NovelToon NovelToon
OKAY BOSSS

OKAY BOSSS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.


bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.

Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saga si posesif

Hari Kamis ini, jadwal Silla sangat padat. Ia harus bergegas dari satu agenda ke agenda berikutnya tanpa sempat beristirahat lama. Tugas terberatnya hari ini adalah menggantikan posisi model utama perusahaan yang mendadak berhalangan hadir.1

Silla dituntut profesional mendalami peran barunya. Ia harus mengenakan pakaian rancangan khusus yang mencetak lekuk tubuhnya dengan jelas, menampilkan siluet yang anggun sekaligus berani.

Awalnya ada rasa tegang yang menggelitik hatinya. Namun, begitu melangkah ke area studio dan lampu sorot mulai menyala, rasa percaya dirinya langsung mengambil alih. Silla berpose dengan luwes di depan kamera, mengikuti setiap arahan fotografer dengan sangat baik.

Melihat penampilannya yang memukau dan pembawaannya yang tenang, suasana studio yang tadinya tegang berubah menjadi takjub. Ketika tengah berfoto di sana, para staf menatapnya dengan tatapan bangga. Mereka tidak menyangka bahwa Silla mampu membawakan pakaian tersebut dengan begitu elegan dan menyelamatkan sesi pemotretan penting perusahaan hari itu.

Terdengar Ketukan sepatu pantofel mewah bergema di sepanjang koridor studio foto lantai 5.

Silla, yang masih berdiri di depan background kain abu-abu sambil memegang botol produk terbaru perusahaan, langsung tahu siapa yang datang tanpa harus menoleh. Aroma parfum maskulin yang sangat ia kenal—dan pernah ia peluk setiap malam—kini memenuhi ruangan.

Namun, Silla tetaplah Silla. Ia mengabaikan semua pandangan itu. Dengan profesionalisme tinggi, ia berpose dengan anggun, jemarinya memegang produk perusahaan dengan luwes seolah benda itu adalah bagian dari dirinya. Setiap jepretan kamera menangkap pesona yang membuat siapa pun terpukau.

Suasana studio mendadak senyap saat menyadari kehadiran sang CEO. Sagara berjalan mendekat, sepasang matanya tidak lepas dari Silla. Kilas balik masa lalu dan realita saat ini berbenturan di kepalanya

Sagara berdiri di ambang pintu. Jas kerjanya sengaja dibuka, memperlihatkan kemeja hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Silla.

Untuk beberapa detik, Sagara terpaku. Gaun bodycon merah marun yang dikenakan Silla benar-benar mencetak setiap lekuk tubuh wanita itu dengan sempurna. Silla bergerak sangat profesional di depan kamera, tahu betul cara memikat lensa. Sagara menelan ludah, terpesona. Mantan kekasihnya itu selalu tahu cara membuatnya gila.Namun, pesona itu instan berubah menjadi kilatan amarah saat Sagara mengedarkan pandangannya. Ia menangkap basah dua orang staf lighting dan seorang asisten fotografer yang menatap Silla dengan pandangan lapar—tatapan mesum yang sangat ia kenali. Rahang Sagara mengeras. Tangannya mengepal di dalam saku celana.

"Selesai! Kerja bagus, Silla!" seru sang fotografer.

Begitu lampu kilat mati, Sagara langsung melangkah lebar, memotong jalur sebelum manajer komunikasi sempat mendekati Silla. Ia meraih jaket konveksi milik kru yang tergeletak di kursi dan langsung menyampirkannya ke bahu Silla dengan kasar, menutupi tubuh wanita itu.

Silla, yang mengenakan pakaian ketat cetak tubuh sesuai tuntutan model perusahaan, masih berpose profesional di depan kamera. Tangannya dengan elegan memegang produk terbaru yang akan diluncurkan. Di sekeliling studio, para staf pria tidak bisa mengalihkan pandangan. Ada tatapan bangga atas profesionalisme Silla, tatapan terpukau karena auranya, namun tak sedikit pula tatapan mesum dan tergoda yang tertuju pada lekuk tubuhnya.

