NovelToon NovelToon
OKAY BOSSS

OKAY BOSSS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.


bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.

Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pantai

Silla melangkah pelan. Gaun putih berhias motif bunga yang ia kenakan bergerak lembut mengikuti sapuan angin laut. Rambutnya yang bergelombang tergerai bebas, berkejaran dengan hembusan tipis yang membawa aroma garam dan kebebasan.

Satu, dua—ia melepas alas kakinya. Telapak kakinya langsung disambut oleh butiran pasir putih yang hangat dan lembut, seolah memijat perlahan segala lelah di kepalanya.

Sabtu pagi ini adalah miliknya.

Di hadapannya, lautan membentang luas dengan gradasi biru yang memukau. Ombak datang bergulung, mencium garis pantai, lalu pecah menjadi buih-buih putih yang mendesir tenang. Setiap kali suara deburan itu tertangkap oleh telinganya, rasanya ada simpul-simpul rumit di dalam dadanya yang perlahan terurai.

Silla berhenti sebentar. Ponsel di genggamannya terangkat. Ia membidik sudut rendah—merekam tekstur pasir putih yang berkilau di bawah matahari pagi, lalu beralih membingkai buih ombak yang menyapu jemarinya sesaat sebelum air laut surut kembali. Bagi Silla, itu bukan sekadar gambar di dalam layar; itu adalah cara ia membingkai ketenangan agar tak lekas hilang.

Angin kembali menyelipkan helai rambut ke wajahnya. Silla tersenyum tipis. Di antara riuh rendah suara laut dan cakrawala yang tak bertepi, ia tahu: hati yang sempat kusut itu, perlahan-lahan kembali segar.

Bagi Silla, suara gemuruh air yang pecah di bibir pantai adalah terapi paling jujur. Beban di dadanya seolah terurai satu persatu, hanyut bersama buih-buih putih yang datang dan pergi.

Silla berhenti di batas air. Ia melihat ombak yang bergulung dari kejauhan, tumbuh tinggi, lalu dengan anggun menjilat pasir sebelum kembali tertarik ke tengah samudra. Matanya berbinar. Ia berjongkok, lalu meraih ponselnya dari dalam tas jinjing kanvas miliknya. Klik. Silla mengambil beberapa foto close-up tekstur pasir putih yang berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi, lalu beralih memotret jejak kakinya sendiri yang perlahan terhapus oleh jilatan air laut.

Ia tidak sedang terburu-buru oleh waktu. Silla duduk bersila di atas hamparan pasir putih yang halus, membiarkan ujung dress putihnya sedikit basah oleh cipratan ombak kecil. Ia memejamkan mata sesaat, menghirup aroma garam dan angin tropis dalam-dalam. Hatinya yang tadi rumit, kini terasa segar kembali—seperti baru saja dibasuh oleh kelembutan laut yang tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Setiap kali ia menarik napas dalam-dalam, aroma khas laut langsung mengisi rongga dadanya. “Suka... Gue benar-benar suka tempat ini,” gumamnya pelan pada angin.

Silla terus berjalan menyusuri bibir pantai. Matanya takjub menatap hamparan air laut yang berkilau diterpa matahari pagi, berpadu dengan deburan ombak kecil yang bergulung lembut sebelum akhirnya pecah dan membasahi ujung kakinya yang telanjang. Sesekali ia berhenti, berjongkok untuk menyentuh permukaan air yang dingin, lalu tertawa kecil saat ombak yang agak besar menyapu lebih tinggi dari yang ia duga.

Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Bukan untuk mengecek pekerjaan, melainkan untuk merekam keindahan sederhana ini. Ia memotret jejak kakinya sendiri di atas pasir putih, mengambil sudut estetik hamparan ombak yang berkejar-kejaran, hingga memotret butiran pasir yang menempel di telapak kakinya. Bagi Silla, hari ini adalah tentang merayakan ketenangan.

Namun, ketenangan itu mendadak terusik oleh sebuah bayangan elegan yang mendekat dari arah paviliun tepi pantai.

Langkah Silla terhenti. Di hadapannya, berdiri seSetiap kali ia menarik napas dalam-dalam, aroma khas laut langsung mengisi rongga dadanya. “Suka... aku benar-benar suka tempat ini,” gumamnya pelan pada angin.

Silla terus berjalan menyusuri bibir pantai. Matanya takjub menatap hamparan air laut yang berkilau diterpa matahari pagi, berpadu dengan deburan ombak kecil yang bergulung lembut sebelum akhirnya pecah dan membasahi ujung kakinya yang telanjang. Sesekali ia berhenti, berjongkok untuk menyentuh permukaan air yang dingin, lalu tertawa kecil saat ombak yang agak besar menyapu lebih tinggi dari yang ia duga.

Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Bukan untuk mengecek pekerjaan, melainkan untuk merekam keindahan sederhana ini. Ia memotret jejak kakinya sendiri di atas pasir putih, mengambil sudut estetik hamparan ombak yang berkejar-kejaran, hingga memotret butiran pasir yang menempel di telapak kakinya. Bagi Silla, hari ini adalah tentang merayakan ketenangan.

Namun, ketenangan itu mendadak terusik oleh sebuah bayangan elegan yang mendekat dari arah paviliun tepi pantai.

Langkah Silla terhenti. Di hadapannya, berdiri seorang wanita paruh baya dengan busana desainer bermerek yang tampak mahal, anggun, dan berkelas tinggi. Kacamata hitam berbingkai emas bertengger di wajahnya, dan aura dominan menguar dari setiap gerakannya—menunjukkan tipikal seorang wanita bangsawan atau istri dari lingkaran atas yang sangat berkuasa.

Wanita itu melepas kacamatanya, menatap Silla dari atas sampai bawah dengan tatapan tajam namun menyimpan lapis-lapis misteri.

“Kamu... Silla?” suara wanita itu terdengar tenang, tetapi memiliki bobot yang membuat udara di sekitar mereka terasa mendadak berat.

orang wanita paruh baya dengan busana desainer bermerek yang tampak mahal, anggun, dan berkelas tinggi. Kacamata hitam berbingkai emas bertengger di wajahnya, dan aura dominan menguar dari setiap gerakannya—menunjukkan tipikal seorang wanita bangsawan atau istri dari lingkaran atas yang sangat berkuasa.

Rambut peraknya disanggul modern, memancarkan aura wibawa yang kuat.

Beberapa langkah di depan Silla, wanita itu berhenti. Pandangannya langsung tertuju pada Silla, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang tajam namun tetap tenang.

"Kamu Silla?" tanya wanita itu, suaranya terdengar berat namun jernih.

Silla sempat tertegun sesaat. Ia merasa tidak pernah mengenal wanita  ini sebelumnya. Silla menegakkan posisi nya lalu mengangguk sopan.

"Iya, benar. Saya Silla," jawab Silla ramah, meski ada nada ragu di ujung kalimatnya. "Maaf, kalau boleh tahu, Ibu siapa, ya? Dan... dari mana Ibu tahu nama saya?"

Wanita tua itu tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang misterius sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.

Wanita itu melepas kacamatanya, menatap Silla dari atas sampai bawah dengan tatapan tajam namun menyimpan lapis-lapis misteri.

Wanita tua itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat misterius namun berkelas. Ia tidak langsung menjawab, melainkan memperbaiki posisi syal sutra di lehernya sebelum melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Silla.

"Dunia ini lebih sempit dari yang kamu kira, Silla," ucap wanita itu dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Dan sepasang mata itu... kamu benar-benar mewarisi mata ibumu."

Silla tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang mendengar nama ibunya disebut oleh orang asing yang sama sekali tidak ia kenal, namun tampak tahu banyak tentang dirinya.

                                ∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆

Silla menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Gerakan jemarinya yang sedang menyisir rambut perlahan melambat, lalu terhenti sama sekali. Handuk putih masih tersampir di bahunya, menangkap tetesan air dari ujung-ujungnya yang basah. Namun, pikiran Silla tidak lagi berada di kamar tidurnya yang hangat.

Pikirannya melayang kembali ke pantai tadi sore.

Suara deburan ombak dan embusan angin laut yang dingin seolah kembali terngiang di telinganya. Di atas pasir yang mulai menggelap, seorang wanita tua dengan tatapan mata yang begitu dalam sempat mencengkeram pergelangan tangannya. Wanita itu membisikkan sesuatu yang menggantung, sebuah kalimat peringatan yang terputus tepat saat matahari tenggelam sepenuhnya di cakrawala.

Jangan pernah kembali ke tempat ini setelah...

Hanya itu. Setelah mengucapkan kata-kata yang belum selesai tersebut, si wanita tua bergaya elegan berbalik dan berjalan cepat, menghilang di balik deretan pohon bakau tanpa menoleh lagi.

Silla mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menggelayuti dadanya. Mengapa wanita tua itu tampak begitu serius? Dan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, menjadi beban pikiran yang membuatnya tidak tenang, seolah ada bahaya tersembunyi yang sedang mengintip dari kegelapan pantai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!