Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Mau apa Lo dateng ke rumah gue?," ucap Darren.
"Bukain pagar rumah kamu dulu, kita bicara di dalem ya kak. Aku mau membicarakan hal serius sama kamu, aku mau menanyakan apa yang harus di bawa saat liburan nanti," ucap Jessica.
"Pulanglah, tanyakan semuanya pada pacar gila Lo itu. Gue enggak tau tentang liburan itu. Bukannya hanya Lo, Dimas, Raka,Razan dan Ardana saja yang akan pergi. Jadi pulang, jangan menanyakan kepada orang yang tidak mengetahui apapun," ucap Darren.
Darren langsung masuk ke dalam kamar dan menutup jendela yang menembus balkon. Jessica mengepalkan kedua tangannya dan memilih untuk masuk ke dalam mobil dengan perasaan dongkol.
"Bagaimana pun caranya gue bakal dapetin hati Lo Darren. Tunggu saja tanggal mainnya, gue enggak bakal nyerah. Segala cara bakal gue lakukan untuk mendapatkan cinta Lo," gumam Jessica.
*****
Di dalam kamar. Darren sedang berbaring di atas kasur, ia adalah pria penyendiri. Di saat hari libur, ia akan berada seharian di dalam kamar. Baginya berkumpul dengan teman temannya adalah hal yang sangat melelahkan, apalagi bertemu dengan Jessica, gadis yang sejak awal tidak ia sukai.
"Gila banget tuh cewek, gangguin hidup gue aja. Liburan? Kalian aja sana yang pergi, gue males banget. Mending tidur, ngisi tenaga," gumam Darren.
Saat pria itu akan memejamkan kedua matanya, tiba tiba ponsel miliknya berbunyi dan saat ia melihat layar ponsel, ternyata itu pesan dari Ardana.
["Besok Lo ikut liburan bareng kita ya, Razan usah sewa villa. Ambil jatah libur aja, biar bisa segarkan otak. jangan diam di kamar aja, jalan jalan biar dapet pacar,"] isi pesan tersebut.
Membaca pesan dari Ardana membuat Darren menghela nafas dengan kasar. "Pacar apanya, enggak ada waktu buat pacaran. Hidup ini butuh cuan, bukan cinta. Cinta gue udah di ambil orang, Lah orang itu udah nyakitin orang yang gue cinta. Ogah banget gue ikut mereka liburan," Gunma Darren.
Darren mematikan ponsel miliknya, dan memilih untuk beristirahat. Ia benar benar lelah dengan semuanya, lelah dengan keadaan, pekerjaan, bahkan lelah dengan namanya percintaan, ia berharap saat ia bangun dari tidurnya nanti, semua rasa lelahnya menghilang.
*****
Keesokan harinya. Raka dan Ardana menjemput Darren untuk ikut berlibur bersama mereka. Razan? Pria itu sudah berada di villa tempat mereka akan menginap.
"Ayolah bro, kapan lagi kita liburan bareng. Segerin otak bro, dari hari Senin sampai Jumat kita bekerja. Otak butuh refreshing. Apa enggak sumpek Lo diem di seharian di kamar?," ucap Ardana.
"Males dana, kalian aja yang pergi. Gue mau diem di dalam kamar aja, males gue liat muka Jessica dan Dimas. Liat muka mereka berdua bikin gue emosi tau enggak," ucap Darren.
"Ayolah, jangan lama lama marahnya. Udah lupakan perdebatan Lo sama Dimas. Sekarang saatnya kita liburan," ucap Raka.
Darren menghela nafas dengan kasar dan langsung memasukkan beberapa baju ke dalam tas. Darren lagi malas untuk berdebat dengan kedua sahabatnya tersebut. Ardana dan Raka tersenyum bahagia, Karena sahabat mereka akan ikut berlibur.
*****
Di sisi lain. Dimas sudah bersiap dan menenteng tas yang berisi pakaian. "Gue bakal liburan, kalau mau kemana mana kabari gue. Jangan Bikin gue dalam masalah," ucap Dimas.
Nadia menganggukkan kepalanya. "Jangan segan segan gunakan kartu yang gue kasih. Uang yang ada di dalam kartu itu punya Lo, simpan baik baik," ucap Dimas.
"Iya kak, hati hati di jalan," ucap Nadia.
Gadis itu ingin berbicara dan mengatakan agar sang suami memberi kabar padanya setelah tiba di villa tempat mereka berkumpul. Namun, Nadia tidak berani karena ia tidak ingin membuat suaminya marah. Ia merasa khawatir kepada sang suami yang dari semalam terlihat tidak bersemangat karena lagi marahan dengan Jessica.
"Nanti gue kabari kalau gue udah sampai," ucap Dimas.
Mendengar ucapan dari Dimas, Nadia hanya bisa diam, dan menatap kepergian dari sang suami.
"Tolong lindungi suamiku ya Allah," gumam Nadia.
*****
Di villa. Razan sedang duduk sambil menunggu para sahabatnya. Setelah lama menunggu akhirnya Ardana, Raka dan Darren tiba di villa. Ke tiga pria itu langsung masuk ke dalam villa dan menghampiri Razan yang tengah duduk santai.
"Kalian udah dateng ternyata, eh Dimas sana Jessica mana?," ucap Razan.
Razan menatap ketiga sahabatnya yang baru saja datang.
"Mana gue tau, emangnya gue orang tuanya," ucap Darren ketus.
Raka hanya diam sedangkan Ardana hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. "Mereka belum dateng, kita tunggu saja," ucap Ardana.
