Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggerebekan Di Cikarang
Gudang logistik itu berbau oli tua dan debu yang menyesakkan. Arkan dan Kinanti melangkah dengan hati-hati, mengikuti sepuluh personel Tim Delta yang bergerak membentuk formasi V. Di tangan Bara, senapan laras pendek berperedam suara siap untuk memuntahkan peluru karet jika diperlukan.
Saat mereka mendekati ruang server di bagian tengah gudang, Arkan memberi kode tangan agar tim berhenti. Di balik dinding seng yang bergetar akibat putaran kipas pendingin server yang bising, terdengar suara debat sengit dalam bahasa yang tidak terlalu dikenal—sebuah dialek kuno Jawa yang dicampur dengan istilah teknis komputer.
"Siapa yang meninggalkan sisa jejak enkripsi ini? Bodoh! Sekarang peladen Mahardika jadi tahu lokasi kita!" teriak seseorang dari dalam ruangan.
Arkan melirik Kinanti, lalu memberi isyarat 'tiga-dua-satu'.
Dengan satu tendangan kuat yang presisi, pintu ruang server jebol. Tim Delta langsung merangsek masuk, menodongkan senjata ke arah lima pria yang sedang panik mengotak-atik barisan kabel fiber optik di depan deretan monitor besar.
"Jangan bergerak! Mahardika Security!" raung Bara.
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Salah satu penyusup yang panik mencoba melarikan diri, namun ia tersandung kabel server yang menjuntai di lantai. Dalam usahanya mencari pegangan, ia malah menarik kabel utama pendingin udara. Akibatnya, seluruh sistem pendingin yang sudah tua itu mendadak meledak—bukan meledak api, melainkan meledak memuntahkan tumpukan busa putih pemadam kebakaran otomatis yang sudah kedaluwarsa.
BLURPPPHHH!!!
Seluruh ruangan seketika tertutup kabut busa putih yang lengket, tebal, dan berbau kimia menyengat. Tim Delta yang tadi tampak garang kini terlihat seperti badut yang sedang berada di tengah pesta busa yang sangat salah tempat.
Arkan, yang tadinya sudah bersiap untuk adegan aksi dramatis, kini harus menahan napas saat wajahnya tertutup tumpukan busa. Ia mencoba mengusap wajahnya, namun tangannya justru membuat busa itu makin merata di seluruh rambut dan jas mewahnya yang berharga puluhan juta rupiah.
Di sampingnya, Kinanti—yang tadinya sangat waspada—kini tidak bisa menahan tawanya. Ia mencoba menutup mulut, namun busa itu justru masuk ke hidungnya.
"Pak... Pak Arkan..." Kinanti terkekeh di sela-sela batuk kecil, matanya berair karena menahan tawa. "Bapak terlihat seperti Santa Claus yang salah masuk gudang!"
Arkan memutar bola matanya, meski ia sendiri tidak bisa menahan senyum tipis di balik lapisan busa yang menutupi dagunya. Ia menarik kerah kemejanya yang kini penuh busa, lalu berusaha membersihkan matanya dengan sapu tangan yang untungnya masih bersih di saku dalam.
"Tim, amankan mereka!" perintah Arkan dengan suara yang tertahan karena menahan tawa melihat anak buahnya yang juga tampak konyol.
Salah satu personel Tim Delta, yang wajahnya tertutup penuh busa hingga hanya matanya yang terlihat, mencoba melangkah untuk memborgol salah satu penyusup. Namun, lantai gudang yang basah terkena busa itu membuat sepatunya kehilangan traksi. Personel tersebut meluncur seperti pemain ski di atas lantai yang licin, menabrak meja server, dan akhirnya berakhir terduduk tepat di atas si penyusup yang sedang mencoba merangkak kabur.
"Aduh, maaf, Mas," ujar personel itu dengan nada datar, sementara si penyusup di bawahnya hanya bisa mengerang terjepit beban tubuh personel yang berat.
