Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GENGGAMAN YANG TERLEPAS
Anaxa tertegun mendengar ucapan Alya. Dia kembali membuka mulut berniat melontarkan kata-kata yang membuat gadis itu tidak benar-benar pergi. Namun yang terjadi justru Alya yang membalikkan badan dan berjalan kembali ke kamar Anaxa.
"Brak!"
Anaxa lekas bangkit dari duduk dan menyusul Alya. Saat Anaxa mencoba membuka pintu kamarnya ternyata sama sekali tak bisa dibuka karena Alya mengunci nya dari dalam.
Anaxa yang panik sekaligus ketakutan akan reaksi Alya, menggedor beberapa kali pintu kamarnya dengan harapan agar gadis itu membukanya. "Alya. Tunggu... Aku bisa jelaskan tentang kejadian tadi. Tolong buka dulu pintunya" Teriak Anaxa frustasi.
Namun Alya sama sekali tidak membukakan pintu kamar Anaxa. Gadis itu membiarkan Anaxa terus berteriak memanggil namanya sambil menggedor pintu berulang kali.
Sampai beberapa saat kemudian pintu pun kembali terbuka. "Alya! Akhirnya kamu buka juga." Ucap Anaxa yang sedikit lega setelah melihat kembali sosok gadis itu. Tapi yang terjadi setelahnya sangat diluar dugaan.
Alya langsung menyodorkan begitu saja pakaian yang sempat dirinya pinjam ke dada Anaxa, dan gadis itu mendorong Anaxa menjauh dari hadapan nya.
"Alya?!"
Dan gadis itu melangkah melewati Anaxa tanpa mengindahkan perkataan nya.
"Alya! Tunggu. Tolong jangan pergi dulu." Anaxa mengejar Alya. Tepat sebelum gadis itu menjulurkan tangan untuk membuka pintu, tangan Anaxa lebih dahulu menggenggam lengan Alya dan menariknya pelan, membuat pergerakan gadis itu mau tak mau terhenti.
Alya membalikkan badan menghadap Anaxa, lalu menatap dengan sorot mata yang masih sulit di baca oleh Anaxa.
"Aku minta maaf. Aku... Aku... Agh! Oke aku mengaku kalau diriku keterlaluan. Jangan pergi dulu, Alya. Aku minta maaf. Sungguh..."
Awalnya Anaxa mengira jika Alya akan tinggal di kos nya sedikit lebih lama setelah Anaxa meminta maaf atas kesalahan nya. Tetapi yang terjadi malah... Alya menggelengkan kepalanya, lalu memasang senyum lemah. Gadis itu berkata. "Bukan minta maaf ke aku. Tapi Keenan." Dan setelah berkata seperti itu, Alya melepaskan genggaman tangan Anaxa di lengan nya. Melihat perilaku Alya, tangan Anaxa seolah bergerak sendiri untuk kembali menggenggam lengan Alya, namun gadis itu langsung menepis tangan Anaxa.
"Serius Anaxa. Aku harus pergi sekarang."
Anaxa menangkap perubahan nada bicara Alya yang menjadi lebih dingin. Dan entah kenapa malah membuat dirinya lebih terpukul dibandingkan kata maki-makian oleh Keenan.
"Alya..." Anaxa masih berharap kalau Alya akan berubah pikiran. Tetapi harapan nya langsung sirna. Alya membuka pintu kos Anaxa, memakai sepatunya dengan cepat, lalu pergi keluar tanpa pamit. Gadis itu yang membuat Anaxa kini berdiri mematung.
Dan baru kali ini, Anaxa sama sekali tidak tahu dirinya harus bereaksi seperti apa. Biasanya otaknya akan dengan cepat menemukan solusi-solusi jenius untuk menyelesaikan masalah apapun yang menimpa dirinya. Dan sayangnya otak Anaxa sama sekali tidak menemukan cara yang cukup masuk akal untuk memperbaiki masalahnya dengan Keenan atau bahkan membuat Alya tidak meninggalkan dirinya begitu saja.
Lalu Anaxa kembali mengingat sebuah fakta. Bahwa dirinya belum pernah punya hubungan pertemanan seperti Alya, Ribka, Keenan, dan Dimas. Dan Anaxa baru saja menghancurkan sesuatu yang tanpa disadari sangat-sangat berharga, bahkan perlahan-lahan mulai mempengaruhi kehidupan Anaxa selama ini
Dengan panik, Anaxa mengeluarkan ponsel, dan langsung menelepon Keenan. Pria itu berharap agar temannya cepat membalas panggilan telepon tersebut.
