"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024 - Hari Pertama Jadi Boss
Pukul satu siang, Arya belum menyentuh makan siangnya.
Kotak nasi dari kantin kantor masih tertutup di meja CEO. Di layar laptop, laporan operasional PT Surya Teknologi terbuka dalam lima jendela berbeda.
Pak Budi duduk di seberang meja.
"Pak, kalau Bapak mau istirahat dulu..."
"Nanti."
Arya menunjuk salah satu tabel.
"Biaya vendor cloud naik tiga kali lipat dalam dua tahun, tapi jumlah klien hanya naik dua belas persen. Kenapa?"
Pak Budi menarik napas. "Finance selalu bilang karena traffic naik."
"Data server berkata lain."
Pak Budi terdiam.
Pintu diketuk.
Seorang perempuan masuk dengan langkah cepat. Usianya sekitar dua puluh delapan. Rambutnya diikat rapi, kacamata tipis, tablet di tangan kiri, tumpukan folder di tangan kanan.
"Pak Arya, saya Mega Permata. Sekretaris direktur utama. Saya baru menerima arahan dari Pak Budi bahwa agenda hari ini berubah total."
Suaranya tenang, cepat, dan jelas.
Arya menatapnya. "Agenda lama?"
"Pukul dua rapat divisi sales, pukul tiga panggilan klien, pukul empat sesi foto internal untuk pengumuman direktur baru."
"Batalkan foto."
"Sudah saya batalkan."
Arya mengangkat alis.
Mega membuka tablet. "Saya juga sudah meminta HR menyiapkan personnel list, legal menyiapkan kontrak aktif, procurement menyiapkan daftar vendor, dan finance menyerahkan laporan jam dua. Pak Herman meminta tambahan waktu. Saya jawab keputusan ada di Bapak."
Pak Budi terlihat hampir tersenyum.
Arya menunjuk kursi.
"Duduk, Bu Mega."
Mega duduk, langsung membuka halaman baru.
"Instruksi berikutnya?"
"Semua dokumen masuk ke folder terpisah. Akses untuk saya, Pak Budi, dan Anda. Jangan lewat finance."
"Baik."
"Rapat divisi tetap jam tiga. Semua kepala departemen hadir. Saya ingin mereka melapor langsung, maksimal lima menit per orang."
"Format?"
"Masalah utama, angka penting, orang kunci, risiko terbesar."
Mega mengetik cepat.
"Selesai."
Arya akhirnya membuka kotak nasi. Kirana benar. Dua komisaris kecil menunggu laporan, dan komisaris kecil itu membutuhkan ayah yang makan.
Pukul dua lewat lima, Herman Wijaya mengirim laporan.
Terlambat lima menit.
File masuk lewat email pribadi, di luar folder resmi.
Mega langsung mengangkat wajah.
"Pak, file dari Pak Herman tidak mengikuti jalur yang Bapak tetapkan."
"Masukkan ke folder, beri catatan sumber."
"Baik."
Arya membuka file itu.
Panel sistem menyala.
【Analisis dokumen aktif.】
【Perbedaan format metadata terdeteksi.】
【Kemungkinan file disusun ulang terburu-buru: 82%.】
Ia membuka laporan laba rugi.
Angka penjualan cocok dengan data operasional.
Biaya operasional tidak cocok.
Biaya konsultasi IT muncul setiap bulan dengan nilai hampir sama.
Vendor: PT Sinar Abadi.
Vendor kedua: PT Maju Jaya.
Vendor ketiga: PT Karya Mandiri.
Namanya terlalu umum. Polanya terlalu rapi.
Pukul tiga, ruang rapat lantai delapan belas penuh.
Kepala divisi duduk dengan wajah tegang. Sebagian sudah mendengar direktur baru meminta laporan tiga tahun. Sebagian masih mengira ini rapat perkenalan biasa.
Herman datang paling akhir.
Jasnya mahal. Rambutnya licin. Senyumnya besar.
"Maaf terlambat sedikit, Pak Arya. Ada urusan bank."
Arya melihat jam.
"Duduk, Pak Herman."
Rapat dimulai.
Pak Budi memberi pembuka singkat, lalu menyerahkan kepada Arya.
Arya berdiri di ujung meja.
"Saya tidak akan pidato panjang. Saya baru masuk. Kalian lebih tahu perusahaan ini. Hari ini saya hanya ingin mendengar keadaan nyata."
Ia menatap semua orang.
"Jangan beri saya kalimat manis. Beri angka."