Kinanti yang melihat kejadian itu akhirnya meledak dalam tawa lepas yang jarang sekali ia tunjukkan. "Saya rasa ini bukan taktik penggerebekan yang diajarkan di akademi militer, Pak."
Arkan menghampiri Kinanti, membersihkan sisa busa dari bahu gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut. "Yah, setidaknya kita tidak perlu menggunakan kekerasan fisik. Musuh kita sudah kalah oleh ketidakbecusan mereka sendiri dalam merawat gudang."
Setelah suasana agak tenang dan para penyusup berhasil diborgol dengan tangan penuh busa, Arkan berjalan mendekati server utama yang masih menyala redup di balik kabut putih. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk enkripsi dari saku jasnya—salah satu gadget andalan yang selalu ia bawa untuk urusan bisnis tingkat tinggi.
"Kinanti, bantu saya melakukan bypass pada penguncian datanya," kata Arkan.
Kinanti, meski masih sesekali terkikik menahan tawa melihat wajah Bara yang kini terlihat seperti tokoh kartun karena busa di alisnya, segera mendekat. Ia menyambungkan perangkatnya ke server. Namun, saat jarinya menyentuh layar monitor yang berdebu dan penuh busa, sebuah kejutan lain muncul.
Tanda di pergelangan tangan Kinanti kembali menyala, kali ini lebih terang daripada sebelumnya. Namun, alih-alih memberikan panas, tanda itu justru mengeluarkan energi yang menarik data dari server secara otomatis.
Data-data itu mengalir ke dalam tanda di pergelangan tangan Kinanti, seolah-olah kulitnya sedang menyedot semua informasi rahasia yang dicuri oleh Faksi Selo. Arkan terbelalak melihat Kinanti yang berdiri mematung, matanya tertutup, sementara cahaya keemasan redup mengalir dari monitor, masuk ke dalam tubuh Kinanti, lalu menghilang ke dalam tanda di pergelangan tangannya.
Dalam waktu kurang dari satu menit, layar monitor server itu menjadi gelap total. Hard drive di dalamnya rusak seketika, hangus terbakar dari dalam.
Kinanti tersentak, napasnya terengah-engah, dan ia nyaris jatuh jika saja Arkan tidak sigap merangkul pinggangnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arkan cemas.
Kinanti membuka matanya, menatap Arkan dengan pandangan bingung. "Data itu... data itu sudah ada di kepala saya, Pak. Saya tahu siapa yang mendanai Aethelgard Corp. Mereka bukan hanya Faksi Selo. Ada orang lain di belakang mereka yang sangat dekat dengan Bapak."
Arkan menegang. "Siapa?"
"Paman Baskoro hanyalah pion. Orang yang mendanai mereka adalah..." Kinanti terdiam sejenak, wajahnya pucat pasi. "Orang yang selama ini Bapak percaya sebagai konsultan hukum utama Mahardika Group, Pak Hariman."
Arkan terdiam. Hariman—komisaris tua yang kemarin sempat gemetar saat Baskoro datang—ternyata adalah otak sebenarnya dari perampasan data ini. Penggerebekan busa ini ternyata hanya puncak dari gunung es konspirasi yang jauh lebih besar.
"Sepertinya," Arkan menatap pintu gudang dengan pandangan dingin, "permainan catur kita baru saja naik ke level berikutnya."
"Dan sepertinya," timpal Kinanti sambil menyeka sisa busa di pipi Arkan dengan jari-jemarinya, "kita harus segera mandi sebelum kembali ke kantor. Saya tidak ingin rapat direksi besok terganggu oleh bau pemadam kebakaran yang menempel di jas Bapak."
Arkan tertawa kecil, suara tawa yang kini terasa lebih ringan. Mereka berdua berbalik melangkah keluar dari gudang, meninggalkan Tim Delta yang masih sibuk membersihkan diri dari tumpukan busa putih yang absurd.