Sepuluh menit berlalu, Jessica masuk dengan pakaian seksinya dan langsung duduk di samping Darren. Jessica tersenyum ke arah Darren, sedangkan Darren hanya menatap datar dan mengalihkan pandanganya ke arah lain.
"Kak, gimana penampilan aku. Cantik Kan?," ucap Jessica.
Tanya Jessica dengan pedenya menyebut dirinya cantik, Darren hanya diam dan berpindah ke sofa yang ada di samping Raka. Razan menatap Jessica. "Lah dimas dimana? Kok enggak bareng?," ucap Razan.
"Gue lagi berantem sama dia, paling bentar lagi dateng," ucap Jessica.
Razan menganggukkan kepalanya dan benar apa yang di ucapkan oleh Jessica. Baru saja di bicarakan, Dimas pun masuk ke dalam villa.
"Oh, ini yang lagi berantem sama ayangnya," ucap Razan.
Razan tertawa kecil sambil menggoda sahabatnya yang baru saja datang. Dimas hanya diam mengabaikan godaan dari Razan.
"Kamar gue mana?," ucap dimas.
"Tuh, di pojok kanan," ucap Razan.
Dimas langsung berjalan ke arah kamar, tanpa menatap Jessica yang tengah menatapnya.
"Kamar gue di mana?," ucap Darren Karena ia sudah malas berlama lama di dekat Jessica.
"Di pojok kiri," ucap Razan.
Darren memilih untuk masuk ke dalam kamar, karena ia tidak ingin melihat wajah Jessica. Raka, Ardana dan Razan hanya bisa menghela nafas mereka saja.
"Enggak asih ah," ucap Ardana.
"Iya nih, pada enggak asik," ucap Raka.
Kedua sahabatnya terlalu cuek, padahal ini kesempatan mereka untuk berlibur bersama, bersenang senang, dan menyegarkan otak mereka dari pekerjaan.
"Sudah lah, lebih baik kita istirahat dulu. Badan gue capek banget nih. Kamar gue dimana?," ucap Raka.
"Kamar Lo di samping kamar Dimas, nah kalau dana di samping kamar gue, dan Jessica itu kamar Lo. Kalau ada apa apa kasih tau gue," ucap Razan.
Dan mereka pun memilih untuk masuk ke dalam kamar mereka masing masing kecuali Jessica. Jessica berjalan ke arah kamar darren, dan tidak menemukan keberadaan pria itu di dalam kamar.
"Loh, kak Darren nya kemana?," gumam Jessica.
Jessica melihat lihat isi kamar Darren, dan tiba tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Darren hanya memakai handuk di pinggangnya dan bertelanjang dada. Jessica langsung terpesona melihat tubuh atletis milik Darren.
"Wah, menggoda sekali ternyata," gumam Jessica.
Darren terkejut saat melihat keberadaan Jessica yang sudah ada di hadapannya. Jessica menyentuh kotak kotak yang ada di perut Darren. Pria itu langsung menghempaskan tangan Jessica dan menatap tajam ke arah Jessica.
"Keluar dari kamar gue!," bentak Darren.
"Enggak mau, aku mau cobain tubuh kamu dulu," ucap Jessica.
Jessica benar benar terhipnotis dengan tubuh atletis milik darren.
"Keluar!," bentak Darren.
Darren benar benar marah, pria itu langsung menarik tangan Jessica dan mendorong Jessica keluar dari kamarnya. Raka, Ardana, Razan dan Dimas. Keluar dari kamar mereka masing masing. Saat melihat sang kekasih di dorong oleh sahabatnya, Dimas langsung memukul wajah darren.
"Apa apaan sih lo? Ngapain Lo bawa cewek gue masuk ke dalam kam------,"
"Cewek Lo yang masuk ke dalam kamar gue! Kenapa Lo salahin gue! Di sini cewek Lo yang salah, kelakuan cewek Lo udah kayak jalang!," bentak Darren.
Domas semakin kesal dan memukul wajah darren. Raka, Ardana dan Razan. Langsung memisahkan kedua sahabatnya yang tengah bertengkar. Jessica hanya tersenyum kecil, ia benar benar bahagia melihat pertengkaran antara Dimas dan Darren. Ia merasa dia gadis beruntung Karena di perebutkan oleh dua pria tampan.
"Udah, kalian kenapa berantem sih? Kita ke sini buat liburan, bukan berantem," ucap Razan.
Razan benar benar sudah sangat muak dengan kedua sahabatnya. "Dia duluan, beraninya ngajakin cewek gue masuk ke dalam kamarnya!," marah Dimas.
Darren tengah di pegang oleh raka, langsung tersenyum miring. "Najis banget gue bawa cewek modelan gitu ke kamar gue, mending gue ajak cewek yang gue sayang. Lebih enak dan di jamin masih suci, enggak seperti dia!," ucap Darren.
Darren menepis tangan Raka dan memilih untuk masuk ke dalam kamar. "Kurang ajar Lo Darren, awas aja Lo, gue bakal kasih pelajaran sama Lo!," bentak Dimas.
Dimas benar-benar marah, sedangkan Ardana benar-benar sakit kepala di buatnya. Ardana mencengkram baju Dimas.
"Udah stop! Gue pusing liat kalian berantem kayak gini!," ucap Ardana.
Dimas menepis tangan Ardana dan menatap Jessica sekilas. "Ikut gue, jelasin semuanya ke gue," ucap Dimas.