"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
"Tidur bersama?!" ulang Amira dengan nada panik.
"Iya, tidur bersama, lah. Kan kita sudah sah jadi suami istri," sahut Luki santai.
"Nanti saja kita bahas itu... Ini gerah sekali, bisa bantu bukakan baju ini?" ucap Amira seraya berjuang menggapai bagian belakang gaun pengantinnya yang rumit.
Luki langsung tersenyum jahil. "Kalau urusan buka-membuka, aku selalu siap! Semalam kamu merobek kaosku, lho. Sekarang giliran aku."
"Bisa tidak jangan bahas kejadian semalam lagi?!" kesal Amira dengan wajah memerah mendadak.
"Itu kenangan indah, Sayang."
"Aku enggak mau bahas lagi!"
"Iya... iya..." kekeh Luki.
Pria itu melangkah mendekat ke belakang tubuh Amira. Jemarinya dengan pelan dan hati-hati menurunkan resleting gaun pengantin tersebut. Luki sempat menelan ludah saat matanya menangkap kulit punggung Amira yang putih bersih dan mulus.
"Dasar mesum!" gerutu Amira yang menyadari heningnya Luki. "Sana pergi dulu! Aku mau ganti baju!"
"Ya tinggal ganti aja sih, kenapa harus pergi?"
"Luki, aku malu!"
"Tidak usah malu... Lebih baik kayak semalam saja," Luki mengedipkan matanya goda. "Kamu buas."
"LUKIII!" geram Amira gemas. "Cepat balik badan! Aku mau ganti baju, dan mata kamu harus merem! Awas kalau melek!"
"Iya... iya..." ucap Luki menurut.
Ia melangkah menuju jendela kamar dan menghadap ke luar. Dengan hati-hati, Amira melepas gaun pengantin mewahnya, meletakkannya sejenak di atas kasur, lalu menggantungnya rapi di dalam lemari dan membungkusnya kembali menggunakan plastik pelindung.
"Luki pasti bohong kalau harga gaun ini cuma tiga ratus ribu... Dia pasti pinjam uang sama teman-temannya, atau jangan-jangan korupsi lagi," gumam Amira dalam hati. Bukannya bangga mengenakan gaun seharga ratusan juta, ia justru merasa miris—baginya baju semahal itu adalah pemborosan yang luar biasa.
Kemudian pandangannya beralih pada cincin berlian Nirvana Royals di jarinya. Ia mengeluarkannya perlahan lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak beludru merah marun.
"Kalau aku pakai ini terus, bisa-bisa diambil sama Risma. Lebih baik nanti aku jual saja daripada dipakai Risma," batin Amira menyusun rencana.
"Sayang, sudah belum? Aku pegal lihat jendela terus nih," panggil Luki dari depan jendela.
Bibir Amira mendadak melengkungkan senyum tipis. Setelah menikah, dia ternyata sedikit patuh juga...
"Ya sudah, berbaliklah," ucap Amira.
Luki membalikkan badannya. Matanya seketika terpaku menatap Amira yang kini sudah mengenakan piyama tipis. Walau berlengan dan bercelana panjang, entah mengapa di mata Luki penampilan istrinya itu terlihat sangat eksotis.
"Hey! Kucolok mata kamu, ya!" gerutu Amira kesal melihat tatapan Luki. "Sekarang kamu ganti baju sana!" perintah Amira.
Luki melangkah santai menuju kopernya, mengambil baju tidur, lalu berjalan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Amira memperhatikan pintu kamar mandi yang tertutup. Kenapa dia enggak ganti baju di depanku saja, ya? batinnya polos.
Namun detik berikutnya, Amira menyentil keningnya sendiri dengan gemas. Astaga, Amira! Bisa-bisanya kamu punya pikiran ngeres begitu!
Tak lama kemudian, Luki keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak segar usai dibasuh air. Ia sudah berganti pakaian tidur sederhana dan mengenakan peci hitam di kepalanya.
"Istriku, kamu sudah shalat Isya belum?" tanya Luki lembut.
"Belum," jawab Amira singkat.
"Kenapa?"
"Aku enggak bisa."
"Kenapa enggak bisa?"
"Enggak ada yang pernah ngajak..." lirih Amira.
Luki menatapnya lekat. "Apa kamu mau melakukannya sekarang?"
"Mau... Tapi kayaknya sudah terlalu malam, udah terlambat."
Tanpa bicara lagi, Luki membuka bungkusan mas kawin yang berisi mukena dan sajadah baru. Ia menggelar sajadah tersebut menghadap kiblat, lalu melangkah menghampiri Amira.
"Ayo wudhu dulu," ajak Luki seraya menggenggam jemari istrinya.
Amira tak menjawab, namun ia membiarkan Luki menuntunnya ke kamar mandi. Di depan wastafel dan kran, Luki mengajarinya tata cara berwudhu langkah demi langkah. Amira yang pada dasarnya cerdas, langsung bisa mempraktikkannya dengan sempurna.
"Walau kita banyak dosa, shalat harus jalan terus," tutur Luki tenang.
"Oh... begitu ya."
"Ini, pakailah," ucap Luki seraya menyerahkan mukena putih itu pada Amira.
"Bagaimana cara pakainya?" tanya Amira polos.
Luki mengambil ponselnya, mencari video singkat tutorial cara mengenakan mukena yang benar. Amira mengamatinya dengan saksama, dan dalam hitungan detik ia sudah bisa memakainya sendiri.
Luki tersenyum menatap Amira yang terbalut mukena putih bersih. "Kamu makin cantik, Amira, istriku... Beruntung sekali aku mendapatkan kamu."
