NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syarat di Atas Garis Darah

​Asap dari kertas dokumen penangkapan yang dibakar Devan masih menyisakan bau hangus yang tipis di udara. Aria menatap tumpukan abu hitam di atas asbak kristal itu tanpa berkedip. Dalam benaknya, setiap helai abu yang melayang mewakili hancurnya opsi pelarian yang selama ini ia susun. Devan telah menutup semua pintu, menyisakan satu-satunya jalan sempit yang penuh risiko mematikan: berjalan lurus menembus permainan sang bos mafia.

​Devan berdiri membelakangi jendela gergasi, membiarkan sinar matahari pagi membentuk siluet jangkung yang intimidatif di atas lantai marmer. Ia menatap Aria dengan ketenangan mutlak seorang pria yang tahu bahwa ia memegang seluruh kartu truf.

​"Dua minggu bukan waktu yang lama untuk membobol benteng keamanan seperti Kasino Royale Vane," suara Devan memecah keheningan, berat dan tegas. "Aku tidak menerima kesalahan sekecil apa pun, Aria. Kegagalanmu berarti kematian bagi kita semua."

​Aria mengepalkan tangannya di balik kemeja putih kebesaran yang dipakainya. Rasa sesak akibat keterpaksaan ini membuat dadanya bergemuruh, namun otaknya yang dingin menolak untuk membiarkan emosi mengambil alih. Jika ia harus terjun ke dalam neraka bersama Devan Argantara, maka ia harus memastikan bahwa ia memegang tali penariknya sendiri saat keluar nanti.

​Aria berdiri dari kursinya. Langkah kakinya tanpa alas bersuara halus di atas karpet tebal saat ia berjalan mendekati Devan. Ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan pria itu, menengadahkan kepala agar matanya sejajar dengan pandangan tajam Devan.

​"Aku menerima tawaran gilamu," kata Aria, suaranya tenang, bening, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi aku bukan sekadar tawanan yang bisa kamu ancam dengan penjara atau klan Vane. Jika aku mempertaruhkan nyawaku untuk mengambil Black Ledger, kesepakatan ini harus berjalan sesuai aturanku juga."

​Devan mengangkat sebelah alisnya. Sebuah ukiran senyum tipis, kaku namun sarat akan rasa tertarik, muncul di sudut bibirnya. "Kamu masih dalam posisi menawar, Little Bird?"

​"Aku bukan menawar. Aku menetapkan syarat," potong Aria cepat, menatap iris mata Devan yang gelap tanpa berkedip. "Pertama, setelah Black Ledger ada di tanganmu dan pengkhianat di klanmu tertangkap, aku menuntut kebebasan mutlak. Bukan sekadar identitas baru atau uang sepuluh juta dolar itu, tapi jaminan tertulis bahwa kamu, klan Argantara, dan seluruh jaringanmu tidak akan pernah menyentuh, melacak, atau mengusik hidupku lagi selamanya."

​Devan mengamati wajah wanita di depannya. Di balik kelelahan dan keterbatasan situasi, mata Aria berkilat-kilat penuh tekad yang mustahil dihancurkan. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit, membiarkan aura dominasinya menekan ke udara di antara mereka.

​"Kebebasan mutlak dari Argantara adalah hal yang sangat mahal, Aria," bisik Devan pelan, suaranya menggetarkan udara. "Banyak orang memohon untuk berada di bawah naungan perlingunganku, dan kamu justru minta dihapus sepenuhnya dari ingatanku?"

​"Karena berada di bawah naunganmu sama saja dengan mengikatkan leher pada tiang gantungan yang sewaktu-waktu bisa kamu tarik," balas Aria dingin, tak terpengaruh oleh jarak mereka yang teramat dekat. "Aku pencuri independen, Devan. Aku bernapas dari kebebasanku sendiri."

​Devan menatap bibir Aria yang mengatup rapat penuh ketegasan sebelum kembali mengunci matanya. "Lanjutkan. Apa syarat kedua milikmu?"

​Aria menegakkan bahunya. "Syarat kedua: Selama proses persiapan dua minggu ini, aku minta akses penuh tanpa hambatan ke seluruh peralatan teknis, peladen simulasi, dan data cetak biru kasino. Aku bekerja dengan caraku sendiri. Jangan pernah ada anak buahmu yang mendikte bagaimana aku meretas atau membobol sistem."

​"Poin itu bisa kukabulkan, dengan syarat seluruh aktivitas digitalmu tetap terpantau oleh peladen pengawas pribadi di ruang kerjaku," timpal Devan tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu menyelipkan skrip jebakan untuk melarikan diri di tengah persiapan."

