Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Diagnosis yang Meresahkan
Bab 14 - Diagnosis yang Meresahkan
Pagi itu saat terbangun dari tidurnya, Sinta merasakan rasa perih yang luar biasa di area tubuhnya yang paling sensitif. Dampak dari malam Jumat kemarin, di mana Dean benar-benar kehilangan kendali dan mengulanginya berkali-kali, baru terasa efek sampingnya pagi ini. Rasa tidak nyaman itu bahkan membuat Sinta kesulitan untuk sekadar berjalan dengan normal.
Sebagai mahasiswi kedokteran, Sinta tahu betul kalau membiarkan luka atau iritasi tanpa penanganan bisa memicu infeksi. Dia tidak mau mengambil risiko itu. Namun, karena teramat malu jika harus berobat di Rumah Sakit Santika tempatnya bertugas, Sinta sengaja pergi ke rumah sakit swasta lain yang jaraknya cukup jauh saat jam istirahat siang. Dia bahkan menolak diantar oleh Rian dan memilih naik taksi biasa agar tujuannya tidak diketahui oleh suaminya.
Di dalam ruang periksa dokter spesialis kandungan wanita yang bernuansa tenang, Sinta duduk di tepi kursi dengan wajah yang sudah memerah matang sampai ke leher. Dokter paruh baya di hadapannya baru saja selesai melakukan pemeriksaan fisik dan kini sedang menuliskan resep di atas meja kerjanya.
"Nah, Dokter Sinta... sebagai sesama orang medis, kamu pasti sudah paham," ucap dokter senior itu sambil meletakkan penanya, lalu menatap Sinta dengan senyuman maklum yang menggoda. "Bagian intim kamu itu sebenarnya sehat, tidak ada infeksi apa pun. Kondisinya murni hanya lecet dan iritasi jaringan kulit luar karena terlalu banyak menerima tekanan dan gesekan fisik yang intens."
Sinta menundukkan kepalanya sedalam mungkin, rasanya ingin sekali menghilang di bawah kolong meja praktek saat itu juga.
Dokter itu menyerahkan selembar resep dan sebuah tube salep kecil ke arah Sinta, lalu terkekeh pelan. "Lain kali, kalau berhubungan suami istri, tolong komunikasikan dengan pasangannya agar jangan terlalu berlebihan dan jangan terlalu bersemangat. Harus ada jeda waktu pemulihan jaringan. Apa kalian ini pasangan pengantin baru?"
"I-iya, Dok... baru satu bulan," cicit Sinta dengan suara yang nyaris tidak terdengar, buru-buru menyambar salep itu dan memasukkannya ke dalam tas dengan tangan yang gemetar karena malu setengah mati.
"Pantas saja masih sangat bersemangat," canda dokter itu lagi, membuat Sinta buru-buru pamit keluar ruangan sebelum jantungnya meledak saking malunya.
Pukul tujuh malam, Sinta sudah berada di dalam kamar utama penthouse Kuningan. Pintu kamar sengaja dia kunci rapat. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Sinta mengoleskan salep pereda nyeri tersebut ke area intimnya yang lecet. Rasa dingin dari salep itu sedikit mengurangi rasa perihnya, namun beban mental di kepalanya justru semakin berat.
Bagaimana bisa aku bilang ke Pak Suami kalau aku sakit karena dia terlalu bersemangat semalam?! Mau ditaruh di mana mukaku kalau si bapak robot itu tahu diagnosis memalukan ini?! batin Sinta berteriak frustrasi, mondar-mandir di samping ranjang dengan langkah yang masih agak kaku.
Cklek. Tok. Tok. Tok.
Suara gagang pintu yang digerakkan dari luar disusul tiga ketukan konstan yang sangat teratur langsung membuat Sinta melompat kaget ke atas kasur.
"Nona Sinta," panggil suara berat andalannya yang datar dari balik pintu. "Akses masuk kamar utama terkunci kembali. Berdasarkan evaluasi rekonsiliasi kita pada hari Jumat lalu, status karantina wilayah seharusnya sudah dicabut secara permanen. Mohon buka pintunya."
Sinta buru-buru menarik napas panjang, menata ekspresi wajahnya agar kembali terlihat anggun dan kalem, lalu berjalan perlahan untuk membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, sosok tegap Dean Galang Wijaya langsung berdiri di hadapannya. Pria itu sudah melepas jas kerjanya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya? Tetap lempeng tanpa ekspresi.
Namun, begitu Dean melangkah masuk, mata hitamnya yang tajam langsung menangkap ada sesuatu yang aneh dari cara berjalan istrinya. Langkah kaki Sinta tampak sedikit kaku, melebar, dan sangat tidak natural saat mencoba mundur memberi jalan untuknya.
Dean menghentikan langkahnya, lalu menatap Sinta lurus-lurus. "Nona Sinta, cara berjalan kamu aneh malam ini. Langkah kaki kamu agak melebar dan kaku. Kamu sedang sakit?"