Ruangan langsung berubah.
Divisi support bicara pertama.
"Tiket komplain naik tiga puluh persen, Pak. Tim kurang orang. Banyak bug dari sistem lama belum selesai."
"Nama orang kunci?"
"Rani untuk escalation, Yusuf untuk database."
"Catat," kata Arya.
Mega langsung mencatat.
Divisi R&D melapor. Andi menjelaskan backlog teknis dan utang kode. Sales melapor soal klien yang mulai menawar ulang kontrak karena performa support turun.
Arya tidak memotong kecuali untuk angka.
Saat giliran finance, Herman berdiri dengan senyum siap tampil.
"Secara umum, perusahaan sehat. Tantangan hanya tekanan biaya dari pasar. Semua masih dalam kendali."
Arya menatapnya.
"Margin bersih turun dari dua puluh satu persen ke sembilan persen dalam dua tahun. Itu masih dalam kendali?"
Herman tersenyum tipis.
"Industri sedang berat, Pak."
"Vendor cloud naik, konsultan naik, biaya procurement naik. Pendapatan stabil. Beban naik tanpa output jelas."
"Ada banyak detail teknis, Pak. Mungkin tidak cocok dibahas di rapat umum."
Beberapa kepala divisi saling pandang.
Arya mengangguk pelan.
"Baik. Kirim detail teknis hari ini pukul enam."
"Pukul enam terlalu cepat."
"Kalau data rapi, mengekspor butuh sepuluh menit."
Senyum Herman menegang.
Rapat selesai pukul lima.
Saat orang keluar, bisik-bisik dimulai.
"Dia muda, tapi nanyanya tajam."
"Herman kelihatan tidak nyaman."
"Pak Budi akhirnya punya backing."
Seorang supervisor support bernama Rani memberanikan diri mendekati pintu.
"Pak Arya."
"Iya?"
"Kalau Bapak benar-benar mau data nyata, tim kami punya laporan komplain yang selama ini tidak pernah naik ke direktur."
Pak Budi menoleh tajam.
Rani langsung menunduk. "Maaf, Pak. Kami sudah berkali-kali kirim lewat jalur normal."
Arya melihat wajahnya. Lelah, takut, dan masih berharap.
"Kirim ke Bu Mega. Semua tiket prioritas tinggi. Mulai dari enam bulan terakhir."
"Baik, Pak."
"Dan Rani."
"Iya, Pak?"
"Terima kasih sudah bicara."
Rani terlihat hampir menangis, lalu cepat keluar.
Mega menutup pintu rapat terakhir.
"Pak, kalau satu supervisor berani bicara setelah rapat pertama, berarti tekanan di bawah sudah lama."
"Saya tahu."
"Mau saya buka kanal laporan internal sementara?"
"Buka. Nama pelapor dilindungi. Semua laporan harus punya bukti."
"Siap."
Pak Budi mengusap wajah.
"Saya seharusnya membuka kanal itu sejak dulu."
"Mulai hari ini saja," kata Arya. "Rasa bersalah tidak memperbaiki sistem. Tindakan memperbaiki sistem."
"Pak, ada satu hal."
"Apa?"
"Pak Herman meminta saya menghapus notulen bagian margin. Saya jawab tidak bisa tanpa izin Bapak."
Arya menatapnya.
"Dia meminta langsung?"
"Lewat pesan."
"Forward ke saya."
"Sudah."
Panel sistem berkedip.
【Indikasi manipulasi dokumen rapat terdeteksi.】
Arya kembali ke kantor CEO dan menutup pintu.
Ia membuka sistem.
"Analisis semua laporan finance. Cocokkan dengan operasional, vendor, dan data HR."
Panel menjawab.
【Analisis mendalam dimulai.】
【Estimasi waktu: 43 menit.】
Malamnya, Arya pulang sebelum makan malam seperti janji.
Kirana menunggunya di meja dengan sup ayam.
"Hari pertama bagaimana?"
Arya mencuci tangan, duduk, lalu tersenyum.
"Lumayan."
Kirana menyipit.
"Lumayan berarti ada masalah."
Arya mengambil sendok.
"Ada tikus di gudang."
"Perusahaan teknologi punya gudang?"
"Kiasan."
"Aku tidak suka kiasanmu."
Arya menatap layar ponsel yang menyala di samping piring.
Hasil analisis sistem baru masuk.
Estimasi kerugian awal: Rp 8.000.000.000.
Delapan miliar.
Herman Wijaya punya perut besar untuk uang orang.