Candra adalah seorang CEO yang memiliki orientasi penyimpanan seksual, Candra di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang colonel cantik.
Mereka selalu terlibat perselisihan satu sama lain, mereka selalu bertengkar dan tak cocok dalam berbagai hal.
Namun suatu keadaan membuat keduanya sadar tak mampu berjauhan satu sama lain, dan saling membutuhkan.
Akan kah mereka saling mencintai pada akhirnya? Biarlah takdir menyatukan keduanya di akhir.
*Bebas promosi novel lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan Brayen
Mereka baru saja duduk di kursi cafe tersebut, dengan tangan Aliya yang tak pernah lepas dari kantung jas Chandra.
"Cil lepesin gue, gimana mau makan coba," kata Chandra berusaha membujuk Aliya untuk melepaskan borgolnya.
"Masa," Aliya baru saja hendak menyelesaikan kata katanya tiba tiba seorang laki laki mendekati meja mereka.
"Kalian makan di sini juga," suara laki laki tersebut menggema di telinga Chandra, sontak membuat Chandra terkejut.
"Brayen," Chandra tampak benar benar terkejut.
Karena sibuk bertengkar dengan Aliya, sepertinya ia benar benar lupa untuk mengirimkan pesan kepada kekasihnya bahwa mereka tak jadi bertemu, tapi mereka malah bertemu di cafe seperti ini.
"Eh i iya," Chandra sedikit salah tingkah, seperti seseorang yang terpergok sedang selingkuh.
Aliya sedikit bingung melihat hal tersebut, Aliya hanya mengangkat alis dan melihat mereka secara bergantian.
"Hai Aliya," Aliya tersenyum manis sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Brayen," Brayen hanya memandang Aliya sebentar kemudian memandang Chandra dengan seksama.
Brayen sedikit melirik arah tangan Chandra dan juga Aliya, ia sedikit bingung namun mencoba bersikap biasa saja. Tiba tiba Brayen mengingat masalah pertunangan Chandra dengan seorang wanita, Brayen mengalihkan pandangan ke arah Aliya.
Brayen tampak menyelidiki wanita yang memasang tampang bingung di hadapannya. Dari pandangan Brayen Aliya menyadari hal tersebut, diam diam Aliya menyeringai merasa tak bersalah sama sekali.
"Kamu siapanya dia," Brayen tampak penasaran.
Chandra memandang ke arah Aliya, berharap Aliya tak mengatakan yang sebenarnya, karena Chandra sadar biar bagaiman pun Aliya tak mengetahui siapa yang dihadapannya.
Aliya dapat melihat tatapan cemburu dari pria yang ada di hadapannya, jelas itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk pria yang ada di sampingnya.
Tiba tiba otak jahil Aliya timbul, Aliya akan mengerjai sepasang kekasih yang aneh ini.
"Ah, saya tunangan dari tuan Chandra," kata Aliya dengan santai, sontak Chandra memandang Aliya dengan tatapan tak percaya, bercampur kesal.
"Anda temennya dia ya?" Aliya memulai aksinya, untuk membuat Chandra dan Brayen kesal.
"I iya, teman bisnisnya," Brayen sedikit berat hati ketika mengatakan hal tersebut.
"Udah lama temenan sama dia?" Aliya tampak memasang wajah penasaran.
Chandra terus saja meremas tangan Aliya yang berada di dalam saku jasnya.
"Apaan sih lu ngeremas tangan orang, lo kira ga sakit," protes Aliya seolah tak mengerti maksud dari Chandra.
Chandra hanya tersenyum kesal melihat tingkah dari wanita yang di sampingnya. Terlebih lagi saat melihat tatapan kesal dari kekasih yang ada di hadapannya.
"Udah cukup lama sih, kenapa?" Brayen tampak sedikit malas melayani omongan Aliya.
Brayen bahkan lebih sibuk memandangi wajah Chandra dengan pandangan kesal, bercampur cemburu nya.
"Dia emang suka nyosor orang ya?" Aliya seolah tak tahu atmosfer apa yang ada di sekitar.
"Nyosor gimana maksudnya?" Brayen memandang Aliya dengan pandangan curiga dan penasaran.
"Iya nyosor bibir gue di mobil, ga tanggung tanggung lagi, lima kali," Aliya sedikit menjeda bicaranya.
Brayen memasang tampang terkejut, dengan kesal memandang ke arah Chandra, sembari meremas tangannya yang ada di bawah meja.