Rahang Sagara mengeras. Kilat amarah langsung menyambar di matanya saat menyadari arah pandangan para staf rese itu.

Begitu fotografer berteriak, "Okay, cut! Nice job, Silla!", Sagara langsung menyambar jubah kain dari gantungan dan berjalan cepat menghampiri Silla. Tanpa aba-aba, ia menyampirkan jubah itu ke bahu Silla dengan kasar, membungkus tubuh mantan kekasihnya itu erat-erat.

"Semua keluar. Sekarang," perintah Sagara dengan suara rendah yang dingin penuh otoritas. Para staf langsung tunggang-langgang meninggalkan studio, menyisakan keheningan yang mencekam di antara mereka berdua.

Silla menghela napas malas, langsung merotasi bola matanya. "Apaan sih, Ga? Lebay banget lo. Gue lagi kerja ya, jangan mulai deh."

Sagara bersedekap, menunduk demi mensejajarkan wajahnya dengan Silla yang berstatus sebagai asisten pribadinya. "Kamu yang apa-apaan? Baju kurang bahan begini kamu pakai di depan banyak cowok? Kamu sengaja bikin mereka jantungan atau sengaja mau mancing emosiku?"

"Idih, pede banget lo jadi orang!" Silla mendengus, langsung berkacak pinggang di balik jubahnya. "Ini baju properti perusahaan lo sendiri, Pak CEO terhormat! Lagian badan-badan gue, yang seksi juga gue, kenapa lo yang kebakaran jenggot? Kita udah mantan, inget ya, m-a-n-t-a-n!"

Sagara tersenyum tengil, sengaja maju satu langkah hingga memangkas jarak mereka. Aura posesifnya langsung menguar. "Mantan atau bukan, aku tetep nggak suka hak milik aku dipandang kayak gitu sama cowok lain. Lagian, kamu itu asisten aku. Tugas kamu itu ngurusin aku, bukan malah tebar pesona begini silla."

"Heh, mata lo buta?" Silla menoyor pelan bahu Sagara dengan ekspresi random-nya yang mulai keluar. "Gue tuh tadi lagi nyari duit buat perusahaan lo! Harusnya lo sujud syukur punya asisten multitalenta kayak gue. Bisa ngetik dokumen, bisa jadi model, bisa juga tampol muka lo kalau kelakuannya mulai rese!"

Sagara terkekeh pelan, malah merasa gemas. Watak jailnya langsung kumat. Ia mengulurkan tangan, mencolek dagu Silla dengan sengaja. "Galak banget sih. Lagi pms ya? Mood-nya berubah-ubah kayak cuaca. Tadi di kamera kelihatan anggun banget, sekarang balik lagi jadi macan barbar."

"Sagara, tangan lo ya!" Silla menepis tangan Sagara dengan wajah cemberut. Suasana hatinya memang sedang tidak stabil hari ini karena jadwal yang padat. "Gue capek, laper, mau makan seblak level 10. Jangan ganggu gue atau gue resign detik ini juga!"

"Silahkan kalo kamu mau bayar denda kontrak" potong Sagara cepat, tatapannya mendadak berubah intens dan posesif. Ia mencengkeram lembut pergelangan tangan Silla. "Kamu nggak akan bisa pergi ke mana mana.Sekarang ganti baju.aku yang bakal nemenin kamu makan seblak. Nggak ada bantahan."

Silla menatap Sagara dengan pandangan sinis, tapi sudut bibirnya menahan senyum. "Gue mau lo yang bayar, sekalian beliin gue boba tiga cup."

"Jangankan boba, toko bobanya bisa di beliin buat kamu. Buruan ganti baju, sebelum aku kurung kamu di ruangan ini," bisik Sagara tengil, kedipan matanya sukses membuat Silla mendengus kasar sebelum melangkah pergi ke ruang ganti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!