NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Keesokan harinya, menjelang sore, Yu Tian tiba di kaki Menara Penguasa Langit bersama Lan Shuang dan Lu Heng. Menara itu menjulang dari tengah lapangan batu yang luas, hitam dan berlumut, dengan puncak yang lenyap di balik awan tipis.

Ribuan orang sudah memenuhi lapangan sejak pagi: pedagang, kultivator lepas, anak-anak yang dipanggul di pundak ayahnya, bahkan penjual kue yang berteriak di sela kerumunan. Begitu tiga orang itu melangkah ke lingkaran batu di depan gerbang, sorakan dan siulan memecah udara.

"Ambil kuncinya!" teriak seorang lelaki di barisan depan, dan yang lain menyahut agar mereka membawa pulang harta yang melimpah itu.

Yu Tian hanya menatap, kedua tangannya terselip di lengan jubah. Lu Heng menegakkan dada menikmati sorak-sorai itu, sementara Lan Shuang menunduk dengan lengan jubah menutup pergelangan kirinya.

'Ribuan mata berharap pada kami, dan tidak satu pun tahu apa yang menunggu di dalam. Termasuk aku.' Di barat, matahari sudah rendah dan jingga, dan di timur bulan pucat telah naik. Ketika keduanya akhirnya berdiri sejajar di langit yang sama, ukiran awan dan petir di daun gerbang menyala biru dan engselnya mengerang panjang.

Krrrk!

Gerbang itu terbuka lebar, dan sorakan yang menggelegar mengiringi tiga orang itu melangkah masuk.

...-----...

Lantai pertama berupa aula batu hitam yang luas, dengan obor yang menyala sendiri begitu mereka melewati ambang. Dari celah-celah dinding, belasan tikus batu bermata merah dan kelelawar berkepala dua menyerbu keluar, desisnya memenuhi ruangan.

Lu Heng maju satu langkah tanpa menoleh. "Aku yang maju. Jangan ikut campur."

Yu Tian hanya mengangkat tangan sedikit, mempersilakan, dan menyandarkan bahu ke pilar.

Api merah menyembur dari telapak Lu Heng, dan cincin perak di jarinya berdenyut biru dengan setiap tebasan. Monster-monster itu terbakar menjadi arang dalam hitungan tarikan napas, tetapi Yu Tian mengamati hal lain. Kuda-kuda Lu Heng goyah setiap kali ia melepaskan serangan, aliran Qinya kasar dan boros, dan napasnya sudah memburu padahal tidak satu pun monster menyentuhnya.

'Qi sebesar itu, tetapi tubuhnya belum pernah menempa jalannya sendiri. Kekuatan yang dipinjam tidak punya akar.' Ia menyimpan pengamatan itu dan tidak mengatakannya. Lan Shuang berdiri di tengah ruangan menjaga jarak dari setiap bangkai, dan wajahnya tidak berubah sedikit pun.

Lantai dua sampai dua puluh berlalu tanpa satu pun rintangan yang berarti. Ular berkaki, kera besi, dan patung batu bermata kosong datang silih berganti, dan Lu Heng membakar semuanya sementara Yu Tian berjalan di belakang dengan kedua tangan terlipat di punggung.

Di lantai kesebelas ia menguap lebar tanpa menutup mulut, dan di lantai keenam belas ia mulai menghitung ubin yang retak di bawah kakinya. 'Membosankan. Kalau semua lantai selanjutnya begini, aku akan tertidur sebelum mencapai seratus.'

Di lantai kedua puluh, udara mendadak dingin dan berat. Aula di sana lebih lebar daripada yang sebelumnya, dengan pilar-pilar tua yang dipenuhi pahatan, dan di tengahnya kabut perak menggumpal naik membentuk sosok seorang lelaki tinggi berjubah kerja. Wajahnya kabur dan di tangannya tergenggam palu batu sepanjang lengan.

Yu Tian memejamkan mata sekilas, dan Qi yang menyebar dari sosok itu terasa padat dan tajam. 'Inti Emas. Sisa jiwa si pembangun menara, atau gema yang ditinggalkannya.'

"Setara denganku." Lu Heng tersenyum tipis, melangkah ke depan, dan mengepalkan tangannya sampai api menyala di sela jari. Ia menyerang sendirian. Telapaknya menghantam dada sosok itu, tetapi palu batu berayun dari samping dan menghempaskan Lu Heng sampai tubuhnya meluncur di lantai dan membentur pilar. Ia terbatuk dengan darah di sudut bibir, lalu bangkit dengan rahang mengeras dan mencoba lagi dengan cara yang sama. Bahu kanannya turun setengah jengkal sebelum setiap telapak, dan palu itu menunggu di titik yang sama setiap kali.

'Anak kecil pun bisa membaca itu.' Yu Tian melangkah maju tanpa terburu-buru. Pedang putihnya keluar setengah, dan satu sentilan pada sarungnya membelokkan ayunan palu itu ke samping dengan denting nyaring, membuka seluruh sisi dada sosok perak itu. "Sekarang, Lu Heng. Telapak kiri, bidik pusat dadanya."

Lu Heng menoleh dengan mata menyala karena diperintah, tetapi tangannya sudah bergerak. Api merah menembus kabut perak itu dan menghancurkan sosoknya menjadi serpihan cahaya yang melayang naik ke langit-langit. Brak! Palu batu jatuh ke lantai, lalu ikut menghilang.

Di sudut aula, Lan Shuang berdiri di balik sebuah pilar dengan kedua lengan terlipat. Wajahnya tenang, tetapi buku jarinya memutih di balik lengan jubah.

Lu Heng jatuh berlutut dengan napas terengah-engah, keringat menetes dari dagunya, dan cincin di jarinya meredup. Yu Tian mengeluarkan sebutir pil pemulih dari kantong penyimpanannya dan melemparkannya ke tangan pemuda itu.

"Telan." Ia sudah berjalan menuju tangga di ujung aula sebelum Lu Heng sempat membalas. 'Aku bisa menghabisinya dalam tiga gerakan, tetapi aku ingin tahu seberapa jauh cincin itu menopang pemiliknya.'

Langkah ringan menyusulnya di tangga. Lan Shuang meraih tangan Yu Tian dan menggenggamnya, jemarinya dingin dan sedikit gemetar, tetapi suaranya tetap datar.

"Kau hebat sekali, Tuan Tian Yu. Aku belum pernah melihat orang menepis palu itu tanpa menarik napas." Yu Tian menurunkan pandangan ke tangan yang menggenggamnya, lalu mengangkat satu alis. "Itu bukan hal besar."

Ia tidak menarik tangannya.

Di belakang mereka, Lu Heng menelan pil itu tanpa suara. Ibu jarinya memutar cincin perak itu perlahan, sekali, dua kali, dan sorot matanya tidak pernah lepas dari dua tangan yang saling menggenggam di anak tangga.

Yu Tian merasakan tatapan itu di punggungnya dan tidak menoleh. 'Biarkan saja.'

1
Naisha Anindya
semangat nulisnya author....
Naisha Anindya
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
Naisha Anindya
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!