NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003: Kejatuhan Kusuma

"Dalam 48 jam, Hartono harus menyerahkan orang itu, atau angkat kaki dari Jakarta."

Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada hujan yang turun di Jakarta.

Pagi setelah pesta Rendra Kusuma, grup WhatsApp pengusaha, broker saham, pengacara korporat, sampai ibu-ibu arisan Kebayoran Baru membicarakan hal yang sama. Keluarga Kusuma marah. Pewaris tunggal mereka pulang dari Hotel Mulia dengan tangan kanan digips dan wajah pucat karena menahan malu.

Di Rumah Anggrek, Bimo Hartono tidak tidur.

Teleponnya terus berbunyi. Bankir yang biasanya menyapanya dengan hangat mendadak hanya berkata, "Kami lihat situasi dulu, Pak." Rekan bisnis yang dulu mengejar makan siang bersamanya sekarang tidak mengangkat panggilan.

Ratna menangis di ruang keluarga.

"Kita tamat, Bimo. Kita benar-benar tamat. Kenapa orang itu harus melukai Rendra?"

"Dia sudah keluar dari rumah ini," Bimo membentak. Suaranya retak. "Dia harus tanggung sendiri."

Kiara berdiri di dekat tangga, masih pucat. Efek obat semalam belum hilang sepenuhnya, tetapi matanya sudah jernih. Ia mendengar mereka membicarakan Arga seolah laki-laki itu bukan orang yang menggendongnya pulang ketika semua orang lain meninggalkannya.

Ponsel Bimo akhirnya tersambung ke nomor Arga.

"Kamu datang ke Rumah Anggrek sekarang," kata Bimo tanpa salam. "Kamu tahu apa yang sudah kamu buat?"

Suara Arga di seberang tenang. "Kiara sudah bangun?"

"Jangan pura-pura peduli. Keluarga Kusuma meminta kamu diserahkan. Kalau kamu punya sedikit saja rasa tahu diri, kamu datang, minta maaf, lalu berlutut."

Hening.

Bimo mengira panggilan terputus.

Lalu Arga berkata, "Berlutut."

"Apa?"

"Itu yang akan mereka lakukan."

Panggilan mati.

Bimo menatap layar ponsel seperti baru saja ditampar.

Sore itu, keluarga Hartono memaksa Kiara menelepon Arga lagi.

"Kamu yang minta dia datang," kata Ratna. "Dia selalu mendengarkanmu, kan? Panggil dia. Kita serahkan baik-baik sebelum Kusuma benar-benar menghancurkan kita."

Kiara menatap ibunya lama.

"Semalam aku hampir dibawa ke kamar hotel oleh Rendra."

Ratna menghindari tatapannya. "Mama tidak bilang Rendra benar. Tapi masalahnya sekarang lebih besar dari itu."

Lebih besar.

Bagi keluarga ini, reputasi selalu lebih besar daripada tubuh putrinya sendiri.

Kiara menekan nomor Arga.

Panggilan tersambung.

"Kamu mau aku datang?" tanya Arga.

Kiara menggenggam ponsel. Pertanyaan itu bukan, "Mereka mau apa?" Bukan, "Apa Kusuma menekan kalian?" Ia bertanya padanya. Hanya padanya.

Di belakang Kiara, Bu Agung Hartono duduk tegak di kursi utama. Rambut putihnya disanggul rapi, tongkat kayu berada di samping lutut. Semua orang menunggu Kiara mengucapkan kalimat yang akan menyeret Arga kembali sebagai kambing hitam.

Kiara menarik napas.

"Kalau kamu datang," katanya pelan, "jangan datang untuk mereka."

Arga datang malam itu.

Ia memasuki Rumah Anggrek dengan jaket lama yang sama. Tidak ada pengawal. Tidak ada mobil mencolok. Hanya langkah tenang di lantai marmer.

Galang Hartono berdiri paling depan. "Akhirnya berani muncul juga."

