Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Pagi-pagi sekali saat Mirrela terbangun, Zavian sudah tidak ada di kamar. Di rumah juga. Ayah tiri dan ibunya sudah tidak ada. Kata pembantu keduanya pergi pagi-pagi sekali. Jadi Mirrela pikir itu pasti urusan kantor. Dia bernafas lega. Lebih nyaman sendiri memang, karena ayah tirinya dan ibunya sama-sama membuatnya tidak nyaman berada dekat mereka.
Hari ini hari pertama ia masuk sekolah setelah liburan semester kemaren. Tiga tahun bersekolah di SMA elit itu, hampir tidak ada yang mengenali dia. Sebenarnya teman-teman sekelasnya kenal, tapi pura-pura tidak kenal. Mirrela tidak peduli. Dia sudah menyendiri selama dua tahun lebih di sekolah ini, jadi tidak masalah baginya.
Pagi itu sopir daddy Zavian yang mengantarnya, tapi Mirrela suruh berhenti di jarak aman biar gak ada yang lihat dia turun dari mobil mewah. Dia tidak ingin terlihat. Dari dulu juga kan sudah biasa dia ke sekolah sendiri. Baru hari ini doang dia di anterin sopir pribadi dari kediaman ayah tirinya. Dia akui daddy Zavian cukup baik. Kalau itu laki-laki lain, pasti dia sudah tidak perawan lagi begitu disodorkan oleh bundanya.
Mirella menghela napas lega saat menutup pintu mobil itu pelan-pelan, lalu berjalan cepat menuju gerbang sekolah, menunduk sedikit agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Jantungnya berdetak tenang untuk pertama kalinya sejak kemarin.
Ia melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan langkah ringan, tas punggungnya tersampir di satu bahu. Udara pagi di sini terasa berbeda, lebih segar, lebih bebas. Di sini tidak ada Viona, tidak ada ancaman Austria, tidak ada perintah yang membuatnya merasa berdosa. Di sini ia hanya Mirella, bukan alat tawar-menawar, bukan putri yang gagal memenuhi ekspektasi ibunya.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat ia berjalan menyusuri koridor menuju kelas, langkah kakinya melambat perlahan. Beberapa teman sekelas yang berpapasan dengannya langsung memalingkan wajah, berbisik pelan satu sama lain sambil menunjuk ke arahnya sekilas lalu buru-buru berjalan pergi.
Seperti biasa. Sejak dulu selalu begitu. Mirella bukan orang yang dibenci, ia hanya ... tidak ada. Ia seperti bayangan yang berjalan di antara mereka, terlihat namun tak pernah benar-benar diakui keberadaannya.
Ia duduk di bangku paling belakang, dekat jendela, tempat yang sudah menjadi wilayahnya selama tiga tahun ini. Di meja tertulis coretan-coretan samar dari tahun lalu, dan ia tersenyum tipis melihatnya, setidaknya meja ini setia menunggunya kembali.
Tak lama kemudian, ia melihat sosok cowok jangkung dengan ketampanan di atas luar biasa memasuki kelas. Namanya Bara. Cowok populer sekolah ini yang sangat diidolakan para cewek-cewek. Dari kelas X Bara sudah populer. Tapi mereka baru sekelas setelah di kelas XII.
Sebenarnya Mirrela juga diam-diam mengagumi Bara. Dari kelas X. Bukan tanpa alasan, karena cowok itu pernah nolongin dia yang hampir ketabrak mobil dulu. Tapi cowok itu pasti sudah lupa. Ya pasti lupalah.
Dia kan bukan orang penting. Sudah tiga bulan ini mereka berada di kelas yang sama, tapi belum ada interaksi sama sekali. Karena dia selalu duduk di sudut paling belakang, sendirian. Dan tak ada yang peduli dengan keberadaannya.
"Bara! Nih, surat cinta lagi. Ya ampun, berapa banyak surat cinta sih yang lo dapat pagi ini. Mereka nggak capek apa kirimin surat yang di baca aja ogah sama orangnya!" Seru Juan, sahabat Bara dari orok. Mereka selalu bersama sejak kecil.
Bara hanya tertawa kecil. Bahkan tawanya saja sangat menawan. Cowok itu duduk di bangku bagian tengah. Kalau di urutkan, tidak terlalu jauh dari bangku Mirrela di paling belakang sudut kiri. Mirrela diam-diam memperhatikan para sahabat itu berbincang asyik.
"Nih lagi, ngasih coklat. Lo kan alergi coklat. Masa nggak tahu? Katanya nge-fans." kali Rey, cowok yang duduk di bangku depan bangku Bara dan Juan.
Bara hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, lalu menyodorkan coklat itu ke Rey.
"Udah, buat lo aja. Lumayan kan, daripada terbuang sia-sia."
"Asyik! Makasih bro!" Rey menyambarnya dengan senang hati, sementara Juan tertawa menepuk punggung Bara.
