak merembes.

" iya sabar. Ini udah mau sampe" ucap Veros saat melihat rumah sakit sudah mulai dekat sebelum akhirnya menepikan mobil itu dan langsung turun memanggil dokter. River datang dengan Zein menggunakan motor yang mereka pinjam dari dosen. Mobil berikutnya menyusul yang berisi anggota Blake heart dan satu dosen.

Dokter datang dengan tergesa dengan perawat sambil membawa brankar, Skyler dan River dengan cepat langsung mengangkat tubuh Rigecherta dari mobil ke atas brankar itu dan mendorong nya cepat ke arah UGD. Tivane ikut mendorong dengan cepat sambil menggenggam tangan Rigecherta sampai depan pintu UGD.

" Maaf sampai sini saja" ucap petugas menahan dan menutup pintu UGD.

Begitu pintu itu di tutup Tivane langsung lemas seolah kehilangan tenaga, jatuh terduduk di lantai dingin itu. Air mata nya kembali dan ia kembali terisak di lorong itu.

Milenia yang melihat sahabatnya sehancur itu pun langsung menghampiri dan memeluk Tivane dengan erat.

" Gimana ini Nia? Dia.. di tembak.." ucap Tivane tersendat dan membalas pelukan sahabatnya, menumpahkan semua kesedihannya di bahu sahabatnya itu.

" Dia kuat kok, dia pasti bisa" ucap Milenia mengelus lembut punggung Tivane.

" Tapi gue udah jahat sama dia... Gue udah maki-maki dia.. gue bahkan selalu ngusir dia pas dia mau datang... Harusnya dia nggak usah lindungin gue dari tembakan itu" lirih Tivane terputus-putus oleh tangisnya sendiri. ia merasa runtuh melihat orang yang paling ia sayangi harus berjuang hidup dan mati hanya karena dirinya.

" Udah, dia nggak bakalan suka liat lo nangis begini" ucap Ella mendekat dan ikut mengelus rambut Tivane.

" Bukan salah lo, dia emang milih dirinya yang ditembak dari pada lihat lo yang di tembak" sahut Luci juga ikut menenangkan Tivane.

" Jangan duduk di lantai Van, duduk di sana aja" ucap Skyler membawa Tivane duduk di kursi tunggu yang ada di depan UGD itu.

Beberapa saat kemudian dokter keluar sambil melepas masker dan menghela nafas lega. Tivane langsung berdiri menghampiri di ikuti oleh Veros dan lainnya.

" Gimana keadaan Rige dok?" Tanya Tivane pelan dan terdengar khawatir.

" Pasien sudah stabil, kami juga takjub dengan kekuatan tubuhnya yang tetap berusaha stabil. Dan kemungkinan ia bangun bisa jadi besok atau paling lama lusa" jelas dokter membuat semua langsung bernafas lega.

" Terima kasih banyak dok" ucap Veros membuat dokter mengangguk pelan.

" Boleh saya melihatnya dok?" Tanya Tivane pelan.

" Boleh, tapi jangan berisik dan ia harus kami pindahkan dulu ke kamar rawat inap." Jelas dokter kemudian pamit pergi dan brankar Rigecherta di dorong keluar untuk di pindahkan ke kamar rawat inap di ikuti oleh Tivane dan lainnya.

" Vane, Lo aja yang masuk. Biar nggak terlalu berisik" ucap Veros membukakan pintu kamar VIP itu.

" Yaudah gue masuk duluan ya" ucap Tivane melangkah masuk ke dalam dan pintu kembali di tutup oleh Veros.

Tivane melangkah mendekat dan duduk di kursi samping brankar.

Ia menatap dalam wajah Rigecherta yang terlihat pucat dan tangan yang di pasang infus serta masker wajah yang menutupi sebagian wajah tampannya. Air matanya kembali jatuh melihat pemuda yang selalu berdiri di sampingnya dan selalu melindunginya itu terlihat lemah tak berdaya di atas brankar.

Tivane meraih pelan tangan Rigecherta yang tidak di infus dan meletakkannya di pipinya.

" Hei..! Bangun yuk!" Panggil Tivane dengan suara yang bergetar.

" Aku kangen sama kamu. Aku kangen di manjain kamu, aku kangen di peluk sama kamu" tangis Tivane bertambah kencang, dan ia menunduk dengan nafas berat.

" Kamu lagi cape ya? Iya hm?" Tanya Tivane lirih. " Yaudah, kamu istirahat dulu, tapi besok harus bangun ya" pinta Tivane menguatkan hatinya dan berdiri untuk mengelus rambut Rigecherta dan menunduk, mengecup pelan kening Rigecherta.

Sementara di luar ruangan, semua teman mereka memandangi itu dengan helaan nafas yang sama-sama lirih.

" Bapak sama Zein kalo mau pulang duluan, pulang aja. Biar kami yang jaga dia disini" ucap Skyler pada pak Ronald dan Zein.

" Yaudah kalo gitu, tapi kalo ada apa-apa bilang ya" ucap pak Ronald pamit pulang bersama Zein.

Bersamaan dengan itu Tivane keluar dari ruangan Rigecherta dan menelpon ibu Rigecherta.

" Iya Tan. Kami jagain di sini" Tivane menutup sambungan dan menatap mereka semua.

" Kalian kalo mau masuk juga, masuk aja" ucap Tivane pelan. Matanya sudah merah dan terlihat sedikit membengkak. Hidungnya juga merah karena kebanyakan menangis.

" Gue mau liat kondisi dia dulu" River menarik Skyler agar ikut masuk ke dalam.

" Gimana ceritanya kok bisa Rige ketembak?" Tanya Milenia hati-hati.

" Iya, bukannya dia sama kalian ya?" Tanya Luci juga sambil melirik kiri-kanan, takut jika ada yang mendengar percakapan mereka.

" Kita ngobrol di dalam aja, tapi jangan brisik" ucap Veros memasuki ruangan di ikuti yang lainnya.

" Kita sebenarnya lagi lawan orang yang mau nyelakain Vane " jelas Veros saat mereka duduk melingkar di sofa ruangan Rigecherta.

" Terus..?" Tanya Ella.

" Ternyata itu jebakan, penyerang asli ada di sekitar penginapan. Tapi orang yang di suruh buat ngalihin itu udah kami amanin." Ucap Skyler ikut nimbrung sambil meletakkan hand-talkie di atas meja.

" Jadi siapa di balik semuanya?" Tanya Tivane langsung ke inti.

" Pemimpinnya belum mau buka mulut. Nanti mau kami interogasi dulu" jawab River sambil menyandarkan diri merasa lelah seharian dan hanya istirahat sebentar.

" Kasih tau kita kalau kalian udah tau siapa pelakunya "ujar Milenia membuat Veros menoleh dan mengangguk.

" Kita gabung kali ini" ucap River dan Ella tak sengaja bersamaan. Semua mata langsung menoleh ke arah keduanya dan tersenyum meledek karena tak bisa ribut, jadi mereka meledek lewat tatapan mata saja.

Tivane tersenyum kecil dan pandangan nya kembali ke arah brankar Rigecherta. Tivane rindu meledek dan di ledek teman-teman mereka bersama pemuda di atas brankar itu, namun pemuda itu masih betah dengan tidurnya seolah tak terganggu dan masih setia memejamkan mata seolah enggan untuk bangun.

_bangun ya. Aku tau kamu kuat, kamu pasti bisa!_

1
jaybi
buat visual dan foto kenangannya ada di Instagram aku ya guys.. namanya: Salbiah
jaybi
jangan lupa tinggalin komentar kalian yaa😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!