NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG KONTRAK.

CINTA DI UJUNG KONTRAK.

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cintapertama / Romantis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.

Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.

Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.

Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA TAHUN KESEPIAN.

Waktu bergulir tanpa permisi, mengubah hari menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dihabiskan dalam kesunyian sebuah rumah megah yang tak pernah terasa seperti rumah. Bagi Davina, setiap sudut bangunan ini adalah saksi bisu bagaimana ia bertahan hidup dari rasa sepi dan luka hati yang ditinggalkan Barra.

Banyak hal yang berubah dalam dua tahun ini, termasuk penampilan Davina. Memasuki tahun pertama kepergian Barra, Davina mendapatkan sebuah hidayah yang mengetuk pintu hatinya. Momen-momen spiritual saat ia bersujud di musala rumah sakit, menangis memohon kesembuhan sang nenek, menuntunnya pada sebuah keputusan besar. Ia memilih untuk membalut mahkotanya dengan hijab.

Keputusan itu ternyata membawa aura baru pada dirinya. Davina yang sekarang tampak jauh lebih anggun, teduh, dan memikat. Balutan kain hijab yang menutup rambutnya justru semakin memancarkan kecantikan alaminya yang bersih, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa tenang.

"Nenek harus minum obatnya teratur, ya. Davina mau berangkat kerja dulu," ucap Davina lembut sambil membenahi letak jilbab instan berwarna khimar yang dikenakannya.

Neneknya, yang kini kondisinya sudah jauh membaik dan bisa duduk di kursi roda, tersenyum hangat. "Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah."

Davina mencium punggung tangan keriput itu dengan takzim. Selama dua tahun ini, fokus utamanya hanya dua, merawat neneknya dan bekerja. Meskipun Barra menyediakan kartu kredit dan uang bulanan yang lebih dari cukup di atas meja, Davina sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Ia hanya menggunakan dana dari Barra khusus untuk biaya medis rumah sakit neneknya, sesuai dengan perjanjian awal. Untuk keperluan makan sehari-hari, pakaian, dan kebutuhannya sendiri, Davina memilih bekerja sebagai editor lepas di sebuah penerbitan lokal. Ia ingin tetap tegak berdiri dengan harga dirinya sendiri.

Sore harinya, Davina pulang ke rumah mewah Barra dengan tubuh yang letih. Rumah itu masih sama, sepi dan mati. Pembantu rumah tangga hanya datang tiga kali seminggu untuk membersihkan ruangan, sehingga sisa waktu lainnya benar-benar dilewati Davina seorang diri.

Davina berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Ia melepas jilbabnya, lalu duduk di tepi ranjang. Tatapannya tertuju pada sebuah kalender meja kecil yang terletak di samping lampu tidur. Di sana, banyak tanggal yang sudah disilang dengan spidol merah.

Dua tahun masa kontrak mereka kini hanya tersisa tinggal tiga bulan lagi.

"Tiga bulan lagi, dan semuanya akan benar-benar berakhir," gumam Davina pada diri sendiri.

Ada secercah rasa lega, namun ada juga sebersit rasa yang aneh di sudut hatinya. Kalimat terakhir Barra dua tahun lalu, “Tunggu aku sampai kontrak ini selesai."Sempat menjadi teka-teki yang menghantui pikirannya di bulan-bulan awal. Namun seiring berjalannya waktu, karena Barra sama sekali tidak pernah menelepon atau mengirim pesan, Davina menganggap kalimat itu hanyalah angin lalu tanpa arti. Barra mungkin sudah bahagia dengan kehidupannya di London dan melupakannya.

Davina berdiri, melangkah menuju lemari pakaian. Ia mengambil sebuah kardus besar dari dalam sana. Dengan perlahan, ia mulai memilah barang-barang miliknya. Baju-baju yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri, buku-buku kerjanya, dan beberapa perlengkapan pribadi mulai dimasukkan ke dalam kardus.

