NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Mengukir takdir

Matahari perlahan mulai bergeser ke arah barat, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pinus di perbatasan Desa Hutan Batu.

Langkah kaki Lin Wanru terasa begitu mantap dan ringan saat ia menapaki jalan setapak menuju area reruntuhan gubuk tempat tenda darurat keluarga mereka berdiri.

Di depan tenda, Lin Bao sedang asyik melempar-lemparkan batu kecil ke tanah sambil bersenandung riang, sementara Nyonya Lin tampak duduk di atas bangku kayu darurat sambil merajut selembar kain usang.

Begitu melihat siluet tubuh anak sulungnya muncul di tikungan, mata Nyonya Lin dan Lin Bao seketika berbinar cerah.

"Kakak pulang!" seru Lin Bao kegirangan, dan langsung berlari menyongsong kedatangan Wanru.

Wanru berlutut dan menyambut pelukan hangat adiknya dengan senyuman lebar di wajahnya. "Halo, Bao-er. Apakah kalian menunggu lama?" tanya Wanru sambil mengusap kepala adiknya.

Nyonya Lin turut menghampiri, matanya meneliti penampilan putrinya dengan cemas. "Wan-er, kau sudah kembali. Bagaimana hasilnya di pasar? Apakah Tuan Gu di balai pengobatan itu tidak mempersulitmu?" tanya ibunya penuh kekhawatiran.

Wanru berdiri tegak, lalu perlahan melonggarkan ikatan kantong kain yang terselip di pinggangnya. Ia membuka bukaan kantong tersebut, lalu mempertontonkan isinya langsung di hadapan ibu dan adiknya.

Kring... kring...

Dua ratus empat puluh dua keping uang tembaga berkilau redup tertimpa cahaya matahari sore, mengeluarkan bunyi logam padat yang sangat merdu di telinga.

Nyonya Lin terperanjat seketika. Tangannya menutup mulutnya yang menganga lebar karena tidak percaya melihat begitu banyak keping uang tembaga berkumpul di satu tempat. "Ya Tuhan, Wan-er... Sebanyak ini?! Ini... ini uang yang sangat banyak!" isak Nyonya Lin terharu, air mata kebahagiaan pun menetes di pipinya.

"Iya, Ibu. Seluruh ginseng liar dan jamur hitam kita ludes terjual dengan harga terbaik di Balai Pengobatan Sumber Berkah," jawab Wanru bangga, lalu merangkul pundak ibunya. "Mulai hari ini, kita tidak perlu lagi mencemaskan urusan perut atau kelaparan."

Keberhasilan transaksi besar itu mengubah rencana sore mereka secara drastis. Dengan modal dua ratus lebih keping uang tembaga di tangan, Lin Wan memutuskan untuk tidak membuang waktu.

Ia mengajak Nyonya Lin dan Lin Bao kembali bergerak cepat, kali ini bukan untuk menjual barang, melainkan untuk berbelanja kebutuhan pokok dan material bangunan secara besar-besaran di pasar kecil pinggiran desa dan kedai kelontong.

Dalam waktu kurang dari dua jam, rombongan kecil keluarga Lin kembali ke tenda darurat dengan membawa barang-barang yang sudah lama tidak pernah mereka rasakan kehadirannya.

Sebuah karung kecil berisi beras putih murni berkualitas baik. Dua bungkus daging segar berlemak dan sekeranjang kecil telur ayam kampung.

Berbagai macam sayuran hijau segar, bawang putih, jahe, dan bumbu dapur lengkap. Dan yang paling penting, tiga batang balok kayu jati bekas yang kokoh, sekotak paku besi tempa besar, serta gulungan jerami tebal untuk atap pelapis tambahan.

Malam itu, suasana di dalam dan di sekitar tenda darurat keluarga Lin berubah menjadi sebuah "pesta kecil" yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Nyonya Lin dengan cekatan memasak di atas tungku batu darurat di luar tenda. Aroma harum nasi putih yang baru matang berpadu sempurna dengan wangi tumisan daging dan jahe, menyebar ke udara dan membuat perut Lin Bao keroncongan tidak sabar.

"Wah... baunya harum sekali, Ibu!" puji Lin Bao, seraya menelan air liurnya sambil menatap mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap hangat.

Ketika makanan disajikan di atas alas kayu bersih di dalam tenda, ketiganya duduk melingkar di bawah temaram cahaya api unggun.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hidup dalam kelaparan, penderitaan, dan ancaman lintah darat, keluarga Lin menikmati makan malam yang layak, lezat, dan penuh rasa syukur.

Nyonya Lin menyuapkan sesendok nasi putih ke mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Rasanya begitu manis dan menghangatkan dada. Ia menatap putrinya dengan pandangan penuh rasa cinta dan kekaguman yang tiada tara.

"Wan-er... makanan ini... rasanya seperti mimpi," bisik Nyonya Lin pelan.