​Aria menyipitkan matanya rapat-rapat. Pria di depannya memang terlalu cerdik untuk dipetakan jalurnya. Namun setidaknya, tawaran itu masih memberi Aria ruang gerak teknis yang cukup.

​"Dan syarat ketiga..." Aria menjeda ucapannya, melirik ke arah kalung The Scarlet Tear yang sebelumnya ditunjukkan Devan. "Kalung itu dikembalikan ke tanganku secara langsung pada detik setelah aku menyerahkan enkripsi Black Ledger kepadamu. Tanpa syarat tambahan, tanpa penundaan."

​Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa saat. Hanya suara desir angin pagi di luar jendela yang terdengar. Devan menatap Aria dengan pandangan menilai yang mendalam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa wanita di depannya bukanlah aset yang bisa ditundukkan dengan ketakutan belaka. Aria adalah rekannya dalam bahaya—sebuah senjata tajam yang harus dipegang dengan respek jika tidak ingin melukai tangan sendiri.

​Devan mengulurkan tangannya yang tegap ke depan, membiarkan jemari tangannya yang kokoh melayang di udara di antara mereka.

​"Kebebasan mutlak, akses teknis terkontrol, dan kalungmu kembali," ujar Devan, suaranya berwibawa dan penuh kepastian mutlak. "Syaratmu diterima, Aria. Tapi dengarkan ini baik-baik. Jika di tengah jalan kamu mencoba mengkhianatiku, atau jika kamu sengaja membocorkan rencana ini ke klan Vane untuk menyelamatkan dirimu sendiri... aku pastikan tidak ada sudut di dunia ini yang cukup gelap untuk menyembunyikanmu dariku."

​Aria menatap tangan Devan yang terulur. Ia menyadari sepenuhnya beratnya konsekuensi dari genggaman tangan ini. Ini adalah ikatan janji berdarah antara seorang pencuri dan seorang bos mafia.

​Aria mengulurkan tangannya, menyambut jemari Devan yang dingin dan kuat. Ketika jemari mereka bertaut, sebuah sengatan ketegangan yang aneh menjalar di sepanjang lengan Aria, membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

​"Aku selalu menyelesaikan pekerjaanku, Devan," desis Aria pelan, membalas genggaman itu dengan tekanan yang sama kuatnya. "Pastikan saja kamu memegang janjimu ketika semuanya selesai."

​"Aku tidak pernah ingkar janji pada mitramu," jawab Devan, mempererat cengkeraman tangannya sejenak sebelum melepaskannya secara perlahan.

​Devan berbalik melangkah menuju meja bundar, menyambar map kulit cokelat berisi dokumen operasional Kasino Royale Vane, lalu menyerahkannya kembali ke tangan Aria.

​"Mulai sore ini, kamu akan pindah ke ruang kerja teknis di lantai dua bawah tanah," kata Devan sembari berjalan menuju pintu keluar. "Tim taktisku sudah menyiapkan peranti keras sesuai spesifikasi yang kamu minta. Hari pertamamu dimulai dengan membongkar skema pertahanan laser dan pemindai retina di area VIP kasino."

​Aria memeluk map tebal itu di dadanya. "Diterima."

​Saat Devan memegang gagang pintu kayu ganda, pria itu berhenti sejenak tanpa membalikkan badan.

​"Satu hal lagi, Aria," panggil Devan pelan.

​Aria menghentikan langkahnya, menatap punggung tegap Devan. "Apa?"

​"Mulai hari ini, kamu tidak lagi dipanggil dengan sebutan pencuri atau tawanan di markas ini," Devan menoleh sedikit, memperlihatkan rahang tegas dan mata kelamnya yang berkilat misterius. "Kamu adalah mitra utamaku. Semua orang di klan Argantara akan memperlakukanmu dengan rasa hormat yang sama seperti mereka menghormatiku."

​Sebelum Aria sempat merespons kalimat tersebut, Devan melangkah keluar dan menutup pintu dengan dentuman halus yang bergetar di dalam dada Aria.

​Aria berdiri sendirian di tengah ruangan mewah itu. Ia menatap map tebal di tangannya, lalu menyentuh jemari tangannya sendiri yang baru saja berbenturan dengan dinginnya kulit Devan. Rasa jengkel, rasa takut, dan percikan ketegangan yang aneh bercampur aduk dalam benaknya.

​Aria menarik napas panjang, melangkah mendekati jendela dan menatap pemandangan kota di kejauhan.

​"Dua minggu," gumam Aria pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyum tipis yang sarat tekad di bibir cantiknya. "Dua minggu untuk membobol kasino paling mematikan, memperdaya klan Vane... dan memastikan aku berjalan keluar dari cengkeraman Devan Argantara sebagai wanita bebas."

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!