"Lo emang paling sabar ngadepin mereka. Kalau gue, udah gue tolak dari awal. Capek dikejar-kejar orang yang gue kenal aja nggak," celetuk Juan.
Bara hanya diam. Dia tidak menyadari sama sekali ada pasang mata yang diam-diam memperhatikannya. Tak lama setelah itu, teman mereka yang lain masuk membawa bola kaki. Devon, si paling tim sepakbola garis keras. Idola sekolah juga kayak Bara. Tapi playboy
Devon masuk sambil memainkan bola di tangannya. Saat ia hendak melempar bola tersebut ke arah kawan-kawannya, bola tersebut melenceng dan tidak sengaja mengenai kepala Mirrela. Mirrela kaget. Sakit? Iya. Tapi itu tidak penting. Karena dia tidak senang kini semua orang melihat ke arahnya, termasuk Bara.
Bola itu menghantam samping kepalanya cukup keras, membuat Mirella tersentak kaget dan tubuhnya terhuyung sedikit ke samping. Suara benturan itu terdengar nyaring di ruangan yang tadi riuh rendah, membuat seluruh kelas hening seketika. Semua mata tertuju padanya, mata yang menatap dengan rasa penasaran, iba, dan sedikit geli karena ia tiba-tiba menjadi pusat perhatian.
Wajah Mirella memerah seketika, panas menjalar dari leher hingga ke ujung telinganya. Ia menunduk cepat.
"Ups, maaf! Gue nggak sengaja!" seru Devon santai, berjalan mendekat sambil mengambil bola yang menggelinding jatuh di lantai dekat kakinya. Ia tersenyum lebar, seakan hal itu hanyalah kejadian sepele yang tak perlu dipermasalahkan.
"Maaf ya, nggak sakit kan manis?"
Senyum itu membuat Mirrela makin kesal. Seolah-olah rasa sakit yang ia rasakan sama sekali tidak berarti. Semua orang menunggu reaksinya, dan ia tahu apapun yang ia lakukan akan terlihat salah. Kalau ia marah, mereka akan bilang dia sensasional. Kalau ia diam, mereka akan bilang dia aneh.
Dengan jantung berdebar kencang, Mirella bangkit berdiri mendadak. Tanpa sadar, ia mendorong bahu Devon kuat, sangat kuat, lalu berbalik dan berlari keluar kelas secepat mungkin, meninggalkan tasnya yang masih tergeletak di atas meja. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin pergi dari sana, dari tatapan mereka, dari rasa malu.
Suara bisik-bisik mulai terdengar pelan begitu ia menghilang di ambang pintu.
"Ya ampun, kenapa dia?"
"Kan cuma nggak sengaja, gitu banget reaksinya."
"Aneh banget sih cewek itu."
"Mungkin lagi PMS kali, siapa tahu."
Tawa tertahan terdengar di antara mereka. Devon mengangkat bahunya, masih dengan senyum yang tidak berubah.
"Lah, gue kan udah minta maaf. Kenapa lari sih?"
Hanya satu orang yang tidak ikut tertawa atau berkomentar. Bara duduk diam di bangkunya, pandangannya mengikuti sosok Mirella yang menghilang di ujung lorong. Ia tidak menertawakan gadis itu, tidak juga menganggapnya aneh. Ia hanya menatap lama ke arah pintu yang tertutup itu.
"Sudah, jangan dibahas terus," ucapnya pelan, lalu mengalihkan pandangan ke buku di atas mejanya, meski pikirannya tak sepenuhnya di sana.
zavian jangan takut sama ancaman wanita iblis itu, kasian hidupnya mirella sangat menderita. penuh tekanan dan ancaman ibunya yg gila dan stress itu🤭
daddy zavian merasa kasian dan prihatin sama mirella punya ibu sakit jiwa dan stress itu, makanya daddy zavian tidak akan membiarkan mirella menderita. akan menjaga dan melindunginya..
hanya daddy zavian dan bara sangat peduli dan perhatian sama mirella, daddy davian berangkat kerja viona pasti akan marah dan memaki-maki mirella.
viona emang gila dan stress anak kandung sendiri diperlakukan seperti anak tirinya, ibu macam apa viona itu tidak sayang dan perhatian sama mirella...
mirella sangst lemah dan tidak berdaya selali nurut ancaman viona, sabar ya mirella suatu nanti kamu berhak bahagia...
lanjut mae..
ditunggu updatenya lagi...
zavian ayah tiri yg baik👍
bisa gak zavian tetap jd ayah tiri ny mirrela aja, jng nyimpang2 ke ayah tiri cinta ke ank,, emg sih cerita kk mae bnyak pria dewasa suka sama gadis kecil cinta beda usiaaaaaa jauhhh bnget ,, tp kan status ny gak ad hubungan gitu,,
kan mirrela bisa sama bara yg jg baik🙏🙏🙏🙏🙏🙏