Chandra sudah dapat membayangkan kemarahan dari kekasihnya, Chandra semakin meremas tangan Aliya, mencoba untuk menghentikan mulut Aliya untuk berbicara lebih lanjut lagi.
"Bibir gue yang suci dan seksi ini jadi ternodai kan gara gara dia," Aliya memandang Chandra dengan pandangan sinis.
Sungguh di dalam hati Aliya ia sangat tertawa terbahak bahak, seandainya saja Brayen ini wanita maka Aliya tak akan tega melakukan hal ini. Tapi sayangnya Brayen adalah laki laki, bukankah Aliya tak tahu perasaan laki laki? Berarti dia tidak salah bukan?
Sementara Chandra tampak kelabakan di buat Aliya, Chandra dapat melihat secara jelas wajah kecewa dari Brayen.
Tiba tiba Brayen beranjak hendak menjauh dari sepasang tunangan tersebut.
"Saya permisi dulu," kata Brayen hendak melangkah menjauh.
Aliya segera menghentikan nya dengan pandangan yang dibuat seolah olah bingung.
"Lah mau ke mana? Kan kita belum makan siang," Aliya mengeluarkan wajah bingungnya.
"Tidak saya lupa kalau ada janji, nikmati makan siang kalian," kata Brayen melangkah menjauh dari Aliya dan Chandra.
Setelah memastikan Brayen keluar dari cafe tersebut, Chandra memandang Aliya dengan pandangan kesal, namun Aliya tetap mempertahankan wajah bingungnya.
"Lo ya," Chandra menggeram ketikan mengatakannya.
"Gue? Kenapa? Ada yang salah lagi ya?" Aliya memang bisa memenangkan piala penghargaan untuk aktris antagonis wanita.
"Dia pacar gue," bisik Chandra sedikit mendekat ke arah telinga Aliya.
"Sumpah lo? Gue ga tau, lo ga bilang sih, ayo kejar," kata Aliya berpura pura shock.
Melihat hal tersebut membuat Chandra berdecak kesal, entah dia tak punya tenaga lagi hendak marah dengan gadis di sebelahnya, tenaganya hilang entah kemana.
"Ayo kejar biar kayak aadc gitu loh, kalau ga lo kejar bisa kayak film Dilan 1999, putus di tengah jalan," lanjut Aliya membuat Chandra semakin pusing.
"Aish lepasin borgolnya," kata Chandra mengalihkan pembicaraan.
"Bentar bentar dulu, gue cari," kata Aliya mencoba merogoh saku jaketnya.
Chandra hanya memandangnya dengan kesal, dan membiarkan gadis itu mencari sendiri.
Namun tiba tiba ponselnya berbunyi, Chandra segera mengambil ponselnya. Saat membaca isi pesan tersebut matanya membulat sempurna.
Aliya yang melihat ekspresi Chandra segera menghentikan pencariannya, dan memandang ke arah ponsel Chandra, ternyata itu dari Brayen.
...Sekarang aku benar benar kecewa dengan kamu, kalau kamu memang sayang dan serius dengan aku, maka kamu harus membuktikan nya, dengan cara memutuskan pertunangan kalian....
...Aku masih ingat dengan jelas, kalau kamu mengatakan kamu ga akan pernah menganggap pertunangan itu, tapi apa buktinya? Kamu justru menciumnya, dan makan siang dengan wanita itu....
Isi pesan dari Brayen, sungguh isi pesan itu menunjukkan rasa cemburu Brayen yang amar sangat besar.
"Tu kan cemburu, kan udah gue bilang kejar ya kejar," kata Aliya sok menampakkan wajah polos nya.
"Ini semua gara gara lo," kesal Chandra memandang wajah polos di sampingnya.
"Ih kok jadi gue? Kan gue udah bilang kejar," Aliya tak ingin di salahkan meski ini memang salahnya.
"Ga mungkin gue ngejar dia dengan tangan di borgol," kesal Chandra.
Tiba tiba pelayan datang mengantarkan makanan yang mereka pesan.
"Terimakasih," kata Aliya tersenyum ramah.
Aliya seakan melupakan segalanya, Aliya langsung saja menyambar makanan tersebut dengan rakus.
"Nanti aja mikirnya, ayo makan dulu," kata Aliya segera menyuapi Chandra.
Entah karena lapar atau malas berdebat, atau Chandra ingin cepat. Laki laki itu hanya menerima suapan dari Aliya.
"Anak mama pintar banget," Aliya mengusap lembut kepala Chandra.
Chandra hanya mendengus, namun tetap menerima suapan dari Aliya, dan makan dengan lahap, sepertinya Chandra juga kelaparan.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu