Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Hari Minggu yang bagi sebagian besar remaja menjadi waktu untuk beristirahat dan bersantai, sama sekali tak berlaku bagi Maya. Sejak pendar fajar belum sepenuhnya mengusir kegelapan malam, Maya sudah terbangun. Ia bergegas menyusui kesibukan pagi bersama ibunya, membawa beberapa keranjang bambu berisi sayuran segar menuju pasar tradisional kota. Di tengah riuk pikuk pasar yang lembap, riuh oleh tawar-menawar, dan berbau khas tanah serta dedaunan wet, Maya berdiri telaten di balik lapak sederhana milik ibunya. Jemarinya yang cekatan menata tumpukan bayam, mengikat kangkung, dan merapikan cabai merah dengan senyum ramah yang tak pernah surut untuk para pembeli.
Matahari makin meninggi, memancarkan sinar hangat yang menembus celah-celah atap seng pasar. Di tengah lalu lalang pembeli berdaster dan berbaju santai, langkah kaki seseorang mendadak menyita perhatian para pedagang di sekitar lapak Maya. Seorang wanita setengah baya melangkah anggun menyusuri lorong pasar yang sempit. Wanita itu mengenakan gaun kasual berbahan kain sutra halus dengan perhiasan minimalis namun sangat elegan sebuah penanda tak terbantahkan bahwa ia berasal dari kalangan atas.
Di samping wanita itu, berjalan seorang gadis muda yang melangkah dengan sangat enggan. Gadis itu memakai kacamata hitam besar, terus-menerus mengibaskan tangan di depan hidungnya, dan berusaha keras agar ujung sepatu kets mewahnya tidak tersentuh beceknya lantai pasar.
Maya menatap sosok wanita elegan itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, terpana oleh aura keanggunan yang begitu halus. Namun, ketika pandangan matanya bergulir ke arah gadis muda di samping wanita tersebut, napas Maya seketika tertahan. Kacamata hitam yang bertengger di wajah cantik itu tak mampu menyembunyikan identitasnya. Maya membeku di tempatnya orang yang berdiri hanya beberapa meter di depan lapak sayurnya tidak lain adalah Lexa.
Wanita anggun itu adalah Mama Lexa. Berbeda jauh dari kepribadian putrinya yang tajam dan tak punya rasa iba, Mama Lexa adalah sosok wanita dermawan yang rendah hati dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Pagi itu, beliau sengaja menyeret Lexa keluar dari zona nyamannya dan mengajak gadis itu ke pasar tradisional. Mama Lexa ingin putrinya belajar melihat sisi kehidupan yang berbeda, terbiasa dengan denyut nadi masyarakat biasa, serta memetik nilai-nilai kesederhanaan yang selama ini alpa dari keseharian mereka.
Namun bagi Lexa, berada di tempat kotor dan berbau ini adalah sebuah siksaan yang amat menyebalkan. Hatinya diliputi rasa jengkel luar biasa, tetapi ia tak punya pilihan selain menuruti perintah mamanya yang sangat tegas jika sudah menyangkut pendidikan karakter.
Saat melangkah makin dekat ke lapak sayur milik ibu Maya, pandangan Mama Lexa terhenti pada sosok gadis muda yang sedang sibuk mengikat sayuran dengan rapi. Beliau tertarik oleh keseriusan dan ketangkasan gadis itu. Dengan senyum hangat yang memancarkan kebaikan, Mama Lexa mendekati lapak tersebut.
"Selamat pagi, Ibu... Wah, sayurannya segar-segar sekali ya," sapa Mama Lexa ramah kepada ibu Maya, sebelum pandangan matanya beralih lembut kepada Maya. "Aduh, rajin sekali kamu, Nak. Masih pagi begini sudah bantu Ibu berjualan di pasar. Kalau boleh tahu, berapa umur kamu sekarang?"
Maya yang sempat terpaku langsung tersentak. Ia menundukkan kepala sedikit, mencoba menyembunyikan wajahnya yang cemas dari tatapan Lexa yang mulai melotot tajam di balik kacamata hitamnya.
