NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Namun saat dirinya terbangun Valerie sudah berpacaran dengan Kennan keponakannya.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampa

Sore itu, Damian keluar dari gedung kantornya dengan wajah lelah. Dony telah menunggu di depan lobi sambil membukakan pintu mobil.

“Silakan, Tuan Muda.”

Damian terdiam beberapa saat sebelum menggeleng.

“Donny, aku belum ingin pulang.”

“Lalu ke mana, Tuan?”

Damian mengembuskan napas pelan.

“Entahlah.”

Baginya, mansion keluarga Robert kini terasa berbeda. Rumah yang dulu begitu tenang kini justru dipenuhi keheningan yang membuat dadanya sesak. Ia sendiri tidak mengerti sejak kapan perasaan itu muncul.

“Antar aku ke suatu tempat. Mungkin ke kafe... atau ke mana saja. Aku ingin menghirup udara.”

“Baik, Tuan.”

Mobil pun melaju membelah jalanan kota.

Damian memandang kosong ke luar jendela, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang mengayuh sepeda di tepi jalan.

Postur tubuh yang mungil, rambut yang dibiarkan tergerai, dan senyum kecil yang menghiasi wajahnya membuat Damian langsung mengenalinya.

Valerie.

Tanpa sadar, sudut bibir Damian terangkat tipis.

“Berhenti sebentar.”

Dony segera menginjak rem perlahan.

“Ada apa, Tuan?”

Damian tidak menjawab, tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Valerie yang terus mengayuh sepedanya. Angin sore menerbangkan beberapa helai rambut gadis itu. Sesekali Valerie tersenyum kepada seorang anak kecil yang berpapasan dengannya.

Pemandangan sederhana itu justru membuat hati Damian terasa hangat. Tanpa disadari, tangannya telah meraih gagang pintu mobil. Ia ingin turun. Ingin memanggil nama Valerie, ingin sekadar bertanya bagaimana kabarnya. Namun, sebelum pintu itu terbuka, bayangan lain memenuhi pikirannya.

Valerie satu ranjang di kamar hotel, dengan pria asing. Rasa kecewa dirinya, melihat pemandangan itu secara langsung. Dan Valerie tiba-tiba datang membawa surat perceraian, bukan datang untuk mencari dirinya.

Damian langsung melepaskan gagang pintu, wajahnya kembali dingin.

“Jalan.”

“Baik.”

Mobil kembali melaju.

Damian tetap memandang dari spion hingga sosok Valerie perlahan menghilang dari pandangannya. Dadanya kembali terasa sesak dan perasaan kosong memenuhi pikirannya.

“Tuan, kemana sekarang?” tanya Dony.

“Bar.”

Dony sempat ragu, namun akhirnya ia mengangguk dan mengubah arah mobil.

Tak lama kemudian, Damian duduk sendirian di sudut ruangan. Segelas minuman diletakkan di hadapannya, ia mengangkat gelas itu tanpa banyak berpikir. Tanpa sadar ia sudah menghabiskan beberapa gelas. Damian menatap kosong cairan di dalam gelasnya.

“Kenapa dengan diriku?”

Ia memejamkan mata, yang muncul justru wajah Valerie yang tersenyum malu. Lalu Valerie yang cemberut saat kesal, dan Valerie yang tertawa bersamanya dipantai.

Damian mengusap wajahnya dengan kasar.

“Sialan!”

“Kenapa akhir-akhir ini wajahmu ada didalam pikiranku?”

“Aku masih marah, masih kecewa, dan bahkan belum bisa memaafkan mu.”

Damian memijit keningnya.

“Lalu kenapa, bukannya aku benci saat melihatmu, kenapa aku malah senang?”

“Mengapa potongan-potongan kenangan kita terus menghantuiku, seakan-akan kamu telah mengutuk ku?”

Damian kembali mengingat wajah cemberut Valerie, saat ia goda. Mencicipi masakan pertama Valerie yang rasanya asin dan gosong. Lukisan wajahnya yang terlihat konyol, saat Valerie dengan sengaja meledeknya. Setiap malam selalu rebutan suhu kamar, yang membuatnya seperti tidur di Kutub Utara.

Hal-hal kecil yang dulu ia anggap biasa, kini justru terus memenuhi pikirannya. Damian tersenyum pahit.

“Jangan-jangan aku...”

Kalimat itu terhenti di tenggorokannya, ia langsung menggeleng keras.

“Tidak.”

“Itu sudah pasti tidak mungkin.”

Damian tersenyum, berusaha menyangkal perasaannya.

“Aku hanya belum terbiasa tanpanya setelah sekian bulan kita tinggal bersama.”

Ia kembali mengangkat gelasnya. Namun semakin banyak minuman yang masuk ke dalam tubuhnya, semakin jelas bayangan Valerie memenuhi pikirannya.

Suara tawanya yang lepas, senyumnya yang has. Tatapan matanya saat menyerahkan surat perceraian, dan kalimat terakhir yang masih terngiang jelas.

“Kalau suatu hari nanti kebenaran terungkap... jangan pernah mencariku.”

Damian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bingung ini sebenarnya perasaan apa.

Malam telah larut ketika mobil Damian memasuki halaman mansion.

Pintu mobil terbuka. Damian turun dengan langkah yang tidak lagi tegap, aroma alkohol begitu kuat menguar dari tubuhnya.

“Tuan, tolong hati-hati.” ucap Dony sambil meraih lengannya.

Damian menepis tangan itu.

“Aku bisa sendiri!”

“Tapi Tuan...”

“Aku bilang tidak usah.”

Dony menghela napas. Ia hanya bisa mengikuti beberapa langkah di belakang Damian, memastikan Damian tidak terjatuh.