Bimo menunjuk wajah Arga. "Besok pagi kita antar kamu ke Kusuma. Kamu minta maaf. Apa pun syarat mereka, kamu terima."

Kiara turun dari tangga sebelum Arga menjawab.

Ia berdiri di depan Arga.

Satu gerakan sederhana.

Tetapi selama dua tahun, ia belum pernah melakukannya.

Ratna membelalak. "Kiara, minggir."

"Tidak."

Bu Agung mengetukkan ujung tongkat ke lantai. "Kamu tahu apa artinya melindungi dia?"

Kiara tidak menoleh. "Saya tahu apa artinya tidak meninggalkan orang yang menolong saya."

Arga menatap punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak tanda tangan itu, sesuatu di dadanya bergerak.

Ia melihat jam di pergelangan tangan.

"Sembilan jam lagi baru buka pasar," katanya.

Tidak ada yang mengerti.

Galang tertawa kasar. "Apa hubungannya pasar saham dengan tulang Rendra?"

Arga tidak menjawab.

Pukul 09.55 keesokan paginya, seluruh keluarga Hartono berkumpul di ruang keluarga Rumah Anggrek.

Televisi menyala di kanal bisnis. Ponsel mereka terbuka pada aplikasi saham. Di meja, cangkir kopi dibiarkan dingin. Kiara duduk di ujung sofa, masih mengenakan kemeja rumah, wajahnya pucat tetapi matanya terus menatap layar.

Arga duduk di kursi samping jendela.

Ia memegang secangkir kopi seolah pagi itu hanya pagi biasa.

Ratna meliriknya dengan benci. "Masih bisa minum kopi."

Arga tidak menanggapi.

Di layar televisi, pembawa berita tiba-tiba berhenti membaca naskah biasa.

"Berita terbaru dari sektor konglomerasi. Dua bank besar nasional dikabarkan tidak memperpanjang fasilitas kredit sindikasi PT Kusuma Group setelah temuan pelanggaran covenant internal."

Bimo berdiri.

"Apa?"

Galang buru-buru membuka ponsel. "Saham Kusuma belum buka. Ini rumor."

Pukul 10.07.

Delapan menit setelah perdagangan berjalan, layar aplikasi saham berubah merah.

KUSM -19%.

Auto reject bawah.

Terhenti.

Ruang keluarga sunyi selama tiga detik.

Lalu semua orang bicara bersamaan.

"Tidak mungkin!"

"Ini cuma koreksi!"

"Telepon broker!"

Bimo sudah menempelkan ponsel ke telinga. "Pak Surya, ini apa? Kenapa bank memutus kredit Kusuma?"

Suara di seberang cukup keras sampai Kiara mendengarnya.

"Pak Bimo, kami juga baru dapat. Ada dosier masuk ke beberapa bank sejak subuh. Data utang tersembunyi, laporan keuangan ganda, dan pembayaran mencurigakan ke proyek pengadaan."

Bimo memucat.

Pukul 11.03.

Kilas berita kedua muncul.

"OJK dan Kejaksaan Agung disebut menerima laporan anonim terkait dugaan pemalsuan laporan keuangan PT Kusuma Group. Pihak Kusuma belum memberi keterangan resmi."

Ratna menjatuhkan cangkir.

Porselen pecah di lantai.

"Anonim?" Galang menatap layar. "Siapa yang berani menyerang Kusuma?"

Arga menyesap kopi.

Kiara melihat gerakan itu.

Terlalu tenang.

Pukul 11.27, laporan itu berubah menjadi bahan bakar.

Akun-akun bisnis di X mulai mengunggah potongan dokumen yang disensor sebagian. Ada tabel pinjaman antar-anak perusahaan. Ada invoice proyek yang tanggalnya tidak masuk akal. Ada nama rekening penampung yang muncul berulang dalam tiga transaksi berbeda.

Satu portal berita menulis judul pendek:

Kusuma Group Diduga Menyembunyikan Utang Lewat Anak Usaha.

Judul itu dibagikan ribuan kali dalam dua puluh menit.