Sinta memaksakan senyum manis nan teduh andalannya, meski tangannya di balik punggung sudah meremas kain gaun tidurnya dengan canggung. "A-ah, tidak apa-apa, Pak Dean! Saya sama sekali tidak sakit apa-apa! Ini... ini murni karena saya terlalu lelah setelah seharian berdiri membantu memeriksa pasien anak di poli. Otot kaki saya hanya sedikit tegang, besok pagi juga sudah kembali normal."
Dean tidak bergeming. Dia mencondongkan tubuh kekarnya sedikit lebih dekat, mengunci mata cokelat Sinta dengan tatapan hitamnya yang jujur dan dalam.
"Jangan berbohong. Sebagai dokter, kamu tahu menyembunyikan rasa sakit itu tidak efisien," kata Dean lempeng tanpa dosa, suaranya berat dan menuntut penjelasan. "Wajah kamu merah pekat dan kamu terus menghindari tatapan saya. Katakan dengan jujur, bagian mana yang sakit? Kalau kamu tidak mau bicara, saya terpaksa memanggil tim dokter spesialis keluarga Wijaya ke penthouse ini sekarang juga."
[POV Dean]
Dimensi pergerakannya tidak wajar. Frekuensi kedipan mata Nona Sinta juga meningkat tajam, mengindikasikan ada data kesehatan yang sengaja dia sembunyikan dari saya. Mengapa dia harus menutupi diagnosis penyakitnya dari suaminya sendiri? Sebagai pemilik sah akses legal atas tubuhnya, saya memiliki hak penuh untuk mengetahui setiap kendala fisik yang terjadi agar produktivitas rumah tangga kami tetap terjaga. Wajahnya yang memerah pekat dan gestur tubuhnya yang terus menghindar membuat saya mendeteksi adanya urgensi medis yang misterius. Saya harus terus menuntut laporannya demi kebaikan fisiknya.
Dean maju satu langkah lagi, membuat jarak mereka semakin terkikis habis. "Nona Sinta, saya butuh jawaban akurat sekarang. Bagian tubuh mana yang mengalami cedera? Apakah punggung? Panggul? Atau—"
"Pak Dean, stop!" bentak Sinta tiba-tiba, memotong kalimat suaminya dengan nada tinggi.
Wajah Sinta sudah memerah padam sampai ke batas leher, menahan rasa malu yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Topeng anggun, kalem, dan penurut yang dia jaga mati-matian malam ini langsung runtuh berantakan. Rasa frustrasi karena terus-menerus dikejar pertanyaan memalukan membuat emosinya meledak begitu saja.
Sinta berkacak pinggang, menatap tajam ke arah wajah lempeng suaminya. "Anda ini kenapa cerewet sekali sih?! Bisa tidak stop bertanya?!"
Dean langsung tersentak di tempatnya berdiri. Pria kaku itu mengerjap sekali, benar-benar terkejut. Sepanjang hidupnya, belum pernah ada satu orang pun di dunia ini—baik di papan direksi korporat maupun di lingkungan keluarga—yang berani membentaknya dengan suara selantang itu.
Ditambah lagi, tuduhan bahwa dirinya "cerewet" terasa sangat tidak logis bagi sistem otaknya yang biasanya sangat hemat kata.
"Nona Sinta, saya hanya melakukan prosedur investigasi medis demi efisiensi—"
"Tidak ada prosedur-proseduran!" potong Sinta lagi dengan napas yang memburu, matanya melotot gemas. "Saya bilang saya tidak apa-apa, ya tidak apa-apa! Pokoknya kalau Anda terus-menerus bertanya dan tidak mau diam... malam ini Anda tidur di luar! Silakan kembali ke sofa ruang tamu!"
Setelah meluapkan ancaman maut itu, Sinta langsung berbalik memunggungi Dean, menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan bibir yang mengerucut cemberut. Dia benar-benar malu setengah mati.
Jantungnya berdegup kencang bukan karena marah, melainkan karena takut jika sedetik saja dia lengah, suaminya yang super jeli itu akan tahu diagnosis asli dari dokter kandungan tadi siang.
Sementara itu, di belakangnya, sang CEO Wijaya Group yang sanggup menggoncang bursa saham metropolitan kini benar-benar membeku total layaknya komputer yang kehabisan memori.
Ancaman "tidur di luar" seketika memicu alarm bahaya di kepalanya, teringat kembali bagaimana tersiksanya otot punggungnya saat tidur di sofa sempit tempo hari.
Dean memegangi tengkuknya yang tidak gatal dengan gerakan yang luar biasa canggung. Wajahnya tetap lempeng, namun kedua daun telinganya dalam sekejap langsung berubah menjadi merah padam yang sangat pekat.
Untuk pertama kalinya, seorang Dean Galang Wijaya mendadak bungkam dan memilih mengalah total tanpa syarat, demi mengamankan hak akses ranjangnya malam ini dari amukan istrinya yang sedang menyembunyikan rahasia besar.