NovelToon NovelToon
Senandung Impian

Senandung Impian

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:7.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: ARyanna

Menceritakan seorang gadis yang berjuang dalam keterbatasan. Berusaha meraih impian juga citanya yang terhalang sebab keadaan.
————————————————————

Ayu Andhini itulah namaku. Aku kelahiran Solo, keturunan pribumi dengan ciri hidung berukuran minimalis, kulitku tak seputih para model iklan di televisi namun terkesan berwarna eksotis, khas gadis jawa.

Penampilanku sungguh terkesan biasa, sebab untuk tampil luar biasa sungguh pasti butuh dana, sedangkan aku saja terlahir dari keluarga sederhana.

Usiaku kini menginjak remaja, masa puber yang sedang ingin tahu segalanya, termasuk ingin mengenal apa itu arti cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

"Kenapa kamu berdiri disitu?"

Bibirku yang hampir mencebik meratapi kemalanganku kini sontak terhenti, aku mencari sumber suara itu. "Bapak—," lirihku mengadu.

Menggeleng kepala dia kini berujar memerintahku, "Naik!"

Akupun menurut perlahan menaiki motornya, duduk menyamping membonceng di jok belakang seraya mencengkeram satu sisi jaket yang dia kenakan. Motor berputar sembilan puluh derajat dan berhenti dilampu merah.

Tak lama, kini motor kembali melaju memasuki area parkiran hotel Kartika. Begitu motor mesin mati akupun turun dan berdiri tak jauh dari motornya.

"Kenapa masih berdiri disini?" tanyanya sambil melepas helm.

"Bajuku," gumanku.

Diapun melirik penampilanku. Terdengar tarikan nafasnya lalu kemudian dia turun dari motornya. "Ikut aku," katanya kemudian berjalan mendahului, akupun mengekori langkahnya.

Aku tak berani memandang ke arah sekitar, fokusku hanya tertuju pada orang dihadapanku. Hingga kami sampai pada ruangan yang bertuliskan 'Ruangan staff.'

Ragu, tapi aku kini mulai bersuara," Pak, saya bagaimana?"

Putaran handle pintu terhenti, dia menoleh padaku dan berucap, "Masuk." Pintupun kini terbuka lebar.

Jujur saja tak ada pikiran buruk, sebab yang aku tahu orang ini adalah salah satu karyawan hotel disini. Dan lagi dia yang kemarin mewawancarai aku.

Dibukanya satu pintu loker yang berada di sudut ruangan, lalu dia kembali dengan membawa satu stel pakaian dan diulur padaku. "Kamu bisa pakai, ganti disitu!" ucapnya sambil menunjuk pada ruangan bertuliskan ruang ganti.

"Saya tunggu diluar," lanjutannya setelah pakaian berpindah ke tanganku.

Tak butuh waktu lama aku berganti pakaian dan keluar dari ruangan, tap tak kutemui sosoknya. Melirik jam yang sudah lebih dari jam kerja aku pun bergegas meninggalkan tempat untuk pergi menuju loker anak magang untuk manaruh tas dan barang pribadiku.

Kamar bertipe superior adalah tempat yang aku tuju, segera aku menemui roomboy yang bertugas disana.

"Selamat pagi Pak, maaf saya terlambat," ucapku yang langsung saja masuk dalam kamar bernomor 406. Sebab tadi aku melihat troley berada di depan kamar. Dan sudah dipastikan petugas hotel yang tepatnya sebagai seniorku ada disini.

"Hemm," balasnya berdehem dan hanya menolehku sekilas setelahnya melanjutkan kegiatan making bed yakni merapikan kasur. Sampai kegiatan pengerjaan kamar ini usai, tak ada perintah darinya maupun ucapan yang keluar darinya. Aku berdiri disini, tepatnya dekat almari hanya memperhatikan caranya bekerja. Dalam hati sungguh aku merasa tak enak, datang terlambat adalah kesalahan besar dalam etika bekerja.

Sabar, batinku.

