Bagaimana perasaanmu ketika dibersamakan dalam ikatan halal bersama ia yang mengagumimu dalam diam?
Ini tentang kisah mereka yang saling terkagum dalam diam dan do'a. Tak berani mendekat dengan sesama, melainkan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hati terlebih dahulu.
Karena Allah tak pernah ingkar dengan janji-Nya. Bagi mereka lelaki baik untuk perempuan baik, dan bagi mereka lelaki tidak baik untuk perempuan tidak baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elisa_nafiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7- MASA SMA - Munculnya Salah Paham
... 🖌
"Oke, karena kalian berempat kemarin tidak sempat kumpul ini ada tugas untuk kalian. Lisa sama Zaskia jadi koordinator buat pertandingan tenis meja," kata Andra si ketos membagi tugas masing-masing Osis. Aku mengangguk saja, begitupula Zaskia yang menatap biasa.
"Buat Ali sama Dila kalian kebagian jadi dokumentasi," lanjut Andra.
"Ada yang ditanyakan?" tanya Andra pada akhirnya karena tak ada respond sama sekali.
Anggota Osis lainnya sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan dan tersisa kami berlima beserta Andra.
"Ga ada kok, Kak," sahut Dila. "Kalau gitu kita boleh keluarkan? Soalnya udah mau dimulai."
Andra menghela nafas. "Oke deh, silakan kalian bertugas. Oh ya, Li nanti yang Osis laki-laki suruh kumpul ya selesai classmeeting buat bersihin aula."
Setelah itu kami keluar dari ruang Osis untuk segera menjalankan tugas masing-masing.
Dila yang tiba-tiba berada di samping Zaskia itu membuat aku menoleh, menyapanya dengan senyuman begitupula yang dilakukan Zaskia.
"Aku dokumentasi buat pertandingan tenis meja dulu kali ya, Kak," kata Dila entah sedang bertanya atau sedang berpendapat.
"Pertandingan basket aja dulu, Dil. Soalnya tenis meja nanti satu jam lagi," jawab Zaskia mengingat jadwal pertandingan tenis meja.
Dila menepuk dahinya, "oh iya lupa. Ya udah aku duluan ya, Kak. Udah ditinggal duluan sama Kak Ali," katanya segera pamit dan buru-buru menyusul Ali yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Eh emang Ali itu kayak gitu ya, Zas?" tanyaku jadi kepo.
"Gitu gimana?" tanya Zaskia balik dengan alis berkerut. "Biasa aja deh kayaknya," jawabnya datar disertai langkahan kaki kami untuk bergabung dengan anak yang lain sudah bersiap menyaksikan pertandingan bola basket.
"Maksudnya pendiem gitu ya?"
Kami menyeruak, duduk di samping Nadya, Syifa, dan Laili dengan Zaskia yang duduk di sampingku dengan tenang.
Matanya menatap lurus ke lapangan.
"Dia emang gitu, tapi ramah kok," ucap Zaskia dengan mata yang belum teralih sehingga membuat aku jadi mengikuti arah pandangnya.
Aku menggigit bibir bawah, ternyata yang dipandang dalam semenjak tadi adalah Ali yang sedang mendokumentasikan di sudut lapangan.
"Ya ampun, keren banget sumpah!" pekik Laili girang sendiri.
"Apanya yang keren?" tanyaku jadi menoleh padanya.
"Yang main basket keren ishhh!" lanjutnya melanjutkan fangirling dengan pemain basket. Sudah ku tebak, dia memang benar-benar move on dan berpindah pada Fariz.
Aku kembali memperhatikan lapangan, meneguk ludah kembali merasa bersalah.
"Afran kalau pake kaus hitam terus lari-lari sama bola keliatan beda banget," lanjut Laili membuat aku tersentak kecil.
"Haaaa?" Aku melongo menoleh pada Laili.
Ia mengangguk sangat senang dengan opininya tadi. "Liat deh, ya ampun dia itu kayak definisi panah. Memanah hati gue, awwww...."
