NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Jejak yang Tersembunyi di Lereng Gunung

Perjalanan menuju lereng Gunung Sumbing memakan waktu hampir empat jam dari kota. Jalan berkelok menanjak perlahan berubah dari aspal mulus menjadi jalan tanah berbatu, di kiri-kanannya membentang perkebunan kopi yang hijau bergelombang berselang dengan hutan lindung yang rimbun. Di dalam mobil tua milik Dimas, Lala duduk di dekat jendela dengan mata tak berkedip menyerap setiap pemandangan, sementara Bagas di sampingnya sibuk membolak-balik buku catatan tebal peninggalan Bu Wulan, sesekali mencoret-coret kertas kecil dengan pensilnya.

“Kata Ayah, Nenek Buyut pertama kali menemukan biji Kopi Melati di hutan sekitar sini, kan?” tanya Lala pelan sambil menunjuk ke arah lembah yang tertutup kabut tipis. “Rasanya aneh ya… rasakan sendiri tempat di mana semuanya dimulai.”

Bagas mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. “Catatan Nenek Wulan bilang tanah di ketinggian seribu dua ratus meter ini punya kandungan mineral paling pas. Tapi tiga tahun terakhir curah hujan turun dua puluh persen. Aku mau cek apakah akar pohon-pohon tua masih bisa menjangkau air tanah.”

Saat mobil tiba di balai desa, kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat sudah menunggu dengan wajah cemas. Banyak dari mereka yang sudah mengenal keluarga Saraswati selama puluhan tahun, tapi tatapan mereka kini bercampur ragu saat melihat dua remaja yang ditugaskan orang tua mereka turun ke lapangan. Salah satu petani tua bahkan bergumam pelan namun cukup terdengar: “Masih bocah. Apa mereka ngerti apa-apa soal tanah dan pohon?”

Lala mendengarnya jelas. Ia tidak marah. Ia justru melepas jaketnya, melipat lengan kemejanya, lalu berjalan mendekat ke petani tua itu dengan senyum ramah. “Pak, saya Lala. Saya kecil memang, tapi sejak umur tujuh tahun saya sudah ikut Nenek Denok memetik melati, ikut Ayah memanen kopi, dan hafal di luar kepala mana biji yang baik mana yang busuk. Bolehkah saya diajak melihat kebun Bapak yang pohonnya mulai menguning? Saya janji tidak akan banyak bicara sebelum melihat sendiri masalahnya.”

Kejujuran dan keberanian gadis itu sedikit meluluhkan keraguan warga. Satu jam kemudian, Lala sudah berjalan menyusuri barisan pohon kopi tua di kebun milik Pak Tua Slamet, berlutut di tanah berlumpur, memeriksa batang pohon yang mulai berjamur, mengorek sedikit tanah untuk melihat akarnya. Di tempat yang berbeda, Bagas berjalan sendirian dengan alat ukur tanah sederhana, berhenti setiap beberapa langkah untuk mengambil sampel tanah, mencatat warna, tekstur, dan kelembapannya di buku catatannya.

“Pohon ini tidak sakit karena hama, Pak,” kata Lala akhirnya bangkit berdiri, menyeka keringat di dahi. “Dia sakit karena akarnya tidak lagi cukup dalam menjangkau air. Curah hujan makin sedikit, tapi cara kita menyiram masih sama seperti dua puluh tahun lalu. Kita perlu buat parit resapan baru di setiap baris pohon, bukan cuma mengalirkan air begitu saja dari sungai.”

Sementara itu, Bagas kembali dengan temuan yang lebih mengkhawatirkan. Ia menunjukkan sepotong kayu bekas tebangan pohon besar yang ia temukan di batas hutan lindung. “Lihat bekas potongannya, Kak. Ini bukan ditebang dengan kapak warga desa. Ini pakai gergaji mesin besar. Dan tanah di sekitarnya ada bekas roda truk berat. Orang yang melakukan ini bukan dari sini. Mereka datang dari kota, punya peralatan lengkap, dan tahu betul area mana yang tidak diawasi rutin.”