Kini beralih mengerjakan kamar lain dan aku baru berani mengeluarkan suara, sebab sedikit-sedikit aku tahu cara kerjanya juga tadi baru saja aku mengamati pekerjaannya. "Pak, ada yang bisa saya bantu," ucapku.

"Itu," katanya sambil menunjuk sarung bantal. Hingga sampai jam makan siang aku baru bisa bernafas lega. Meski pekerjaan yang aku lakukan nyaris tak ada tapi justru aku merasakan lelah, lelah karena berdiri dengan mata sibuk mengamati dan juga lelah hati merasa dicuekin.

"Ayu," suara Sarah terdengar memanggilku. Kini aku sedang berada ditempat istirahat untuk makan siang bersama dengan para karyawan. "Tadi kamu terlambat?" tanyanya yang langsung duduk disebelahku dan meletakkan makanannya di meja hadapannya.

Aku mengangguk lesu sambil mengaduk-aduk makanan.

"Kenapa bajumu berbeda dari yang lain," ucap Sandy yang duduk di meja hadapanku.

"Gara-gara ini tadi aku terlambat," kataku sedikit kesal.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Sarah sambil menyuap makanan.

"Tadi di depan bajuku kena cipratan air kubangan," jawabku menyuap nasi dengan gerakan lesu.

"Ha ha ha," gelak tawa dari temanku kini mewarnai meja yang kami duduki. "Sial amat nasibmu," celetuk teman lain.

"Baru dapet setengah hari capek banget," keluh Sandy menyuap makanan dalam porsi besar, persis seperti orang yang sedang kelaparan.

"Kamu di tempatkan dimana San?" tanya Sarah padanya.

"House keeping, tadi bantuin dekorasi di Hall Ballroom bakal ada event besok, tadi senior bilang sore ini kamar bakal penuh. Siap-siap buat kalian yang kedapatan jadi room maid dan room boy, bakal dapet tips," jelas Sandy pada kami.

Justru beda hal pemikiran denganku, setelah sampai disini aku tak memikirkan hal itu lagi. Sebab belum sepenuhnya aku bisa mengerjakan pekerjaan disini, apalagi dicuekin sama senior, batinku.

Jam istirahat usai. Akupun kembali pada tempatku bekerja. Disana sudah ada seniorku tadi dan baru aku ketahui namanya adalah Roni.

"Nama kamu siapa?" ucapnya saat aku sedang mengambil sprei kotor dan hendak memasukkan pada keranjang troley.

"Nama saya Ayu, Pak." Kataku dengan semangat, walau hanya ditanya nama setidaknya dia menganggap aku ada.

'Sakit loh Pak dicuekin,' batinku.

Kemudian dia kembali mengerjakan pekerjaannya dan kembali dalam metode diam. Entahlah, apa teman-temanku juga merasakan dengan apa yang aku rasakan di hari pertama mereka magang.

Hingga jarum jam berputar dan menunjukkan pukul tiga sore, satu hari tugasku magang kini telah usai. Aku berharap tujuh puluh empat hari yang tersisa lebih baik dari hari ini. Semoga.

**

Hari berlalu seakan menambah pengalaman bagiku. Makin kesini aku makin semangat menjalani tugas-tugasku, bersama Pak Roni aku sudah hampir dua minggu, itu artinya esok aku akan berganti dengan tugas baru.

"Ayu sekarang kamu yang pasang seprei itu," perintahnya memberi kesempatan padaku, memasang sprei pada ranjang berukuran single bed.

Aku mengangguk melakukan perintahnya, menarik ranjang kemudian mulai menebarkan 3lembar seprei juga satu selimut. Melipat dan menyelipkan tiap ujung sprei hingga terbentuk dan ranjang siap pakai, tentunya sesuai standar yang diterapkan di hotel.

Aku mengelap keringatku, dan kini melihat hasilku setelahnya aku tersenyum puas. "Sudah, Pak," ucapku sambil memperlihatkan hasil kerjaku dengan mata berbinar.