Zaskia mendecak, "apasih, Li. Jangan katrok dulu ya ampun, jangan malu-maluin ini lagi di lapangan," tegur Zaskia yang membuat Laili langsung menciut.
"Sejak kapan lo suka tipe kayak gitu, Li?" tanya Nadya yang duduk di samping Laili disertai kekehan. "Bukannya yang badboy gitu?"
Laili menoleh, merasa tersentil. "Apaan udah pindah haluan ya gue," katanya dengan nada dibuat sinis.
Aku terdiam sesaat, jadi yang membuat Laili move on itu pas ketemu Afran? Bukan karena Fariz?
Terlintas ide untuk menggodanya.
"Suka Afran apa kapten basketnya?"
Laili menoleh padaku, dengan sudut bibir yang sejak tadi tertarik ke atas.
"Emang siapa kapten basketnya?" ceplosnya polos. Sedangkan aku dibuat ternganga kembali.
Dia sama sekali tidak tahu kapten basketnya?
"Kamu ga tau? Lah Farizkan yang kemarin manggil kamu itu kapten basketnya!" jawabku memberitahu, walau setelah itu terdengar suara batuk kecil dari Syifa dan Nadya.
"Kita aja juga ga tau, Sa," kata mereka dengan kompak walau aku tahu mereka sedang menahan untuk tidak terkekeh.
"Boong kalian ya," sahutku berusaha untuk menahan agar mereka tidak melanjutkan hal seperti ini.
"Haaa, apaan sih?" tanya Laili tak paham memandang bergantian padaku dan Nadya.
"Gapapa," sahutku cepat sebelum Laili pikirannya terhubung dengan pancingan Nadya dan Syifa.
Kita kembali tenang dan tidak rusuh seperti penonton lain yang sedang bersorak antusias menikmati pertandingan.
Zaskia yang sejak tadi tenang menonton membuat aku menghela nafas, karena ia tak mendengar dan tidak paham apa yang barusan terjadi.
Bisa dibilang dia itu pinter tapi lemot. Julukan dari satu kelas seperti itu.
✿✿✿
Selesai jadi panitia pertandingan tenis meja, aku melangkah melalui koridor kelas 11 IPS menuju kelas 11 IPA.
Zaskia yang tadi sempat berjalan di sampingku berpisah saat Andra si ketua Osis memanggilnya. Dan jadilah aku berjalan sendiri seperti ini.
Banyak yang memilih duduk di ambal teras sembari menikmati makan dan pertandingan yang masih terlihat dari sini. Aku celingukan, mungkin saja bisa menemukan Faniya dan yang lainnya untuk diajak ngobrol seperti kelas 10 dulu.
Tapi pandanganku jatuh tepat melihat Ali yang menuruni tangga dengan kamera yang menggantung di lehernya.
"Eh Lisa, udah selesai pertandingan tenis mejanya?" tanya Ali yang mendekat.
Aku segera menunduk kecil atau setidaknya tidak kontak mata dengannya langsung.
"Ah udah kok, baru sepuluh menit yang lalu. Ini mau ke kelas ambil minum," jawabku sambil memainkan jari.
Ali berdeham kecil. "Kalau gitu gue duluan ya," pamitnya melambai lalu melangkah menjauh.
Iya sih, dia ramah banget. Apa akunya yang terlalu baper ya?
Ah enggak. Astagfirullah, kok bisa punya pikiran seperti itu sih!
Aku segera berlalu dan menepis semuanya. Kembali menaiki tangga dan masuk kelas yang agak sepi.
Hanya beberapa yang masih tersisa menghias kelas.
"Udah balik lo?" tanya Hashim mendongak padaku dari handphone ditangannya.
Aku mengangguk, berbalik badan dan meraih botol minuman di tas.
Lalu tersentak kecil mengingat sesuatu.
"Suruh Haikal buat ambil data pertandingan kelas kita buat besok di ruang Osis ya, soalnya tadi ga sempet ngambil," pintaku pada Hashim yang kembali sibuk menekan handphonenya dengan serius.
"Shim!" panggilku lagi, masalahnya ia tak menjawab apapun.