Ia ingin mencicil segalanya dari sekarang. Begitu tanggal kontrak itu habis, Davina tidak ingin menunda satu hari pun untuk segera pergi dari rumah ini dan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Ia ingin mengembalikan kebebasan hidupnya, kembali ke desa bersama neneknya, dan mengubur dalam-dalam nama Barra Alfarizi dari hidupnya.

Saat tangannya sedang melipat sebuah tunik, Davina mendengarnya.

Sebuah suara asing yang sudah dua tahun tidak pernah terdengar di rumah ini. Suara klik nyaring dari sistem kunci digital pintu utama di lantai bawah, disusul oleh suara derit pintu besar yang bergerak terbuka.

Davina seketika membeku. Detak jantungnya mendadak berpacu liar.

"Siapa? Pembantu tidak ada jadwal datang hari ini," bisiknya dengan rahasia kepanikan yang mulai menjalar di dadanya.

Apakah ada pencuri yang berhasil membobol sistem keamanan rumah?

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Davina menyambar kembali hijabnya dan memakainya dengan tergesa-gesa. Ia berjalan keluar kamar dengan langkah super pelan, mencoba tidak menimbulkan suara sedikit pun. Ia mencengkeram pegangan tangga lantai dua, melongokkan kepalanya ke arah ruang tamu di bawah.

Di sana, di ambang pintu yang terbuka lebar, cahaya sore menyinari sesosok tubuh pria jangkung yang berdiri diam. Pria itu memegang sebuah koper hitam di tangan kanannya. Jasnya tersampir di lengan, dan dasinya sudah agak longgar. Rambutnya sedikit acak-acakan, menunjukkan gurat kelelahan yang amat sangat setelah melakukan penerbangan belasan jam.

Pria itu mendongak, seolah bisa merasakan keberadaan seseorang di atas sana.

Mata elang itu langsung bertubrukan dengan manik mata Davina. Untuk beberapa detik, pria itu tampak terpaku, matanya melebar menatap penampilan baru Davina yang kini berbalut hijab. Keheningan yang mencekam kembali merayap di antara mereka.

Barra Alfarizi telah kembali.

1
Lia siti marlia
akhirnya semua sudah jelas davina kalau yang barra lakukan adalah untuk melindungimu semata 🤗🤗🤗
Lia siti marlia
untung nya kakek barra keburu datang 🤗🤗
Eliermswati
akhirnya tahta tertinggi d rmh Barra dtng😂q sk gy mu kakek badaaass kern😂😂😍smngt thor up nya
Lia siti marlia
kirain udah sampai masion mau unboxing eh malah ada aja gangguan sabar yah barra 🤗🤗🤗
tiara
Baru saja merasakan bahagia,cobaan sudah kembali datang menghampiri.semoga badai cepat berlalu
Lia siti marlia
lanjutkan barra davina 😍😍😍
Lia siti marlia
cie cie cie 😍😍😍😍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ElHi
🤣🤣🤣🤣
Lia siti marlia
kocak juga kalau ceo tegas kebucinnan 🤗🤗😂😂😂
ElHi
malang nian desainer ituu😤😤🤣🤣
Lia siti marlia
ihhhh barra posesif bangetttt🤗🤗🤗
Lia siti marlia
otw kondangan nih ....aku di undang gak barra lumayan kan makan gratis 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ElHi
syukurlah kalo gak boleh bawa amplop ya Vin....soalnya aku jg lagi tongpes nih Vin...bawa gigi...ehh doa maksutnya....gpp kan yaa🤣🤣🤣
Lia siti marlia
lah kebiasaan deh dikat pas lagi degdegan bacaaa🤭🤭🤭
Lia siti marlia
semoga kalian berjodoh sehingga authorr gak memisahkan kalian 🤣
Lia siti marlia
oh yang neror tuh c silfany ...hati hati kamu silfany jangan sampai nanti kamu menyesal karna udah ganggu davina 🤣🤣
ElHi
Silfani..oh Silfani😤😤😤
Oma Gavin
silfany sudah gila karena diceraikan barra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!