"Saya kasih nilai 7," katanya membuatku sedikit kecewa, namun dalam hati juga senang dari hasil kerjaku. Dan menyimpulkan bahwa selama ini Pak Roni mengambil sikap banyak diam adalah sedang mengujiku.

Bila aku juga pasif dan tak mau memperhatikan cara kerjanya bisa jadi sampai sekarang aku tak bisa melakukan tugas yang diemban. Terbukti, dia juga memberiku kesempatan belajar mulai dari memperhatikan langsung sampai aku dipercaya untuk mengerjakannya secara langsung bahkan dia juga memberiku nilai.

Kamar telah siap dan kini status kamar ditandai dengan huruf "VC" yang berarti Vacant Clean , yakni kamar kosong dan bersih yang siap dipakai untuk tamu hotel baru.

Aku kini merapikan peralatan kerja kedalam troley, namun fokusku kini teralihkan pada suara seseorang dari arah belakangku. Saat aku menoleh kulihat seseorang yang aku cari selama dua minggu ini baru muncul, kulihat dia sedang membawakan koper dan mengantar tamu.

Tak lama setelah tugasnya usai dan pintu kamar tamu tertutup dia berjalan kearahku dengan tangan melambai disertai senyuman lebar. Aku sedikit terkejut, dia menyapaku, batinku.

Semakin mendekat, akupun perlahan menaikkan tanganku melambai padanya dan membalas senyumnya. Dengan hati berdebar aku bersiap merangkai kata, sebab baju yang aku pinjam belum kubawa.

Langkahnya semakin dekat, saat mulutku terbuka dan hendak menyapa justru dari arah belakang terdengar suara, "Akram, lama tidak bertemu."

Seketika lambaian tanganku terhenti, begitu juga senyumku luntur. Kurasakan peredaran darahku mendadak merangkak naik sampai keubun-ubun. Yang jelas aku kini merasakan malu sebab kepercayaan diriku, hingga lelaki dihadapanku kini berjalan melewatiku.

To be Continue

enaknya istilah perhotelan ini dikasih catatan gak sih,, maaf ya jika tulisannya hmmm kurang begitu baik pembawaannya

boleh kasih kritik juga saran

1
Sri Suherlinawati
tor, banyak banget bawangnya
Sri Suherlinawati
😭😭😭😭
Fadil21 Nazwa
bagus banggggggeeeeettt thooooor isiiiiinyya 😘😍🥰
GZone Reborn
verita yang sangat bagus
GZone Reborn
sepertinya video zahra di bully
GZone Reborn
thor seharusnya kasih tau urutan novelnya biar bacanya nyambung. akhirnya harus baca novel sebelumnya deh sebelum lanjut 😭
GZone Reborn
mending uangnya titip ke aku yu, buat bayar cicilan pinjol 🤣
Yanni Santoso
dr pak Akram Sandy tp jodoh Ayu Kevin wijaya pemilik hotel dan lagi" CEO kaya raya
Dara
Fiktif tp disajikan seperti kisah nyata ...terimakasih Author yg keren
Dara
Kejam sekali kamu thor...😭😭😭😭
Sarlina Sihotang
bagus mertua ayu menasehati menantunya itu mantap
Sarlina Sihotang
kwkkwk kek aku dulu saat malam pertama halangan kacian kevin lanjut thor critanya bagus tidak membosankan
Sarlina Sihotang
terharu thoor kasian kevin
Sarlina Sihotang
uluh uluh swit bangat tomantisnya
bagus ceritanya lanjut thor sampai punya cucu ayu dan kevin
Sarlina Sihotang
ceritanya bagus thor lanjut
Sarlina Sihotang
wah senang deh kepin ama ayu kepin yg begitu perhatian
Sarlina Sihotang
aku suka ayu sama kevin ajalalah
Sarlina Sihotang
mantap idenya soraya
Sarlina Sihotang
thor kemana semua temannya rico sandy kok hilang
Sarlina Sihotang
bagus ceritanya biasa aku baca novel ketenaran aja dan kekayaan tapi ini critanya sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!