"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Hari pernikahan itu akhirnya tiba setelah menunggu seminggu lamanya.
Setelah fitting baju pengantin, Arini dan Arnold dipingit dan tidak boleh sama sekali ketemu.
Bahkan untuk bertukar kabar lewat ponsel pun tidak mereka lakukan, apalagi Arini yang sangat terpaksa menerima semuanya.
Hari ini mereka menggelar Intimate wedding bertema Elegant Private Wedding yang diadakan di rooftop private hotel bintang lima milik Chandra.
Di hotel itu pula tepatnya di ballroomnya beberapa minggu lalu diadakan pesta ulang tahun Arnold dan terpilihlah Arini menjadi calon istri Arnold oleh Arnold sendiri.
Rooftop hotel milik Chandra itu dipilih karena Arini dan Arnold akan melakukan akad nikah di waktu sore menuju malam.
Bagas beserta tim Arnold sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan apik.
Rooftop itu dihias dengan dekorasi yang sederhana sesuai keinginan Arini, tidak ada ratusan kursi dan tidak ada panggung besar.
Disitu hanya ada puluhan kursi putih tertata rapi menghadap area akad yang dihiasi bunga-bunga putih.
Lampu-lampu kecil menggantung di atas kepala mulai menyala saat matahari perlahan turun dari balik gedung.
"Sudah hapal, Tuan?" tanya Bagas pada Arnold yang kini terlihat begitu gugup.
Mereka berdua sedang berada di kamar yang disediakan untuk Arnold karena Arnold ingin lebih menyakinkan Bagas jika laki-laki itu tidak boleh merusak acara pernikahannya dengan Arini walaupun pernikahannya tidak ada media satupun yang meliput.
"Sudah." Arnold menarik napas serta mengembuskannya secara bersamaan.
"Jadi pakai bahasa arab, Tuan?" Bagas bertanya.
"Dari mana kamu tau kalau Arini meminta itu?" tanya Arnold sembari memicingkan matanya.
"Dulu itu yang diminta Arini sama Saya, Tuan." Bagas melirik ke atap kamar hotel sejenak lalu menarik napasnya, "Bukankah Tuan mau akad nikah pakai bahasa arab juga saya yang memberi tahu?" tanyanya yang kini tidak dijawab oleh Arnold karena laki-laki itu kini menundukkan kepala sembari menarik napasnya begitu dalam.
"Apa Dad dan Mom akan datang?" tanya Arnold yang tidak begitu memperhatikan kedua orangtuanya.
Semenjak ia memutuskan akan menikah dengan Arini, ia sudah pindah di mansion miliknya sendiri.
"Kemarin sempat tidak mau datang. Tapi, hari ini Ibu Celia dan Pak Graham datang dengan mengajak Jessica dan Papanya, Tuan." jelas Bagas yang membuat Arnold mengerutkan keningnya.
"Jessica?" Arnold tiba-tiba membalikkan badannya menatap Bagas, "Dia bukan keluargaku, Bagas. Jangan izinkan dia masuk." titahnya.
"Tapi Tuan, mereka sudah berada di rooftop sekarang." Bagas menundukkan kepalanya, "Maafkan saya, saya tidak mungkin mengusir mereka apalagi jika bersitegang dengan Ibu Celia. Tuan pasti mengerti maksud saya." jelas Bagas yang membuat Arnold terdiam karena jika ia memaksa Bagas mengusir Jessica itu sama saja membunuh karakternya di depan keluarga besar Arini yang mungkin juga sudah hadir di rooftop.
"Kita ke rooftop sekarang!" Arnold melangkah dengan tegap diikuti Bagas.
***
"Putri Bunda sudah besar sekarang. Sudah mau jadi seorang istri." Bunda Jennifer menatap penuh sayang sembari mengusap pipi gadisnya yang baru saja selesai dirias.
Awalnya Bunda Jennifer sempat bingung saat sampai di Indonesia dan melihat kartu undangan digital yang tertera di pesan chat keluarga jika nama mempelai laki-laki yang akan menikahi gadisnya berubah nama.
Memang Arini dan keluarga Chandra sepakat tidak memberitahu Jennifer agar bundanya tetap ke Indonesia sesuai jadwal yang diberikan Jennifer sebelumnya.
Arini hanya mengikuti dengan memberitahu jika ia ingin menikah dalam waktu dekat setelah lamaran.
"Aku cantik, Bun?" tanya Arini sembari balik menatap bundanya.
"Cantik. Putri Bunda kan udah cantik dari dulu." Bunda Jennifer tiba-tiba meneteskan air mata, "Maafin Bunda, Rin."
"Ssst! Bunda." Arini menggeser duduknya mendekati sang Bunda. "Arini udah ikhlas kok, Bun. Mau enggak mau Arini harus menerimanya karena ini semua sudah takdir dari Tuhan." ujarnya sambil mengusap air mata Bunda, "Pun andai waktu bisa diputar kembali, Arini akan tetap milih bunda menjadi Bunda Arini."
"Arini!" air mata Bunda Jennifer menetes tambah deras mendengar perkataan itu sembari mendekap putri tercintanya. "Andai dulu Bunda enggak bodoh, mungkin--"
"Bunda." panggil Arini memotong perkataan Bundanya sembari menggelengkan kepalanya. "Udah nangisnya, Bun. Arini mau di hari dimana Arini menikah, Bunda harus tersenyum. Bunda enggak boleh nangis." Arini tersenyum dibalik tangis yang ia tahan. "Hari ini Arini menikah dengan binti nama Bunda, Arini bisa menerimanya kok Bun. Doain Arini semoga pernikahan Arini bernasib baik dan bisa memperbaiki hal yang tidak bisa Arini ubah dalam hidup Arini."
