Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti bukit Sepanjang saat Rendra terbangun karena rasa nyeri di bahu yang semakin tajam. Di sampingnya, Dika sedang merapikan peta dan berkas-berkas data yang sudah disortir, sementara Surya duduk diam di beranda rumah kayu, menatap ke arah lembah di bawah. Keluarganya sudah dibawa ke tempat aman yang dijaga oleh kawan lama Dika—sebuah desa terpencil di kaki gunung yang jauh dari jangkauan pasukan Bagas.
“Lukanya berdarah lagi,” kata Dika sambil menyerahkan perban baru. “Peluru itu tidak menembus tulang, tapi kalau kau terus bergerak tanpa istirahat, infeksi bisa membuatmu lumpuh.”
Rendra duduk tegak, menyingkap perban yang basah. “Tidak ada waktu istirahat. Bagas tidak akan diam saja. Dia pasti sudah menyiapkan rencana lain untuk menghapus semua jejak kejahatannya.”
Surya berbalik, wajahnya masih tampak lelah tapi matanya kini penuh tekad. “Saya sudah memikirkan hal itu. Data yang kita ambil tadi malam berisi bukti yang cukup untuk menjatuhkan dia, tapi ada satu masalah besar: sebagian besar nama pejabat yang terlibat adalah orang yang memiliki wewenang di pengadilan dan media. Jika kita mengirimnya begitu saja, berkas itu akan hilang, dan kita yang akan dicap sebagai penjahat yang menyebarkan berita bohong.”
“Lalu apa jalan keluarnya?” tanya Dika.
“Kita harus menemukan saksi mata terakhir,” jawab Surya pelan tapi pasti. “Dalam berkas itu tertulis ada satu orang pekerja pabrik yang selamat dari kebakaran itu—dia bersembunyi sebelum pintu darurat diblokir. Namanya Bapak Harun. Dia menghilang sejak hari kejadian, tapi kabar terakhir menyebut dia tinggal di desa pesisir dekat Lamongan. Jika kita bisa membawanya bersaksi bersamaan dengan bukti data itu, tidak ada cara bagi mereka untuk menutupinya lagi.”
Rendra berdiri, meski tubuhnya masih terasa berat. “Kalau begitu kita berangkat sekarang.”
“Tidak bisa,” potong Dika. “Jalan utama ke arah utara sudah ditutup rapat. Pos pemeriksaan ada setiap dua kilometer, mereka membawa foto wajahmu dan juga Surya. Bahkan jalan setapak di hutan pun sudah dipatroli.”
Rendra berjalan ke jendela, menatap atap rumah penduduk yang tersebar di kaki bukit. Ia teringat hari-harinya dulu belajar memanjat dan melintasi atap gedung saat masih menjadi polisi—cara yang tidak pernah dipikirkan orang lain sebagai jalan masuk atau jalan keluar.
“Kita lewat jalur lama,” katanya tiba-tiba. “Melintasi deretan atap gudang tua dan jembatan penyeberangan yang sudah ditinggalkan. Jalur itu tidak ada di peta resmi, dan hanya sedikit orang yang tahu keberadaannya. Kita turun ke kota dulu, lalu naik perahu nelayan dari pelabuhan kecil di sisi barat—tempat yang tidak pernah dipantau pasukan Bagas.”
Mereka berangkat saat matahari mulai condong ke barat. Rendra memimpin di depan, melangkah ringan di atas atap genteng yang berlumut, melompati celah antar bangunan dengan keseimbangan yang tak tergoyahkan meski lukanya masih terasa perih. Surya dan Dika mengikuti di belakang, hati-hati menjaga agar tidak menimbulkan suara. Sesekali mereka berhenti bersembunyi di balik cerobong asap saat melihat mobil patroli lewat di jalan raya di bawah sana.
Saat mereka melintasi atap sebuah pabrik tua yang terbengkalai, Rendra tiba-tiba berhenti. Ia melihat sesuatu di tepi atap—bekas sepatu yang masih baru, dan ujung rokok yang belum dingin.
“Ada orang lain yang lewat sini belum lama ini,” bisiknya pelan.
Belum sempat mereka bergerak, suara tepuk tangan terdengar dari arah tangga darurat. Seorang pria berpakaian seragam sipil berdiri di sana, senyumnya dingin. Itu Asep—mantan anggota tim Rendra yang dulu memilih berpihak pada Bagas demi jabatan tinggi.
“Hebat juga kau, Rendra,” kata Asep sambil mengangkat senjata. “Bahkan saat semua pintu tertutup, kau selalu menemukan jalan di atas atap. Bos saya sudah benar-benar mengenalmu.”
“Kau masih mau melindungi orang yang membunuh adikku dan menjebak kita semua?” tanya Rendra, suaranya tenang namun penuh amarah yang tertahan.
“Dunia ini milik orang yang berkuasa, bukan orang yang berpegang pada kebenaran,” jawab Asep. “Serahkan datanya, dan aku akan membiarkan teman-temanmu pergi.”
“Kau pikir kami akan percaya?” sahut Surya sambil perlahan menggeser posisinya ke samping.
Pertarungan tak terelakkan. Asep menembak duluan, peluru menghantam dinding beton di dekat bahu Rendra. Rendra memberi isyarat pada Dika dan Surya untuk menyelinap pergi sementara dia memancing perhatian Asep. Ia berlari menuju bagian tengah atap yang penuh dengan tumpukan besi tua. Asep mengejar, menembak terus sambil berteriak menyuruhnya berhenti.
Saat Asep melompat melintasi tumpukan pipa, Rendra tiba-tiba muncul dari balik tiang besi, menendang tangan senjatanya hingga terlempar jauh. Keduanya bergulat di atas permukaan atap yang licin. Asep yang lebih besar mencoba mendorong Rendra ke tepi atap yang menjurus ke jurang bangunan setinggi tiga lantai. Rendra merasakan nyeri di bahunya kembali meledak, tapi ia tidak membiarkan dirinya menyerah. Ia mengunci lengan Asep, lalu menendang kakinya hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
“Berhentilah sebelum kau terlambat,” kata Rendra tepat di telinganya. “Bagas akan membuangmu begitu kau tidak berguna lagi.”
Asep terdiam sejenak, tapi matanya kembali menegang. “Sudah terlambat bagi saya.” Ia berusaha bangkit kembali, tapi tiba-tiba suara sirine terdengar dari kejauhan—pasukan Bagas datang.
“Pergilah!” seru Asep tiba-tiba, sambil melempar kunci mobil ke arah Rendra. “Mereka menuju ke arah desa tempat Bapak Harun bersembunyi! Lebih cepat dari kalian!”
Rendra menatapnya tak percaya sesaat, lalu mengangguk. Ia segera berlari menyusul Dika dan Surya. Saat mereka melompat ke bangunan sebelah, Rendra menoleh ke belakang—melihat Asep berdiri diam di sana, membiarkan dirinya ditemukan oleh pasukan atasannya.
Mereka melaju dengan mobil yang kuncinya diberikan Asep, menembus jalan berkelok ke arah pesisir. Rendra tahu perjuangannya bukan hanya melawan kejahatan, tapi juga membuka mata orang-orang yang dulu tersesat. Dan sekarang, waktu menjadi musuh terbesar mereka—satu-satunya saksi kebenaran berada dalam bahaya maut.