NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase

Minggu pagi datang dengan langit Jakarta yang sedikit mendung. Setelah makan malam yang berakhir dengan pesan ancaman misterius, Devan sama sekali tidak bisa menganggap kejadian itu sebagai kebetulan.

Sepanjang perjalanan pulang, pria itu lebih banyak diam. Sesekali tangannya meremas ponsel yang berada di atas pahanya, sementara pikirannya terus memutar kembali pesan yang diterimanya.

Kalau kau tetap mempertahankan perempuan itu, proyek mobil listrikmu tidak akan pernah sampai ke tahap peluncuran.

Ada seseorang yang sedang mengawasinya.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, orang itu tahu tentang proyek yang bahkan belum diumumkan secara terbuka.

Di sampingnya, Alina duduk tenang sambil memandang keluar jendela.

“Mas Devan.”

“Hm?”

“Kamu masih memikirkan pesan tadi malam?”

Devan terdiam sejenak.

“Iya.”

“Apakah menurutmu ada hubungannya dengan orang di perusahaan?”

“Bisa jadi.”

Alina menoleh. “Kalau begitu, kamu harus hati-hati.”

Devan tersenyum tipis.

“Justru aku yang ingin kamu hati-hati.”

Alina mengernyit.

“Kenapa aku?”

Devan menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.

“Karena orang yang ingin menjatuhkanku mungkin akan berpikir kamu adalah jalan termudah untuk melakukannya.”

Perkataan itu membuat Alina terdiam.

Namun, ia berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh di dadanya.

****

Keesokan harinya, Senin pagi, Alina datang lebih awal ke kantor.

Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, lantai dua belas masih relatif sepi. Ia memanfaatkan waktu tersebut untuk memeriksa kembali dokumen tender proyek Dirgantara City.

Proyek itu merupakan salah satu tender terbesar perusahaan tahun ini. Nilainya mencapai triliunan rupiah. Kesalahan sekecil apa pun dapat membuat perusahaan kehilangan kesempatan besar.

Alina memeriksa satu per satu dokumen.

Proposal teknis.

Lampiran desain.

Jaminan bank.

Rincian penawaran harga.

Dokumen kerahasiaan.

Semuanya lengkap.

Ia kemudian memasukkan dokumen penting ke dalam folder hitam dengan label merah.

“Semoga hari ini semuanya berjalan lancar,” gumamnya.

Tidak jauh dari sana, Clara baru saja tiba.

Perempuan itu berhenti sejenak ketika melihat Alina sedang menyusun dokumen.

Matanya langsung menyipit.

Sejak kejadian di ruang rapat minggu sebelumnya, Clara merasa harga dirinya telah diinjak-injak. Terlebih lagi, ancaman sanksi dari Mbak Maya masih terngiang di kepalanya.

Namun, yang paling membuatnya kesal adalah satu hal.

Alina seolah selalu berada di bawah perlindungan orang-orang penting.

Bahkan pada Minggu sore, Clara secara tidak sengaja melihat Alina turun dari sebuah mobil mewah yang biasa digunakan jajaran direksi.

“Siapa sebenarnya dia?” bisiknya.

Clara menggenggam tali tasnya kuat-kuat.

Ketika Alina beranjak menuju ruang fotokopi, Clara sempat melihat kunci laci meja Alina diletakkan di atas meja.

Hanya beberapa detik.

Namun, penglihatan Clara menangkap semuanya.

Sebuah ide buruk perlahan muncul di kepalanya.

Menjelang pukul sebelas, suasana kantor semakin sibuk. Alina memeriksa kembali dokumen sebelum pergi ke kamar kecil.

“Dokumen ini jangan sampai tertukar,” pesannya kepada Siska.

“Tenang. Aku awasi,” jawab Siska.

Alina mengangguk lalu pergi.

Beberapa menit kemudian, Siska mendapat telepon dari bagian administrasi lantai sembilan dan terpaksa meninggalkan meja.

Kesempatan itu dimanfaatkan Clara.

Ia bangkit perlahan dari kursinya.

Matanya memastikan tidak ada yang memperhatikan.

Kemudian ia berjalan menuju meja Alina.

Tangannya menyentuh laci.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Sekarang kita lihat,” bisiknya, “seberapa kuat perlindunganmu.”

Namun, Clara tidak menyadari satu hal.

Dari balik kaca ruang rapat di ujung koridor, seorang staf keamanan gedung sedang memperhatikannya.

Pria itu melihat Clara berdiri terlalu lama di dekat meja Alina.

Ia mengerutkan dahi.

“Bukankah itu bukan mejanya?”

Sang petugas hendak mendekat.

Namun, pada saat yang sama, telepon di sakunya berdering.

Ia terpaksa mengalihkan perhatian beberapa detik.

Dan ketika kembali menatap ke arah meja Alina ...

Clara sudah tidak ada.

