Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan ibu devan
Suara hitungan mundur dari remote bom waktu yang dipegang Marcus berkedip merah terang, memancarkan bunyi yang makin cepat dan memekakkan telinga.
BIP! BIP! BIP!
"Sepuluh detik!" teriak Rian panik sambil melepaskan cengkeramannya dari salah satu pengawal London. "Bangunan ini mau diledakkan! Kita harus kabur sekarang!"
Marcus tertawa dingin sambil melangkah mundur menerobos sisa pintu yang hancur, berlari keluar menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggunya di luar halaman bersama Reno yang merayap ketakutan.
"Cabut! Cepat cabut!" teriak Bimo histeris kepada seluruh anak-anak geng motor. "Jangan ada yang tinggal!"
Semua orang kocar-kacir berlari menyelamatkan diri keluar dari bangunan tua tersebut. Namun, di tengah kepanikan yang luar biasa itu, langkah Devan dan Aura justru terhalang oleh reruntuhan balok beton besar yang runtuh akibat guncangan ledakan di bawah lantai, menimpa kaki kanan Devan hingga terjepit erat.
"Aaghh!" erang Devan tertahan, mencoba mendorong balok beton berat itu dengan sisa tenaganya, tapi luka di bahu dan tangannya membuat tenaganya habis.
"Devan!" jerit Aura panik setengah mati. Gadis itu langsung berlutut di sebelah Devan, mencoba sekuat tenaga mengangkat balok beton tersebut dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Tahan, Devan! Aku bantu angkat!"
"Jangan, Aura! Jangan dipaksa!" cegah Devan dengan napas memburu. Keringat dingin bercucuran di dahi cowok itu. Ia menatap Aura dengan mata yang dipenuhi rasa penyesalan yang teramat mendalam.
"Waktu tinggal tiga detik! Kamu harus lari sekarang, Aura! Tinggalkan aku!"
"Nggak! Aku nggak mau!" tangis Aura pecah, air matanya tumpah membasahi pipinya. Ia menolak beranjak, terus mencengkeram tangan Devan erat-erat.
"Kalau kamu nggak bisa keluar dari sini, aku juga nggak mau pergi! Kita keluar bareng atau mati bareng, Devan!"
Mendengar ucapan nekat Aura, dada Devan terasa dihantam palu besar. Penyesalan yang luar biasa menusuk tajam ke dalam hatinya.
Selama ini, ia selalu bersikap keras, membentengi diri mati-matian, mendorong Aura menjauh dengan alasan demi melindungi keselamatan gadis itu.
Tapi kenyataannya? Sikap egoisnya yang terlalu keras justru berulang kali membuat Aura berada di ambang bahaya dan terluka karenanya.
"Bodoh... kamu bodoh banget, Aura..." bisik Devan serak, air matanya akhirnya menetes melewati pipinya yang berlumuran debu dan darah.
"Selama ini aku selalu berpikir kalau bersikap dingin dan menjauhi kamu adalah cara terbaik buat melindungi kamu... Tapi aku salah. Aku cuma bikin kamu menderita dan hampir kehilangan nyawa kamu berkali-kali."
"Udah, jangan ngomong yang aneh-aneh!" potong Aura sambil terus berusaha mendorong balok beton dengan sisa tenaganya. "Selamatkan diri kamu, Devan! Tolong..."
"Nggak," kata Devan lembut namun penuh keputusan mutlak.
Di sisa detik penghabisan itu, Devan mengerahkan seluruh kekuatan terakhir dari lengannya yang terluka. Ia mendorong sekuat tenaga balok beton yang menimpa kakinya, mengabaikan rasa sakit luar biasa di tulangnya, lalu merengkuh tubuh Aura ke dalam pelukannya erat-erat.
Devan membalikkan posisi tubuh mereka, menjadikan dadanya sebagai perisai pelindung bagi Aura, tepat saat penghitung waktu menunjukkan angka nol.
BOOM!
Sebuah ledakan dahsyat menghantam bangunan tua itu, menerbangkan kobaran api dan serpihan kayu ke udara malam yang gelap.
Tiga hari kemudian.
Suasana di dalam ruang rawat VIP Rumah Sakit Medika terasa sangat tenang, suara tetesan cairan infus yang konstan. Aroma karbol dan obat-obatan mendominasi ruangan tersebut.
Aura perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya. Cahaya putih lampu ruangan menyapa retinanya yang masih terasa agak berat. Ia menggerakkan jari-jarinya, lalu mendapati dirinya berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selimut hangat menutupi tubuhnya.
"Ra? Kamu sudah sadar?"
Suara serak yang amat familiar menyapa telinganya.
Aura menoleh pelan ke arah samping ranjang. Di sana, Devan duduk di kursi kayu dengan tangan kiri yang digantung pakai kain perban medis dan beberapa plester luka menempel di pelipisnya.
Wajah cowok itu tampak sangat pucat, tapi matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa saat melihat Aura membuka mata.
"Devan..." bisik Aura lirih, suaranya terdengar sangat parau. "Kita... kita selamat?"
"Iya, Ra. Kita selamat," jawab Devan lembut. Ia mengulurkan tangan kanannya yang bebas untuk mengusap lembut jemari Aura.
"Bimo sama Rian berhasil menarik kita keluar sebelum api membesar malam itu."
Aura menatap wajah Devan lekat-lekat. Ingatan tentang ledakan dan penyesalan Devan sebelum bom itu meledak kembali berputar di kepalanya.
"Devan... soal apa yang kamu bilang waktu itu... tentang kamu yang menyesal karena terlalu keras membentengi diri..."
Devan menunduk sejenak, menghela napas panjang. Ia merapatkan genggaman tangannya di jemari Aura.
"Aku benar-benar menyesal, Aura," kata Devan tulus, suaranya bergetar halus sarat akan ketulusan yang mendalam.
"Aku terlalu takut kehilangan kamu sampai-sampai aku hampir bikin kamu hancur. Aku terlalu egois menolak perasaan aku sendiri, padahal dari hari pertama aku melihat kamu... aku tahu hidup aku cuma buat kamu."
Aura tersenyum tipis, air mata haru menetes di sudut matanya. Ia meremas balik tangan Devan.
"Aku nggak pernah menganggap kamu egois, van. Aku cuma mau kamu jujur sama diri kamu sendiri."
"Mulai sekarang, aku nggak akan pernah lari lagi," janji Devan sambil menatap lurus mata Aura tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Nggak ada lagi benteng, nggak ada lagi rahasia. Aku mau berdiri di samping kamu secara terang-terangan, seperti yang kamu mau."
Aura mengangguk bahagia, hatinya terasa sangat hangat dan lapang mendengar janji suci dari cowok yang paling dicintainya itu.
Namun, kedamaian di dalam kamar rawat itu mendadak terganggu ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu.
Seorang wanita paruh baya berbusana elegan bergaya bangsawan Eropa—ibu kandung Devan yang baru saja dibebaskan dari tahanan Interpol di London berkat bantuan aset yang dikembalikan—berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin dan air mata berlinang. Di belakangnya, dua pengawal berdiri mengawal ketat.
Ibu Devan menatap tajam ke arah Aura, lalu beralih menatap Devan dengan tatapan penuh tuntutan yang sangat tajam.
"Devan," suara wanita itu menggema tegas di dalam kamar.
"Semua masalah hukum keluarga kita sudah selesai. Sekarang, kemasi barang-barang kamu. Pesawat pribadi kita ke London sudah menunggu di bandara sore ini."
Aura dan Devan seketika membeku di tempat mereka.
Bersambung.....