"Ya, kamu yang beruntung... Sedangkan aku tidak," sahut Amira pelan.
"Kenapa?"
"Aku dapat suami pria dengan utang yang banyak."
Bukannya marah, Luki justru tertawa terkekeh-kekeh.
"Malah ketawa! Kapan shalatnya?" tegur Amira gemas.
"Oke, oke... Untuk sementara kamu ikuti saja gerakanku dari belakang, ya. Besok-besok kita belajar bacaannya. Aku juga masih belajar kok, baru setahunan ini mulai mendalami agama."
"Sebelumnya gimana?"
"Enggak percaya sama agama."
"Oh..." Amira mengangguk-angguk. "Kalau begitu cepatlah shalat, sudah malam sekali ini."
Di kamar yang tenang itu, mereka berdua akhirnya melangsungkan shalat Isya berjamaah—momen ibadah pertama mereka dengan status baru sebagai suami dan istri.
Usai salam, Luki memanjatkan doa. Meski bacaannya belum terlalu fasih, suara Luki yang tulus menghadirkan kedamaian mendalam di dada Amira. Untuk pertama kalinya sejak sang ayah meninggal dunia, Amira merasakan ketenangan dan rasa aman yang begitu nyata.
Luki mengusap kedua telapak tangannya ke wajah usai berdoa, lalu membalikkan badan menatap Amira.
"Kalau kamu keberatan aku tidur di kasur kamu... aku bisa tidur di sofa kok," ujar Luki mengerti situasi.
"Di kasur saja," jawab Amira cepat.
"Barengan?"
"Iya, bareng. Tapi ada syaratnya!" tegas Amira.
"Apa syaratnya?" Luki menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan semangat.
"Pertama, aku belum siap melakukan hubungan badan. Kejadian kemarin itu murni ketidaksengajaan!"
"Yah... Kapan dong?" mendadak wajah Luki berubah lesu.
"Kenapa? Kamu enggak terima?"
"Iya, aku terima... Aku bakal tunggu sampai kamu sendiri yang mau dan ketagihan," kekeh Luki.
"Dasar mesum!" gerutu Amira. "Syarat kedua, kamu jangan sok kaya lagi! Aku tidak mempermasalahkan kamu cuma tukang ojol... Aku lebih suka pria jujur ketimbang pria yang sok kaya!"
Luki mengerutkan dahi. "Jadi kamu benar-benar ingin aku jadi ojol?"
"Ya! Kalau kamu terus memaksakan diri biar kelihatan kaya... lebih baik besok aku pesan ranjang dua tingkat saja! Kamu tidur di bawah, aku di atas!"
"Kayak ranjang asrama dong?"
"Iya! Lebih baik begitu. Aku paling enggak suka dengan pria tukang bohong, apalagi yang sok kaya!"
"Jadi kamu lebih suka aku jadi tukang ojol ketimbang orang kaya?" tanyanya memastikan.
"Iya!" jawab Amira mantap.
"Oke, baiklah Istriku... Demi bisa tidur satu kasur sama kamu, aku ikuti aturan mainmu," pasrah Luki.
Mereka berdua melangkah menuju tempat tidur king size. Amira dengan sigap mengambil bantal guling dan memposisikannya tepat di tengah-tengah kasur sebagai garis pembatas.
Luki membaringkan tubuhnya di sisi kanan, sementara Amira di sisi kiri.
"Guling ini adalah batas wilayah kita! Tidak boleh ada yang melewati batas, oke?" tegas Amira.
"Orang tidur kok diberi aturan, gimana sih..."
"Sudah, ikuti saja! Pokoknya aku enggak mau kamu melewati batas ini!"
"Kalau aku melewati batas, apa hukumannya?" tantang Luki.
"Lari keliling Lapangan Banteng seratus kali!"
"Astaga, kamu kira aku atlet lari maraton apa?" sahut Luki menepuk jidat. "Tapi baiklah... Kalau kamu yang melanggar batas, hukumannya setiap malam kamu harus tidur sambil memelukku!"
"Cih! Dasar mesum!" umpat Amira.
Ia membaringkan tubuhnya membelakangi Luki, tidur miring ke kiri. Luki pun tidur miring ke kanan. Mereka saling membelakangi dengan guling di tengah-tengah.
Astaga... bisa-bisanya aku sudah punya suami. Serasa mimpi saja... gumam Amira dalam hati sebelum matanya perlahan terpejam.
Mamah... aku sekarang sudah punya istri... Luki tersenyum dalam kegelapan, meresapi rasa bahagianya hingga tertidur lelap.
Waktu terus bergulir menembus pekatnya malam. Memang benar kata orang, jangan pernah membuat aturan pada orang yang sedang tidur, karena tubuh tidak akan sadar ketika melanggar aturan tersebut. Dan pagi itu, Amira-lah yang tanpa sadar melanggar garis batas tersebut.
Bantal guling yang semalam ditaruh di tengah sudah terlempar sembarangan ke ujung bawah kasur. Amira telah berpindah posisi dari wilayah kekuasaannya di sebelah kiri, merangsek masuk jauh ke dalam wilayah kekuasaan Luki di sebelah kanan.
Amira tidur lelap beralaskan lengan kekar Luki. Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang sang suami, sementara tangan kanannya melingkar erat memeluk tubuh Luki.
"Hmm... wangi sekali..." gumam Amira serak, matanya masih terpejam rapat dalam buaian kantuk. "Tapi kok bantalku pagi ini jadi agak kenyal dan keras begini, ya?"