"Iya, iya!" jawabnya tak beralih dari handphone. "Ntar gue sampein."
"Baiklah," kataku berlalu keluar dari kelas.
Aku mendekati pagar pembatas, menatap ke arah bawah yang menyuguhkan pertandingan basket yang belum selesai.
Mataku masih setia memandang lelaki berkaus abu-abu yang berjaga di pinggir lapangan sebagai wasit dan sesekali memainkan bola karena sedang istirahat dari pertandingan.
Rahangnya menegas dengan tangan yang lihai memantulkan bola ke tanah. Kakinya dengan cepat mendekati ring basket dan ya ia berhasil memasukkan bola dengan lompatan tubuh menjulang tersebut.
Seutas senyum mengembang dibibirku.
"Ebuset, kerasukan apa gimana senyum-senyum sendiri gitu," celetukan yang tak diminta itu membuat aku menoleh langsung menatap tajam berusaha menguasai diri. Senyumku yang sempat terukir jadi melenyap begitu saja.
Hashim bergidik ngeri yang dibuat-buat.
"Sa, hati-hati kelas sepi. Jadinya gue keluar," katanya menakut-nakuti.
"Adanya kamu yang bikin aku merinding," balasku berbalik badan melangkah memasuki kelas untuk mengembalikan botol minuman. Ku dengar cibiran Hashim yang menjauhiku dan melangkah menuruni tangga.
Ku edarkan pandangan pada ruangan berbentuk persegi, tak ada satu kehidupan entah sudah pada kemana. Padahal beberapa menit lalu masih ada satu sampai lima orang di kelas.
Diantaranya banyak anak cowok.
"HEEEE!!!"
Aku terlonjak kaget segera menoleh, berkali-kali mengucapkan istighfar sembari mengelus dada menenangkan.
Seringaian tanpa dosa beredar begitu saja di depanku.
"Bisa salam dulu ga sih?" tanyaku jengkel pada Vian yang masih cengengesan mendekati bangkunya mengambil kaos abu-abu dari tasnya.
"Gue kira kagak ada orang, sorry-sorry," katanya masih terkekeh menertawakan aku.
Aku mendengus, melengos begitu saja tidak peduli.
"Lah? Marah? Sa, maaf. Beneran dah, tadi Hashim bilang kagak ada orang di kelas. Kelasnya sepi, makanya aku masuknya teriak buat jaga-jaga soalnya gue juga takut."
Aku berusaha tak peduli, mendudukkan diri di bangku tak mau menghadap pada Vian yang duduk di sebelah bangkuku.
"Si Hashim nih ngerjain gue," gerutunya menyalahkan si kapten tengil tersebut.
"Ya ngapain kamu ladenin sih?" tanyaku kesal.
Emang ya, anak kelas itu sepertinya tidak suka membuat aku tenang.
"Astagfirullah, ini masih jam sekolah," pekikan kaget yang dibuat-buat berasal dari pintu masuk kelas seketika membuat kita berdua menoleh kompak dengan mata melebar kaget.
"Kalian ya ampun, ngapain berduaan di kelas. Vian, lo kan tanding voli!" teguran dari Natassa membuat aku segera mengelak.
Memang aku tidak melakukan apapun dengan Vian.
"Ah lo, bikin gue hampir jantungan. Tadi gue ambil kaos abu-abu," kata Vian menunjukkan kaos abu-abu di tangannya.
"Nah iya itu, kalian jangan salah paham," kataku menambahi.
Walau aku sedikit menangkap sisi wajah tak suka dari Natassa.
Tapi yang benar-benar bikin aku hampir saja menenggelamkan diri di lautan saat mataku terjatuh melihat seseorang yang berdiri di depan pintu kelas di belakang Natassa dan Rosetta dengan rahang menegas kaku dan kilatan mata yang terdefinisi seolah sebagai tatapan laser.
Dia.
Fariz?!
✿✿✿
🍃Assalamu'alaikum🍃
Disepertiga malamku
terima kasih sebelumnyaa😉