NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nafsienaff

Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.

Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.

Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.

Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.

Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Bayang Masa Lalu

Kehidupan di dalam penthouse berjalan layaknya roda mekanis yang dingin dan kaku. Dua bulan telah berlalu sejak malam pernikahan yang kelam itu, dan Senja mulai terbiasa dengan rutinitasnya sebagai tawanan tak kasat mata.

Setiap sudut ruangan mewah ini telah ia bersihkan dengan tangannya sendiri, meninggalkan jejak-jejak lelah yang ia sembunyikan rapat-rapat. Namun, ketenangan semu yang dibangun di atas fondasi dendam itu perlahan mulai terusik ketika dunia luar memaksa masuk ke dalam sangkar emas milik Bara Mahendra.

Sore itu, mendung tebal menggantung di langit Jakarta, membawa hawa dingin yang perlahan menembus dinding kaca apartemen. Senja sedang berada di dapur, memotong sayuran untuk menu makan malam Bara, ketika suara bel pintu depan berdenting nyaring.

Senja tersentak. Tangannya tertahan di udara, memegang pisau dapur dengan ragu. Selama dua bulan ini, tidak pernah sekalipun ada tamu yang datang ke tempat ini. Rian, asisten pribadi Bara, adalah satu-satunya orang yang sesekali berkunjung, itu pun hanya untuk mengantar berkas dokumen penting dan selalu mengetuk pintu dengan kode khusus.

Bel kembali berbunyi, kali ini lebih panjang dan tidak sabaran. Dengan langkah ragu, Senja meletakkan pisaunya dan berjalan menuju lobi depan. Jantungnya bertalu-talu. Melalui layar interkom yang terpasang di samping pintu, ia melihat sesosok pria tegap berbalut jaket kulit hitam sedang berdiri dengan gelisah.

Pria itu terus menatap ke arah kamera, menampakkan wajah yang sangat familier di masa lalu Senja.

"Rendra...?" bisik Senja lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Rendra Alatas.

Dia adalah mantan kekasih Senja semasa kuliah di luar negeri, sekaligus putra dari salah satu rekan bisnis lama ayahnya. Hubungan mereka kandas setahun lalu karena jarak dan kesibukan, namun Rendra adalah orang yang paling tahu betapa Senja sangat menyayangi keluarganya.

Senja tahu ia dilarang keras berinteraksi dengan siapa pun dari masa lalunya oleh Bara. Namun, melihat Rendra yang tampak begitu khawatir di depan pintu membuat pertahanan Senja goyah. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol pembuka kunci.

Pintu kayu jati besar itu bergeser terbuka dengan desis halus.

"Senja!" Rendra langsung melangkah maju, kedua tangannya mencengkeram bahu Senja dengan erat. Matanya meneliti wajah Senja dari ujung kepala hingga ujung kaki, menemukan lingkaran hitam di bawah mata gadis itu dan tubuhnya yang tampak jauh lebih kurus.

"Ya Tuhan, Senja... apa yang terjadi padamu? Aku baru kembali ke Indonesia minggu lalu dan mendengar kabar pernikahan mendadak mu dengan Bara Mahendra. Ini gila!"

Senja refleks mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman Rendra dengan halus. Ia menatap ke sekeliling lorong, merasa ketakutan jika ada mata-mata Bara atau kamera pengawas yang sedang merekam momen ini.

"Rendra, kenapa kamu bisa tahu aku di sini? Kamu harus pergi sekarang. Tolong."

"Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan penjelasan, Senja!" suara Rendra meninggi, dipenuhi rasa frustrasi.

"Aku sudah menjenguk Om Darma di rumah sakit. Beliau menangis, Senja. Beliau bilang dia terpaksa membiarkanmu menikah dengan pria kejam itu demi menyelamatkan perusahaan. Tapi aku tahu ada yang tidak beres. Pernikahan dongeng apa yang membuat seorang pengantin baru mengurung diri selama dua bulan tanpa media, tanpa teman, dan bahkan memutus semua kontak?"

