Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Aruna melakukan ini?
“Wajah kamu kenapa masam begitu, Fel?” tanya Sisil ketika melihat putrinya duduk dengan wajah kesal.
“Gimana aku nggak kesal, Ma?” Felicia mendengus. “Sekarang Kak Reksa malah punya babysitter untuk Aretha. Bayi sialan itu juga selalu menangis setiap kali aku gendong. Aku jadi nggak bisa caper sama Kak Reksa.”
Sisil mengernyit. “Babysitter?”
“Iya. Dan perempuan itu juga yang memberikan ASI untuk Aretha.”
Sisil langsung terkejut. “Memberikan ASI? Memangnya dia sudah punya anak?”
“Entahlah.” Felicia mengangkat bahu. “Kemarin Kak Reksa pulang-pulang malah membawa seorang perempuan. Ternyata dia bisa menyusui Aretha.”
Sisil terdiam sejenak. “Kalau begitu, gawat.”
Felicia menoleh. “Gawat kenapa, Ma?”
“Aretha bisa semakin dekat dengan babysitter itu.” Sisil menurunkan suaranya. “Mama takut posisi kamu justru terancam.”
Felicia mendengus kecil. “Ma, please. Masa aku harus bersaing dengan babysitter? Yang benar saja?”
Sisil menatap putrinya tajam. “Justru karena kamu menganggapnya remeh, kamu bisa kalah.”
Felicia terdiam.
“Kita sudah berhasil menyingkirkan Aruna,” lanjut Sisil. “Masa sekarang kita harus membiarkan perempuan lain mengambil tempat yang seharusnya bisa menjadi milikmu?”
“Itu juga yang aku pikirkan, Ma.”
Felicia mulai terlihat serius. “Tapi gimana caranya?”
“Kamu bisa jebak Areksa.”
Felicia mengerutkan kening. “Gimana caranya, Ma?”
Sisil tersenyum tipis. “Nanti Mama pikirkan.”
Felicia mengangguk setuju. “Baik, Ma.”
Percakapan mereka terhenti ketika pintu rumah terbuka.
Bara baru saja pulang dari kantor. Ia mengernyit heran melihat istri dan anak tirinya duduk berdua dengan ekspresi serius.
“Kalian sedang apa?”
Felicia dan Sisil langsung mengubah ekspresi.
“Ah, nggak apa-apa, Pa,” jawab Felicia cepat. “Kami cuma lagi senang karena akhirnya Aretha punya babysitter yang juga bisa memberikan ASI untuknya.”
“Babysitter?”
“Iya, Mas.” sahut Sisil.
Bara mengangguk pelan. “Papa malah belum sempat menjenguk Aretha lagi.”
Ia meletakkan tas kerjanya. “Mungkin malam ini Papa akan ke rumah Reksa. Kalian mau menemani Papa?”
“Tentu, Mas.” Sisil tersenyum. “Aku juga kangen sama cucuku.”
Felicia ikut tersenyum. “Iya, Pa. Aku juga mau ikut.”
Namun di balik senyumnya, Felicia sudah memikirkan satu hal. Malam ini aku harus mencari tau lebih banyak tentang Adira.
Felicia sebenarnya tidak pernah tau dari mana Areksa membawa Adira ke rumah Dirgantara. Meski dirinya cukup sering datang berkunjung ke rumah kakak iparnya itu, ia tidak pernah benar-benar berani menanyakan hal tersebut.
Namun, rasa penasaran itu kembali muncul ketika malam itu ia datang bersama Sisil dan Bara.
***
Ketiganya kini sedang berada di ruang keluarga rumah Dirgantara.
Aretha berada di dalam bouncer. Bayi mungil itu baru saja bangun setelah beberapa waktu tertidur. Sebelumnya, ia sudah disusui oleh Adira sehingga kini tampak lebih tenang.
Bara yang sejak tadi terlihat antusias akhirnya menggendong cucunya.
"Maaf ya, Kakek baru sempat datang lagi, Nak." Bara tersenyum sambil mengusap lembut pipi Aretha. "Kamu mirip sekali sama Mama kamu, Aruna."
Sisil yang duduk di sampingnya ikut memperhatikan wajah Aretha.
"Iya, ya, Mas. Cantik banget, persis seperti Aruna. Tapi hidungnya mirip sekali sama Areksa."
Areksa yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. "Namanya juga anak kami, Ma."
Bara terkekeh pelan. "Benar. Pasti ada campuran dari kalian berdua."
Sesaat suasana terasa hangat. Namun, Bara yang sejak tadi memperhatikan Adira akhirnya membuka suara.
"Oh iya, katanya Aretha juga disusui sama babysitternya?"
"Iya, Pa," jawab Areksa singkat.
Bara mengernyit. "Kok bisa?"
Nada suaranya berubah serius. "Apa kamu percaya begitu saja sama orang yang baru kamu kenal? Kita bahkan gak tahu asal-usulnya. Kita gak tau dia itu siapa, keluarganya bagaimana, bahkan kita gak tau apakah dia benar-benar orang yang bisa dipercaya atau tidak."