"Mimpi ini nyata, Ibu," jawab Wanru tersenyum hangat, sambil menyendokkan sepotong daging ke mangkuk adiknya. "Dan ini baru awal dari mimpi-mimpi besar kita selanjutnya."

Selesai makan malam dan merapikan sisa perkakas, Lin Wan tidak langsung beristirahat. Ia mengambil sebatang ranting kayu kecil, lalu mulai menggambar sebuah sketsa kasar di atas tanah berdebu di depan tenda darurat.

Cahaya api unggun yang mulai mengecil memantulkan bayangan tubuh Lin Wan yang membungkuk serius di atas tanah.

Nyonya Lin yang duduk di sampingnya memperhatikan garis-garis yang digambar oleh putrinya dengan kening berkerut penasaran. "Wan-er, apa yang sedang kau gambar di tanah itu?" tanya ibunya.

"Blueprint rumah kita, Ibu," jawab Wanru tanpa mengalihkan pandangannya dari sketsa tersebut.

Wanru menunjuk garis-garis kayu yang ia gambar di tanah. "Kita tidak boleh terus-menerus tinggal di dalam tenda terpal darurat ini, terutama saat musim hujan turun nanti. Kain terpal ini memang bagus untuk menahan angin malam, tapi tidak cukup kuat untuk menghadapi badai musim dingin atau hujan deras berhari-hari."

Ia menjelaskan rencana konstruksinya dengan sangat terperinci.

Fondasi dan Tiang Utama, Memanfaatkan empat tiang kayu sisa gubuk lama yang sudah diperkuat dengan tiga balok kayu jati baru yang baru saja dibeli.

Dinding Tahan Air & Angin, Membangun dinding berlapis ganda, bagian luar menggunakan papan kayu rapat yang dilapisi resin alami, dan bagian dalam dilapisi anyaman bambu tebal untuk meredam suhu dingin.

Atap Pelindung Ganda, Di atas kerangka atap kayu, ia akan memasang lapisan terpal kedap air di bagian dalam, lalu menutup bagian luarnya dengan tebalnya tumpukan jerami kering agar suhu di dalam rumah tetap hangat seperti kabin kayu modern.

Kemudian, Membagi rumah masa depan itu menjadi tiga bagian kecil yang efisien: ruang keluarga/tamu di depan, kamar tidur ibu dan Bao-er, serta ruang kerja/penyimpanan herbal milik Lin Wan sendiri.

Nyonya Lin mendengarkan setiap kalimat penjelasan putrinya dengan mulut sedikit terbuka. Ia merasa takjub setengah mati. Gadis remaja di hadapannya ini sama sekali tidak terlihat seperti anak desa biasa. Ia berbicara dan merencanakan struktur bangunan layaknya seorang insinyur istana yang berpengalaman puluhan tahun.

"Rumah kayu dengan tiga bagian... dan dinding berlapis ganda...?" gumam Nyonya Lin takjub. "Wan-er, apakah kita benar-benar mampu membangun rumah sebagus itu dengan tangan kita sendiri?"

Wanru mendongak dan menatap ibunya dengan sorot mata yang memancarkan keyakinan.

"Kita tidak hanya mampu, Ibu. Kita akan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari dua minggu," tegas Wanru penuh semangat. "Dengan modal dua ratus empat puluh dua keping tembaga di kantong, serta sisa tenaga dan kecerdasan kita, tidak ada yang tidak mungkin."

**

Malam semakin larut. Suara desau angin pegunungan kembali berhembus melewati puncak bukit, namun kali ini keluarga Lin tidak lagi merasa gentar.

Di dalam tenda terpal darurat yang hangat, di atas selimut wol yang usang, perut yang kenyang oleh makanan layak, dan kepala yang dipenuhi rencana masa depan yang gemilang, ketiganya beristirahat dalam ketenangan.

Lin Wanru berbaring sejenak, menatap langit-langit terpal tenda yang bergoyang pelan tertiup angin. Di luar sana, Desa Hutan Batu tertidur dalam kegelapan malam, dan tidak menyadari bahwa di ujung desa, seorang CEO berjiwa baja sedang merajut jaring kekuasaan, kemandirian, dan strategi bisnis yang dalam waktu dekat akan mengguncang tatanan sosial wilayah tersebut.

Paman Lin Dehai dengan kesombongannya dan Nyonya Liu dengan mulut berbisa nya mungkin mengira mereka telah menghancurkan keluarga Lin hingga tak bersisa. Namun mereka tidak pernah tahu satu hukum alam semesta yang paling mutlak.

"Di tangan orang yang tepat, reruntuhan bukanlah akhir dari segalanya. Itu adalah fondasi paling kokoh untuk membangun sebuah dinasti baru."

Bersambung...

1
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
Osie
laki modelan dehai nih kudu dibasmi sampai g bernapas lagi..benar benar sampah yg kudu ditanam
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!