"Ini pilihanku, Rendra," bohong Senja, suaranya bergetar hebat menahan tangis.

"Mas Bara... dia pria yang baik. Dia menyelamatkan keluargaku dari kebangkrutan. Aku bahagia di sini."

"Bahagia?!" Rendra terkekeh sinis, tatapannya menyiratkan rasa tidak percaya yang mendalam. Ia meraih tangan kanan Senja, membaliknya, dan memperlihatkan telapak tangan Senja yang kini tampak kasar dan memiliki bekas luka goresan keramik yang mengering.

"Tangan seorang putri Amartya tidak pernah seperti ini, Senja! Pria itu memperlakukanmu dengan buruk, bukan? Katakan padaku yang sebenarnya!"

"Lepaskan tangannya."Sebuah suara berat, dalam, dan teramat dingin menginterupsi perdebatan mereka dari arah pintu lift yang baru saja terbuka.

Kedua pasang mata itu seketika menoleh. Bara Mahendra berdiri di sana, menjulang tinggi dengan aura intimidasi yang pekat. Jas kerjanya tersampir di lengan kiri, sementara tangan kanannya mengepal kuat di dalam saku celana. Tatapan mata elangnya menancap lurus pada tangan Rendra yang masih memegang pergelangan tangan Senja.

Senja merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. Rasa takut yang teramat sangat mencengkeram dadanya hingga ia sulit bernapas.

"Mas Bara..." cicitnya, refleks melangkah mundur menjauh dari Rendra dan mendekat ke arah suaminya.

Bara berjalan mendekat dengan langkah pelan namun konstan, setiap hentakan sepatunya terasa seperti ketukan genderang perang. Ia mengabaikan Senja dan langsung memposisikan dirinya di depan Rendra, mengikis jarak hingga kedua pria itu saling berhadapan dengan tensi yang mendidih.

"Rendra Alatas, jika aku tidak salah ingat," ucap Bara dengan nada terlampau tenang, namun sarat akan ancaman terselubung.

"Kurasa tidak ada agenda pertemuan bisnis antara Mahendra Capital dan Alatas Group sore ini. Terlebih lagi, di dalam properti pribadiku."

Rendra tidak gentar. Ia membalas tatapan tajam Bara dengan rahang yang mengeras.

"Aku tidak peduli dengan bisnismu, Bara. Aku di sini sebagai teman Senja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan pada istri dan mertuamu sendiri. Menjebak perusahaan orang tua yang sedang sakit lalu mengambil putrinya sebagai tebusan... apakah itu cara berbisnis seorang Bara Mahendra?"

Sudut bibir Bara terangkat samar, membentuk senyuman dingin yang mengerikan. Ia melirik Senja sekilas, melihat istrinya yang sedang menunduk dalam-dalam sembari meremas ujung bajunya sendiri tanda ketakutan yang mutlak.

"Istriku adalah urusanku, Tuan Rendra," sahut Bara, suaranya merendah namun terdengar begitu menusuk.

"Apa yang terjadi di dalam rumah tangga kami, bukan konsumsi publik. Dan mengenai mertuaku... kurasa Darma Amartya mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit paling mahal di kota ini, seluruhnya dibiarkan menggunakan uangku. Jadi, di bagian mana aku disebut kejam?"

"Kau memanipulasinya, Bara! Senja tidak mencintaimu!" seru Rendra, emosinya mulai terpancing.

Bara maju satu langkah lagi, membuat Rendra terpaksa mendongak sedikit. Atmosfer di lobi penthouse itu mendadak terasa begitu tipis dan menyesakkan.

"Cinta atau tidak, dia adalah wanita yang sudah menandatangani dokumen pranikah dan mengucapkan janji suci di depanku. Dia adalah milikku, secara hukum dan kenyataan," bisik Bara tepat di depan wajah Rendra.