Adira yang berdiri tidak jauh dari sana sontak terdiam. Ia bisa mendengar dengan jelas setiap perkataan Bara.
Tangannya yang semula berada di depan tubuh perlahan saling menggenggam. Ia menundukkan kepala, berusaha tidak menunjukkan perasaan tersinggung.
Areksa melirik ke arah Adira sekilas, lalu kembali menatap mertuanya. "Aku bawa Adira ke sini karena Aruna yang minta, Pa. Dan Adira ini sahabat Aruna."
"Sahabat?"
Bara menoleh ke arah Adira. "Iya, Pa. Kata Aruna, mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Dulu waktu kecil, Aruna sering bermain sama Adira."
Bara tampak berpikir. "Papa gak pernah tau."
"Memang gak banyak yang tau, Pa. Bahkan aku juga baru tau tentang Adira setelah membaca pesan terakhir Aruna."
Felicia langsung menyela. "Jangan-jangan kamu cuma cerita bohong lagi sama kita semua."
Tatapan Adira langsung tertuju kepada Felicia. "Enggak, Non. Saya gak bohong."
"Dia gak bohong." Suara Areksa terdengar tegas.
"Areksa menjemput Adira karena pesan terakhir Aruna. Kalau dia berbohong, gak mungkin Aruna mempercayakan Aretha kepadanya."
Bara masih terlihat ragu. "Tapi tetap saja, Reksa. Papa cuma mengingatkan. Bagaimanapun, kita gak tau sama sekali tentang dia."
Sisil mengangguk setuju. "Benar. Mama juga setuju sama Papa. Kamu harus tetap hati-hati, Reksa. Apalagi sekarang yang kita bicarakan bukan cuma soal kamu, tapi juga Aretha."
Areksa menghela napas pelan. "Tenang aja, Ma. Aku tau apa yang aku lakukan."
Sisil kembali menatap Adira dari ujung kepala hingga kaki.
Sementara itu, Adira hanya diam. Ia tau dirinya memang orang asing bagi keluarga Dirgantara. Ia juga sadar tidak mudah bagi mereka untuk langsung mempercayainya.
Namun, mendengar Aruna disebut-sebut membuat dadanya terasa sesak.
Kalau saja mereka tau...
Adira segera menepis pikirannya sendiri. Ia tidak ingin menimbulkan masalah di rumah ini.
Bagaimanapun, ia berada di sana bukan untuk mencari masalah. Ia hanya ingin memenuhi permintaan terakhir sahabatnya. Menjaga Aretha.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Rumah Dirgantara yang sejak pagi dipenuhi aktivitas kini mulai terasa sunyi. Soraya dan Bayu sudah kembali ke kamar mereka. Para ART yang telah menyelesaikan seluruh pekerjaan juga sudah beristirahat setelah seharian bekerja.
Aretha pun sudah kembali tertidur.
Dengan hati-hati, Areksa membawa putrinya ke kamar. Ia meletakkan Aretha di dalam boks bayi yang berada di samping tempat tidurnya, lalu menarik selimut kecil hingga menutupi tubuh mungil itu.
Areksa menatap wajah putrinya beberapa saat.
"Papa di sini, Nak," bisiknya pelan.
Setelah memastikan Aretha tidur dengan nyaman, Areksa keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Adira.
Adira yang saat itu masih terjaga langsung membuka pintu ketika mendengar ketukan.
"Tuan?"
"Aretha sudah tidur."
Adira mengangguk lega. "Kalau Non Aretha menangis lagi, Tuan bisa membawanya ke sini."
Areksa mengangguk. "Iya. Saya akan coba mengurusnya sendiri."
Adira tersenyum kecil. "Kalau tidak bisa ditenangkan atau dia lapar, panggil saya saja, Tuan."
"Iya. Terima kasih."
Areksa berbalik hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti sejenak.
Ia menoleh kembali kepada Adira. "Adira."
"Ya, Tuan?"
"Terima kasih sudah banyak membantu saya."
Adira terdiam sesaat sebelum tersenyum. "Sama-sama, Tuan. Saya juga ingin menjaga Non Aretha."
Areksa mengangguk, lalu kembali menuju kamarnya.
Malam ini sejak Aruna pergi, Areksa mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa menjadi seorang ayah yang mampu mengurus putrinya.
Meski sebenarnya, ia sendiri masih belum tau apakah dirinya benar-benar mampu.
***
Baru dua jam Areksa terlelap, tangisan Aretha kembali terdengar dari dalam kamar.
Bayi yang baru lahir memang belum mengenal waktu siang dan malam. Bagi Aretha, semuanya masih terasa sama. Ia masih beradaptasi dengan kehidupan barunya setelah selama sembilan bulan berada di dalam kandungan.
Mendengar tangisan putrinya, Areksa langsung terbangun. Dengan mata yang masih berat, ia menghampiri boks bayi.
"Kenapa lagi, Nak?"
Areksa mengangkat tubuh mungil Aretha dan memeriksanya.
Popoknya masih bersih. Bahkan belum penuh, apalagi sampai pup.