Bimo membaca layar ponselnya dengan tangan gemetar. "Ini bukan rumor lagi."

Bu Agung mengambil ponsel dari tangan Bimo dan membaca sendiri. Wajah tuanya tidak berubah, tetapi seluruh keluarga tahu ia sedang menghitung. Jika Kusuma jatuh, siapa yang ikut terseret? Jika Hartono terlihat terlalu dekat, bank mana yang akan ikut menahan fasilitas?

"Hapus semua foto semalam," perintahnya.

Ratna tersentak. "Foto apa?"

"Foto Kiara dengan Rendra. Foto kalian di Hotel Mulia. Jangan sampai ada yang mengaitkan Hartono dengan Kusuma hari ini."

Kiara merasakan sesuatu yang dingin menekan dadanya.

Semalam, mereka menyerahkan dia kepada Rendra seperti hadiah diplomatik.

Hari ini, mereka berebut menghapus bukti bahwa hadiah itu pernah ada.

Pukul 12.16.

Video dari depan kantor pusat PT Kusuma Group mulai beredar. Puluhan pemasok berkumpul di lobi, menuntut pembayaran invoice yang tertunda. Seorang pria paruh baya berteriak di depan kamera, "Kalau kredit mereka diputus, kami mau uang kami sekarang!"

Kusuma yang semalam memberi ultimatum kepada seluruh Jakarta mendadak harus menjawab orang-orang yang selama ini mereka tunda.

Pukul 12.44, bank ketiga mengeluarkan pernyataan resmi.

Tidak panjang. Hanya kalimat korporat yang kering: fasilitas kredit tertentu sedang ditinjau ulang sesuai kewajiban manajemen risiko dan kepatuhan.

Tetapi di pasar, bahasa kering kadang lebih mematikan daripada makian.

Ditinjau ulang berarti tidak ada uang baru.

Tidak ada uang baru berarti pemasok panik.

Pemasok panik berarti proyek berhenti.

Proyek berhenti berarti jaminan ikut dipertanyakan.

Dalam satu jam, apa yang semalam disebut "kemarahan Kusuma" berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih brutal: semua orang ingin keluar sebelum pintu tertutup.

Galang berkeringat di pelipis. "Tapi Kusuma punya aset. Mereka tidak mungkin jatuh hanya karena laporan."

Kiara menjawab tanpa menoleh, "Konglomerat tidak jatuh karena tidak punya aset. Mereka jatuh ketika tidak ada yang percaya aset itu cukup untuk menutup utang."

Arga memandangnya sebentar.

Jawaban itu tepat.

Kiara masih Kiara. Tajam, bahkan ketika semua orang di rumahnya sedang sibuk menyelamatkan muka.

Pukul 13.40.

Harga obligasi Kusuma di pasar sekunder jatuh. Grup bisnis berubah dari takut menjadi panik. Beberapa pesan masuk ke ponsel Bimo. Orang-orang mulai bertanya apakah Hartono masih punya hubungan dengan Kusuma.

Bu Agung yang sejak pagi diam akhirnya membuka suara.

"Jangan jawab siapa pun."

Suaranya masih tenang, tetapi ujung jarinya mencengkeram kepala tongkat.

Pukul 14.08.

Televisi menayangkan gambar yang membuat seluruh ruangan berhenti bernapas.

Kusuma senior keluar dari gedung kantor pusatnya dengan dua penyidik. Tidak diborgol, tetapi jelas dikawal. Wajahnya merah gelap. Di belakangnya, Rendra Kusuma muncul dengan tangan kanan digips, matanya liar, berusaha menghindari kamera.

Judul berjalan di bawah layar:

Kejaksaan Agung minta keterangan pendiri PT Kusuma Group terkait laporan suap dan manipulasi laporan keuangan.

Ratna menutup mulut.

Galang berbisik, "Kejatuhan Kusuma..."

Beberapa detik kemudian, kamera menangkap Rendra.

