NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Kebingungan Hati

"Pak Marko tenang aja, saya udah paham batasan saya sekarang."

Kata-kata itu terngiang berulang kali di telinga Marko, bahkan setelah Luna melepaskan pegangan tangannya secara halus dan berjalan masuk ke dalam lift yang pintunya perlahan tertutup. Marko berdiri mematung di koridor sepi yang temaram. Ada perasaan seperti ditusuk jarum-jarum kecil yang menjalar di dadanya—sebuah ketidakrelaan yang aneh.

Di lantai dasar, Luna melangkah keluar menuju area parkir gedung Janitra Group yang mulai sepi. Udara malam kota Jakarta langsung menyapa kulitnya yang terbuka. Namun, langkah Luna terhenti saat melihat sesosok pria tinggi bersandar santai di atas motor sport berwarna hitam mengkilap.

Kenan. Pria itu sudah melepas helmnya, memamerkan senyum lebarnya begitu matanya menangkap keberadaan Luna.

"Akhirnya keluar juga putri kampus kita," panggil Kenan terkekeh, merapikan jaket kulitnya seraya menuntun motornya mendekati Luna.

"Kenan? Kamu ngapain masih di sini? Jam segini kan divisi kamu udah pulang dari tadi," tanya Luna heran, menghentikan langkahnya.

"Menunggu kamu, lah. Masa nungguin Pak Doni," gurau Kenan santai. Ia menyodorkan helm cadangan ke arah Luna. "Ayo, aku antar pulang. Udah jam setengah delapan malam, Lun. Nggak baik cewek sendirian naik taksi jam segini."

Luna menatap helm di tangan Kenan sejenak. Ia hendak menolak seperti biasanya, namun dari sudut matanya, ia melihat pantulan bayangan tegap Marko yang baru saja keluar dari lobi utama menuju area parkir VIP.

Sebuah ide mendadak melintas di kepala Luna. Katanya Om mau saya profesional dan nggak ganggu Om lagi, kan? Oke.

"Ya udah. Makasih ya, Ken," ujar Luna manis, mengulas senyum tipis yang sengaja ia perlihatkan cukup jelas.

Kenan sempat melotot kaget, tak menyangka ajakannya yang biasanya ditolak mentah-mentah kali ini diterima dengan cepat. "Serius, Lun?! Wah, rezeki anak soleh nih! Sini aku bantu pakai helmnya."

"Nggak usah, aku bisa sendiri," pangkas Luna cepat, mengambil helm itu lalu memakainya.

Dari jarak sepuluh meter, Marko yang baru saja memegang gagang pintu mobil sedan mewahnya mendadak menghentikan gerakannya. Pandangannya mengunci rapat pemandangan di depannya: Luna yang tersenyum pada Kenan, lalu naik ke atas jok belakang motor sport tinggi itu.

Saat Kenan menyalakan mesin motor yang meraung keras dan Luna refleks memegang pinggang Kenan agar tidak terjatuh, rahang Marko mengetat hebat. Tangannya yang memegang gagang pintu mobil mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panas yang membakar dadanya kembali muncul, jauh lebih hebat dari sebelumnya.

Ia sangat tidak menyukai pemandangan itu. Sangat membencinya.

Sementara itu, raungan mesin motor Kenan membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Dalam perjalanan, pikiran Marko sendiri justru sedang berkecamuk di dalam penthouse mewahnya yang berada di lantai atas sebuah pencakar langit.

Ruangan berdesain interior gelap dan minimalis itu terasa teramat sepi. Marko berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota, menggenggam segelas whisky di tangannya.

Pria empat puluh lima tahun itu menghela napas panjang. Ada yang salah dengan hatinya.

Selama lima belas tahun terakhir—sejak tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa almarhumah istrinya dan calon anak mereka—hati Marko telah membeku. Ia membangun benteng tebal yang tak tersentuh oleh wanita mana pun. Jessi, atau belasan wanita cantik dan matang yang mencoba mendekatinya, tak pernah berhasil menggetarkan dadanya sedikit pun.

Tapi kenapa harus Aluna?

Kenapa gadis dua puluh tahun yang dulu ia lihat masih bermain boneka kini sanggup mengacaukan seluruh ketenangan jiwanya hanya dengan satu tatapan mata?

"Gila kamu, Marko..." bisik Marko pada dirinya sendiri, menyapu wajahnya dengan kasar. "Dia anak Ardi. Sahabat terbaik kamu."

Marko meneguk minumannya hingga kandas. Akal sehatnya terus berteriak memperingatkan. Menyukai Luna artinya ia akan merusak kepolosan gadis itu, merusak masa depannya, dan yang paling parah, menghancurkan persahabatannya dengan Ardi Raharja yang sudah terjalin puluhan tahun.

Marko memejamkan mata, terbayang kembali bayangan Luna yang dibonceng oleh Kenan di atas motor.

"Mungkin... memang lebih baik begitu," gumam Marko lirih, suaranya terdengar sangat parau. "Dia pantas sama pria seumuran kayak Kenan. Bukan sama duda tua kayak kamu, Marko."

Namun, makin ia mencoba menyangkal dan merasionalisasi perasaan itu, dadanya justru terasa makin sesak dan hampa.

Di kediaman keluarga Raharja, jam dinding menunjuk angka delapan malam lewat sedikit. Sinta tampak berjalan bolak-balik di ruang tamu dengan raut wajah cemas, sementara Ardi duduk di sofa sambil terus menatap layar ponselnya.

"Mas, coba telepon Luna lagi. Kenapa belum sampai juga jam segini?" ujar Sinta khawatir. "Biasanya kan jam enam udah di rumah."

"Ini Papa lagi coba telepon, ma—"

Belum sempat Ardi menyelesaikan kalimatnya, suara deru motor sport berhenti di depan gerbang rumah mereka. Tak lama kemudian, sosok Luna melangkah masuk ke dalam rumah bersama Kenan yang mengekor di belakangnya membawa tas laptop Luna.

"Pagi, Pa, Ma... eh, malam," panggil Luna tersenyum lelah.

Ardi dan Sinta langsung berdiri melangkah mendekat.

"Ya ampun, Aluna! Dari mana aja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" cecar Sinta seraya mengelus bahu putrinya.

"Maaf ya, Tante, Om. Tadi Aluna lembur di kantor, terus saya lihat dia sendirian di parkiran, jadi saya inisiatif antar pulang," potong Kenan sopan, mengulas senyum ramah khas pria terpelajar.

Ardi menatap Kenan, mengamati pemuda tampan di depannya. "Kamu... temannya Luna di kampus?"

"Iya, Om. Saya Kenan. Saya juga staf magang baru di Janitra Group," jawab Kenan memperkenalkan diri dengan sopan seraya menjabat tangan Ardi.

"Oh, anak magang di tempat Marko juga?" Ardi mengangguk-angguk paham, raut wajah khawatirnya sedikit mereda. "Terima kasih banyak ya, Kenan, udah jagain dan antar Luna pulang malam-malam begini."

"Sama-sama, Om. Udah kewajiban saya jaga Aluna," balas Kenan manis, sempat melirik Luna yang hanya terdiam.

"Ayo mampir dulu, Kenan. Makan malam bareng di dalam, Tante udah masak banyak," tawar Sinta hangat.

Kenan tersenyum canggung lalu menggeleng halus. "Makasih banyak atas tawarannya, Tante, Om. Tapi ini udah kemalaman, kasihan Aluna juga butuh istirahat. Lain kali saja Tante."

"Yaudah kalau gitu. Hati-hati di jalan ya, Kenan," pesan Ardi menepuk bahu Kenan.

Setelah Kenan pamit dan deru motornya menjauh, Ardi dan Sinta menuntun Luna untuk duduk di sofa ruang tamu. Sinta dengan sigap menyodorkan segelas air putih hangat untuk putrinya.

"Kamu beneran lembur, Lun? Baru hari ke berapa magang kok udah lembur sampai jam segini?" tanya Ardi heran. "Marko yang ngasih tugas sebanyak itu?"

Luna meminum airnya perlahan, lalu menghela napas panjang. "Bukan Pak Marko, Pa."

"Terus siapa?"

"Ada senior analisis data nama Mbak Maya," aduh Luna, meluapkan kekesalannya yang sudah tertahan seharian. "Dia itu kayaknya gak suka banget sama Luna, Pa! Dari hari pertama ada aja alasan dia buat numpukin kerjaan ke meja Luna. Tadi masa Luna disuruh rekap ribuan data keuangan lima anak perusahaan sendirian dalam beberapa jam? Padahal itu harusnya dikerjain tim!"

Sinta membelalakkan matanya kaget. "Loh! Kok gitu? Kenapa kamu gak laporkan ke supervisor kamu, Nak?"

"Luna udah coba ngomong, Bu. Tapi Mbak Maya malah ngatain Luna sok cantik lah, cuma mau makan gaji buta lah," curhat Luna dengan bibir cemberut. "Luna tuh males kalau dibilang manja. Jadi ya Luna kerjain semuanya sendirian sampai tuntas!"

Ardi berkerut dahi, raut wajahnya berubah menjadi tegas. "Nggak bisa begitu. Kamu di sana buat belajar, bukan buat dijadiin sapi perah sama karyawan senior yang sirik."

Ardi langsung merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

"Papa mau ngapain?" tanya Luna curiga.

"Papa mau telepon Marko sekarang," tegas Ardi sambil menggeser layar ponselnya mencari nama sahabatnya. "Biar Marko yang urus senior kamu itu besok. Jangan sampai kamu dipersulit cuma gara-gara masalah personal!"

Luna seketika panik. "Eh! Jangan, Papa! Jangan telepon Pak Marko!"

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!