Namun, Damian tidak berjalan menuju kamarnya. Tanpa sadar, kedua kakinya justru berhenti di depan sebuah pintu yang sudah berbulan-bulan tidak pernah dibuka.

Kamar Valerie.

Tangannya perlahan memutar gagang pintu.

KLIK!

Ruangan itu masih terlihat sama. Rapi, bersih, nyaman. Namun terasa begitu kosong.

Damian berdiri mematung di ambang pintu. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, seolah berharap pemilik kamar itu tiba-tiba muncul sambil tersenyum menyapanya.

“Damian...?”

Namun, suara itu tidak pernah terdengar. Yang menyambutnya hanyalah keheningan.

Perlahan ia melangkah masuk. Semakin jauh masuk ke dalam kamar, dadanya terasa semakin sesak. Tanpa tenaga, Damian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang Valerie.

Ia memejamkan mata.

Aroma lembut yang dulu begitu akrab kini hanya tersisa samar di bantal. Napasnya memburu, matanya memerah, entah karena alkohol atau karena rasa sesak yang memenuhi dadanya. Beberapa saat kemudian, pandangannya tertuju pada lemari pakaian yang pintunya sedikit terbuka.

Ia bangkit perlahan.

Saat membukanya, Damian terdiam. Semua gaun mahal yang pernah ia belikan masih tergantung rapi. Kotak-kotak perhiasan masih berada di tempatnya, kalung, anting, dan jam tangan.

Di sudut lemari tas bermerek masih berjejer rapi. Di sebelahnya lagi, sepatu dan hak tetap pada tempatnya. Bahkan gelang pemberian Nyonya Margaretha masih tersimpan utuh di dalam kotaknya. Tak satu pun dibawa Valerie.

Damian membuka laci lain.

Maskawin yang dulu ia berikan juga masih tersimpan dengan rapi. Yang hilang, hanya pakaian sederhana milik Valerie dan beberapa barang pribadinya.

“Hanya miliknya saja?”

Suara Damian terdengar lirih. Tiba-tiba ia teringat ucapannya sendiri saat Valerie meminta izin ingin mengemasi barangnya, sebelum meninggalkan mansion.

“Jangan kotori tempat ini dengan barang murahanmu itu, dan satu lagi... jangan pernah kembali lagi ke mansion ini.”

Dadanya tiba-tiba terasa nyeri.

Ia ingin marah, namun ia sendiri tidak tahu kepada siapa kemarahan itu ditujukan. Apakah ia marah karena Valerie pergi tanpa membawa apa pun, atau karena Valerie sama sekali tidak pernah mencoba memohon berkali-kali kepadanya.

Dengan tangan gemetar, Damian membuka laci meja di dekat tempat tidur. Di dalamnya terdapat dua buku sketsa. Ia mengambil buku yang pertama, halaman demi halaman dibukanya perlahan.

Saat itulah napasnya tercekat.

Seluruh isi buku itu adalah dirinya. Dirinya yang sedang sarapan, yang duduk di taman sambil memangku laptop, yang berenang di kolam, saat berdansa dalam pesta.

Setiap goresan pensil begitu hidup, begitu detail, begitu penuh perhatian. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi halaman buku. Damian langsung teringat, dulu ia pernah memarah dan kecewa karena Valerie mencintai dirinya.

Lalu mengabaikan Valerie berhari-hari hanya karena Olivia mengatakan bahwa gambar-gambar itu adalah obsesi Valerie kepada dirinya yang berlebihan. Bahkan ia pernah mengatakan bahwa sketsa-sketsa itu menjijikkan.

Kini, saat melihatnya kembali, Damian justru membenci dirinya sendiri. Bukan lukisan itu, melainkan dirinya yang telah menghancurkan hati perempuan yang melukisnya dengan begitu tulus.

Di halaman paling belakang, ia menemukan tulisan tangan Valerie. Damian membacanya perlahan.

◦•●◉✿ Namanya Damian. Seorang pria matang yang sangat mempesona. Aku sudah berusaha mengabaikannya, namun tetap saja tidak bisa menepis perasaanku padanya. Semoga dia tidak pernah mengetahuinya. Kalau sampai tahu, semuanya akan menjadi rumit.

Lagi pula, setelah kami bercerai, aku akan kembali menjadi orang asing. Aku akan pergi membawa perasaan ini tanpa berharap dia membalasnya. Dia bukan cinta pertamaku, tetapi dialah orang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. ✿◉●•◦

Tangan Damian bergetar, air matanya terus menetes tanpa mampu ia hentikan.

Selama ini, Valerie benar-benar tulus mencintainya. Bukan karena harta, bukan juga karena status, melainkan karena dirinya. Ia menutup buku itu dengan perlahan, lalu mengambil buku sketsa yang kedua.

Begitu halaman pertama dibuka, Damian langsung membeku.

Di sana tergambar seorang anak laki-laki kecil yang sedang berdiri di tepi sebuah danau, di sampingnya ada sebuah pohon besar dengan ayunan yang tergantung pada salah satu dahannya. Dengan latar belakangnya dipenuhi hamparan rumput dan kebun bunga.

Damian mengernyit.

Tempat itu, terasa sangat familiar. Ia membalik halaman berikutnya, masih tempat yang sama. Lalu halaman berikutnya lagi, masih tempat yang sama, hanya dari sudut pandang yang berbeda.

Di sudut bawah gambar terdapat sebuah tanggal. Empat tahun yang lalu, jauh sebelum Valerie menjadi istrinya.

“Empat tahun yang lalu...?”

Damian membelalak.

1
Rahayu
Pernikahan yang ikonik, maharnya borgol cantik /Sob/🤣
Luh Belong: Berbeda dari yang lain 🤭
total 1 replies
Rahayu
Nyesel kan lu bambang 😄
Luh Belong: penyesalannya terlambat 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!