Tangan kanannya dibalut gips putih sampai pergelangan. Wajahnya pucat. Ketika seorang wartawan bertanya apakah benar ia hadir bersama Kiara Hartono semalam, pengacaranya langsung mendorong mikrofon menjauh.

"Tidak ada komentar."

Tetapi cukup.

Nama Kiara mulai muncul di kolom komentar.

Ratna panik. "Kenapa mereka menyebut Kiara?"

Kiara mengambil ponselnya. Satu klip pendek dari Hotel Mulia sudah beredar: dirinya berjalan di sisi Rendra sebelum acara dimulai. Tidak ada gambar suite. Tidak ada bukti obat. Hanya cukup untuk membuat publik bertanya mengapa CEO Hartono Group berada di pesta Kusuma tepat sebelum badai.

Bimo hampir menjatuhkan ponsel. "Ini bisa menyeret kita."

"Baru sekarang Papa sadar?" tanya Kiara.

Bimo menatapnya, tetapi tidak punya kalimat untuk membalas.

Di sudut ruangan, Arga mengetik satu pesan singkat ke Gacrux.

Tahan bukti hotel. Jangan rilis kecuali mereka menyentuh Kiara.

Balasan datang cepat.

Dipahami.

Entah siapa yang pertama kali menyebut kata itu di media sosial, tetapi dalam satu jam, semua orang memakainya.

Kejatuhan Kusuma.

Pukul 15.00, kapitalisasi pasar mereka sudah menguap lebih dari separuh di hitungan psikologis investor. Saham tidak bisa jatuh lebih jauh hari itu karena aturan BEI menahannya, tetapi kepercayaan tidak punya auto reject bawah.

Kepercayaan jatuh tanpa lantai.

Di Rumah Anggrek, suasana berubah aneh.

Pagi tadi, mereka ingin menyerahkan Arga.

Siang tadi, mereka yakin Hartono akan hancur.

Sore itu, mereka menatap layar televisi dengan mata basah. Mereka merasa selamat.

"Kita... tidak perlu menyerahkan dia?" Ratna berbisik.

Bimo menelan ludah. "Kusuma sendiri yang tamat."

Galang tertawa kering, terlalu keras, terlalu gugup. "Ya sudah. Berarti masalah selesai. Kita beruntung saja."

Beruntung.

Kiara menoleh ke Arga.

Laki-laki itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan sangat pelan.

Ia berdiri.

"Aku pergi."

Galang, mungkin karena malu pada rasa takutnya sendiri, melangkah ke depan dan menghalangi pintu.

"Hei. Jangan sok gaya. Kusuma kena masalah tidak membuatmu jadi pahlawan. Kalau keberuntungan tidak datang, kita semua sudah mati gara-gara kamu."

Arga menatapnya.

"Minggir."

"Atau apa?"

Tamparan itu datang begitu cepat hingga tidak ada yang sempat melihat ayunan tangannya.

PLAK!

Galang terpental setengah langkah dan punggungnya menghantam kusen pintu. Kepalanya miring, telapak tangan menempel di pipi yang langsung memerah.

Seluruh ruangan mati.

Ratna tidak berani berteriak.

Bimo tidak berani maju.

Bu Agung menatap Arga dengan mata menyipit. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang salah ukuran di dalam rumahnya.

Arga melewati Galang tanpa menoleh.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Gacrux masuk.

PKPU sudah diajukan. Pak tua sudah menandatangani pengakuan. Selanjutnya?

Arga berhenti di ambang pintu.

Ia menoleh ke ruang keluarga.

Orang-orang yang semalam ingin menyerahkannya berdiri di sana, dengan wajah yang belum tahu apa pun. Belum tahu siapa yang menggerakkan bank. Belum tahu siapa yang mengirim dosier. Belum tahu bahwa pria yang mereka sebut benalu baru saja menghapus ancaman terbesar mereka sebelum makan siang.

Kiara menatap punggungnya.

Pertanyaan itu hampir keluar dari bibirnya.

Siapa sebenarnya kamu?

Tetapi Arga sudah membalas pesan.

Tidak ada.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!