Malam harinya, saat desa mulai terlelap, Lala dan Bagas memutuskan untuk menyelinap diam-diam ke area hutan lindung yang dilaporkan sering didatangi orang asing. Mereka berjalan pelan di bawah cahaya bulan redup, mengikuti jejak roda yang masih jelas tercetak di tanah lembap. Belum sampai lima ratus meter, suara deru mesin gergaji dan tawa kasar laki-laki terdengar dari balik rimbunnya pepohonan.

“Cepat potong saja! Besok pagi truk akan angkut semua kayunya, lalu besok sore kita tanam bibit kopi di sini. Bilang saja pada warga kalau ini perintah dari kantor pusat Saraswati. Siapa yang berani melawan?” suara seorang laki-laki terdengar angkuh.

Lala meremas tangan Bagas erat-erat. Jantungnya berdetak kencang, tapi ia tidak mundur. Ia perlahan mengintip dari balik batang pohon besar, dan napasnya tersekat. Di sana, tiga orang laki-laki bertato sedang sibuk menebang pohon besar, sementara di dekatnya terparkir sebuah truk tertutup dengan logo yang samar-samar terlihat — lambang bunga melati yang bentuknya sedikit dimiringkan, persis meniru logo perusahaan mereka, tapi dengan warna yang lebih gelap.

Saat salah satu laki-laki itu berbalik ke arah persembunyian mereka, Bagas menarik kakaknya bersembunyi lebih dalam ke semak-semak. Sayangnya, gerakan itu menginjak ranting kering yang berbunyi nyaring.

“Siapa di sana?!” teriak salah satu laki-laki itu, langsung mematikan gergajinya dan mengambil tongkat kayu.

Lara dan Bagas saling berpandangan. Mereka tahu tidak mungkin lari lebih cepat dari orang dewasa di medan yang tidak mereka kenal. Saat ketiga laki-laki itu sudah berjalan mendekat dengan langkah berat, tiba-tiba sebuah suara wanita tegas memecah kegelapan dari arah berlawanan.

“Mencari siapa, Bang?”

Seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh tahun melangkah keluar dari balik pohon, membawa cangkul di bahunya, wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Di baliknya, dua anjing penjaga desa menggeram rendah memperlihatkan gigi taringnya. “Ini wilayah warga desa. Tidak boleh ada orang asing masuk apalagi menebang pohon sembarangan. Lebih baik kalian pergi sekarang sebelum warga lain bangun dan mengeroyok kalian.”

Ketiga laki-laki itu tampak ragu. Mereka saling berpandangan, lalu akhirnya mengumpulkan alat-alat mereka, naik ke truk, dan pergi dengan suara mesin yang menderu kasar.

Setelah truk itu benar-benar hilang dari pandangan, perempuan itu berbalik ke arah semak tempat Lala dan Bagas bersembunyi. “Kalian bisa keluar sekarang. Mereka sudah pergi.”

Lala bangkit berdiri dengan wajah malu-malu namun bersyukur. “Terima kasih banyak ya, Mbak. Kami… kami mau melihat area yang sering dimasuki orang asing itu.”

Perempuan itu tersenyum tipis. Cahaya bulan memperlihatkan wajahnya yang tegas namun baik hati. “Aku Sari. Cucu Mbah Darmo. Kakekku sering bercerita soal keluarga Saraswati. Aku tahu kalian siapa. Ayo ke rumahku saja. Ada yang harus aku sampaikan pada kalian. Sesuatu yang sudah kusimpan sendiri selama tiga bulan terakhir.”

Di rumah kayu Sari yang sederhana hangat, setelah disuguhi teh hangat dan pisang goreng, perempuan itu akhirnya bercerita. Ayahnya meninggal dua tahun lalu karena sakit, kini ia hidup bersama ibunya dan adik laki-lakinya yang berusia delapan tahun yang menderita penyakit jantung bawaan. Biaya pengobatan adiknya sangat besar, jauh melebihi penghasilannya sebagai petani kopi.