Sementara itu, di kamar kecil, Alina mencuci tangannya tanpa sedikit pun menyadari bahwa dalam beberapa menit ke depan, seluruh hidup profesionalnya akan berubah.

Sebab seseorang baru saja menanamkan perangkap yang dapat menghancurkan kariernya.

Dan yang paling mengerikan. ..

Orang itu bukan orang luar.

Ia berada di ruangan yang sama dengannya.

Alina masih berada didalam kamar mandi dan dia tidak menyadari bahwa dari sudut kubikel eksekutif, Clara telah memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan pandangan penuh dendam yang menyala sejak kedatangannya tadi.

Sejak dipermalukan di ruang rapat dan diancam sanksi oleh Mbak Maya pekan lalu, dendam Clara kepada Alina sudah mencapai puncaknya. Kebencian itu makin membara ketika Clara secara tidak sengaja melihat sebuah mobil mewah berpelat nomor khusus direksi mengantarkan dan menjemput Alina

("Gadis sialan ini pasti punya simpanan orang dalam yang melindunginya!") batin Clara penuh dengki. ("Aku tidak peduli siapa penolongmu, Alina ... hari ini aku akan memastikan kamu ditendang keluar dari gedung ini secara tidak hormat!")

Saat Alina berada di kamar kecil dan Siska sedang pergi ke lantai lain untuk mengambil salinan cetak, Clara melangkah cepat menuju meja Alina. Dengan kelicikan yang terlatih, Clara menggunakan sebuah jepit rambut kawat yang telah dibengkokkan untuk membobol kunci laci meja Alina yang sederhana.

Hanya butuh waktu sepuluh detik bagi Clara untuk membongkar laci tersebut. Tangannya dengan sigap menyambar folder dokumen paling krusial: ("Lembar Lampiran Penawaran Harga Asli dan Kerahasiaan Mendesain Proyek Dirgantara City.")

Clara menyembunyikan folder tersebut di balik blazer hitamnya, mengunci kembali laci meja Alina agar tampak tidak tersentuh, lalu berjalan cepat menuju ruangan mesin penghancur kertas dan ruang penyimpanan berkas bekas di ujung koridor belakang.

Dengan senyum miring yang beracun, Clara menyelipkan folder dokumen vital itu di antara tumpukan dus kertas bekas yang siap diangkut oleh petugas kebersihan gedung ke truk pembuangan pada pukul satu siang nanti.

("Jika berkas penawaran harga ini hilang saat rapat jam dua siang nanti, kamu tidak cuma dipecat, Alina ... kamu akan dituntut atas kelalaian berat yang merugikan perusahaan miliaran rupiah!") gumam Clara penuh kemenangan.

Pukul tiga belas lewat tiga puluh menit. Setengah jam sebelum batas waktu penyerahan berkas ke lantai 20.

Alina duduk di kursi mejanya, merogoh kunci perak dari sakunya, dan membuka laci meja untuk mengambil folder proyek Dirgantara City. Namun, ketika tangannya meraba ke dalam laci, yang ditemukannya hanyalah ruang kosong.

Jantung Alina serasa berhenti berdetak. Wajahnya seketika pucat pasi.

Ia meraba lebih dalam, membongkar seluruh isi lacinya dengan panik. Dokumen vital bernilai triliunan rupiah itu ... telah lenyap tanpa bekas!

"Siska! Siska!" suara Alina bergetar hebat, napasnya terengah-engah oleh rasa panik yang menghantamnya. "Kamu ... kamu ada lihat berkas proposal Dirgantara City yang tadi aku simpan di laci ini tidak?"

Siska yang baru saja kembali dari pantry terkejut melihat wajah Alina yang sepucat mayat. "Lho? Kan tadi kamu sendiri yang menguncinya di laci sebelum ke kamar mandi, Alina! Bukannya ada di situ?"

"Tidak ada, Siska! Laci ini kosong!" jerit Alina pelan, tangannya gemetar hebat.

Mbak Maya yang mendengar kegaduhan itu langsung keluar dari ruangannya dengan raut wajah cemas. "Ada apa ini? Alina, kenapa kamu teriak-teriak?"

"Mbak Maya ... berkas penawaran harga asli dan garansi bank proyek Dirgantara City hilang dari laci saya!" tangis Alina pecah, rasa takut yang luar biasa mencekik tenggorokannya.

"Apa?!" Mbak Maya membelalakkan mata, memegang dadanya yang mendadak sesak. "Bagaimana bisa hilang?! Rapat keputusan dewan direksi bersama Pak Devan dimulai tiga puluh menit lagi!"

Di sudut ruangan, Clara menyandarkan tubuhnya di dinding sambil menyeruput kopi hangatnya, memperlihatkan senyum kemenangan yang terselubung di balik wajah berpura-pura prihatinnya.

Bahaya besar kembali mengepung Alina. Dan kali ini, kerugian yang dipertaruhkan bukan sekadar harga diri, melainkan nasib proyek terbesar perusahaan dan kepercayaan Devan kepadanya.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!