Baru beberapa saat Anaxa menunggu, namun panggilan teleponnya malah diputuskan sepihak oleh Keenan. Anaxa yang menghadapi penolakan kembali memencet tombol telepon. Dan nasibnya sama seperti yang pertama, panggilan telepon Anaxa diputus sepihak lagi.
Kali ini Anaxa ganti membuka room chat Keenan dan mengetikkan permintaan maaf.
Seolah-olah dewa mengutuk Anaxa dengan nasib buruk, sebelum sempat jari kurus pria itu mengetik permintaan maaf lebih dalam lagi, nomer Anaxa malah di block oleh Keenan.
Hal itu langsung membuat rasa frustasi Anaxa melonjak tinggi. Dia berniat untuk menelepon teman-teman nya yang lain. Tetapi Anaxa malah seperti kena samber petir. Anaxa baru ingat bahwa dirinya tidak punya kontak yang lain. Dia hanya mempunyai kontak Keenan, itupun juga karena rengekan Keenan yang sangat berisik dan bersikeras untuk bertukar kontak dengan Anaxa.
Lalu tatapan Anaxa tertuju ke arah ponsel barunya. Mendadak Anaxa merasa kehilangan fungsi dari ponsel yang saat ini masih digenggam nya erat. Dan saat itu juga, tanpa pikir panjang, Anaxa melempar ponselnya ke dinding dengan sangat kuat hingga hancur berkeping-keping. Dan Anaxa sedikit terengah-engah setelah melakukan itu.
Anaxa kembali memaki dirinya. Setelah teman temannya meninggalkan Anaxa, dia juga baru menyadari bahwa dirinya hampir gak tau apa-apa tentang teman-temannya.
Anaxa gak punya nomer ponsel selain milik Keenan. Bahkan Anaxa lupa alamat kos Keenan dan Dimas. Dan sebelum ponselnya hancur, dirinya mencoba mencari lagi alamat kos mereka berdua, dan Anaxa harus menelan fakta pahit bahwa room chat nya dengan Keenan di aplikasi Telegram juga ikut terhapus.
Lebih tololnya Anaxa juga lupa alamat kos Alya, karena dia hanya mengikuti arahan jalan yang Alya berikan saat dia mengendarai motor Alya, tanpa berusaha keras untuk mengingat jalan
Seolah semesta bekerjasama untuk membuat Anaxa merasakan rasa bersalah yang semakin berat, pikirannya malah memutar kembali saat dirinya melontarkan kalimat menyakitkan ke Keenan. Anaxa kembali mengingat ekspresi terluka Keenan, dirinya yang juga mengusir Dimas, serta tatapan Alya yang sulit Anaxa artikan, bahkan Anaxa memegangi dadanya yang berdenyut nyeri saat Alya memilih untuk meninggalkan nya dan juga menepis genggaman tangan Anaxa.
Tanpa sadar Anaxa hampir meremat kuat rambutnya lagi, tapi pergerakan terhenti. Bukan karena Anaxa sadar kalau tindakannya destruktif, tapi karena Anaxa mengingat tindakan Alya yang berulangkali menahan tangannya untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Kini Anaxa menatap kedua telapak tangannya dengan seksama. Bahkan pikirannya seperti mengulang momen saat tangan Alya menggenggam nya dan memberikan rasa hangat serta aman.
Tetapi pikirannya malah berganti dengan cepat dan loncat ke saat-saat terakhir sebelum Alya meninggalkan kos nya. Gadis itu mendorong dadanya... menolak untuk mendengarkan alasannya... mengunci pintu dan membiarkan Anaxa berteriak serta menggedor pintu kamarnya... dan yang membuat Anaxa merasa paling sakit, adalah saat Alya menepis genggaman tangannya.
Dan Anaxa langsung menyadari bahwa dirinya belum siap untuk kehilangan sepenuhnya genggaman tangan hangat yang baru-baru ini Anaxa rasakan. Anaxa juga belum siap jika harus kehilangan candaan berisik Keenan. Dia juga belum siap kehilangan Dimas. Dia sangat tak siap jika dirinya benar-benar kehilangan Alya. Dirinya sama sekali tak siap.
Anaxa terlambat menyadari seberapa penting arti kedekatan dirinya dengan teman-temannya. Saat dirinya hampir menangis menyesali semua kelakuan bodohnya yang tidak tahu harus pergi kemana untuk datang segera minta maaf ke temannya, Anaxa kepikiran untuk menanyakan alamat tempat tinggal mereka ke bagian administrasi kampus. Dan secercah harapan mulai tumbuh menggantikan rasa putus asanya.
Anaxa harus bertemu secepatnya dengan teman-temannya dan meminta maaf.
Anaxa bahkan tak sanggup memikirkan kehidupannya yang kembali ke titik awal...
Kehidupan Anaxa tanpa Anaxa ASOY.