"Selamat pagi, Tante..." jawab Maya dengan suara pelan dan santun. "Umur saya enam belas tahun, Tante. Sekarang kelas dua SMA."
Mendengar jawaban itu, Mama Lexa tampak sangat terkejut. Matanya berbinar takjub. Beliau tidak menyangka gadis yang begitu lihai dan tak segan mengotori tangannya dengan tanah sayur ini ternyata masih seorang pelajar sekolah menengah seumur dengan putri tunggalnya.
"Enam belas tahun?!" cetus Mama Lexa dengan nada penuh kagum. Beliau berbalik menatap Lexa yang berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan wajah cemberut.
Seketika itu juga, tanpa ragu Mama Lexa membandingkan sikap Maya dengan putrinya sendiri. "Lexa, kamu lihat gadis ini! Umurnya sama persis seperti kamu, sama-sama enam belas tahun. Tapi lihat betapa rajin dan mandirinya dia! Hari Minggu seperti ini dia mau bangun subuh untuk membantu orang tuanya di pasar, bukannya malas-malasan di tempat tidur atau cuma jalan-jalan di mal!"
Lexa yang mendengar teguran terang-terangan dari mamanya langsung membelalakkan mata. Wajah cantiknya memerah padam menahan rasa malu dan amarah yang meledak-ledak. Di balik kacamata hitamnya, mata Lexa menyalang menatap Maya dengan dendam yang makin membara. Bagi Lexa, disandingkan dan kalah dibanding musuh terbesarnya di sekolah di depan umum adalah sebuah penghinaan yang tak tertahankan.
"Lexa, Mama itu ingin kamu bisa belajar mandiri seperti dia," lanjut Mama Lexa dengan nada bicara yang penuh harap namun terselip kekecewaan. "Selama ini Papa kamu selalu memanjakan kamu dengan uang dan fasilitas tanpa batas, sampai-sampai kamu tumbuh jadi anak yang cuma tahu terima beres dan menganggap remeh hal-hal kecil."
Memang, rasa sombong dan keangkuhan yang menguasai diri Lexa tidak tumbuh begitu saja. Limpahan kemanjaan dan kepuasan materi yang selalu disiramkan oleh papanya sejak kecil telah membentuk kepribadian Lexa menjadi anak yang mengagungkan status sosial dan memandang rendah mereka yang tak setara dengannya.
Lexa mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tak sanggup lagi mendengarkan khotbah mamanya yang terus-menerus memuji gadis miskin yang paling ia benci.
"Ma, udah deh! Nggak usah dibanding-bandingin gitu!" potong Lexa dengan suara ketus dan nada yang sangat tidak sopan, membuat beberapa pedagang di sekitar melirik ke arah mereka. "Beli sayurnya cepat, Lexa mau pulang! Di sini panas dan bau banget!"
Mama Lexa menghela napas panjang, mengurut dadanya pelan melihat tingkah putrinya yang tak bersopan santun. Dengan perasaan enak hati dan penuh rasa maaf, Mama Lexa membeli beberapa ikat sayuran dari ibu Maya dan membayar dengan nominal yang jauh lebih besar dari harga aslinya, menolak kembalian sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Maya.
"Terima kasih ya, Nak. Tetap jadi anak yang rajin dan berbakti," bisik Mama Lexa lembut sambil mengelus bahu Maya dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya berbalik menuntun Lexa pergi.
Maya menatap punggung kedua wanita itu yang perlahan menjauh dan menghilang di antara kerumunan pasar. Sebelum benar-benar menghilang, Lexa sempat menoleh ke belakang, melayangkan tatapan tajam yang penuh ancaman dan kebencian murni ke arah Maya.
Maya memegangi dadanya yang berdebaran kencang. Ia tahu betul, pujian tulus dari Mama Lexa pagi ini bukannya membawa kebaikan untuk hidupnya, melainkan justru telah menyiramkan minyak tanah ke dalam kobaran api amarah Lexa. Hari Senin besok di sekolah, neraka penyiksaan yang diciptakan oleh Lexa dipastikan akan meletup jauh lebih dahsyat dari yang pernah ada.