“Tiga bulan lalu, seorang pria dari kota datang menemuiku,” suara Sari pelan, matanya menunduk malu. “Dia namanya Kevin. Dia bilang dia bekerja untuk kelompok bisnis baru yang mau mengembangkan kopi di daerah ini. Dia mau membayar semua biaya operasi adikku, asalkan aku mau membantunya: memberi tahu dia jadwal patroli hutan, menyebarkan bibit kopi tiruan ke petani yang membutuhkan uang cepat, dan mengaku-ngaku bahwa semua perintah itu datang dari kantor pusat Saraswati. Aku tahu ini salah… tapi adikku bisa mati kalau tidak segera dioperasi. Aku tidak punya pilihan lain.”

Lala bangkit berdiri dan berjalan mendekati Sari. Alih-alih marah, gadis remaja itu justru menggenggam tangan perempuan itu erat-erat. “Kamu tidak sendirian, Mbak. Mulai hari ini, biaya operasi adikmu kita urus bersama. Perusahaan punya program dana kemanusiaan untuk keluarga petani yang sakit. Aku sendiri yang akan bicara pada Ibu supaya prosesnya dipercepat. Tapi tolong bantu kami juga. Bantu kami buka siapa sebenarnya Kevin itu, dan seberapa jauh rencana mereka.”

Sari mengangkat wajah, air matanya menetes deras. Ia mengangguk berulang kali, lalu bangkit mengambil sebuah kotak kaleng tua dari bawah tempat tidurnya. Di dalamnya ada beberapa lembar foto yang diam-diam ia ambil saat kelompok itu tidak melihat, dan selembar kertas nota pengiriman kopi tiruan yang terlempar dari truk mereka.

Bagas segera mengambil kertas itu, mempelajarinya dengan saksama di bawah cahaya lampu minyak. Tiba-tiba jemarinya berhenti di satu sudut kertas yang hampir terlipat. Di sana, tercetak sangat kecil kode gudang yang diawali huruf D-R-M-W-N.

“Kak Lala,” bisik Bagas dengan suara bergetar, menunjuk kode itu. “Ini bukan kode acak. Ayah pernah tunjukkan arsip lama kasus Rama Darmawan dulu. Kode gudang keluarga mereka selalu pakai singkatan nama keluarga: D-R-M-W-N. Darmawan.”

Udara di ruangan itu seketika terasa dingin. Lala merasakan bulu kuduknya meremang. Ternyata dendam lama yang mereka kira sudah berakhir sepuluh tahun lalu, belum benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi, berubah wujud, tumbuh perlahan di balik bayang-bayang, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kembali — kali ini tidak dengan terang-terangan, tapi dengan merusak akar paling dalam dari semua yang dibangun keluarga Saraswati: alam, kepercayaan, dan persatuan masyarakat.

Malam itu juga, Lala mengirim pesan panjang pada Ayah dan Ibu di kota, melampirkan semua bukti yang mereka dapatkan. Di akhir pesannya, gadis remaja itu menulis satu kalimat yang penuh tekad:

Ayah, Ibu… kami tidak akan pulang sebelum kami memastikan warisan ini aman. Kami janji. Seperti yang selalu kalian ajarkan: kita lindungi akarnya, maka dahan dan buahnya akan tumbuh dengan sendirinya.

Di kejauhan, di balik kabut gunung yang tebal, truk kelompok Kevin itu terus melaju menuju kota. Di dalamnya, seorang pria muda dengan wajah mirip Rama Darmawan tersenyum sinis sambil memutar-mutar cincin berlogo keluarga di jarinya. Ia baru saja menerima pesan bahwa dua cucu Agung dan Larasati ada di desa itu.

“Bagus,” gumamnya pelan. “Biarkan mereka bermain dulu di gunung. Biarkan mereka melihat sedikit betapa rapuhnya kerajaan besar keluargamu, Agung. Saat waktunya tiba… aku akan menghancurkan semuanya sampai ke akar-akarnya, persis seperti yang dulu mereka lakukan pada pamanku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!