"Arini sayang--" tangis Bunda Jennifer semakin tidak terkontrol dan Aunty Luna pun maju untuk menenangkan sang adik ipar.
"Jen! Arini benar. Kamu harus tersenyum. Biar saat difoto nanti kamu tetap cantik. Kamu wanita hebat apapun alasannya." ujar Aunty Luna sembari mengusap bahu adik iparnya.
"Bagaimana aku bisa tersenyum kak?" Bunda Jennifer menatap Aunty Luna lalu menatap putrinya, "Sedangkan hari ini putriku akan menikah tanpa binti seorang laki-laki yang menjadi ayahnya, pun menikah dengan wali hakim." Bunda Jennifer meremat dadanya, seakan dadanya begitu sesak, "Aku sangat berdosa dengannya Kak. Karena kebodohanku lah Arini seperti ini Kak."
"Dengan kamu mengakuinya, kamu sudah hebat Jen." ujar Aunty Luna lalu memeluk adik iparnya saat sang adik ipar belum juga bisa tenang sedangkan beberapa menit lagi sudah waktunya ijab kabul, "Hari ini Arini menikah dengan akad menggunakan bahasa Arab, pun rahasia ini hanya keluarga besar dan pak penghulu yang tau. Kamu yang tenang ya."
"Aunty Luna benar, Bun. Hari ini Arini meminta Arnold yang bahkan baru jadi mualaf dua minggu yang lalu untuk menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ijab kabul dengan Arini." jelas Arini yang membuat Bunda Jennifer kini terdiam sejenak sembari menundukkan kepalanya, lalu mengangkat wajahnya menatap putrinya yang menyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Akad nikah Arnold dan Arini pun akhirnya terlaksana pukul lima sore saat Pak penghulu sudah datang dan duduk di area akad.
Darius selaku Ayah Arini kini duduk menjadi saksi ditemani Chandra, dan dari pihak Arnold, yang menjadi saksi adalah Bagas dan driver Arnold yang muslim.
Arini sedari tadi hanya menundukkan kepala, tidak bisa ia pungkiri jika hatinya masih terpaut pada Bagas, tapi menolak Arnold juga tidak mungkin mengingat ia sudah duduk bersama di konferensi pers yang diadakan Arnold dua Minggu yang lalu.
Pun ia sudah menandatangani surat perjanjian nikah yang diberikan Arnold.
Dan akan menjadi perbincangan yang panas jika dia tiba-tiba memilih membatalkan pernikahan yang sudah siap 100 persen itu.
"Saudara Arnold dan saudari Arini, Kalian sudah benar-benar siap akan menikah?" tanya Pak penghulu sebelum akad nikah itu dimulai.
Arnold dan Arini kompak menganggukkan kepala walaupun Arini masih dengan menundukkan kepalanya.
Arnold sempat geram melihat tingkah Arini, namun laki-laki itu mencoba menetralkan raut wajahnya.
Dengan sekali tarikan napas, Arnold pun berhasil mengucapkan kabul dengan menggunakan bahasa Arab.
Teriakan "Sah" dari para saksi dan keluarga yang hadir membuat Arini tiba-tiba meneteskan air mata dan Arnold mengembuskan napas lega.
Setidaknya, ia berhasil membuktikan pada dirinya sendiri jika ia bisa ijab kabul berbahasa Arab walaupun baru menjadi seorang mualaf.
Tidak ada adegan cium kening karena Arnold membaca doa setelah menikah dengan dibantu oleh Ustadz yang ia ajak untuk menghadiri pernikahannya.
Arnold hanya meletakkan tangannya di kepala Arini, lalu mengusap wajahnya untuk mengaminkan doa tersebut.
"Selamat, Rin." Bagas menatap tak berkedip pada mantan tunangannya.
Arini hanya mengangguk sekilas tanpa menatap Bagas seperti dulu, dan itu membuat Arnold tiba-tiba tersenyum.
"Kak Arnold!" Jessica maju mendahului Mom Celia dan Dad Graham yang akan memberi selamat pada Arnold, "Selamat ya." ujarnya sembari dengan cepat memeluk Arnold dan mengajak laki-laki itu berfoto dengan tidak mengajak Arini.
"Papa!" Jessica menoleh pada Papanya yang tiba-tiba tidak mau berdiri dari duduknya.
"Sini Papa!" Jessica yang heboh sendiri memanggil papanya berulang kali membuat seluruh keluarga yang hadir menoleh pada kursi yang tersusun paling belakang.
Deg
Jennifer dan Darius kompak tersentak kaget saat melihat siapa Papa Jessica.
Mereka berdua sangat mengenalnya, karena pria itu tak lain dan tak bukan adalah ayah biologis yang sampai saat ini belum diketahui oleh Arini.
"Pak Raka!" Arini akhirnya memanggil, saat Raka masih duduk terpaku menatap ke arahnya dan membuat Bunda Jennifer menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Arini!" Bunda Jennifer maju, lalu tanpa aba-aba mengajak Arini pergi dari venue berlangsungnya pesta.
Raka mengusap wajahnya kasar melihatnya dan tanpa mengucapkan selamat pada mempelai yang baru saja ijab kabul, laki-laki itu turun ke basement tanpa menghiraukan Jessica yang terus berteriak memanggilnya.
Laki-laki dewasa beranjak tua itu baru sadar, kalau gadis berhijab yang kemarin dimusuhi Jessica putrinya di perusahaannya adalah putri kandungnya.
Bersambung...