"Sekarang, keluar dari propertiku sebelum aku menelepon pihak keamanan dan memastikan saham Alatas Group di bursa efek besok pagi mengalami nasib yang sama seperti Amartya Group."

Rendra mengepalkan tinjunya, napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak. Ia ingin sekali melayangkan pukulan ke wajah angkuh pria di depannya ini. Namun, ia juga tahu bahwa ancaman Bara bukan sekadar gertakan sambal. Mahendra Capital memiliki kekuatan finansial yang cukup besar untuk menghancurkan bisnis keluarganya jika ia bertindak gegabah.

Rendra mengalihkan pandangannya pada Senja, menatap gadis itu dengan pandangan penuh kepasrahan dan rasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak.

"Senja... jika kamu butuh bantuan, hubungi aku. Kapan pun."

Senja tidak mendongak, ia hanya mengangguk sangat pelan, hampir tak kentara.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Rendra membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka, meninggalkan ketegangan yang kian pekat di dalam penthouse.

Begitu pintu lift tertutup rapat, keheningan yang mematikan kembali merayap. Bara membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Senja yang masih berdiri mematung di tempatnya. Senyuman dingin di wajah Bara lenyap, digantikan oleh ekspresi kaku yang memancarkan kemarahan yang tertahan.

"Siapa yang mengizinkanmu membuka pintu untuk orang asing, Senja?" tanya Bara, suaranya terdengar teramat pelan namun sanggup membuat bulu kuduk Senja berdiri.

"Dia... dia bukan orang asing, Bara. Dia Rendra, teman kuliahku dulu," jawab Senja terbata-bata, mencoba membela diri walau suaranya bergetar hebat.

"Dia hanya khawatir karena mendengar kabar tentang Papa."

Bara berjalan mendekati Senja, mengikis jarak di antara mereka hingga Senja bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di keningnya. Bara mengulurkan tangannya, meraih seuntai rambut Senja yang terurai lalu menyelipkannya di belakang telinga gadis itu dengan gerakan yang terlampau lambat, namun terasa seperti belaian maut.

"Teman kuliah? Atau mantan kekasih yang meratapi nasib malangmu?" bisik Bara dengan nada sinis. Cengkeraman tangannya tiba-tiba berpindah ke tengkuk Senja, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang memerah.

"Aku sudah memperingatkanmu sejak awal, Senja. Jangan pernah membawa masa lalumu masuk ke rumah ini. Jangan pernah mencoba mencari sekutu untuk melepaskan diri dari jaringku."

"Aku tidak berniat kabur, Bara! Aku hanya... aku hanya merindukan kehidupanku yang dulu," air mata Senja akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang pucat.

"Kenapa kau harus sekejam ini padaku? Jika kau membenci Papaku, lampiaskan padanya! Jangan siksa aku seperti ini!"

Bara menatap air mata yang mengalir di pipi Senja dengan pandangan bergejolak. Ada denyut asing di dadanya yang menyuruhnya untuk mengusap air mata itu, namun egonya yang dipenuhi dendam belasan tahun segera membakar habis perasaan itu.

"Siksaanmu baru saja dimulai, Senja," desis Bara sebelum melepaskan tengkuk Senja dengan sentakan pelan. Ia melangkah pergi menuju ruang kerjanya, menyisakan kalimat terakhir yang menggantung di udara.

"Mulai besok, Rian akan mengganti seluruh kode akses pintu apartemen ini. Kau tidak akan bisa keluar satu langkah pun tanpa izin dariku. Selamat menikmati sangkar emasmu, Istriku."

Brak!

Pintu ruang kerja ditutup dengan keras. Senja luruh ke atas lantai marmer, memeluk lututnya sendiri dalam tangis yang kian histeris. Kehadiran Rendra yang ia kira bisa membawa secercah harapan, justru semakin mempererat rantai tak terlihat yang mengikat dirinya di dalam neraka milik Bara Mahendra.

Bersambung

1
sri susanti
semoga olivia dpt balasan yg setimpal,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!