Areksa menghela napas. "Retha lapar?"
Tangisan Aretha semakin terdengar.
"Okay, sepertinya iya."
Areksa kemudian mengambil stok ASI yang sebelumnya sudah dipompa oleh Adira. Ia menghangatkannya terlebih dahulu, kemudian mencoba memberikannya kepada Aretha menggunakan botol.
Namun, seperti sebelumnya, Aretha kembali menolak. Bayi itu malah semakin menangis dan terus mencari-cari dengan mulutnya.
Areksa mulai kebingungan. "Kenapa ditolak terus sih, Nak?"
Ia mencoba sekali lagi, tetapi Aretha tetap menolak dot tersebut.
"Masa kamu harus menyusu langsung terus?"
Areksa menatap putrinya dengan pasrah. Akhirnya, ia tidak punya pilihan lain.
Ia menggendong Aretha dan membawanya keluar dari kamar. Langkahnya kemudian berhenti di depan kamar Adira.
Areksa mengetuk pintu pelan.
Tok... tok...
Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah dari dalam.
Adira yang sebelumnya sedang tertidur terbangun karena mendengar ketukan tersebut. Dengan mata yang masih berat, ia bangkit dari tempat tidur dan mengikat rambutnya asal agar tidak terlalu berantakan.
Ia kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya.
Begitu pintu terbuka, pandangan Areksa langsung tertuju kepadanya.
Untuk sesaat, ia terdiam.
Adira tampak baru bangun tidur. Rambutnya terikat seadanya, beberapa helai bahkan masih jatuh di sekitar wajahnya. Tanpa riasan dan tanpa pakaian formal seperti biasanya, wajahnya justru terlihat begitu sederhana. Namun tetap cantik.
Entah kenapa, kali ini Areksa tidak langsung mengalihkan pandangannya.
Matanya justru terpaku pada wajah Adira. Terutama pada kedua matanya. Ada sesuatu yang aneh.
Mata itu... Terlihat tidak asing baginya.
Areksa mengernyit samar, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Tuan?" Suara Adira membuat lamunannya terputus.
"Ah... iya."
Areksa segera mengalihkan pandangan. "Maaf membangunkan kamu."
Adira menggeleng sambil mengusap matanya. "Tidak apa-apa, Tuan. Non Aretha menangis?"
Areksa mengangguk. "Iya. Sepertinya lapar."
Adira langsung memperhatikan Aretha yang masih merengek dalam gendongan ayahnya.
"Sepertinya memang ingin menyusu langsung."
Areksa menghela napas pasrah. "Iya. Saya sudah coba kasih ASI dari botol, tapi dia menolak lagi."
Adira tersenyum kecil. "Kalau begitu, biar saya yang menenangkannya."
Ia mengulurkan kedua tangannya untuk menerima Aretha.
Dan seperti biasa, begitu berada dalam pelukan Adira, tangisan bayi mungil itu perlahan mereda.
Areksa hanya bisa menatap keduanya.
Entah kenapa, pemandangan sederhana itu kembali membuat dadanya terasa hangat.
Adira membawa Aretha masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu, seperti malam-malam sebelumnya, Areksa kembali duduk menunggu di sofa yang berada di luar kamar Adira. Tangannya bertumpu pada kedua lutut, sementara pandangannya kosong menatap lantai.
Entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama berputar di kepalanya.
Ia menengadahkan wajah, lalu menatap foto Aruna yang ada di layar ponselnya.
"Kenapa?" Suaranya terdengar lirih.
"Kenapa kamu mempercayakan anak kita kepada Adira, Runa?"
Areksa menghela napas panjang. "Apa sebenarnya rencana kamu?"
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian malam yang menyambut pertanyaannya.
Areksa menundukkan kepala. Pikirannya kembali pada tatapan Adira beberapa saat lalu.
Tatapan itu.
Entah mengapa terasa begitu familiar.
"Dan kenapa semenjak aku melihat Adira..." Areksa terdiam sejenak. "Aku selalu merasa seperti pernah mengenalnya?"
Tangannya mengepal perlahan. Perasaan itu tidak masuk akal.
Ia yakin belum pernah bertemu Adira sebelumnya. Namun setiap kali menatap wajah wanita itu, terutama matanya, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa asing sekaligus akrab.
Seolah ada bagian dari ingatannya yang berusaha muncul ke permukaan, tetapi selalu gagal ia raih.
Areksa kembali menatap foto Aruna. "Kamu tidak berniat menggantikan dirimu dengan Adira, kan, Runa?"
Senyumnya pahit. "Atau jangan-jangan kamu sudah tau sesuatu yang belum aku ketahui?"
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui Areksa sejak pertama kali ia menemukan nama Adira dalam pesan terakhir istrinya.
Ia sudah berusaha mencari jawabannya. Namun sampai saat ini, ia belum menemukan satu pun kepastian.
Yang tersisa hanyalah pesan terakhir Aruna... dan seorang wanita bernama Adira yang entah mengapa terasa begitu familiar baginya.
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